Ingatan Kala Itu

Anisa duduk termenung sendirian di sofa empuk ruang administrasi itu. Akhirnya ia setuju untuk mengikuti saran Reinhart agar tidak mengikuti upacara mahasiswa baru.

Mata Anisa menatap sekeliling ruangan. Entah ruangan siapa yang ia tinggali saat ini. Ruangannya cukup nyaman dan membuat Anisa rileks.

Anisa memejamkan mata sejenak. Ingatannya tertuju pada tiga bulan lalu di hari semua ini bermula. Hari dimana ia berada di titik terendah dalam hidupnya hingga memutuskan untuk melakukan semua ini.

*

*

*

Tiga bulan lalu . . .

"Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok?" Dengan wajah pucatnya Anisa bertanya pada dokter pria paruh baya itu.

"Ummm begini Nak Anisa, secepatnya Ibumu harus segera dioperasi. Untuk masalah donor ... sudah kami tangani. Sekarang tinggal Nak Anisa mengurus administrasinya."

Mulut Anisa terkunci rapat setelah mendengar penjelasan dokter Richard. Hanya itu masalah Anisa sekarang. Uang. Ia tidak memiliki uang untuk membuat ibunya kembali sehat seperti dulu.

Anisa terduduk lemas di bangku tunggu rumah sakit.

"Ya Allah, aku harus bagaimana?"

"Yang sabar ya, Nak Nisa." Dokter Richard menepuk bahu Anisa kemudian berlalu.

Anisa mengusap air matanya yang mulai mengalir deras. Di dunia ini dirinya tidak memiliki siapapun lagi kecuali ibunya.

Anisa bangkit dari duduknya dan berencana pulang ke rumah kontrakannya. Mungkin saja ia bisa menemukan barang berharga milik ibunya yang bisa dijual.

"Semoga saja di rumah ada barang milik ibu yang bisa dijual."

*****

Setibanya di rumah kontrakan kecil tempat Anisa dan ibunya tinggal selama ini, Anisa langsung menuju ke kamar ibunya. Ia buka lemari pakaian milik Rahayu dan mencari barang berharga peninggalan mendiang ayahnya.

Anisa mendesah kasar. Tidak ada satupun barang yang bisa ia jual. Anisa duduk di tepi ranjang dengan raut wajah sedih.

Tiba-tiba saja Anisa melihat ada sesuatu di lemari pakaian ibunya. "Apa itu?"

Anisa mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah foto.

"Foto siapa ini?" Anisa membalik lembar foto dan melihat ada nama dan alamat tertera di sana.

"Ridho Ilahi dan Reni Sanjaya? Siapa dia?" Anisa menatap foto pria dan wanita serta rumah yang ada di belakang mereka.

Ingatan Anisa tertuju pada cerita ibunya saat masih sehat jika sang ayah, Rizky Sanjaya memiliki saudara perempuan.

"Mungkinkah jika mereka adalah ... keluargaku?"

Anisa buru-buru mengusap air matanya. "Aku harus menemui mereka. Pasti mereka bisa membantuku."

Anisa bergegas pergi keluar sambil membawa foto yang tertera alamat. Anisa memanggil ojek dan menyebutkan alamat yang akan ia tuju.

*****

Tatapan Anisa terperangah melihat rumah mewah yang ada di depannya.

"Pak, alamatnya benar kan?" tanya Anisa pada si driver ojek.

"Benar, Mbak. Ini sesuai dengan yang tertulis di foto itu."

Anisa mengangguk. "Baik, terima kasih. Ini ongkosnya, Pak."

Anisa menekan bel yang ada di depan pintu gerbang. Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk Anisa.

"Permisi, Bu. Apa benar ini rumah Pak Ridho Ilahi?"

"Iya, benar. Non ini siapa ya?" tanya balik si wanita paruh baya.

"Saya Anisa. Putrinya Pak Rizky Sanjaya. Bisa saya bertemu dengan Pak Ridho?"

"Mari silakan masuk, Non. Saya panggilkan Nyonya Reni dulu."

Dengan sopan Anisa masuk ke dalam rumah yang termasuk mewah. Anisa menatap sekeliling bangunan rumah berlantai dua itu.

"Jika adik ayah saja memiliki rumah yang besar begini ... apa jangan-jangan ayah berasal dari keluarga berada? Tapi kenapa ayah tidak pernah berhubungan dengan keluarganya lagi?" Anisa berbicara dalam hati.

"Berani sekali kamu datang kemari hah!" Suara menggelegar memenuhi ruang tamu hingga membuat Anisa terperanjat kaget.

"Ta-tante?" Anisa tergagap seketika. Jelas sekali tergambar raut wajah marah di wajah wanita bernama Reni itu.

"Tante? Siapa yang kamu panggil tante hah?! Pergi kamu dari sini! Untuk apa kamu kemari hah?" Reni mendorong tubuh Anisa.

"Tante, tolong ibu saya." Anisa mencoba mengiba, siapa tahu Reni bisa luluh.

"Dasar tidak tahu diri! Setelah ibumu merebut Mas Rizky dari hidup kami, kamu datang untuk meminta tolong? Aku tidak sudi membantumu. Pergi dari sini!"

"Tante! Saya mohon, Tante. Ibu sedang sakit. Dia butuh biaya untuk operasi. Tolonglah, Tante. Hanya Tante satu-satunya keluarga kami." Anisa merendahkan diri memohon pada Reni.

"Tidak! Aku tidak akan pernah membantumu! Pergi dari sini!" Sekali lagi Reni mendorong tubuh Anisa hingga terhuyung dan jatuh di lantai.

Mendengar keributan di dalam rumahnya, Ridho buru-buru menghampiri.

"Ada apa ini? Ma, jangan begini. Bagaimanapun juga Anisa adalah keponakanmu."

"Aku tidak sudi menganggap dia dan ibunya sebagai keluarga apalagi keponakan." Reni melenggang pergi meninggalkan Anisa dan Ridho.

Anisa menangis sedih mendengar kalimat menyakitkan dari mulut tantenya sendiri.

"Anisa, bangunlah." Ridho membantu Anisa untuk berdiri.

"Om, aku harus bagaimana? Ibu membutuhkan biaya untuk operasi. Aku harus minta tolong pada siapa lagi? Aku tidak punya siapapun, Om..." Anisa terisak di depan Ridho.

"Tolong pahami posisi tantemu. Saat ini dia sedang emosi. Jadi, tunggulah hingga dia lebih tenang. Om akan bicara dengannya. Tinggalkan nomer telponmu. Om akan menghubungimu jika tantemu sudah lebih tenang."

Anisa mengangguk. "Terima kasih banyak, Om. Maaf jika kedatanganku ... membuat suasana jadi tidak nyaman."

"Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu, di rumah sakit mana ibumu dirawat?"

"Di rumah sakit Harapan Anda. Kalau begitu, aku permisi dulu, Om. Maaf jika aku mengganggu waktu Om dan tante. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam." Ridho menatap iba kepergian Anisa tanpa bisa berbuat apapun.

*****

Keesokan harinya, Anisa kembali datang ke rumah sakit. Hatinya begitu sedih karena tak bisa mendapatkan bantuan untuk biaya operasi Rahayu.

Dokter Richard datang menemui Anisa yang sedang duduk di bangku tunggu depan kamar rawat ibunya dan kembali menanyakan perihal biaya operasi. Namun, jawaban Anisa hanyalah gelengan lemah. Dokter Richard langsung paham dan tak bertanya lagi.

"Ya sudah. Jika memang kamu tidak mendapatkan bantuan dari keluarga terdekatmu, maka tunggulah sampai ada keajaiban datang. Percayalah jika Tuhan pasti akan membantu umat-Nya," ucapnya menyemangati Anisa.

Anisa hanya menggangguk pasrah. "Ya Allah..." Air mata Anisa kembali luruh. Ia tak ingin kehilangan satu-satunya orang yang ia sayangi di dunia.

"Ibu... Tolong bertahanlah sampai Nisa bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi ibu," gumamnya lirih.

Tanpa Anisa duga, seorang wanita cantik tinggi semampai tiba-tiba duduk di samping Anisa.

"Apa kamu ... sedang butuh uang?"

Pertanyaan wanita itu membuat Anisa menoleh. Dengan polosnya Anisa mengangguk.

"Aku ... bisa membantumu."

"Eh? Be-benarkah, Nyonya?" Wajah sembab Anisa tiba-tiba bersinar cerah. Begitu cepatkah doanya terkabul?

"Iya, tentu saja. Aku tidak bohong. Berapa uang yang kamu butuhkan?"

Anisa menelan ludahnya dengan susah payah. "Ti-tiga ratus juta."

Wanita cantik itu tersenyum penuh arti. "Oke, akan kuberikan. Tapi, ada syaratnya."

"Eh? A-apa syaratnya?" Wajah Anisa terlihat menegang. Ia takut jika wanita cantik ini memberikan syarat yang aneh.

"Menikahlah dengan suamiku."

"A-apa?!"

*

*

*

Lamunan Anisa tentang ingatan kala itu buyar seketika saat mendengar bunyi pintu yang terbuka. Rupanya sosok Reinhart masuk ke ruang admin kembali.

"Acaranya sudah selesai. Kamu boleh keluar dari sini," ucapnya.

Anisa mengangguk pelan. "Terima kasih."

"Besok datang langsung saja kemari dan jangan mengikuti upacara."

"Tapi, besok adalah hari terakhir upacara penyambutan. Saya..."

"Tolong menurut saja, Anisa. Ini demi kebaikan kamu dan juga ... bayimu."

Anisa merasa tertohok saat Reinhart membahas soal kehamilannya.

"Kenapa dokter melakukan ini? Apa dokter ingin mengolok-olok saya?" Anisa tak suka jika Reinhart terus membahas soal kehamilannya.

Reinhart menggeleng. "Tidak, justru saya sedang membantu kamu. Tolong jangan salah paham. Lagi pula, kampus ini tidak melarang mahasiswa untuk menikah saat masih kuliah. Atau mungkin kamu dan suami kamu sepakat untuk menyembunyikan persoalan ini. Saya tidak masalah. Saya akan jaga rahasia kamu. Saya janji."

Kalimat panjang lebar Reinhart tak mendapat jawaban dari Anisa. Gadis itu hanya diam dan tak ingin menanggapi.

"Terima kasih atas bantuan dokter hari ini. Besok tidak perlu melakukan hal aneh seperti ini lagi. Saya bisa jaga diri saya sendiri. Permisi!" Anisa keluar dari ruangan itu tanpa menatap Reinhart sama sekali.

Reinhart tersenyum simpul mendengar ucapan Anisa. "Semakin kamu menolak, aku akan semakin mendekat, Anisa Maharani. Aku harus cari tahu apa benar kamu sudah menikah atau ...."

Reinhart menggeleng kuat. "Tidak! Aku yakin dia adalah gadis baik-baik. Dia juga gadis pertama yang membuatku berdebar untuk pertama kali." Reinhart memegangi dada kirinya dengan tangan sambil terus mengulas senyum.

*

*

*

*

*

Epilog

Reinhart sengaja berangkat lebih pagi agar bisa melihat Anisa. Entah kegilaan apa yang dipikirkannya kali ini. Ia meraih ponsel dan menghubungi nomor Riyan.

"Halo, Yan. Lo dimana?"

"Di ruangan. Kenapa?"

"Bagus. Lo bisa bantu gue lagi kan?"

Riyan berdecak. "Apa lagi kali ini, Rein?"

"Tolong lo umumin pakai pengeras suara di ruang siaran kampus, suruh mahasiswi yang bernama Anisa Maharani dari jurusan kedokteran datang ke ruangan lo."

"What? Lo bener-bener ya!"

"Yan, please. Umumin pas upacara mahasiswa baru akan dimulai. Oke?"

Reinhart memutus sambungan secara sepihak.

Di seberang sana, Riyan mengumpati ponselnya yang sudah menghitam.

"Haish, kalau bukan karena lo adalah putra pemilik yayasan, gue mana mau ngelakuin hal aneh kayak gini. Lagian dia ... kenapa terobsesi sama cewek bernama Anisa ini sih? Gue jadi penasaran kayak apa cewek yang lagi dideketin si Rein. Ini pertama kalinya dia tertarik sama cewek. Semoga ini pertanda bagus." Riyan segera beranjak ke ruang siaran dan melakukan perintah Reinhart.

Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Ingatan Kala Itu
3 Dua Wanita Hamil
4 Sepenggal Kisah Masa Lalu
5 Hanya Ingin Dia
6 Bayi Kembar
7 Dua Bagian
8 Dua Hati Tambah Satu
9 Ditolak Lagi?
10 Rencana Raisa dan Rendra
11 Suami Anisa?
12 Ada yang Aneh
13 Rahasia yang Rumit
14 Terbongkar
15 Keputusan Reinhart
16 Perhatian Dua Pria
17 Pernyataan Cinta Renata
18 Seven Months
19 Janji Bukit Berbintang
20 Momen Manis yang Kau Tinggalkan
21 After Five Years
22 Yang Sebenarnya...
23 Meet You Again
24 Yang Sebenarnya (2)
25 Jujur Lebih Baik
26 Pertemuan Tiga Hati
27 Tiga Pria dalam Kisah Anisa
28 Jurus Jitu Reinhart
29 Terdampar Bikin Hati Berdebar
30 Mencoba Bersama
31 Yang Sebenarnya (3)
32 Terbuang...
33 Bisakah Kita Bersama?
34 Ujian Cinta Kita
35 F I R A S A T
36 Kehilangan
37 Yang Sebenarnya (4)
38 Yang Sebenarnya (5)
39 RESTART
40 Meminta Restu
41 Hukuman
42 Apakah Karma Itu Ada?
43 Takdir Cinta Kita
44 Bersatunya Cinta
45 First Love Never Die
46 Cinta Adalah Perjuangan
47 Mencari Jawaban Cinta
48 Solusi atau Masalah?
49 Semua Karena Anisa
50 Firasat Masing-masing
51 Salah Paham
52 Pengakuan Dosa
53 Pesta Ulang Tahun Kakek Raka
54 Rencana Terselubung
55 Kejutan
56 Another Anisa
57 Kamu Bukan Lawanku
58 Pelangi Setelah Hujan
59 Tidak Ada yang Sempurna
60 Tentang Anisa atau Icha
61 Hari Bahagia Rhea dan Ruby
62 Dua Anisa Galau
63 Perpisahan di Tengah Rintik
64 Kebahagiaan yang Ditunggu
65 Kebahagiaan di antara Luka
66 Di Ambang Cahaya Baru
67 End of Happiness
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Ingatan Kala Itu
3
Dua Wanita Hamil
4
Sepenggal Kisah Masa Lalu
5
Hanya Ingin Dia
6
Bayi Kembar
7
Dua Bagian
8
Dua Hati Tambah Satu
9
Ditolak Lagi?
10
Rencana Raisa dan Rendra
11
Suami Anisa?
12
Ada yang Aneh
13
Rahasia yang Rumit
14
Terbongkar
15
Keputusan Reinhart
16
Perhatian Dua Pria
17
Pernyataan Cinta Renata
18
Seven Months
19
Janji Bukit Berbintang
20
Momen Manis yang Kau Tinggalkan
21
After Five Years
22
Yang Sebenarnya...
23
Meet You Again
24
Yang Sebenarnya (2)
25
Jujur Lebih Baik
26
Pertemuan Tiga Hati
27
Tiga Pria dalam Kisah Anisa
28
Jurus Jitu Reinhart
29
Terdampar Bikin Hati Berdebar
30
Mencoba Bersama
31
Yang Sebenarnya (3)
32
Terbuang...
33
Bisakah Kita Bersama?
34
Ujian Cinta Kita
35
F I R A S A T
36
Kehilangan
37
Yang Sebenarnya (4)
38
Yang Sebenarnya (5)
39
RESTART
40
Meminta Restu
41
Hukuman
42
Apakah Karma Itu Ada?
43
Takdir Cinta Kita
44
Bersatunya Cinta
45
First Love Never Die
46
Cinta Adalah Perjuangan
47
Mencari Jawaban Cinta
48
Solusi atau Masalah?
49
Semua Karena Anisa
50
Firasat Masing-masing
51
Salah Paham
52
Pengakuan Dosa
53
Pesta Ulang Tahun Kakek Raka
54
Rencana Terselubung
55
Kejutan
56
Another Anisa
57
Kamu Bukan Lawanku
58
Pelangi Setelah Hujan
59
Tidak Ada yang Sempurna
60
Tentang Anisa atau Icha
61
Hari Bahagia Rhea dan Ruby
62
Dua Anisa Galau
63
Perpisahan di Tengah Rintik
64
Kebahagiaan yang Ditunggu
65
Kebahagiaan di antara Luka
66
Di Ambang Cahaya Baru
67
End of Happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!