Sepenggal Kisah Masa Lalu

*Flashback*

"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa Maharani binti Rizky Sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Bagaimana para saksi?"

"SAH!"

"Alhamdulillah."

Beberapa orang yang hadir di tempat itu ikut mengangkat tangan seraya mendoakan pernikahan Anisa dengan seseorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Anisa menikah dengan suami wanita yang akan menolongnya untuk membiayai operasi ibunya.

Dengan mata berkaca-kaca, Anisa ikut berdoa untuk pernikahannya. Ini bukan tangisan bahagia, tapi lebih ke sebuah kesedihan dan kekecewaan pada dirinya sendiri. Ia terpaksa melakukan pernikahan ini demi membantu kesembuhan ibunya.

"Cepat pakai cadarmu." Suara dari samping Anisa membuat gadis itu menoleh. "Aku akan perkenalkan kamu dengan suamiku. Tapi, kamu harus ingat, jangan pernah menampakkan wajahmu di depan suamiku. Mengerti?"

Anisa mengangguk patuh. Mereka berdua berjalan mendekati pria yang tadi mengucap ijab kabul.

"Mas, ini adalah gadis yang akan jadi ibu pengganti untuk kita." Wanita cantik itu memperkenalkan Anisa.

Anisa hanya menundukkan wajahnya tanpa mau melihat sosok pria yang telah mempersuntingnya secara siri.

"Oh." Hanya satu kata yang keluar dari mulut si pria tanpa menatap Anisa.

"Sudah selesai kan? Aku harus ke rumah sakit." Si pria melirik jam tangannya.

"Hmm, pergilah. Aku yang akan mengurus semuanya."

Si pria mengecup singkat kening si wanita kemudian berlalu pergi.

"Dengar Anisa." Si wanita menatap Anisa lekat. "Hari ini juga ibumu akan dioperasi. Dan kamu harus bersiap untuk program bayi tabung ini. Bagaimana?"

"Baik, Nyonya." Anisa menjawab dengan masih menundukkan kepala.

"Raisa. Namaku Raisa. Dan suami sirimu bernama Rendra. Kita belum berkenalan secara resmi." Raisa mengulurkan tangannya.

Anisa menyambutnya dengan tersenyum tipis.

"Kita ke rumah sakit sekarang. Hingga bayi kami lahir, kamu akan berada dalam pengawasanku. Dan semua biaya hidup ibumu dan kamu akan aku tanggung sepenuhnya."

Anisa mengangguk lagi.

"Bagus. Ada yang ingin kamu katakan?"

Anisa terlihat ragu. "Ummm, saya ... saya ingin melanjutkan pendidikan saya, Nyonya Raisa."

"Oh, tidak masalah. Aku bisa mengurusnya. Kamu akan berkuliah di kampus terbaik di kota ini."

Anisa tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Nyonya Raisa."

"Jangan berterimakasih dulu. Kamu bisa memiliki segalanya saat kamu telah dinyatakan hamil."

DEG! Anisa merasakan dadanya begitu sesak. Seperti inikah takdir yang harus dijalaninya?

*

*

*

Dua hari pasca operasi sang ibu, Anisa juga menjalani beberapa tes agar tubuhnya siap menerima donor benih yang sudah disepakati. Anisa sudah menandatangani perjanjian jika dirinya tidak boleh membocorkan hal ini pada orang lain. Namun, Anisa diperbolehkan jujur pada Rahayu karena wanita itu yang nanti akan membantu menjaga Anisa selama kehamilan.

"Jangan sampai Mas Rendra tahu kalau sel telur yang akan dibuahi adalah milikmu." Lagi dan lagi Raisa memperingatkan Anisa.

"Iya, Nyonya. Saya paham."

Raisa menghela napas panjang. "Kamu tidak tahu betapa hancur perasaanku saat aku divonis mandul. Jadi, bantu aku untuk mewujudkan impian suamiku dan juga keluarganya. Mengerti?" Raisa menatap Anisa dengan wajah sendu. Ia ingin Anisa berempati dengan kondisinya.

"Iya, Nyonya."

"Bayi laki-laki. Kamu harus melahirkan bayi laki-laki." Raisa berharap penuh pada Anisa.

"Semoga Allah mengabulkan keinginan Nyonya," balas Anisa.

*

*

*

Sepeninggal Raisa, Anisa duduk sendiri di bangku tunggu depan kamar Rahayu. Dokter Richard bilang kondisi ibunya sudah stabil, tapi masih belum sadarkan diri pasca operasi.

"Anisa?"

Suara dari arah samping membuat Anisa menoleh.

"Om Ridho?" Anisa beranjak dari duduknya dan segera menyalami Ridho.

"Maaf kalau Om baru bisa datang kesini."

Anisa tersenyum. "Tidak apa-apa, Om."

"Bagaimana kondisi ibu kamu?"

"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, Om. Sekarang tinggal pemulihan saja."

Ridho bernapas lega. "Syukurlah kalau begitu." Ridho mengajak Anisa duduk kembali.

"Maafkan atas sikap tantemu tempo hari. Hingga detik ini, hati tantemu masih sekeras batu dan tidak bersedia membantu kamu."

"Tidak apa-apa, Om. Aku maklum dengan sikap tante Reni. Selama ini kami tinggal terpisah dengan kalian. Aku bahkan baru tahu kalau ayah memiliki adik perempuan."

"Lebih tepatnya saudara kembar."

"Eh? Maksud Om ... ayah dan tante Reni itu kembar?"

Ridho mengangguk. "Ya, mereka terlahir kembar. Makanya, tantemu sangat bergantung pada Mas Rizky. Tapi, saat beranjak dewasa, Mas Rizky memilih jalan yang berbeda. Dia memilih untuk hidup bersama ibumu dan meninggalkan keluarganya."

Anisa menutup mulutnya tak percaya. "Makanya tante Reni sangat membenci kami?"

Ridho mengusap puncak kepala Anisa. "Bukan membenci. Lebih tepatnya belum membuka hatinya. Doakan saja suatu saat nanti tantemu bisa membuka hatinya dan menerima kalian jadi bagian keluarga kami."

"Aamiin."

"Oh ya, Anisa." Ridho mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.

"Tolong terima ini. Om tidak bisa membantu banyak. Tapi, semoga ini bisa bermanfaat untuk kamu dan mbak Rahayu."

"Eh? Om? Kenapa repot-repot?" Anisa menerima meski dengan berat hati. "Terima kasih banyak, Om."

"Jaga diri kamu ya!"

"Iya, Om."

"Oh ya, ngomong-ngomong ... apa kamu sudah dapat dana untuk operasi ibumu?"

Anisa kembali mengulas senyum. "Alhamdulillah ada orang baik yang bersedia jadi donatur, Om."

"Kamu sungguh beruntung, Anisa."

Anisa hanya membalas dengan seulas senyum manis.

*

*

*

Dua minggu pasca program bayi tabung yang dilakoni Anisa, kini kondisinya harus terus dipantau oleh dokter. Raisa juga harap-harap cemas dengan hasil yang akan diterimanya nanti.

"Gimana, Ridha? Semuanya berjalan dengan lancar kan?" Raisa bertanya pada Ridha, dokter kandungan sekaligus sahabatnya.

"Kita tunggu perkembangan benihnya dulu. Kalau sudah siap, bisa langsung disuntikkan ke rahim Anisa." Ridha menatap iba gadis muda yang bersama Raisa. Memang seperti inilah garisan takdir bagi seorang gadis miskin dan tak berdaya seperti Anisa.

"Jangan tegang ya, Anisa. Lakukan semua hal yang sudah aku catat untukmu. Kondisi tubuhmu juga harus fit saat melakukan penyuntikan nanti."

"Iya, Dokter."

*

*

*

*Masa sekarang*

"Kamu mau kemana?" tanya Rendra saat melihat Raisa sudah berdandan rapi.

"Aku ada kerjaan, Mas."

Rendra berdiri berhadapan dengan Raisa. "Jangan ambil pekerjaan yang berat. Kamu sedang berpura-pura hamil. Jangan sampai mama curiga dengan kehamilanmu."

Raisa malah tertawa. "Mas tenang saja. Tidak akan ada yang tahu sandiwara yang kita mainkan ini, Mas. Aku pergi dulu ya, Raya sudah menunggu di luar." Raisa mengecup singkat pipi Rendra lalu keluar kamar.

Sementara itu, Rindi tengah mengobrol dengan manajer Raisa di ruang tengah. Rindi meminta Raya agar mengurangi jadwal pekerjaan Raisa karena wanita itu sedang hamil.

"Tante tenang aja. Eike gak kasih Raisa pekerjaan yang berat kok," balas pria bernama asli Rahwono ini dengan gaya gemulai.

"Ya bagus lah. Raisa sedang mengandung pewaris keluarga Kramawijaya. Jangan sampai dia kenapa-napa. Oke?" peringat Rindi.

"Siap, Tante."

Tiba-tiba Raisa ikut masuk dalam obrolan. Wanita cantik itu tak ingin berbasa basi lebih lama lagi dengan ibu mertuanya.

"Yuk berangkat, Ray." Raisa menggamit lengan Raya kemudian berpamitan dengan Rindi.

Saat berbalik badan, Rindi bertemu tatap dengan Reinhart.

"Lho? Kamu menginap disini?" Rindi tidak tahu jika semalam Reinhart memutuskan menginap karena permintaan sang kakek.

Reinhart hanya mengangguk.

"Kamu udah sarapan? Sarapan dulu sebelum berangkat," tawar Rindi.

"Gak usah, Ma. Aku harus segera ke kampus." Reinhart membungkuk hormat lalu melewati tubuh Rindi.

"Cih, dasar anak gak tahu diri. Setelah ini kamu bukan lagi siapa-siapa di keluarga Kramawijaya. Karena semua harta dan kekuasaan akan jatuh ke tangan Rendra yang berhasil memberikan pewaris pada keluarga ini," gumam Rindi dengan senyum menyeringai.

* * * * *

Terpopuler

Comments

falea sezi

falea sezi

oalah bodoh bgt anisa😒

2026-07-21

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Ingatan Kala Itu
3 Dua Wanita Hamil
4 Sepenggal Kisah Masa Lalu
5 Hanya Ingin Dia
6 Bayi Kembar
7 Dua Bagian
8 Dua Hati Tambah Satu
9 Ditolak Lagi?
10 Rencana Raisa dan Rendra
11 Suami Anisa?
12 Ada yang Aneh
13 Rahasia yang Rumit
14 Terbongkar
15 Keputusan Reinhart
16 Perhatian Dua Pria
17 Pernyataan Cinta Renata
18 Seven Months
19 Janji Bukit Berbintang
20 Momen Manis yang Kau Tinggalkan
21 After Five Years
22 Yang Sebenarnya...
23 Meet You Again
24 Yang Sebenarnya (2)
25 Jujur Lebih Baik
26 Pertemuan Tiga Hati
27 Tiga Pria dalam Kisah Anisa
28 Jurus Jitu Reinhart
29 Terdampar Bikin Hati Berdebar
30 Mencoba Bersama
31 Yang Sebenarnya (3)
32 Terbuang...
33 Bisakah Kita Bersama?
34 Ujian Cinta Kita
35 F I R A S A T
36 Kehilangan
37 Yang Sebenarnya (4)
38 Yang Sebenarnya (5)
39 RESTART
40 Meminta Restu
41 Hukuman
42 Apakah Karma Itu Ada?
43 Takdir Cinta Kita
44 Bersatunya Cinta
45 First Love Never Die
46 Cinta Adalah Perjuangan
47 Mencari Jawaban Cinta
48 Solusi atau Masalah?
49 Semua Karena Anisa
50 Firasat Masing-masing
51 Salah Paham
52 Pengakuan Dosa
53 Pesta Ulang Tahun Kakek Raka
54 Rencana Terselubung
55 Kejutan
56 Another Anisa
57 Kamu Bukan Lawanku
58 Pelangi Setelah Hujan
59 Tidak Ada yang Sempurna
60 Tentang Anisa atau Icha
61 Hari Bahagia Rhea dan Ruby
62 Dua Anisa Galau
63 Perpisahan di Tengah Rintik
64 Kebahagiaan yang Ditunggu
65 Kebahagiaan di antara Luka
66 Di Ambang Cahaya Baru
67 End of Happiness
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Ingatan Kala Itu
3
Dua Wanita Hamil
4
Sepenggal Kisah Masa Lalu
5
Hanya Ingin Dia
6
Bayi Kembar
7
Dua Bagian
8
Dua Hati Tambah Satu
9
Ditolak Lagi?
10
Rencana Raisa dan Rendra
11
Suami Anisa?
12
Ada yang Aneh
13
Rahasia yang Rumit
14
Terbongkar
15
Keputusan Reinhart
16
Perhatian Dua Pria
17
Pernyataan Cinta Renata
18
Seven Months
19
Janji Bukit Berbintang
20
Momen Manis yang Kau Tinggalkan
21
After Five Years
22
Yang Sebenarnya...
23
Meet You Again
24
Yang Sebenarnya (2)
25
Jujur Lebih Baik
26
Pertemuan Tiga Hati
27
Tiga Pria dalam Kisah Anisa
28
Jurus Jitu Reinhart
29
Terdampar Bikin Hati Berdebar
30
Mencoba Bersama
31
Yang Sebenarnya (3)
32
Terbuang...
33
Bisakah Kita Bersama?
34
Ujian Cinta Kita
35
F I R A S A T
36
Kehilangan
37
Yang Sebenarnya (4)
38
Yang Sebenarnya (5)
39
RESTART
40
Meminta Restu
41
Hukuman
42
Apakah Karma Itu Ada?
43
Takdir Cinta Kita
44
Bersatunya Cinta
45
First Love Never Die
46
Cinta Adalah Perjuangan
47
Mencari Jawaban Cinta
48
Solusi atau Masalah?
49
Semua Karena Anisa
50
Firasat Masing-masing
51
Salah Paham
52
Pengakuan Dosa
53
Pesta Ulang Tahun Kakek Raka
54
Rencana Terselubung
55
Kejutan
56
Another Anisa
57
Kamu Bukan Lawanku
58
Pelangi Setelah Hujan
59
Tidak Ada yang Sempurna
60
Tentang Anisa atau Icha
61
Hari Bahagia Rhea dan Ruby
62
Dua Anisa Galau
63
Perpisahan di Tengah Rintik
64
Kebahagiaan yang Ditunggu
65
Kebahagiaan di antara Luka
66
Di Ambang Cahaya Baru
67
End of Happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!