DINDING ES YANG BELUM RETAK

Pagi itu, sinar matahari Jakarta menembus kaca-kaca besar gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan begitu terik. Namun, di dalam ruang kelas 4A, suasananya justru terasa seolah-olah pendingin ruangan disetel ke suhu paling minus. Atmosfernya begitu mencekam dan sunyi, bahkan suara jatuhnya selembar kertas pun akan terdengar seperti dentuman keras.

Arga Dirgantara berdiri di balik podium dosen dengan setelan kemeja abu-abu gelap yang terkancing rapi hingga ke leher, dipadukan dengan celana kain hitam mahal yang membungkus kaki panjangnya. Tidak ada lagi kancing terbuka, tidak ada lagi dasi yang longgar, dan tidak ada lagi sisa-sisa pria frustrasi yang semalam kehilangan kendali di club malam. Sosok di depan kelas ini adalah Pak Arga yang asli—sang Dosen Killer yang dingin, kaku, dan berwibawa.

Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah lembar-lembar kertas kuis yang tersebar di atas meja mahasiswa. Jari-jemarinya yang kokoh sesekali mengetuk meja podium dengan ritme yang konstan, menciptakan ketegangan tersendiri bagi tiga puluh mahasiswa yang sedang memeras otak di hadapannya.

Namun, di balik topeng sedingin es itu, fokus Arga sebenarnya terbagi. Setiap beberapa menit, sudut matanya melirik ke arah barisan bangku tengah.

Di sana, duduk seorang gadis dengan rambut bergelombang yang digerai acuh tak acuh. Queen. Gadis berusia 20 tahun itu hari ini tampil sangat kontras dengan penampilannya semalam. Ia hanya mengenakan crop tee putih polos yang sedikit memamerkan pinggang rampingnya, dipadukan dengan celana denim berpinggang tinggi. Wajahnya yang baby face terlihat sangat manis tanpa riasan tebal, namun binar nakal di matanya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

Sejak kuis dimulai tiga puluh menit yang lalu, Queen sama sekali tidak menyentuh pulpennya. Gadis itu justru menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap lurus ke arah Arga dengan pandangan lapar dan senyum tipis yang sarat akan provokasi. Ia sengaja membasahi bibir bawahnya sendiri dengan ujung lidah, seolah sengaja mengingatkan Arga pada memori ciuman brutal mereka beberapa jam yang lalu di club.

Arga mengetatkan rahangnya. Kilasan ingatan semalam di mana Queen duduk di pangkuannya dan menggigit cuping telinganya sempat melintas, membuat darahnya berdesir. Namun, ego dan rasa terluka akibat dikhianati istrinya segera mengambil alih. Arga mengingatkan dirinya sendiri: Semua wanita sama saja. Manipulatif dan hanya ingin memanfaatkan situasi. Sumpahnya untuk menutup hati kembali mengeras seperti baja.

"Waktu tinggal lima menit. Yang tidak selesai, kertas akan saya robek," suara bariton Arga menggema datar, dingin, namun menusuk, membuat seisi kelas langsung panik dan memacu pulpen mereka lebih cepat.

Hanya Queen yang tetap santai. Gadis bar-bar itu justru dengan sengaja menjatuhkan pulpennya ke lantai, lalu membungkuk dengan gerakan yang sangat lambat, sengaja memamerkan lekuk punggungnya yang seksi bak gitar spanyol di hadapan sang dosen. Namun, Arga langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, menolak mentah-mentah umpan visual tersebut.

Kringgg!

Bel tanda kelas berakhir berbunyi. Terdengar helaan napas lega yang serempak dari para mahasiswa, seolah-olah mereka baru saja lolos dari eksekusi mati. Satu per satu dari mereka mengumpulkan kertas kuis ke depan meja podium dan segera berhamburan keluar kelas, tidak ingin berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan Pak Arga.

Karin dan Alya berjalan beriringan menuju meja depan, meletakkan kertas mereka. Alya sempat melirik ke arah kakaknya, memberikan senyuman penuh arti yang sangat tipis sebelum menyenggol lengan Queen yang masih duduk di bangkunya.

"Gue sama Karin tunggu di kantin ya, Queen. Sukses buat 'bimbingan' lanjutannya," bisik Alya penuh maksud, mengira kakaknya akan mudah ditaklukkan lagi seperti semalam.

"Siap, tas Hermes jangan lupa disiapin di bagasi," balas Queen santai tanpa mengalihkan pandangannya dari Arga.

Setelah kelas benar-benar kosong dan pintu kayu ek itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang tebal di antara mereka berdua, Arga meletakkan pulpennya. Ia tidak menyandarkan tubuhnya dengan santai, melainkan berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Queen yang kini berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah lambat yang sensual.

"Kenapa lembar jawabanmu kosong, Queen?" tanya Arga, suaranya terdengar sangat datar, berat, dan tanpa riak emosi sedikit pun.

Queen berhenti tepat di depan Arga. Jarak mereka kini hanya berkisar beberapa sentimeter. Tanpa rasa takut sedikit pun pada sosok dosen killer yang ditakuti satu kampus, Queen mengangkat tangannya, jemari lentiknya dengan berani menyentuh dada bidang Arga, meraba kain kemeja abu-abu mahal itu dengan gerakan memutar yang menggoda.

"Habisnya... semalam ada yang bikin saya gak bisa tidur, Pak," jawab Queen dengan nada manja yang teramat seksi, mendongak menatap sepasang mata gelap Arga. "Otak saya penuh sama bayangan bibir seksi Pak Arga yang melumat punya saya. Gimana saya bisa fokus belajar buat kuis?"

Queen memajukan tubuhnya, berniat mengulang skenario semalam dengan menyandarkan tubuh seksinya pada dada bidang Arga. Ia mengira pria di depannya ini akan langsung goyah dan merengkuh pinggangnya seperti di club.

Namun, Queen salah besar.

Sebelum tubuhnya sempat menempel, tangan kokoh Arga bergerak dengan cepat dan tegas mencengkeram kedua pergelangan tangan Queen. Dengan gerakan kasar namun terukur, Arga menjauhkan tangan Queen dari dadanya, lalu mendorong tubuh gadis itu mundur satu langkah hingga jarak di antara mereka kembali tercipta.

"Jaga sikapmu, Queen," ucap Arga. Suaranya tidak lagi berat karena gairah, melainkan sedingin es batu yang mampu membekukan atmosfer ruangan. Mata elangnya menatap Queen dengan sorot tajam yang penuh dengan kilatan penolakan dan rasa muak.

Queen tersentak, senyum centil di bibirnya sedikit memudar. Ia tidak menyangka akan mendapat reaksi sekeras ini setelah apa yang mereka lalui semalam. "Pak Arga... kok galak banget? Semalam di club Bapak gak sedingin ini, bahkan Bapak membalas ciuman aku dengan—"

"Semalam adalah kesalahan," potong Arga cepat, suaranya naik satu oktav, memotong ucapan Queen dengan kejam. Pria itu menatap Queen dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Semalam saya sedang mabuk dan frustrasi, dan kamu hanya kebetulan berada di sana sebagai gadis bodoh yang menawarkan diri menjadi pemuas gratisan demi sebuah taruhan gila dengan teman-temanmu."

Plak!

Kata-kata Arga barusan terasa seperti tamparan tak kasat mata yang menghantam wajah manis Queen. Ego gadis konglomerat itu terusik hebat.

"Pak Arga bilang aku pemuas gratisan?!" suara Queen meninggi, matanya yang bulat kini menatap Arga dengan kilatan amarah yang membara. Sifat bar-bar dan keras kepalanya mulai tersulut. "Aku lakuin itu karena aku suka sama Bapak! Aku ngejar Bapak terang-terangan karena aku tertarik! Bukan karena taruhan sialan itu!"

Arga terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang sama sekali tidak mencapai matanya. Pikiran kelamnya tentang sang istri yang selalu membohonginya kembali meracuni otaknya, membuat Arga memproyeksikan rasa benci itu pada Queen.

"Suka? Tertarik?" Arga melangkah satu kali ke depan, mencondongkan tubuh tegapnya hingga wajahnya sejajar dengan Queen, memberikan intimidasi mutlak seorang pria dewasa yang matang. "Jangan naif, Queen. Gadis usia dua puluh tahun seperti kamu tidak tahu apa itu arti suka. Kamu hanya gadis kaya raya, manja, dan egois yang bosan dengan hidupmu yang terlalu mudah, lalu mencari tantangan dengan menggoda dosenmu sendiri."

Arga mundur kembali, merapikan kerah kemejanya yang sama sekali tidak berantakan dengan gerakan kaku. "Semalam saya meladeni permainan kekanak-kanakanmu karena saya sedang butuh pelampiasan. Tapi di sini, di kampus ini, kamu tidak lebih dari seorang mahasiswa berotak pas-pasan yang baru saja mendapatkan nilai nol di kertas kuisnya."

Air mata kemarahan dan harga diri yang terluka mulai menggenang di pelupuk mata manis Queen. Selama hidupnya, tidak pernah ada satu pria pun yang berani menolak, menghina, dan mengoreksi dirinya sekejam ini.

"Pak Arga jahat ya," desis Queen, suaranya bergetar menahan tangis sekaligus amarah yang meluap-luap. "Bapak pikir Bapak hebat bisa memperlakukan aku kayak gini?!"

"Saya hanya menempatkanmu di posisi yang seharusnya, Queen," balas Arga tanpa belas kasihan sedikit pun. Wajah ketatnya tetap datar, seolah air mata gadis di depannya sama sekali tidak berharga. "Sekarang, ambil pulpenmu yang sengaja kamu jatuhkan tadi, perbaiki pakaian serumu yang tidak pantas dipakai ke kampus, dan keluar dari ruangan saya sebelum saya menggunakan hak saya untuk menskors kamu dari universitas milik keluargamu ini."

Queen mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Jiwa cegil-nya yang terluka parah bergejolak hebat di dalam dada. Ia menatap Arga dengan pandangan benci sekaligus penasaran yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

"Oke! Hari ini Pak Arga menang!" seru Queen dengan nada bar-bar yang bergetar. Ia menyambar tas selempangnya di atas meja dengan kasar. Sebelum berbalik menuju pintu, ia menatap lurus ke dalam netra gelap Arga untuk terakhir kalinya. "Tapi ingat kata-kata aku, Pak. Dinding es Bapak ini... suatu hari nanti aku sendiri yang akan menghancurkannya sampai berkeping-keping. Dan saat hari itu tiba, Bapak yang akan berlutut di bawah kaki aku untuk memohon ciuman ini!"

Brak!

Queen melangkah pergi dan membanting pintu kayu kelas dengan sangat keras, meninggalkan keheningan yang kembali mencekam di dalam ruangan.

Setelah punggung gadis itu benar-benar hilang dari pandangan, Arga menghela napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya. Ia melepaskan cengkeraman tangannya yang bergetar tipis di atas podium, lalu terduduk lemas di kursi dosennya. Pria berusia 30 tahun itu memejamkan matanya rapat-rapat, meraba dadanya yang berdegup sangat kencang. Penolakan dinginnya tadi bukanlah karena ia tidak tertarik, melainkan bentuk pertahanan diri terakhirnya agar tidak kembali jatuh ke dalam lubang pengkhianatan wanita yang sama. Arga tahu, ia telah berhasil mengusir Queen hari ini, namun peperangan batin di dalam dirinya sendiri baru saja dimulai.

Episodes
1 TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS
2 TARUHAN GILA DI SUDUT REMANG
3 RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER
4 BAKAT TERPENDAM DAN STRATEGI BARU
5 DINDING ES YANG BELUM RETAK
6 BAYANG-BAYANG YANG MENGGANGGU
7 SERIBU SATU CARA SANG CEGIL
8 PERTEMUAN DI MEJA MAKAN
9 BATASAN YANG HAMPIR RETAK
10 RUNTUHNYA SEBUAH HARAPAN
11 MELAMPIASKAN LUKA
12 REALITAS PAGI HARI
13 IKATAN BARU DAN SENTUHAN PENYEMBUH
14 KESENYAMANAN YANG SEMBUNYI
15 INTUISI SEORANG SAHABAT
16 DI BALIK PINTU PRIVAT
17 DI BAWAH KABUT HASRAT
18 DI BAWAH SOROT MATALU
19 TOPENG YANG KIAN RETAK
20 TERSINGKAPNYA RAHASIA BESAR
21 KESEPAKATAN DI TENGAH BADAI
22 KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
23 PENGUMUMAN DI TENGAH KEKACAUAN
24 TOPENG YANG HANCUR BERKEPING
25 RESTU DI BALIK BADAI YANG REDA
26 MAHKOTA YANG TERLUKA
27 DI BALIK DINDING KACA
28 JEJAK YANG TERTINGGAL
29 BAYANGAN DI BALIK KABUT
30 FASE BARU DI BAWAH CAHAYA MATAHARI
31 IKATAN DI ATAS ALTAR SUCI
32 TANGIS PERTAMA DI UJUNG DUNIA KECIL KITA
33 WARISAN KASIH DI BAWAH SURYA PAGI
34 BADAI YANG KEMBALI MENGULANG
35 KILAU BAJAK LAUT DI ATAS PISAU TAJAM
36 BAYANGAN DI BALIK TERALI BESI
37 PAGI SETELAH BADAI
38 Titik Balik di Ujung Senja
39 GEMA DI RUANG KELUARGA DAN RENCANA MASA DEPAN
40 LANGKAH PERTAMA DI DIASPORA SOSIAL
41 DI BAWAH LANGIT BOGOR YANG TEDUH DAN HANGATNYA KEBERSAMAAN
42 PULANG KE RUMAH, MENEMUKAN KELUARGA
43 Fajar Baru dan Janji yang Tak Lekang oleh Waktu
44 BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI MENGISI RUANG
45 BAYANGAN YANG KEMBALI MENGULUR KELAM
46 DI UJUNG TANDUK
47 CAHAYA BARU DI BAWAH LANGIT PAGI
48 BAYANGAN BARU DI BALIK CAHAYA KEMENANGAN
49 JEJAK YANG KEMBALI TERKUAK
50 BAYANG-BAYANG DI BALIK CAHAYA KOTA
51 BADAI DI AWAL PEKAN
52 KEJATUHAN SANG PENGECUT
53 FAJAR BARU TANPA BAYANGAN
54 BAYANGAN DI BALIK KEMENANGAN
55 LABIRIN KEBOHONGAN DI LANTAI 42
56 EMBUN PAGI DI ATAS MENARA KEPERCAYAAN
57 PUSARAN HARMONI DI BAWAH LANGIT METROPOLITAN
58 SIMFONI DI ATAS PUNCAK KEJAYAAN
59 FAJAR KEEMASAN DAN JANJI YANG ABADI
60 BAYANGAN DI BALIK CAHAYA MENTENG
61 DETIK-DETIK MENEGANGKAN DI GERBANG SEKOLAH
62 BAYANGAN DI RUANG INTEROGASI
63 JEJAK DI BALIK HUJAN
64 JEJAK KAKI DI PAGI BUTA
65 JEBAKAN DI LANTAI 45
Episodes

Updated 65 Episodes

1
TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS
2
TARUHAN GILA DI SUDUT REMANG
3
RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER
4
BAKAT TERPENDAM DAN STRATEGI BARU
5
DINDING ES YANG BELUM RETAK
6
BAYANG-BAYANG YANG MENGGANGGU
7
SERIBU SATU CARA SANG CEGIL
8
PERTEMUAN DI MEJA MAKAN
9
BATASAN YANG HAMPIR RETAK
10
RUNTUHNYA SEBUAH HARAPAN
11
MELAMPIASKAN LUKA
12
REALITAS PAGI HARI
13
IKATAN BARU DAN SENTUHAN PENYEMBUH
14
KESENYAMANAN YANG SEMBUNYI
15
INTUISI SEORANG SAHABAT
16
DI BALIK PINTU PRIVAT
17
DI BAWAH KABUT HASRAT
18
DI BAWAH SOROT MATALU
19
TOPENG YANG KIAN RETAK
20
TERSINGKAPNYA RAHASIA BESAR
21
KESEPAKATAN DI TENGAH BADAI
22
KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
23
PENGUMUMAN DI TENGAH KEKACAUAN
24
TOPENG YANG HANCUR BERKEPING
25
RESTU DI BALIK BADAI YANG REDA
26
MAHKOTA YANG TERLUKA
27
DI BALIK DINDING KACA
28
JEJAK YANG TERTINGGAL
29
BAYANGAN DI BALIK KABUT
30
FASE BARU DI BAWAH CAHAYA MATAHARI
31
IKATAN DI ATAS ALTAR SUCI
32
TANGIS PERTAMA DI UJUNG DUNIA KECIL KITA
33
WARISAN KASIH DI BAWAH SURYA PAGI
34
BADAI YANG KEMBALI MENGULANG
35
KILAU BAJAK LAUT DI ATAS PISAU TAJAM
36
BAYANGAN DI BALIK TERALI BESI
37
PAGI SETELAH BADAI
38
Titik Balik di Ujung Senja
39
GEMA DI RUANG KELUARGA DAN RENCANA MASA DEPAN
40
LANGKAH PERTAMA DI DIASPORA SOSIAL
41
DI BAWAH LANGIT BOGOR YANG TEDUH DAN HANGATNYA KEBERSAMAAN
42
PULANG KE RUMAH, MENEMUKAN KELUARGA
43
Fajar Baru dan Janji yang Tak Lekang oleh Waktu
44
BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI MENGISI RUANG
45
BAYANGAN YANG KEMBALI MENGULUR KELAM
46
DI UJUNG TANDUK
47
CAHAYA BARU DI BAWAH LANGIT PAGI
48
BAYANGAN BARU DI BALIK CAHAYA KEMENANGAN
49
JEJAK YANG KEMBALI TERKUAK
50
BAYANG-BAYANG DI BALIK CAHAYA KOTA
51
BADAI DI AWAL PEKAN
52
KEJATUHAN SANG PENGECUT
53
FAJAR BARU TANPA BAYANGAN
54
BAYANGAN DI BALIK KEMENANGAN
55
LABIRIN KEBOHONGAN DI LANTAI 42
56
EMBUN PAGI DI ATAS MENARA KEPERCAYAAN
57
PUSARAN HARMONI DI BAWAH LANGIT METROPOLITAN
58
SIMFONI DI ATAS PUNCAK KEJAYAAN
59
FAJAR KEEMASAN DAN JANJI YANG ABADI
60
BAYANGAN DI BALIK CAHAYA MENTENG
61
DETIK-DETIK MENEGANGKAN DI GERBANG SEKOLAH
62
BAYANGAN DI RUANG INTEROGASI
63
JEJAK DI BALIK HUJAN
64
JEJAK KAKI DI PAGI BUTA
65
JEBAKAN DI LANTAI 45

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!