Episode 5

Bab 005: Sketsa Pertama

Meilin tidak langsung tidur malam itu.

Setelah Kevin masuk ke kamar mandi kecil, dia membuka ponsel dan menatap saldo aplikasi yang tinggal beberapa ribu rupiah. Refund durian belum masuk. Token listrik masih mati. Di dapur, mi instan tersisa satu bungkus.

Kalau menunggu keadaan membaik sendiri, mereka akan kelaparan lebih dulu.

Dia memotret sketsa punggung Kevin dengan cahaya seadanya dari layar ponsel, lalu menghapus debu di meja agar latarnya tidak terlalu menyedihkan. Hasil fotonya tetap jauh dari sempurna. Ada bayangan retak layar ponsel, ada sudut kertas yang menguning, tapi gambar itu punya rasa.

Meilin membuat akun khusus untuk gambar dari Instagram lama tubuh ini. Dia menghapus foto-foto yang terlalu mencolok, menyimpan beberapa yang tidak perlu, lalu mengunggah sketsa pertama dengan caption sederhana.

Sketsa pensil. Tentang seseorang yang pulang larut, tapi tidak pernah benar-benar menyerah.

Jarinya berhenti di tombol unggah.

Apa Kevin akan marah kalau tahu punggungnya dijadikan gambar?

Meilin menoleh ke pintu kamar mandi. Suara air mengalir kecil terdengar dari dalam. Dia ragu, lalu menghapus bagian caption yang terlalu jelas.

Sketsa pensil pertama setelah lama berhenti.

Lebih aman.

Dia menekan unggah.

Saat Kevin keluar, rambut depannya basah dan wajahnya sudah dibasuh, tapi lelah masih menempel di matanya. Dia melihat Meilin belum tidur.

"Kamu masih menggambar?"

"Baru unggah."

"Di mana?"

"Instagram."

Kevin mengeringkan tangan dengan handuk tipis. "Akunmu yang lama?"

Meilin mengangguk. "Aku bersihkan dulu."

"Bagus."

Satu kata itu membuat Meilin mendongak.

Kevin tampak tidak sadar bahwa komentarnya memiliki efek sebesar itu. Dia hanya duduk di lantai, membuka amplop bayaran dari pekerjaan malam, lalu menghitung beberapa lembar uang dengan cepat.

"Besok aku isi token," katanya.

"Jangan semua."

Kevin berhenti.

Meilin menyesal begitu kata itu keluar. Dia mengambil ponsel dan mengetik, tapi Kevin sudah menunggu jawabannya dengan tatapan datar.

"Maksudku," ucap Meilin hati-hati, "sisakan untuk makan. Listrik bisa sedikit dulu."

"Kamu biasanya minta kamar terang sampai pagi."

"Mulai sekarang tidak."

Kevin menatapnya, lalu kembali menghitung uang.

"Kamu mau makan apa besok?"

Pertanyaan itu sederhana. Terlalu sederhana. Tapi bagi Meilin, rasanya seperti pintu kecil yang terbuka. Kemarin Kevin bahkan menganggap setiap kata baik darinya sebagai jebakan. Sekarang dia bertanya tentang makanan besok.

"Apa yang murah?"

"Nasi telur."

"Kalau begitu nasi telur."

"Tiga hari berturut-turut?"

Meilin mencoba tersenyum kecil. "Selama ada telur, itu sudah mewah."

Kevin menatapnya lagi. Kali ini agak lama.

"Kamu benar-benar aneh."

"Aku tahu."

"Bukan pujian."

"Tapi bukan makian juga."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Kevin bergerak sedikit. Bukan senyum penuh. Hanya perubahan kecil yang hampir hilang sebelum Meilin sempat yakin. Tapi dia melihatnya.

Jantungnya langsung terasa ringan.

Keesokan paginya, token listrik terisi sedikit.

Lampu menyala kembali, kipas tua berputar dengan suara kasar, dan Meilin bisa melihat kamar itu lebih jelas. Cahaya justru membuat semuanya tampak lebih menyedihkan. Cat dinding mengelupas. Ada noda lembap dekat plafon. Sprei tipis mereka sudah pudar.

Tapi setidaknya sekarang dia bisa bekerja.

Kevin berangkat setelah minum air putih dan makan setengah porsi nasi telur. Sebelum keluar, dia melirik buku sketsa di meja.

"Kalau ada yang tanya harga, jangan jawab terlalu cepat."

"Kenapa?"

"Orang menawar lebih rendah kalau tahu kamu butuh uang."

Meilin menyimpan kalimat itu dalam kepala. "Baik."

Kevin sudah hendak membuka pintu ketika Meilin memanggilnya, "Ko..."

Dia berhenti.

Meilin ikut membeku.

Panggilan itu keluar begitu saja. Dalam ingatan tubuh ini, kata Koko terasa akrab, tapi di antara mereka sekarang, terlalu banyak luka untuk membuatnya terdengar ringan.

Kevin menoleh perlahan.

"Apa?"

Meilin menggenggam ujung bajunya. "Hati-hati."

Kevin tidak langsung menjawab. Matanya turun ke wajah Meilin, lalu ke tangannya yang meremas kain. Sejenak kemudian, dia hanya berkata, "Kunci pintu."

Namun suaranya tidak setajam biasanya.

Setelah Kevin pergi, Meilin kembali ke meja. Dia menggambar beberapa benda kecil untuk latihan: cangkir retak, botol air, sandal Kevin di dekat pintu. Tangannya semakin lancar. Dia memotret prosesnya, mengunggah story singkat, lalu menunggu.

Tidak ada yang terjadi selama satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Meilin hampir menertawakan dirinya sendiri. Tentu saja tidak semudah itu. Di dunia mana orang baru mengunggah satu sketsa lalu langsung mendapat uang?

Ponselnya berbunyi saat dia sedang mencuci mangkuk.

Satu notifikasi Instagram.

Seseorang menyukai sketsanya.

Lalu satu lagi.

Komentar pertama masuk dari akun tanpa foto wajah.

Bagus banget. Vibes-nya sedih tapi hangat.

Meilin menatap layar seperti baru mendapat hadiah besar. Dia duduk di lantai, membalas dengan ucapan terima kasih, lalu menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar.

Sore harinya, Kevin pulang lebih cepat dari kemarin untuk mengambil charger yang tertinggal. Dia menemukan Meilin duduk di lantai dengan buku sketsa di pangkuan dan ponsel di sampingnya.

"Ada apa?"

"Ada yang like."

Kevin meletakkan tas. "Satu?"

"Tiga belas."

"Itu membuatmu senang?"

"Iya."

Kevin melihat layar ponselnya. Meilin menunjukkan unggahan itu dengan hati-hati. Ada belasan likes, dua komentar, dan satu akun yang menyimpan postingannya.

Kevin tidak tertawa.

Dia justru memperbesar gambar sketsa itu, mengamati detailnya, lalu berkata pelan, "Garis bahunya bagus."

Meilin menatapnya.

"Kamu mengerti gambar?"

"Aku mengerti ketika sesuatu terlihat hidup."

Kalimat itu membuat pipi Meilin memanas.

Kevin sepertinya juga menyadari bahwa dia baru saja memberi pujian terlalu jelas. Dia segera mengambil charger dari meja dan mengalihkan pandangan.

"Kalau unggah proses, kecilkan resolusinya," ucapnya setelah beberapa detik. "Simpan file asli. Kasih tanda tangan kecil di sudut. Orang di internet bisa ambil gambar tanpa izin."

Meilin berkedip.

"Kamu tahu soal begitu?"

"Aku kerja dengan data dan produk digital. Pencurian konten bukan hal baru."

Meilin segera menulis di catatannya.

Kevin melirik. "Apa lagi yang kamu tulis?"

"Jangan pasang harga terlalu murah. Jangan unggah file asli. Tanda tangan di sudut."

Dia tidak tahu apakah Kevin sadar, tapi nasihat-nasihat pendek itu membuat rencananya terasa lebih nyata daripada sekadar keberanian mendadak.

Saat itulah Meilin melihatnya lagi.

Bekas luka di dekat telinga Kevin, tiga sentimeter, tampak lebih jelas saat rambut basahnya tersibak. Garis tipis itu seperti menahan cerita yang belum boleh dia sentuh.

Meilin menahan keinginan untuk bertanya. Kali ini, dia hanya mengambil catatan kecil dan menulis satu hal baru di bawah daftar rencananya.

Beli salep bekas luka kalau sudah ada uang.

Ponselnya berbunyi lagi.

Kali ini bukan like.

Sebuah pesan masuk ke DM Instagram.

Halo, Kak. Sketsa seperti ini bisa dipesan? Saya mau beli satu untuk hadiah ulang tahun.

Meilin membaca pesan itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Di depan meja kecil yang masih penuh bekas hidup susah, matanya tiba-tiba terasa panas.

"Kevin," panggilnya lirih.

Pria itu belum sempat keluar. "Apa?"

Meilin mengangkat ponselnya dengan tangan gemetar.

"Ada yang mau beli gambarku."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!