Episode 2

Bab 002: Langkah Pertama

Kevin menatap Meilin seolah dia baru saja mengucapkan lelucon paling buruk malam itu.

"Menjebak aku?"

Suaranya rendah. Tidak ada panik di sana. Hanya curiga yang dingin, juga sedikit lelah, seakan hidup sudah terlalu sering memberinya hal-hal buruk sampai ancaman baru tidak lagi mengejutkan.

Meilin mengangguk cepat.

"Benny," ucapnya. "Dia..."

Nama itu membuat rahang Kevin menegang.

"Jadi sekarang kamu menyebut nama dia di depanku?"

"Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

Pertanyaan itu pendek, tapi membuat Meilin kehabisan napas. Kalau dia salah memilih kata, Kevin bisa keluar dari kamar ini dengan kemarahan yang justru mendorongnya ke perangkap. Kalau dia berkata terlalu banyak, dia sendiri akan terdengar seperti orang gila.

Dia menunduk, membuka aplikasi catatan di ponsel, lalu mengetik dengan jari yang masih gemetar.

Kevin tidak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap gerakan kecilnya.

Meilin menulis:

Aku tahu kamu tidak percaya padaku. Tidak apa-apa. Tapi malam ini jangan pergi dengan siapa pun yang menghubungi atas nama pekerjaan cepat. Jangan bertemu Benny. Jangan keluar dari gang ini sendirian.

Dia menunjukkan layar itu pada Kevin.

Pria itu membaca tanpa ekspresi. Setelah selesai, dia justru menatap Meilin lebih lama.

"Kamu sedang main apa?"

Meilin menggigit bagian dalam pipinya.

Dia mengetik lagi:

Aku tidak main-main.

"Biasanya kamu tidak sesabar ini untuk berpura-pura."

Kalimat itu membuat jari Meilin berhenti di atas layar. Sakitnya aneh. Bukan karena Kevin kasar, melainkan karena setiap tuduhan darinya terdengar masuk akal. Meilin asli memang pasti sudah terlalu sering berbohong sampai kebenaran pun terlihat seperti jebakan.

Ponselnya bergetar lagi. Nomor tak dikenal.

Kevin melihat layar itu bersamaan dengannya.

Nomor tidak dikenal: Benny bilang cowoknya susah dibujuk. Bawa saja ke depan minimarket. Sisanya kami urus.

Hening jatuh di antara mereka.

Untuk pertama kalinya malam itu, kecurigaan di mata Kevin retak sedikit. Bukan berubah menjadi percaya. Belum. Tapi setidaknya dia melihat sesuatu yang tidak bisa Meilin karang dalam satu detik.

Meilin menekan layar, membuka pesan itu, lalu menggesernya ke arah Kevin.

"Aku tidak tahu nomor ini," katanya pelan. "Tapi aku tahu mereka bicara soal kamu."

Kevin mengambil ponsel itu tanpa meminta izin. Ibu jarinya bergerak cepat, membuka detail nomor, memeriksa waktu pesan, lalu kembali ke chat Benny yang diarsipkan Meilin.

Meilin menahan napas ketika Kevin melihat voice note yang belum dihapus.

"Kenapa tidak kamu hapus?" tanyanya.

"Bukti."

Kevin mengangkat mata.

Satu kata itu tampaknya lebih sulit dia pahami daripada semua kebohongan yang pernah dia dengar.

Di luar kamar, suara ketukan keras tiba-tiba terdengar dari pintu utama kos.

"Mbak Meilin! Token listriknya tinggal sedikit, ya. Kalau mati, jangan komplain. Bulan lalu juga belum lunas."

Wajah Meilin memanas.

Pemilik kos tidak menunggu jawaban. Sandalnya terdengar menjauh di lorong, meninggalkan rasa malu yang menggantung di kamar sempit itu.

Lampu neon di atas kepala berkedip sekali.

Lalu mati.

Kamar langsung tenggelam dalam gelap, hanya disinari cahaya ponsel di tangan Kevin.

Meilin memejamkan mata sesaat.

Sempurna. Di dunia asalnya, dia pernah mengeluh karena Wi-Fi kampus lambat. Di sini, bahkan lampu pun menyerah sebelum malam benar-benar dimulai.

Kevin mengembalikan ponselnya.

"Token habis," katanya datar.

"Aku dengar."

"Kamu biasanya menyuruh aku isi."

Meilin hampir menjawab, tapi dia menahan diri. Lagi-lagi ada ranjau. Hal-hal kecil yang tidak dia ketahui ternyata bisa membongkar dirinya kapan saja.

Dia membuka catatan lagi, lalu mengetik:

Mulai malam ini aku tidak akan menyuruhmu untuk hal-hal seperti itu. Kalau aku lupa diri, kamu boleh ingatkan.

Cahaya layar menerangi wajah Kevin dari bawah. Bayangannya jatuh di tulang pipi yang tajam.

"Kamu sakit?"

Pertanyaan itu muncul untuk kedua kalinya, dan kali ini terdengar lebih serius.

Meilin menggeleng.

"Aku cuma..." Dia berhenti. "Aku cuma capek menjadi orang jahat."

Kevin tertawa pelan.

Tidak ada humor di dalamnya.

"Kalimat bagus. Siapa yang mengajarimu?"

Meilin memasukkan ponsel ke saku celana pendeknya. Daripada memaksa Kevin percaya, dia berjalan ke sudut dapur kecil, mengambil panci, lalu membuka rice cooker.

Nasi di dalamnya keras di pinggir dan agak basi di bagian tengah.

Perut Meilin ikut melilit. Bukan lapar saja. Ada rasa ingin menangis yang naik ketika dia melihat dua butir telur menjadi satu-satunya pilihan makan malam mereka.

"Jangan makan itu," ucap Kevin dari belakang.

"Kenapa?"

"Sudah dari kemarin."

Meilin menutup rice cooker pelan.

Dia membuka keran wastafel. Air mengalir kecil, dingin, dan berbau besi. Di sebelahnya, pemanas air portable tergantung mati dengan kabel kusut.

"Tidak ada air panas?"

"Rusak."

"Sejak kapan?"

"Dua minggu."

Meilin menoleh.

Kevin berdiri di dekat pintu, punggungnya masih tegak meski wajahnya terlihat semakin lelah. Dalam gelap, matanya tampak lebih dalam. Dia tidak terlihat seperti pria yang minta dikasihani. Justru sebaliknya, dia seperti orang yang sudah memutuskan untuk tetap berdiri meski tidak ada satu pun yang membantunya.

Dada Meilin sesak.

Dia mengambil satu telur, memecahkannya ke mangkuk kecil, lalu menambahkan garam. Satu telur dibagi dua akan terlalu sedikit. Dua telur dihabiskan malam ini berarti besok pagi tidak ada apa-apa.

Dia berhenti.

"Aku punya uang?"

Kevin menatapnya seakan pertanyaan itu menjawab semuanya.

"Kamu habiskan kemarin."

"Untuk apa?"

"Durian."

Meilin membeku.

Durian. Dia samar-samar ingat bagian novel itu. Meilin asli membeli durian mahal lewat ojek online hanya untuk memamerkan hidup enak pada Benny, lalu memaki Kevin karena tidak ikut membayar. Sementara Kevin malam itu hanya makan sisa nasi dingin.

Rasa malu menjalar ke tengkuknya.

"Maaf," ucapnya lagi.

Kevin memalingkan wajah.

"Berhenti minta maaf kalau besok kamu akan mengulanginya."

Meilin mengambil ponsel dan mengetik lebih cepat.

Aku tidak akan mengulanginya. Aku tahu kamu tidak percaya. Jadi jangan percaya dulu. Lihat saja.

Dia meletakkan ponsel di meja, lalu menggeser layar itu ke arah Kevin.

Kevin membaca. Ekspresinya tetap tertutup, tapi kali ini dia tidak membalas dengan sindiran.

Di luar, suara motor berhenti di depan gang. Meilin langsung menegang.

Kevin juga mendengarnya.

Ada langkah beberapa orang, lalu suara laki-laki tertawa dekat pagar kos.

Meilin meraih lengan Kevin tanpa berpikir.

Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama diam.

Lengan Kevin keras di bawah jari-jarinya, hangat meski tubuhnya tampak dingin dari luar. Meilin segera melepaskan tangan.

"Jangan keluar," bisiknya.

Kevin melihat bekas sentuhan di lengannya, lalu melihat wajah Meilin.

Untuk beberapa detik, dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi suara ponselnya memotong suasana. Notifikasi masuk ke perangkat Kevin, bukan milik Meilin.

Nomor tak dikenal: Bro, ada job angkut barang malam ini. Bayaran langsung. Lokasi depan minimarket.

Wajah Meilin memucat.

Kevin membaca pesan itu. Matanya semakin gelap.

Dia tidak membalas. Dia hanya mematikan layar, lalu memasukkan ponsel ke saku.

"Mereka punya nomorku," katanya.

Meilin mengangguk.

"Karena itu jangan pergi."

Kevin menatap pintu, lalu menatap panci kosong di tangan Meilin. Entah apa yang dia pikirkan, tapi akhirnya dia melepas jaket hitamnya dan menggantungkannya kembali di kursi plastik.

Baru saat itu Meilin sadar dia menahan napas sejak tadi.

"Aku tidak pergi karena percaya padamu," ucap Kevin.

Meilin mengangguk cepat. "Aku tahu."

"Aku tidak pergi karena orang-orang itu mencurigakan."

"Iya."

"Dan kalau ini jebakan darimu..."

"Aku terima kamu marah."

Kevin terdiam.

Jawaban itu sepertinya bukan yang dia tunggu.

Malam bergerak pelan dalam gelap. Meilin akhirnya merebus air dengan sisa gas kecil, membuat telur kuah asin yang nyaris hambar. Mereka makan bergantian dari dua mangkuk plastik, tanpa banyak bicara. Kevin hanya mengambil sedikit, lalu mendorong sisa telur ke arah Meilin.

"Makan," katanya.

"Kamu juga."

"Aku sudah."

Itu jelas bohong. Tapi Meilin tidak membongkarnya. Dia hanya membagi telur itu lagi dengan sendok, separuh ke mangkuk Kevin, separuh ke mangkuknya sendiri.

Kevin menatap mangkuknya lama.

Setelah makan, dia tetap keluar.

Meilin hampir panik, tapi Kevin hanya menunjuk laptop dan tas kecilnya.

"Aku kerja di warung internet dua gang dari sini. Listrik mereka hidup. Aku pulang sebelum subuh."

"Aku ikut."

"Tidak."

"Tapi..."

"Kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun."

Nada itu final. Untuk pertama kalinya, Meilin mendengar sisi lain dari Kevin. Bukan hanya dingin. Ada ketegasan yang tenang, keras, dan anehnya membuat orang ingin menurut.

Dia berdiri di dekat pintu ketika Kevin keluar. Dari celah tirai, dia melihat punggung pria itu berjalan menembus gang gelap, membawa laptop tua seperti membawa satu-satunya jalan keluar dari hidup mereka.

Malam terasa panjang.

Meilin tidak bisa tidur. Dia mengisi ulang daya ponsel dengan powerbank kecil yang hampir habis, menyimpan semua tangkapan layar pesan Benny, lalu menulis satu catatan baru untuk dirinya sendiri.

Mulai hari ini:

1. Jangan biarkan Kevin hancur.

2. Cari uang.

3. Jangan bicara sembarangan.

4. Ubah akhir cerita.

Menjelang pukul tiga pagi, suara kunci akhirnya terdengar.

Meilin langsung bangkit dari kasur.

Kevin masuk dengan langkah pelan. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, kemejanya lebih kusut daripada tadi, dan wajahnya pucat karena lelah. Tapi matanya tidak kalah.

Di bawah cahaya tipis dari layar ponsel, Meilin melihat sesuatu yang tidak sempat dia pahami saat membaca novel.

Pria ini bukan hanya tokoh utama yang kelak akan menang.

Dia adalah seseorang yang sejak awal sudah menolak untuk tumbang.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!