Episode 3

Bab 003: Mata yang Berbicara

"Kamu belum tidur?"

Kevin menutup pintu pelan. Suaranya serak, mungkin karena terlalu lama menahan kantuk dan angin malam.

Meilin baru sadar dirinya masih berdiri di dekat kasur dengan ponsel di tangan. Catatan empat poin di layar belum sempat dia tutup.

"Belum."

Kevin melepas sepatu di dekat pintu, lalu menaruh tas laptop di samping meja. Gerakannya hati-hati, seolah bunyi sekecil apa pun bisa membuat kamar sempit itu runtuh.

"Tidur," katanya.

Satu kata. Bukan perhatian yang lembut, tapi juga bukan makian.

Meilin mengangguk, lalu berhenti ketika melihat jari Kevin yang memerah di bagian ruas. Mungkin karena terlalu lama mengetik. Mungkin karena membawa laptop ke sana kemari sepanjang malam.

"Tanganmu..."

Kevin langsung memasukkan tangan ke saku.

"Bukan urusanmu."

Kalimat itu menutup pintu lebih rapat daripada kunci. Meilin menelan kata-kata yang hampir keluar. Dia masih belum punya hak untuk peduli. Belum.

Pagi datang tanpa benar-benar membuat kamar itu terang.

Lampu masih mati. Udara di dalam kos terasa pengap karena jendela hanya bisa dibuka separuh. Dari luar terdengar suara ibu-ibu membeli sayur, anak kecil menangis minta uang jajan, dan mesin motor yang dinyalakan berkali-kali sebelum akhirnya hidup.

Kevin tidur di lantai beralas tikar tipis, membelakangi kasur.

Meilin duduk di pinggir kasur, menatap punggungnya lama. Dalam novel, dia hanya mengenal Kevin sebagai tokoh yang kelak sangat kuat. Tapi di dunia ini, punggung itu terlihat terlalu kurus untuk menanggung semua hal sendirian.

Ponselnya bergetar pelan.

Notifikasi dari aplikasi belanja makanan muncul di layar.

Pesanan Durian Musang King Premium: menunggu konfirmasi ulang.

Meilin hampir memijat keningnya.

Jadi benar. Bukan hanya cerita Kevin semalam. Meilin asli benar-benar memesan durian mahal dengan PayLater, jumlahnya hampir sama dengan uang makan mereka seminggu. Statusnya tertahan karena toko meminta konfirmasi tambahan setelah pembayaran bermasalah.

Dia membuka chat toko.

Penjual: Kak, jadi ambil? Kalau tidak, kami cancel. Stok terbatas.

Meilin mengetik cepat.

Meilin: Cancel saja, Kak. Tolong proses refund ke saldo aplikasi.

Penjual: Yakin? Kemarin Kakaknya minta disimpan.

Meilin: Yakin. Maaf merepotkan.

Beberapa menit kemudian, status pesanan berubah.

Pesanan dibatalkan. Refund diproses maksimal 2x24 jam.

Meilin mengembuskan napas lega. Uangnya belum langsung kembali, tapi setidaknya durian itu tidak akan datang seperti bom kecil yang menghancurkan pagi.

"Kamu batalkan?"

Suara Kevin membuatnya hampir menjatuhkan ponsel.

Pria itu sudah bangun. Rambutnya berantakan, wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih seperti orang yang bahkan dalam tidur pun tidak benar-benar lengah.

Meilin mengangguk.

"Durian itu," katanya. "Aku batalkan. Refund dua hari lagi."

Kevin duduk perlahan. Tatapannya turun ke ponsel Meilin, lalu kembali ke wajahnya.

"Kenapa?"

Pertanyaan sederhana. Tapi Meilin tahu di balik kata itu ada banyak hal: kenapa tiba-tiba tidak egois, kenapa tiba-tiba sadar, kenapa tiba-tiba seperti orang lain.

Dia membuka Notes, mengetik, lalu menunjukkan layar.

Karena kita tidak punya uang untuk membuangnya.

Kevin membaca kalimat itu. Sudut bibirnya tidak bergerak, tapi matanya berubah sedikit. Bukan hangat. Lebih seperti seseorang yang melihat gelas retak di atas meja dan baru sadar gelas itu tidak pecah.

"Kita?" ulangnya.

Meilin menahan napas.

Satu kata itu ternyata terlalu berani. Selama ini mungkin tidak pernah ada "kita" di antara mereka, hanya Kevin yang bertahan dan Meilin asli yang mengambil.

"Maaf," ucapnya pelan. "Aku maksudnya... rumah ini."

"Ini bukan rumah."

Kevin berdiri, melipat tikar tipisnya, lalu menaruhnya di sudut.

"Ini tempat kita tidur karena tidak ada pilihan."

Meilin tidak membantah.

Dia justru bangkit dan mulai membereskan piring kotor di dekat wastafel. Air mengalir kecil, tapi cukup untuk mencuci. Dia membuang bungkus mi instan kosong, mengikat kantong sampah, lalu menyusun dua piring plastik dan dua mangkuk yang pinggirnya sudah retak.

Kevin memperhatikannya dalam diam.

Setelah beberapa menit, dia berkata, "Kamu tidak perlu akting sampai sejauh itu."

Meilin tetap menggosok sendok dengan sabun cair yang hampir habis.

"Kalau aku akting, aku akan pilih tempat yang lebih nyaman."

Kevin tidak menjawab.

Kalimat itu keluar begitu saja, terlalu mirip dengan gaya bicara Meilin yang asli dari Surabaya. Begitu sadar, dia langsung menegang. Tapi Kevin hanya menatapnya, lama, seolah mencoba mencocokkan suara itu dengan perempuan yang selama ini dia kenal.

Meilin menunduk dan kembali mencuci.

Setelah dapur kecil sedikit bersih, dia membuka jendela lebih lebar. Engselnya macet. Dia menariknya pelan, tapi kayunya tidak bergerak. Kevin akhirnya mendekat, meraih bagian atas jendela, lalu sekali dorong membuatnya terbuka.

Udara pagi masuk bersama cahaya tipis.

Jarak mereka mendadak terlalu dekat.

Meilin bisa melihat bekas luka di dekat telinga Kevin dengan lebih jelas. Panjangnya sekitar tiga sentimeter, tipis tapi tegas, seperti garis yang sengaja ditinggalkan masa lalu. Dia hampir bertanya, tapi menahan diri.

Kevin menyadari arah pandangannya.

"Apa?"

"Tidak apa-apa."

"Kalau mau bilang jelek, bilang saja."

Meilin menggeleng cepat. "Bukan jelek."

Kevin memandangnya.

"Lalu?"

Meilin ingin menjawab dengan aman. Tapi kata-kata yang keluar justru jujur.

"Kelihatannya sakit."

Kevin terdiam.

Angin pagi menggerakkan tirai tipis di antara mereka. Untuk pertama kalinya, wajah Kevin tidak langsung mengeras. Dia seperti tidak siap menerima jawaban yang tidak menyerang.

Meilin buru-buru mundur selangkah.

"Aku mau cari sapu."

Sapu ijuk di pojok kamar sudah hampir patah. Dia tetap menggunakannya. Debu terkumpul dari bawah kasur, dari belakang pintu, dari sudut meja tempat remah makanan dan potongan kertas kecil menumpuk.

Di sela membersihkan, dia menemukan satu struk minimarket, dua koin lima ratus rupiah, dan kertas kecil berisi angka-angka yang ditulis rapi. Angka itu bukan catatan belanja. Lebih mirip rumus, atau perhitungan bisnis.

"Jangan buang itu," kata Kevin cepat.

Meilin langsung menyerahkan kertasnya.

"Aku tidak akan buang barangmu."

Kevin menerima kertas itu. Ujung jarinya menyentuh ujung jari Meilin sekilas. Sentuhan pendek, tapi cukup membuat Meilin sadar betapa dingin tangannya sendiri.

"Dulu kamu membuang proposal kerjaku," ucap Kevin.

Meilin membeku.

Satu dosa baru lagi.

Dia menatap kertas di tangan Kevin, lalu perlahan berkata, "Kalau aku bisa memungutnya kembali, aku akan lakukan."

Kevin menatapnya.

Mata Meilin terasa panas, tapi dia tidak menangis. Dia sudah menangis cukup banyak semalam dalam hati. Sekarang dia perlu bekerja, memperbaiki satu hal kecil demi satu hal kecil.

"Tapi kalau tidak bisa," lanjutnya, "aku akan pastikan mulai sekarang tidak ada yang kubuang tanpa tanya."

Kevin tidak langsung membalas.

Dia hanya berdiri di dekat jendela, memegang kertas itu, sementara cahaya pagi jatuh di wajahnya yang lelah. Meilin menunduk untuk melanjutkan menyapu, tapi dia merasakan tatapan Kevin tetap berada di wajahnya.

Terlalu lama.

Ketika dia mengangkat kepala, mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, kecurigaan Kevin tidak hilang. Namun di baliknya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tipis, hampir tidak terlihat, seperti garis cahaya pertama di sela awan.

Kevin menatap matanya seolah baru menyadari bahwa mata itu berbeda.

Dulu, mungkin mata Meilin selalu penuh tuntutan, marah, atau bosan.

Sekarang mata itu hanya jernih. Takut, bersalah, tapi jernih.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Meilin pelan.

Kevin tersadar. Tatapannya langsung turun ke kertas di tangannya.

"Tidak apa-apa."

Tapi suaranya tidak sedingin tadi.

Meilin menggenggam gagang sapu, menahan senyum kecil yang hampir muncul. Itu bukan kemenangan. Bahkan belum bisa disebut awal kepercayaan.

Tapi untuk pertama kalinya sejak dia terbangun di dunia ini, Kevin tidak memandangnya seolah dia hanya bagian dari bencana.

Dia memandangnya seperti sebuah pertanyaan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!