Pagi yang Tidak Masuk Akal

​Pagi di Hutan Kematian tidak datang dengan kicauan burung, melainkan dengan perubahan tekanan udara yang samar. Kabut tipis merayap di antara batang-batang pohon raksasa, menelan sungai hingga hanya menyisakan deru air yang terdengar seperti napas panjang bumi. Haruto Mirakawa keluar dari gubuknya, menyambut udara dingin yang langsung menusuk pori-pori kulitnya.

​Ia tidak langsung menyapa dunia dengan semangat. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa bara api unggun semalam. Setelah memastikan tumpukan abu itu masih menyimpan sisa kehangatan—sebuah modal berharga agar ia tak perlu bersusah payah menggesek kayu lagi nanti—ia melangkah menuju tepi sungai dengan wadah kayu buatannya.

​Namun, baru beberapa meter ia melangkah, kakinya terhenti.

​Matanya tertuju pada lahan yang kemarin ia cangkul. Di antara tanah yang lembap, ada beberapa titik hijau kecil yang memecah permukaan bumi dengan gigih. Haruto berjongkok. Ia memiringkan kepala, mengamati kecambah-kecambah yang jumlahnya hanya segelintir itu. Bentuk daunnya berbeda-beda—ada yang runcing, ada yang membulat. Haruto tidak merasa ada keajaiban di sana; otak praktisnya justru sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Apakah kemarin aku tidak sengaja membawa benih di saku celanaku? Atau mungkin terbawa angin?

​Tanpa berpikir jauh, ia menyiram kecambah-kecambah itu dengan air sungai yang dingin, sebuah rutinitas sederhana yang ia lakukan seperti sedang membasuh wajah sendiri.

​Perutnya mulai mengeluarkan suara protes yang keras. Hari ini, ia tidak punya pilihan selain berburu.

​Di sungai, ia belajar dengan cara yang kasar bahwa ikan-ikan di sini adalah predator puncak skala kecil. Tubuh mereka dipenuhi sisik sekeras lempengan baja, dan rahang mereka dilengkapi deretan gigi yang menyerupai gergaji piranha. Butuh waktu dua jam—dan hampir membuat tangannya terseret ke dalam arus—bagi Haruto untuk menjebak dua ekor ikan di area dangkal. Ia membunuh mereka dengan satu pukulan presisi menggunakan pisau bayangannya. Ia tidak menangkap lebih, karena ia tahu bahwa di tempat ini, sisa makanan adalah lonceng yang mengundang pemangsa lain.

​Setelah itu, ia masuk ke area hutan yang lebih dalam, meski tetap menjaga radius aman dari gubuknya. Ia berhasil mendapatkan daging kelinci hutan berbulu kasar dengan bantuan Divine Shadow Tool. Semuanya dilakukan dengan efisiensi tinggi, nyaris membosankan. Haruto tidak menikmati perburuan ini; baginya, ini hanyalah bagian dari menjaga agar tubuhnya tetap bisa berfungsi untuk melakukan hal yang ia sukai: bertani.

​Begitu kembali ke gubuk, Haruto menatap area tempat tinggalnya yang masih terasa sangat rentan. Ia menghabiskan sisa hari dengan menebang pohon-pohon muda di sekitar, menyusun batang-batang kayu tersebut menjadi pagar sederhana yang melingkar. Tidak ada desain, tidak ada keindahan. Hanya tumpukan kayu yang berfungsi sebagai pembatas agar ia setidaknya tahu di mana batas "rumahnya" berakhir.

​Menjelang senja, rasa penasaran itu kembali.

​Haruto menatap dua petak tanah kosong di samping kebun kecilnya. Ia teringat akan kebun di rumah kakeknya, teringat bagaimana kacang panjang tumbuh merambat dan kedelai menyebarkan aroma tanah yang khas. Ia berdiri di sana, memejamkan mata, membiarkan ingatannya bekerja. Ia memvisualisasikan tekstur kacang panjang dan bentuk bulat kedelai, menanamkan imajinasi itu ke dalam pori-pori tanah yang ia cangkul.

​Tentu saja, tidak ada yang terjadi.

​Haruto tertawa kecil, suara tawanya terasa ganjil di tengah hutan yang sunyi. "Haruto, Haruto... kau benar-benar mulai berhalusinasi gara-gara terlalu sering main simulator berkebun."

​Ia tetap menyiram petak-petak itu, lalu melupakan semuanya. Malam itu, ia membakar ikan dan daging buruannya. Rasanya hambar—hanya rasa amis dan gosong—tapi perutnya berhenti menjerit. Sambil memandangi api yang menari, ia tidak memikirkan naga atau raja iblis. Ia hanya berharap besok matahari tidak terlalu terik agar tanamannya tidak layu.

​...

​Keesokan paginya, Haruto keluar dari gubuk dengan mata yang masih setengah tertutup. Ia membawa wadah air, siap untuk memulai rutinitas paginya. Namun, baru dua langkah, ia membeku.

​Di atas dua petak kosong yang kemarin ia kerjakan, tanahnya sudah terangkat. Pucuk-pucuk hijau muda telah menembus permukaan dengan warna yang begitu cerah, kontras dengan warna tanah hutan yang gelap. Haruto mendekat, napasnya tertahan di tenggorokan.

​Di pucuk kecambah petak pertama, kulit biji kacang panjang masih menempel—sebuah bukti tak terbantahkan. Di petak sebelah, kecambah kedelai tampak kokoh dengan sisa kulit bijinya yang masih menempel.

​Haruto berdiri terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar di punggungnya. Ia menyentuh tanah itu dengan jemari yang gemetar.

​Aku tidak membawa benih. Aku tidak melakukan ritual sihir. Aku hanya... mengingatnya.

​Ia menatap telapak tangannya sendiri. Jika ia bisa memanggil apa pun dari bayangan dan menumbuhkan apa pun dari ingatan, apakah ini berarti ia tidak perlu lagi bertahan hidup? Apakah ini berarti ia bisa membangun kembali dunia kecilnya di tengah neraka ini?

​Sebuah senyum lebar yang tidak biasa muncul di wajahnya. Ini bukan lagi soal bertani. Ini adalah soal memenangkan permainan yang bahkan tidak ia sadari sedang ia mainkan.

Episodes
1 Orang yang Tidak Seharusnya Dipanggil
2 Hari Pertama di Hutan Kematian
3 Pagi yang Tidak Masuk Akal
4 Pahlawan dan Petani
5 Rumah Pertama
6 Tamu Pertama
7 Langkah Pertama Sebuah Desa
8 PANEN PERTAMA
9 Yang Masih Kurang
10 Rutinitas Baru
11 Jalan yang Berbeda
12 Tamu Tak Terduga
13 Tamu Pertama Desa
14 Bijih Emas
15 Desa Membutuhkan Besi
16 Batu yang Bernilai
17 Api Pertama Bengkel
18 Besi Pertama
19 Desa yang Terus Berkembang
20 Asap dari Hutan Kematian
21 Tanduk Satu
22 Tamu dari Kerajaan Iblis
23 Buah Pertama Desa
24 Sebuah Kesempatan
25 Pedagang Terpilih
26 Memasuki Hutan Kematian
27 Nilai Sebuah Panen
28 Nilai Sebuah Rasa
29 Transaksi Pertama
30 Roda Berputar
31 Medan Perang Yang Panas
32 Mereka yang Memilih Hutan
33 Tamu dari Medan Perang
34 Harga Sebuah Pertolongan
35 Jalan Masing-Masing
36 Dua Sisi Medan Perang
37 perbaikan jalan
38 Panen Yang Wangi
39 Kebutuhan yang Bertambah
40 Langkah yang Terus Maju
41 Penghuni Baru
42 Manisnya Awal yang Baru
43 Persiapan Menghadapi Musim Dingin
44 Panen Pertama di Kebun Buah
45 Menyambut Musim Dingin
46 Panen Terakhir Sebelum Salju Tiba
47 Musim Dingin di Desa
48 Fajar Baru di Caelestia
49 Hari-Hari Musim Dingin
50 Dentuman di Musim Dingin
51 Langkah Pertama Menjaga Desa
52 Nilai Sebuah Makanan
53 Jalan yang Berbeda
54 Negeri di Balik Perbatasan
55 Rencana untuk Masa Depan
56 Badai Besar
57 Membangun Kembali
58 Pedagang yang Kehabisan Stok
59 Kota yang Berbeda
60 Menunggu Musim Semi
61 Elf yang Terbelenggu
62 Kerajaan Para Penyihir
63 Musim Semi dan Awal yang Baru
64 Awal Musim Tanam
65 Kembali Bertugas
66 Tamu Kecil di Kebun
67 Taman Bermain
68 Rencana yang Mulai Bertambah
69 Jejak yang Lebih Tua dari Kerajaan
70 Bestiary: Makhluk/Monster
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Orang yang Tidak Seharusnya Dipanggil
2
Hari Pertama di Hutan Kematian
3
Pagi yang Tidak Masuk Akal
4
Pahlawan dan Petani
5
Rumah Pertama
6
Tamu Pertama
7
Langkah Pertama Sebuah Desa
8
PANEN PERTAMA
9
Yang Masih Kurang
10
Rutinitas Baru
11
Jalan yang Berbeda
12
Tamu Tak Terduga
13
Tamu Pertama Desa
14
Bijih Emas
15
Desa Membutuhkan Besi
16
Batu yang Bernilai
17
Api Pertama Bengkel
18
Besi Pertama
19
Desa yang Terus Berkembang
20
Asap dari Hutan Kematian
21
Tanduk Satu
22
Tamu dari Kerajaan Iblis
23
Buah Pertama Desa
24
Sebuah Kesempatan
25
Pedagang Terpilih
26
Memasuki Hutan Kematian
27
Nilai Sebuah Panen
28
Nilai Sebuah Rasa
29
Transaksi Pertama
30
Roda Berputar
31
Medan Perang Yang Panas
32
Mereka yang Memilih Hutan
33
Tamu dari Medan Perang
34
Harga Sebuah Pertolongan
35
Jalan Masing-Masing
36
Dua Sisi Medan Perang
37
perbaikan jalan
38
Panen Yang Wangi
39
Kebutuhan yang Bertambah
40
Langkah yang Terus Maju
41
Penghuni Baru
42
Manisnya Awal yang Baru
43
Persiapan Menghadapi Musim Dingin
44
Panen Pertama di Kebun Buah
45
Menyambut Musim Dingin
46
Panen Terakhir Sebelum Salju Tiba
47
Musim Dingin di Desa
48
Fajar Baru di Caelestia
49
Hari-Hari Musim Dingin
50
Dentuman di Musim Dingin
51
Langkah Pertama Menjaga Desa
52
Nilai Sebuah Makanan
53
Jalan yang Berbeda
54
Negeri di Balik Perbatasan
55
Rencana untuk Masa Depan
56
Badai Besar
57
Membangun Kembali
58
Pedagang yang Kehabisan Stok
59
Kota yang Berbeda
60
Menunggu Musim Semi
61
Elf yang Terbelenggu
62
Kerajaan Para Penyihir
63
Musim Semi dan Awal yang Baru
64
Awal Musim Tanam
65
Kembali Bertugas
66
Tamu Kecil di Kebun
67
Taman Bermain
68
Rencana yang Mulai Bertambah
69
Jejak yang Lebih Tua dari Kerajaan
70
Bestiary: Makhluk/Monster

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!