Hari Pertama di Hutan Kematian

​Raungan monster yang memecah kesunyian hutan terdengar begitu dekat, sebuah suara berat dan serak yang membuat dedaunan di puncak pohon raksasa berguncang. Haruto Mirakawa berdiri mematung di sana, membiarkan angin dingin menyapu seragam kaos rumahnya yang ringan. Ia menatap ke arah hutan yang tampak seperti labirin gelap, lalu menghela napas panjang.

​"...Setidaknya udaranya segar," gumamnya datar.

​Haruto bukanlah tipe orang yang akan berteriak histeris saat menghadapi situasi mustahil. Baginya, kepanikan hanyalah pemborosan energi yang tidak perlu. Ia baru saja diculik, dikirim ke dunia lain, dan dibuang ke hutan yang suaranya saja bisa membuat jantung orang normal berhenti. Namun, satu-satunya hal yang ia pikirkan saat ini adalah betapa bersih dan jernih oksigen di tempat ini dibandingkan udara kota.

​Ia mulai berjalan, kakinya melangkah hati-hati di atas hamparan lumut yang tebal. Hutan ini memiliki aura yang berbeda; pohon-pohonnya memiliki kulit yang gelap dan keras seperti baja tua. Sesekali, ia melihat bunga-bunga berwarna ungu yang berpendar samar, namun Haruto cukup bijak untuk tetap menjaga jarak.

​Setelah berjalan cukup lama—mungkin sekitar satu jam—suara gemericik air yang familiar menyambutnya. Haruto keluar dari balik semak-semak dan menemukan sebuah sungai lebar yang airnya jernih. Di tepi sungai itu, terdapat area yang cukup datar, relatif bersih dari semak berduri, dan memiliki tanah yang terlihat subur.

​Haruto memindai area itu dengan mata seorang pekebun. "Ada air. Tanah lapang. Tidak ada predator yang terlihat sedang nongkrong. Lumayan."

​Ia meletakkan tangannya di atas tanah, merasakan teksturnya yang agak padat namun kaya nutrisi. Haruto memutuskan untuk beristirahat di sini. Saat ia menatap sungai, ia melihat bayangan hitam bergerak cepat di bawah permukaan air. Seekor ikan besar, seukuran salmon dewasa namun dengan deretan gigi yang menyerupai piranha, melompat keluar dan menyambar dahan pohon yang menggantung.

​"Ikan ganas ya?" Haruto menatap ikan itu datar. "Untung aku tidak berniat berenang sekarang."

​Karena merasa perlu melakukan sesuatu agar tetap tenang, ia mencoba skill yang diberikan Dewa. "Cangkul," bisiknya. Sontak, bayangan di tangan kanannya memadat menjadi cangkul yang kokoh dengan gagang kayu yang terasa pas di genggamannya. Ia mencoba mengubahnya menjadi kapak, pisau, hingga sabit. Perubahan bentuknya halus, seperti air yang berubah bentuk di tangan seorang pesulap. Alat-alat itu terasa sangat berat sekaligus ringan di saat yang bersamaan, tanda dari status "Dewa" yang tertanam di dalamnya.

​Haruto menatap tanah yang lembap di dekat sungai. Tanpa rencana besar, ia mulai mencangkul. Karena cangkul bayangannya sangat tajam dan kuat, tanah yang keras itu terbelah dengan kemudahan yang nyaris konyol. Ia bekerja dengan ritme yang stabil, mengayun, menarik, membalik.

​Sambil bekerja, pikirannya mengembara. "Kakek pasti marah kalau kangkungku mati karena tidak disiram," gumamnya sambil membalik lapisan tanah yang kaya akan humus. "Tomat-tomat itu... ah, mungkin sudah waktunya dipanen. Rasanya pasti sangat segar kalau dimakan langsung dengan sedikit garam."

​Ia terus mencangkul. Tidak ada ambisi untuk membangun istana, ia hanya merasa lebih tenang jika tangannya sibuk.

​Srak.

​Sebuah suara semak yang patah menyadarkan Haruto. Seekor monster kecil, sejenis tikus bertanduk dengan taring tajam, menerjang dari balik rimbunan pohon. Haruto tidak panik. Ia hanya melangkah sedikit ke samping, mengubah cangkulnya menjadi kapak dalam satu gerakan fluid.

​Plak.

​Monster itu tersungkur, mati seketika. Haruto menatap bangkai kecil itu, lalu menatap kapak di tangannya yang perlahan memudar menjadi bayangan, lalu kembali menjadi cangkul. "Dunia lain ternyata berbahaya," komentarnya singkat. Ia menyeret bangkai monster itu ke pinggiran semak agar tidak mengotori area cangkulannya, lalu kembali bekerja.

​Sore menjelang malam, cahaya matahari mulai memudar di balik pepohonan raksasa. Haruto sadar, ia tidak punya tempat tidur. Ia mulai bekerja mengumpulkan batang pohon yang tumbang. Dengan kapak bayangannya, menebang kayu terasa seperti mengiris keju. Ia memotong-motongnya dengan presisi yang mengejutkan, lalu menggunakan palu bayangannya untuk menyambungkan kayu-kayu itu.

​Ia tidak membangun rumah yang rumit. Ia hanya membuat gubuk kecil berbentuk kotak persegi yang sangat fungsional. Ukurannya hanya cukup untuk duduk tegak, berbaring meringkuk, dan menyalakan api kecil di tengah. Sangat sempit, tidak nyaman, dan jauh dari kata indah, tapi setidaknya ia punya atap.

​"Masih lebih bagus daripada tenda," gumamnya.

​Bagian tersulit adalah membuat api. Haruto mencari dahan kering yang tipis. Ia menghabiskan waktu cukup lama, mencoba menggesekkan kayu dengan berbagai teknik. Berkali-kali gagal, berkali-kali ia harus mengatur napas agar tidak emosi. Ketika akhirnya api kecil berhasil menyala di tumpukan dedaunan kering, Haruto menghela napas panjang dan tersenyum kecil. Melihat lidah api itu menari di tengah kegelapan hutan memberinya rasa aman yang tak terlukiskan.

​Malam turun sepenuhnya. Haruto duduk di depan api unggunnya, memanggang daging tikus bertanduk tadi dengan menggunakan pisau bayangan. Setelah makan, ia duduk bersandar di pintu gubuknya yang kaku, menatap sungai yang memantulkan cahaya api.

​"Besok cari makanan," gumamnya pelan.

​Ia masuk ke dalam gubuknya yang sempit, merebahkan diri di atas lantai kayu, dan segera tertidur pulas karena kelelahan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di belakang gubuknya—di tanah yang sepanjang sore tadi ia cangkul dengan begitu rajin—beberapa gundukan kecil mulai terbentuk. Sesuatu yang hijau dan segar perlahan tumbuh dari dalam tanah, seolah-olah tanah itu sendiri sedang mencoba menyambut tuannya saat ia tidur.

Terpopuler

Comments

Nurul

Nurul

masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/

2026-07-20

0

ラマSkuy

ラマSkuy

emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁

2026-07-24

1

Frando Wijaya

Frando Wijaya

emng persis seperti Isekai nonbiri nouka

2026-08-28

0

lihat semua
Episodes
1 Orang yang Tidak Seharusnya Dipanggil
2 Hari Pertama di Hutan Kematian
3 Pagi yang Tidak Masuk Akal
4 Pahlawan dan Petani
5 Rumah Pertama
6 Tamu Pertama
7 Langkah Pertama Sebuah Desa
8 PANEN PERTAMA
9 Yang Masih Kurang
10 Rutinitas Baru
11 Jalan yang Berbeda
12 Tamu Tak Terduga
13 Tamu Pertama Desa
14 Bijih Emas
15 Desa Membutuhkan Besi
16 Batu yang Bernilai
17 Api Pertama Bengkel
18 Besi Pertama
19 Desa yang Terus Berkembang
20 Asap dari Hutan Kematian
21 Tanduk Satu
22 Tamu dari Kerajaan Iblis
23 Buah Pertama Desa
24 Sebuah Kesempatan
25 Pedagang Terpilih
26 Memasuki Hutan Kematian
27 Nilai Sebuah Panen
28 Nilai Sebuah Rasa
29 Transaksi Pertama
30 Roda Berputar
31 Medan Perang Yang Panas
32 Mereka yang Memilih Hutan
33 Tamu dari Medan Perang
34 Harga Sebuah Pertolongan
35 Jalan Masing-Masing
36 Dua Sisi Medan Perang
37 perbaikan jalan
38 Panen Yang Wangi
39 Kebutuhan yang Bertambah
40 Langkah yang Terus Maju
41 Penghuni Baru
42 Manisnya Awal yang Baru
43 Persiapan Menghadapi Musim Dingin
44 Panen Pertama di Kebun Buah
45 Menyambut Musim Dingin
46 Panen Terakhir Sebelum Salju Tiba
47 Musim Dingin di Desa
48 Fajar Baru di Caelestia
49 Hari-Hari Musim Dingin
50 Dentuman di Musim Dingin
51 Langkah Pertama Menjaga Desa
52 Nilai Sebuah Makanan
53 Jalan yang Berbeda
54 Negeri di Balik Perbatasan
55 Rencana untuk Masa Depan
56 Badai Besar
57 Membangun Kembali
58 Pedagang yang Kehabisan Stok
59 Kota yang Berbeda
60 Menunggu Musim Semi
61 Elf yang Terbelenggu
62 Kerajaan Para Penyihir
63 Musim Semi dan Awal yang Baru
64 Awal Musim Tanam
65 Kembali Bertugas
66 Tamu Kecil di Kebun
67 Taman Bermain
68 Rencana yang Mulai Bertambah
69 Jejak yang Lebih Tua dari Kerajaan
70 Bestiary: Makhluk/Monster
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Orang yang Tidak Seharusnya Dipanggil
2
Hari Pertama di Hutan Kematian
3
Pagi yang Tidak Masuk Akal
4
Pahlawan dan Petani
5
Rumah Pertama
6
Tamu Pertama
7
Langkah Pertama Sebuah Desa
8
PANEN PERTAMA
9
Yang Masih Kurang
10
Rutinitas Baru
11
Jalan yang Berbeda
12
Tamu Tak Terduga
13
Tamu Pertama Desa
14
Bijih Emas
15
Desa Membutuhkan Besi
16
Batu yang Bernilai
17
Api Pertama Bengkel
18
Besi Pertama
19
Desa yang Terus Berkembang
20
Asap dari Hutan Kematian
21
Tanduk Satu
22
Tamu dari Kerajaan Iblis
23
Buah Pertama Desa
24
Sebuah Kesempatan
25
Pedagang Terpilih
26
Memasuki Hutan Kematian
27
Nilai Sebuah Panen
28
Nilai Sebuah Rasa
29
Transaksi Pertama
30
Roda Berputar
31
Medan Perang Yang Panas
32
Mereka yang Memilih Hutan
33
Tamu dari Medan Perang
34
Harga Sebuah Pertolongan
35
Jalan Masing-Masing
36
Dua Sisi Medan Perang
37
perbaikan jalan
38
Panen Yang Wangi
39
Kebutuhan yang Bertambah
40
Langkah yang Terus Maju
41
Penghuni Baru
42
Manisnya Awal yang Baru
43
Persiapan Menghadapi Musim Dingin
44
Panen Pertama di Kebun Buah
45
Menyambut Musim Dingin
46
Panen Terakhir Sebelum Salju Tiba
47
Musim Dingin di Desa
48
Fajar Baru di Caelestia
49
Hari-Hari Musim Dingin
50
Dentuman di Musim Dingin
51
Langkah Pertama Menjaga Desa
52
Nilai Sebuah Makanan
53
Jalan yang Berbeda
54
Negeri di Balik Perbatasan
55
Rencana untuk Masa Depan
56
Badai Besar
57
Membangun Kembali
58
Pedagang yang Kehabisan Stok
59
Kota yang Berbeda
60
Menunggu Musim Semi
61
Elf yang Terbelenggu
62
Kerajaan Para Penyihir
63
Musim Semi dan Awal yang Baru
64
Awal Musim Tanam
65
Kembali Bertugas
66
Tamu Kecil di Kebun
67
Taman Bermain
68
Rencana yang Mulai Bertambah
69
Jejak yang Lebih Tua dari Kerajaan
70
Bestiary: Makhluk/Monster

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!