Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Pertemuan Pertama

Suasana upacara penerimaan mahasiswa baru di kampus Harapan Bangsa mendadak ricuh saat ada seseorang yang berteriak di antara kerumunan.

"Tolong, ada yang pingsan!" seru seorang gadis hingga membuat semua atensi tertuju kepadanya.

"Bawa ke klinik kampus saja!" seru yang lainnya.

Beberapa mahasiswa perempuan ikut membantu mengangkat tubuh gadis berhijab itu dan di bawa ke posko pelayanan kesehatan.

"Apa yang terjadi?" Salah seorang petugas di posko bertanya pada si mahasiswi bernama Rhea.

"Saya tidak tahu, Kak. Tadi Anisa sempat mengeluh sakit kepala saat upacara akan dimulai. Wajahnya juga udah pucat sebelum upacara."

Si petugas mengangguk. "Baiklah, kami akan bawa ke klinik untuk diperiksa. Kalian bisa kembali ke barisan."

Rhea mengangguk. "Iya, Kak. Terima kasih."

Tubuh Anisa yang tak sadarkan diri di bawa dengan brankar menuju ke klinik kampus. Tiba di klinik, seorang dokter muda langsung menanganinya.

"Cepat bawa ke bilik nomer satu," ucap dokter muda bernama Reinhart itu.

Mata Reinhart membulat menatap sosok berwajah pucat berhijab hitam itu.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Reinhart.

"Temannya bilang dia pingsan saat upacara berlangsung."

"Baiklah. Kalian boleh kembali berjaga. Saya akan periksa kondisinya dulu."

"Terima kasih, Dokter."

Reinhart mengangguk lalu mulai memeriksa kondisi Anisa. Dilihat dari jas almamater yang dipakainya, Reinhart tahu jika mahasiswi ini dari jurusan kedokteran.

Sebelum memeriksa, Reinhart meminta izin terlebih dahulu pada Anisa meski gadis itu tidak bisa mendengarnya.

Tangan Reinhart menyentuh pergelangan tangan Anisa dan memeriksa denyut nadinya.

Dahi Reinhart berkerut setelah pemeriksaan berakhir.

"Gadis ini ...." Reinhart tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia memutuskan untuk menunggu hingga Anisa siuman.

Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Anisa mendapatkan kesadarannya kembali. Matanya menyipit mendapati dirinya terbaring di tempat asing.

"Kamu sudah bangun?"

Suara yang asing di telinga Anisa membuatnya segera bangun dari brankar.

"Hei, pelan-pelan saja. Kamu ada di klinik kampus." Reinhart mendekati Anisa.

Mata Anisa menatap wajah Reinhart sekilas lalu memalingkan wajah.

"Ke-kenapa saya bisa ada disini?"

Reinhart terpana sejenak mendengar suara lembut Anisa.

"Kamu lupa? Kamu pingsan saat upacara di lapangan kampus."

Anisa tidak menjawab lagi. Ia memilih untuk turun dari brankar dan hendak pergi.

"Tunggu! Istirahat saja dulu disini," cegat Reinhart.

"Te-terima kasih. Sebaiknya saya kembali ke barisan. Saya gak enak sama teman-teman yang lain." Anisa membungkukkan kepala dan berpamitan. Ia melewati tubuh tegap Reinhart begitu saja.

"Jangan memaksakan diri. Kamu sedang hamil."

DEG!

Langkah Anisa terhenti mendengar ucapan Reinhart. Tubuhnya mematung di tempat dan terasa kaku untuk bergerak lagi.

Hamil? Anisa memegangi perutnya yang masih rata.

"Dilihat dari reaksimu, sepertinya kamu sudah tahu tentang kondisimu ini."

Anisa mengepalkan tangan. Ia tak siap jika ada yang mengetahui soal ini, terutama orang asing seperti Reinhart.

"Se-sekali lagi terima kasih, Dokter. Saya permisi!" Anisa memilih benar-benar pergi dari ruangan bernuansa putih itu.

Reinhart menatap kepergian Anisa dengan tatapan yang sulit diartikan.

* * *

Anisa berjalan menyusuri lorong-lorong kampus menuju ke lapangan tempat upacara berlangsung. Perasaan cemas langsung menggelayuti hatinya. Tak pernah ia duga jika kehamilannya akan diketahui oleh orang lain terlebih sama-sama ada di kampus ini.

"Ya Allah, apa yang harus kulakukan?" Anisa memejamkan mata sejenak. Sebisa mungkin ia harus bersikap normal di depan teman-temannya nanti.

Anisa melanjutkan langkahnya hingga benar-benar tiba di lapangan. Upacara telah berakhir dan beberapa teman Anisa menghampirinya.

"Anisa? Kamu gak apa-apa? Kenapa kesini lagi dan bukannya malah istirahat?" Rhea, teman yang baru ditemuinya beberapa hari lalu ini sungguh perhatian pada Anisa.

"Aku udah gak apa-apa kok," balas Anisa diiringi senyum.

"Tapi muka kamu masih pucat. Kenapa gak tiduran dulu aja di klinik? Eh, kata teman-teman, dokter yang jaga di klinik kampus itu ganteng banget. Bener gak sih?" Rhea menyenggol lengan Anisa.

"Hmm? Gak tahu sih. Aku ... gak perhatiin."

"Yaah, sayang banget. Lain kali aku bakal ikut ke klinik kalo kamu pingsan lagi."

Anisa menggeleng pelan. Tidak ada lain kali. Anisa bertekad untuk tidak bertemu dengan dokter muda itu lagi.

"Sebisa mungkin aku harus menghindar dari dia."

* * *

TING

Pintu lift terbuka. Kaki Reinhart melangkah keluar dari lift dan menuju ke unit apartemen miliknya. Semenjak lulus kuliah beberapa bulan lalu, Reinhart memutuskan untuk keluar dari rumah dan memilih hidup mandiri. Bahkan Reinhart menolak tawaran sang kakek yang memintanya bekerja di rumah sakit milik keluarga. Reinhart memilih bekerja di klinik kampus tempatnya dulu menimba ilmu.

Begitu memasuki kamar, Reinhart melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya kemudian menuju ke kamar mandi. Ini adalah hari pertamanya bekerja di klinik kampus, tapi sudah cukup dibuat sibuk karena banyak mahasiswi baru yang sengaja datang untuk menemuinya. Rupanya rumor mengenai dokter muda dan tampan di klinik kampus cepat menyebar.

"Haaaaah." Reinhart mengembus napas kasar.

Tubuhnya ia biarkan terguyur air dingin shower yang langsung mendinginkan kepalanya juga. Namun, sekelebat bayangan tiba-tiba muncul dibenaknya.

"Gadis itu?"

Reinhart mematikan keran shower dan mengusap wajahnya. Wajah Anisa tiba-tiba hadir dan mengusiknya.

Reinhart segera menyudahi mandinya lalu keluar menggunakan baju handuk. Bertepatan dengan itu, ponsel Reinhart bergetar. Nama ibunya tertera dilayar.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumsalam. Akhirnya diangkat juga. Mama udah telponin dari tadi."

"Maaf, Ma. Aku baru selesai mandi. Ada apa?"

"Kamu jadi malam ini mau ke rumah? Mama akan siapkan makan malam spesial di hari pertama kamu kerja. Gimana tadi di klinik?"

Reinhart memijat pelipisnya pelan. Hari pertamanya di klinik cukup melelahkan dan ia ingin istirahat saja di apartemen.

"Maaf, Ma. Kayaknya aku gak bisa datang malam ini. Hari ini capek banget rasanya."

Terdengar helaan napas dari seberang sana. Reinhart tak enak hati menolak, tapi mau bagaimana lagi? Hari ini ia tak ingin pergi kemanapun. Bahkan untuk makan malam, Reinhart berencana akan memesan lewat online saja.

"Ya sudah, kalau kamu lelah. Kamu istirahat saja! Untuk acara makan malamnya bisa ditunda kapan-kapan."

Telepon langsung terputus saat Reinhart ingin menjawab lagi.

"Cih, untuk apa sok peduli kalau ujung-ujungnya hanya akting belaka?" Reinhart membanting ponselnya ke ranjang. Inilah salah satu alasan kenapa ia ingin keluar dari rumah itu. Rumah besar penuh kemewahan dan bagaikan surga bagi yang melihatnya. Namun, terlihat seperti benteng besar yang memenjarakan Reinhart.

* * *

Tengah malam Reinhart terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu karena ada bayangan seseorang yang tiba-tiba hadir di mimpinya.

"Sial! Kenapa aku sampai memimpikan gadis itu?" Reinhart mengusap wajahnya kasar.

Reinhart meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Beberapa kali panggilannya tidak dijawab. Hingga di panggilan ke lima, suara serak seseorang terdengar di seberang sana.

"Astaga, Rein. Lo tahu gak sekarang jam berapa?" Riyan, sahabat Reinhart terdengar kesal.

"Sorry, Yan. Gue butuh bantuan lo."

"Jam segini?" Riyan melirik jam dinding di kamarnya. Pukul dua dini hari.

"Iya, sorry banget ya." Reinhart terdengar menyesal.

"Cepetan bilang ada apaan?"

"Lo kan staf admin di kampus. Gue minta tolong lo kirim data mahasiswa baru jurusan kedokteran sekarang juga."

"Sinting! Buat apaan data mahasiswa baru?"

"Gue gak bisa bilang sekarang. Please tolongin gue, Yan." Suara Reinhart terdengar frustrasi hingga membuat Riyan tidak tega.

"Ya udah iya. Lo tunggu bentar. Gue harus buka laptop dulu. Tapi, lo harus janji jangan salah gunakan data-data itu. Ngerti?"

"Iya, gue ngerti. Lo tenang aja. Gue gak bakal macam-macam kok."

"Ya udah, tutup telponnya. Nanti gue kirim datanya via whatsapp."

"Thanks banget ya, Yan. Lo emang bisa diandelin."

* * *

Reinhart mondar mandir tidak tenang menunggu pesan dari Riyan. Entah kenapa hatinya tidak tenang sebelum tahu tentang Anisa.

"Lama banget sih?" Reinhart berencana akan menghubungi Riyan lagi, tapi akhirnya ia urungkan. Bisa saja Riyan marah dan tidak jadi memberikan data itu padanya.

"Aku tunggu aja deh!"

Tak lama kemudian, ponsel Reinhart bergetar. Matanya berbinar senang saat melihat jika Riyan yang mengiriminya pesan.

Reinhart segera membuka pesan yang berformat pdf itu. Matanya fokus menatap satu demi satu daftar nama mahasiswa baru jurusan kedokteran. Lebih mudah untuk mencari karena ada foto mereka juga disana.

Bibir Reinhart tertarik ke atas saat melihat wajah yang beberapa jam ini menghantuinya.

"Ini dia. Dia bernama ... Anisa Maharani."

Reinhart tak hentinya senyam-senyum sendiri menatap foto Anisa.

"Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak. Sampai bertemu besok, Anisa Maharani."

*****

Seperti hari kemarin, Anisa tetap melakukan aktifitasnya sebagai mahasiswa baru.

"Lho? Nisa? Kupikir kamu izin hari ini." Rhea cukup terkejut dengan kehadiran Anisa.

"Aku baik-baik aja kok." Anisa mengulas senyum.

Saat terdengar pengumuman untuk kumpul di lapangan, Anisa dan Rhea segera menuju ke sana. Namun, tiba-tiba saja sebuah pengumuman lain dari pengeras suara mengejutkan semua orang yang ada di sana.

"Ehem, cek cek cek. Tes satu dua tiga. Perhatian sebentar semuanya. Bagi mahasiswi bernama Anisa Maharani dari jurusan kedokteran, ditunggu di ruang admin jurusan kedokteran. Sekarang juga! Terima kasih."

Anisa dan Rhea saling pandang dengan raut wajah bingung.

"U-untuk apa aku ke ruang admin?" gumam Anisa mulai panik sendiri.

"Udah deh, mendingan kamu langsung ke sana aja dulu." Rhea mendorong pelan tubuh Anisa.

Dengan langkah yang sedikit ragu, Anisa berjalan menuju ke ruang admin.

"Sebenarnya ada apa sih?" Anisa masih tak mengerti dengan yang sedang terjadi.

Begitu tiba di depan ruang admin, Anisa mengetuk pintu.

"Masuk!" Terdengar suara dari dalam ruangan itu.

"Permisi, Pak. Apa Bapak memanggil saya?" Anisa masuk sambil bicara sendiri. Ia celingukan mencari sosok yang suaranya terdengar tadi.

"Sudah datang rupanya." Reinhart keluar dari persembunyiannya dengan wajah tampan dan senyum manis untuk menyambut Anisa.

"Do-dokter? Dokter ngapain ada di sini?" Anisa sangat terkejut melihat kehadiran Reinhart di ruangan itu.

"Perkenalkan, nama saya Reinhart. Nama kamu ... Anisa kan?" Reinhart mengulurkan tangannya.

Anisa merasa sudah dibodohi dengan tingkah aneh Reinhart kemarin dan hari ini. Anisa menggeleng pelan. Sungguh ia tak habis pikir dengan si Reinhart ini. Ia tak menyambut tangan Reinhart yang masih terulur.

"Dasar aneh!" Anisa berbalik badan dan bersiap pergi.

"Meski kamu pergi saya akan panggil kamu lagi untuk datang. Jadi, sebaiknya kamu menurut saja."

Anisa mengepalkan tangan. "Mau dokter apa sih? Kenapa ganggu saya?"

"Saya gak mau ngapa-ngapain kok. Saya hanya mau memastikan kalau kondisi kamu baik-baik saja. Kamu itu sedang hamil, Anisa. Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk mengikuti upacara pelantikan mahasiswa baru. Itu akan membuatmu kelelahan."

Lagi dan lagi Anisa tertegun mendengar pernyataan Reinhart. Kenapa Reinhart terus membahas soal kehamilannya?

"Sa-saya tidak hamil." Anisa berusaha mengelak.

"Kamu tidak bisa membodohi saya, Anisa. Saya seorang dokter. Dan dari pemeriksaan sekilas kamu memang sedang hamil."

Anisa memejamkan mata. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ia mengingat semua hal yang terjadi padanya beberapa bulan ini.

"Andai saja semua itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan berada dalam masalah begini."

"Istirahatlah saja dulu disini. Tempat ini aman kok," pinta Reinhart.

"Apa yang harus kulakukan?" 

Apa Anisa menerima tawaran Reinhart?

Terpopuler

Comments

≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐

≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐

Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸

2026-07-07

1

Dian

Dian

suka

2026-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Ingatan Kala Itu
3 Dua Wanita Hamil
4 Sepenggal Kisah Masa Lalu
5 Hanya Ingin Dia
6 Bayi Kembar
7 Dua Bagian
8 Dua Hati Tambah Satu
9 Ditolak Lagi?
10 Rencana Raisa dan Rendra
11 Suami Anisa?
12 Ada yang Aneh
13 Rahasia yang Rumit
14 Terbongkar
15 Keputusan Reinhart
16 Perhatian Dua Pria
17 Pernyataan Cinta Renata
18 Seven Months
19 Janji Bukit Berbintang
20 Momen Manis yang Kau Tinggalkan
21 After Five Years
22 Yang Sebenarnya...
23 Meet You Again
24 Yang Sebenarnya (2)
25 Jujur Lebih Baik
26 Pertemuan Tiga Hati
27 Tiga Pria dalam Kisah Anisa
28 Jurus Jitu Reinhart
29 Terdampar Bikin Hati Berdebar
30 Mencoba Bersama
31 Yang Sebenarnya (3)
32 Terbuang...
33 Bisakah Kita Bersama?
34 Ujian Cinta Kita
35 F I R A S A T
36 Kehilangan
37 Yang Sebenarnya (4)
38 Yang Sebenarnya (5)
39 RESTART
40 Meminta Restu
41 Hukuman
42 Apakah Karma Itu Ada?
43 Takdir Cinta Kita
44 Bersatunya Cinta
45 First Love Never Die
46 Cinta Adalah Perjuangan
47 Mencari Jawaban Cinta
48 Solusi atau Masalah?
49 Semua Karena Anisa
50 Firasat Masing-masing
51 Salah Paham
52 Pengakuan Dosa
53 Pesta Ulang Tahun Kakek Raka
54 Rencana Terselubung
55 Kejutan
56 Another Anisa
57 Kamu Bukan Lawanku
58 Pelangi Setelah Hujan
59 Tidak Ada yang Sempurna
60 Tentang Anisa atau Icha
61 Hari Bahagia Rhea dan Ruby
62 Dua Anisa Galau
63 Perpisahan di Tengah Rintik
64 Kebahagiaan yang Ditunggu
65 Kebahagiaan di antara Luka
66 Di Ambang Cahaya Baru
67 End of Happiness
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Ingatan Kala Itu
3
Dua Wanita Hamil
4
Sepenggal Kisah Masa Lalu
5
Hanya Ingin Dia
6
Bayi Kembar
7
Dua Bagian
8
Dua Hati Tambah Satu
9
Ditolak Lagi?
10
Rencana Raisa dan Rendra
11
Suami Anisa?
12
Ada yang Aneh
13
Rahasia yang Rumit
14
Terbongkar
15
Keputusan Reinhart
16
Perhatian Dua Pria
17
Pernyataan Cinta Renata
18
Seven Months
19
Janji Bukit Berbintang
20
Momen Manis yang Kau Tinggalkan
21
After Five Years
22
Yang Sebenarnya...
23
Meet You Again
24
Yang Sebenarnya (2)
25
Jujur Lebih Baik
26
Pertemuan Tiga Hati
27
Tiga Pria dalam Kisah Anisa
28
Jurus Jitu Reinhart
29
Terdampar Bikin Hati Berdebar
30
Mencoba Bersama
31
Yang Sebenarnya (3)
32
Terbuang...
33
Bisakah Kita Bersama?
34
Ujian Cinta Kita
35
F I R A S A T
36
Kehilangan
37
Yang Sebenarnya (4)
38
Yang Sebenarnya (5)
39
RESTART
40
Meminta Restu
41
Hukuman
42
Apakah Karma Itu Ada?
43
Takdir Cinta Kita
44
Bersatunya Cinta
45
First Love Never Die
46
Cinta Adalah Perjuangan
47
Mencari Jawaban Cinta
48
Solusi atau Masalah?
49
Semua Karena Anisa
50
Firasat Masing-masing
51
Salah Paham
52
Pengakuan Dosa
53
Pesta Ulang Tahun Kakek Raka
54
Rencana Terselubung
55
Kejutan
56
Another Anisa
57
Kamu Bukan Lawanku
58
Pelangi Setelah Hujan
59
Tidak Ada yang Sempurna
60
Tentang Anisa atau Icha
61
Hari Bahagia Rhea dan Ruby
62
Dua Anisa Galau
63
Perpisahan di Tengah Rintik
64
Kebahagiaan yang Ditunggu
65
Kebahagiaan di antara Luka
66
Di Ambang Cahaya Baru
67
End of Happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!