Pahlawan dan Petani

​Cahaya teleportasi itu menghilang seperti kepulan asap ditiup angin. Kali ini, tidak ada lantai putih tanpa batas. Yang menyambut mata kedelapan siswa itu adalah kemegahan yang menyesakkan dada. Aula besar dengan lantai marmer yang mengilap, tiang-tiang raksasa berukir emas, dan langit-langit setinggi sepuluh meter.

​Di sekeliling lingkaran sihir, puluhan penyihir kerajaan terduduk lemas, wajah mereka pucat pasi karena kehabisan mana. Namun, suasana di aula itu jauh dari kata tenang. Gemuruh sorak-sorai terdengar dari balkon penonton yang dipenuhi bangsawan.

​Di atas takhta, duduk seorang pria paruh baya dengan mahkota yang berkilauan—Raja. Di sampingnya, sang Ratu, seorang Putri dengan tatapan penuh harap, serta barisan Panglima perang berdiri tegak.

​"Pahlawan telah tiba!" seru sang Raja. Suaranya menggema, penuh otoritas dan kelegaan yang luar biasa.

​Para siswa itu—Kenji (Sword Saint), Rina (Archmage), beserta tujuh rekan mereka lainnya—tertegun. Kenji, yang tadi masih gemetar di ruang dewa, kini mulai berdiri tegak saat melihat karpet merah dibentangkan di depan kakinya. Musik orkestra yang megah segera berkumandang, memenuhi ruangan.

​Raja bangkit, melangkah turun dari takhtanya. "Dunia ini berada di ambang kehancuran. Raja Iblis telah bangkit di utara, dan harapan umat manusia kini berada di tangan kalian."

​Janji-janji kemewahan pun mengalir seperti air bah: istana, guru-guru terbaik, senjata legendaris, pelayan pribadi, dan dana tak terbatas. Para siswa mulai terhanyut. Kenji mengayunkan divine swordnya—yang kini memiliki status nyata—dan langsung membelah sebuah pilar batu latihan hingga rata dengan lantai. Para penyihir kerajaan bersorak, sementara Rina merapalkan mantra es yang membekukan air mancur aula dalam sekejap.

​Di tengah hiruk-pikuk itu, Rina, sang Archmage, mengernyit. Ia menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya yang sedang asyik memamerkan status Great Sage dan Dragon Knight mereka.

​"Yang satu lagi mana?" tanya Rina tiba-tiba.

​"Siapa?" tanya Kenji, sibuk memeriksa pedangnya.

​"Anak yang tadi di belakang. Haruto."

​Suasana mendadak canggung. Para siswa saling berpandangan. Penyihir kerajaan yang bertanggung jawab atas ritual pemanggilan pun saling berbisik, lalu dengan gugup melaporkan kepada sang Raja.

​"Apakah jumlahnya memang sebanyak ini?" Raja bertanya kepada Kepala Penyihir.

​"Benar, Yang Mulia. Ritual itu hanya menangkap delapan jiwa pahlawan yang terpilih," jawab sang Kepala Penyihir dengan nada yakin.

​Mereka pun berkesimpulan bahwa anak itu mungkin gagal dipanggil karena ketidakstabilan ritual, atau mungkin hanya orang asing yang tidak sengaja terbawa arus sihir yang tidak berarti. Tak ada yang terlalu memikirkannya. Jamuan makan malam pun dimulai, dan nama Haruto Mirakawa lenyap dari ingatan mereka, tenggelam dalam gemerlap pesta penyambutan.

​Sementara itu, ribuan kilometer dari kemegahan istana, Haruto Mirakawa sedang jongkok. Ia tidak mengenakan jubah pahlawan, pun tidak sedang dipuja. Ia hanya memakai kaos santai yang sudah sedikit kotor terkena tanah, fokus mengamati kecambah kacang panjang yang baru saja tumbuh di lahan buatannya.

​"...Benar-benar tumbuh," bisiknya. Ia menyentuh daun kecil yang hijau cerah itu dengan penuh kasih sayang.

​Keyakinannya kini telah bulat. Haruto mulai mencangkul petak-petak tanah baru. Ia mulai merancang kebun yang lebih serius. Tomat, kubis, selada, timun, hingga terong; semua ia hadirkan lewat kekuatan imajinasinya. Tanah yang kemarin tampak gersang kini mulai menjanjikan kehidupan.

​Namun, Haruto sadar, kebun ini tidak akan bertahan lama jika dia terus tidur di gubuk berbentuk toilet portabel itu. Dia membutuhkan rumah yang layak, gudang untuk hasil panen, dan tempat untuk menyimpan kayu.

​Haruto berdiri, menatap pohon terbesar di area itu. Batangnya setinggi gedung tiga lantai, dengan diameter hampir tiga meter. Kulit kayunya kasar dan keras seperti baja.

​"Gubuk kecil tidak akan cukup," gumamnya. Ia mengangkat kapak bayangannya. Fokusnya tajam, bukan untuk membunuh naga, tapi untuk mendapatkan kayu terbaik.

​DOKK!!

​Ayunannya mendarat dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Suara benturan kapak pada kayu itu menggema keras, merambat menembus kabut, melintasi sungai, dan menghilang ke dalam kedalaman hutan.

Episodes
1 Orang yang Tidak Seharusnya Dipanggil
2 Hari Pertama di Hutan Kematian
3 Pagi yang Tidak Masuk Akal
4 Pahlawan dan Petani
5 Rumah Pertama
6 Tamu Pertama
7 Langkah Pertama Sebuah Desa
8 PANEN PERTAMA
9 Yang Masih Kurang
10 Rutinitas Baru
11 Jalan yang Berbeda
12 Tamu Tak Terduga
13 Tamu Pertama Desa
14 Bijih Emas
15 Desa Membutuhkan Besi
16 Batu yang Bernilai
17 Api Pertama Bengkel
18 Besi Pertama
19 Desa yang Terus Berkembang
20 Asap dari Hutan Kematian
21 Tanduk Satu
22 Tamu dari Kerajaan Iblis
23 Buah Pertama Desa
24 Sebuah Kesempatan
25 Pedagang Terpilih
26 Memasuki Hutan Kematian
27 Nilai Sebuah Panen
28 Nilai Sebuah Rasa
29 Transaksi Pertama
30 Roda Berputar
31 Medan Perang Yang Panas
32 Mereka yang Memilih Hutan
33 Tamu dari Medan Perang
34 Harga Sebuah Pertolongan
35 Jalan Masing-Masing
36 Dua Sisi Medan Perang
37 perbaikan jalan
38 Panen Yang Wangi
39 Kebutuhan yang Bertambah
40 Langkah yang Terus Maju
41 Penghuni Baru
42 Manisnya Awal yang Baru
43 Persiapan Menghadapi Musim Dingin
44 Panen Pertama di Kebun Buah
45 Menyambut Musim Dingin
46 Panen Terakhir Sebelum Salju Tiba
47 Musim Dingin di Desa
48 Fajar Baru di Caelestia
49 Hari-Hari Musim Dingin
50 Dentuman di Musim Dingin
51 Langkah Pertama Menjaga Desa
52 Nilai Sebuah Makanan
53 Jalan yang Berbeda
54 Negeri di Balik Perbatasan
55 Rencana untuk Masa Depan
56 Badai Besar
57 Membangun Kembali
58 Pedagang yang Kehabisan Stok
59 Kota yang Berbeda
60 Menunggu Musim Semi
61 Elf yang Terbelenggu
62 Kerajaan Para Penyihir
63 Musim Semi dan Awal yang Baru
64 Awal Musim Tanam
65 Kembali Bertugas
66 Tamu Kecil di Kebun
67 Taman Bermain
68 Rencana yang Mulai Bertambah
69 Jejak yang Lebih Tua dari Kerajaan
70 Bestiary: Makhluk/Monster
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Orang yang Tidak Seharusnya Dipanggil
2
Hari Pertama di Hutan Kematian
3
Pagi yang Tidak Masuk Akal
4
Pahlawan dan Petani
5
Rumah Pertama
6
Tamu Pertama
7
Langkah Pertama Sebuah Desa
8
PANEN PERTAMA
9
Yang Masih Kurang
10
Rutinitas Baru
11
Jalan yang Berbeda
12
Tamu Tak Terduga
13
Tamu Pertama Desa
14
Bijih Emas
15
Desa Membutuhkan Besi
16
Batu yang Bernilai
17
Api Pertama Bengkel
18
Besi Pertama
19
Desa yang Terus Berkembang
20
Asap dari Hutan Kematian
21
Tanduk Satu
22
Tamu dari Kerajaan Iblis
23
Buah Pertama Desa
24
Sebuah Kesempatan
25
Pedagang Terpilih
26
Memasuki Hutan Kematian
27
Nilai Sebuah Panen
28
Nilai Sebuah Rasa
29
Transaksi Pertama
30
Roda Berputar
31
Medan Perang Yang Panas
32
Mereka yang Memilih Hutan
33
Tamu dari Medan Perang
34
Harga Sebuah Pertolongan
35
Jalan Masing-Masing
36
Dua Sisi Medan Perang
37
perbaikan jalan
38
Panen Yang Wangi
39
Kebutuhan yang Bertambah
40
Langkah yang Terus Maju
41
Penghuni Baru
42
Manisnya Awal yang Baru
43
Persiapan Menghadapi Musim Dingin
44
Panen Pertama di Kebun Buah
45
Menyambut Musim Dingin
46
Panen Terakhir Sebelum Salju Tiba
47
Musim Dingin di Desa
48
Fajar Baru di Caelestia
49
Hari-Hari Musim Dingin
50
Dentuman di Musim Dingin
51
Langkah Pertama Menjaga Desa
52
Nilai Sebuah Makanan
53
Jalan yang Berbeda
54
Negeri di Balik Perbatasan
55
Rencana untuk Masa Depan
56
Badai Besar
57
Membangun Kembali
58
Pedagang yang Kehabisan Stok
59
Kota yang Berbeda
60
Menunggu Musim Semi
61
Elf yang Terbelenggu
62
Kerajaan Para Penyihir
63
Musim Semi dan Awal yang Baru
64
Awal Musim Tanam
65
Kembali Bertugas
66
Tamu Kecil di Kebun
67
Taman Bermain
68
Rencana yang Mulai Bertambah
69
Jejak yang Lebih Tua dari Kerajaan
70
Bestiary: Makhluk/Monster

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!