Episode 3

Bab 3: Gaun di Dasar Lemari

Naomi tidak langsung tidur malam itu.

Angka dua juta di rekeningnya membuat kamar kos yang sempit terasa lebih terang daripada biasanya. Bukan karena lampu di langit-langit mendadak baik hati. Lampu itu tetap berkedip setiap beberapa menit, seolah sedang menghitung kapan ia akan mati total. Tapi ponsel di tangan Naomi menyala terus, menampilkan saldo yang tidak pernah sebesar itu sejak awal semester.

Di meja lipat, gantungan burung ukir kayu tergeletak diam.

Besok sore ia harus membawanya ke Supercar Club Jakarta.

SCBD.

Naomi memejamkan mata sebentar. Nama daerah itu saja sudah terdengar mahal. Seperti lift kaca, lantai marmer, parfum asing, dan orang-orang yang tidak pernah membuka aplikasi pinjol sambil menahan napas.

Pintu kamarnya diketuk keras.

"Naomi! Listrik kamu jangan pakai buat masak air terus, ya. Meteran naik terus!" suara Ibu kos terdengar dari luar.

Naomi cepat-cepat berdiri. "Iya, Bu. Maaf. Saya tidak masak air, cuma charger laptop."

"Sama saja. Anak kos lain juga pakai listrik. Jangan mentang-mentang kuliah di kampus bagus terus seenaknya."

Naomi menatap pintu tripleks yang catnya mengelupas. Ia bisa saja menjawab bahwa ia selalu membayar tepat waktu, bahwa kipas anginnya bahkan sudah mati dua minggu lalu, bahwa charger laptopnya ia cabut setiap kali tidak dipakai.

Tapi perdebatan dengan Ibu kos selalu berakhir dengan satu kalimat.

Kalau tidak suka, pindah saja.

Jadi Naomi hanya menjawab pelan, "Iya, Bu."

Langkah Ibu kos menjauh. Naomi duduk lagi di lantai, membuka kotak makan plastik dari minimarket. Isinya nasi sisa yang tadi hampir dibuang karena bungkusnya penyok, ditambah telur rebus promo yang sudah lewat satu jam dari batas display. Ia makan perlahan sambil membuka laptop.

Dokumen terjemahan Jerman menunggu.

"Sicherheitsvorschriften fuer Industriemaschinen."

Naomi mengetik terjemahan dengan mata yang mulai berat. Upahnya kecil, tapi klien ini membayar berdasarkan halaman. Kalau malam ini ia bisa menyelesaikan lima halaman, besok ia tidak perlu memakai uang Danny untuk ongkos Grab. Ia bisa naik TransJakarta sampai dekat SCBD, lalu jalan kaki sedikit.

Ponselnya bergetar.

"Tagihan Anda jatuh tempo besok."

Naomi mengunyah nasi yang sudah dingin sampai terasa seperti kertas di lidah.

Ia menekan tombol bayar.

Sebagian dari dua juta itu langsung pergi.

Saldo yang tersisa masih terlihat besar, tapi dadanya justru terasa kosong. Uang yang bagi Danny bisa dikirim sambil bercanda, baginya lenyap hanya untuk membuat penagih berhenti sehari lebih lama.

Matanya jatuh ke gantungan burung di meja.

"Aku cuma mengembalikan barang," bisiknya pada diri sendiri.

Bukan menemui Kelvin.

Bukan ingin dilihat olehnya.

Bukan karena sejak malam hujan itu, ia tidur dengan ujung jari yang masih mengingat dingin kaleng es kola.

Naomi menutup laptop menjelang pukul dua pagi. Saat hendak mengambil baju tidur dari lemari plastik, tangannya menyentuh sesuatu di dasar laci.

Sebuah gaun.

Warnanya biru gelap, sederhana, dibeli dua tahun lalu dari hasil menang lomba esai bahasa Jerman. Waktu itu Naomi membelinya bukan karena butuh, melainkan karena untuk pertama kalinya ia ingin memiliki sesuatu yang cantik tanpa alasan praktis.

Ia mengangkat gaun itu, menempelkannya ke tubuh di depan cermin kecil yang retak di sudut.

Wajah di cermin tampak pucat karena kurang tidur. Rambutnya diikat asal. Bahunya kurus, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang terlalu mudah terbaca.

Harapan.

Naomi langsung menurunkan gaun itu.

Tidak boleh.

Kalau ia berdandan, ia akan terlihat seperti sedang berharap. Kalau ia berharap, ia akan lupa bahwa ia datang hanya untuk mengembalikan barang milik orang lain. Orang seperti Kelvin Hartono mungkin tidak akan ingat wajah kasir minimarket, tapi Naomi akan mengingat tatapan itu terlalu lama.

Akhirnya gaun itu ia lipat kembali, dimasukkan ke dasar lemari.

Besok ia akan memakai kemeja putih yang sudah disetrika rapi dan celana kain hitam. Sederhana. Aman. Tidak memalukan, tapi juga tidak seperti sedang bermimpi.

***

Sore berikutnya, hujan sudah berhenti, menyisakan udara Jakarta yang lembap dan bau knalpot di jalan besar.

Naomi turun dari TransJakarta dengan tote bag kain di bahu. Di dalamnya, gantungan burung ukir kayu dibungkus tisu dan plastik kecil. Ia berjalan melewati gedung-gedung tinggi yang kacanya memantulkan langit kelabu.

Semakin dekat ke alamat yang dikirim Danny, langkahnya semakin pelan.

Supercar Club Jakarta tidak memiliki papan nama mencolok. Hanya fasad gelap, pintu tinggi, dan dua security yang berdiri dengan jas hitam. Di depan gedung, mobil-mobil rendah dengan warna mengilap berjajar seperti hewan mahal yang sedang tidur.

Naomi menahan tote bag-nya lebih erat.

"Ada keperluan, Mbak?" tanya salah satu security.

Suaranya sopan, tapi matanya turun sebentar ke sepatu Naomi yang sudah mulai kusam.

"Saya mau mengembalikan barang. Untuk Daniel Setiawan."

Security itu saling pandang. Salah satunya bicara lewat earpiece. Beberapa menit kemudian, seorang staf pria berpakaian rapi keluar dari dalam.

"Ibu Naomi?"

Naomi hampir menoleh untuk mencari siapa yang dipanggil. Tidak ada yang pernah memanggilnya Ibu dengan nada seformal itu.

"Iya, saya."

Staf itu menatapnya dari kepala sampai ujung kaki. Senyumnya tetap ada, tapi lebih seperti garis wajib di wajah. "Silakan ikut saya."

Di dalam, udara dingin langsung menyergap. Aroma kulit mahal, kopi, dan parfum maskulin memenuhi lobi. Lantai marmer begitu bersih sampai Naomi takut meninggalkan bekas debu dari sepatunya.

Saat mereka melewati kaca besar di dekat lift, Naomi sempat melihat pantulan dirinya.

Kemeja putihnya tidak salah.

Celana hitamnya juga tidak salah.

Tapi di tempat itu, benar saja, ia tetap tampak seperti seseorang yang salah alamat.

Staf pria itu awalnya berjalan setengah langkah di depan tanpa banyak bicara. Namun ketika lift berhenti di lantai atas dan Naomi mengangkat wajah untuk melihat nomor ruangan, ekspresinya berubah sebentar.

Matanya berhenti di wajah Naomi.

Bukan dengan tatapan merendahkan seperti tadi. Lebih seperti terkejut karena baru sadar bahwa gadis dengan tote bag murah ini memiliki wajah yang tidak sesuai dengan sepatu kusamnya.

Naomi pura-pura tidak melihat.

Ia sudah terlalu sering dinilai dari hal-hal yang tidak ia pilih. Dulu karena tubuhnya. Sekarang karena perubahan yang membuat orang-orang bingung harus menempatkannya di rak mana.

Pintu VIP area terbuka.

Danny sedang duduk di sofa bersama beberapa orang yang tidak Naomi kenal. Ia langsung melambaikan tangan.

"Naomi! Sini."

Naomi melangkah masuk, tapi kata-katanya hilang ketika melihat orang yang duduk di dekat jendela.

Kelvin Hartono.

Hari ini ia memakai kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Di meja depannya ada kaleng es kola yang sudah terbuka. Cahaya sore dari kaca besar menempel di sisi wajahnya, membuat ekspresinya tampak lebih dingin daripada malam di minimarket.

Naomi merasa tote bag di bahunya mendadak terlalu berat.

Ia mengambil plastik kecil dari dalam tas, lalu menyerahkannya pada Danny. "Ini barangnya."

Danny menerima, membuka tisu, lalu mengangkat gantungan burung itu dengan dua jari. "Nah, burung gendut balik juga."

Kelvin melirik sekilas.

Hanya sekilas.

Seolah benda itu memang tidak berarti apa-apa.

Naomi menunduk. "Kalau begitu, saya permisi."

"Tunggu."

Suara Kelvin membuat langkahnya berhenti.

Naomi mengangkat kepala perlahan.

Kelvin sudah berdiri. Tingginya membuat jarak beberapa meter di antara mereka terasa lebih sempit.

Ia mengambil gantungan burung dari tangan Danny, melihatnya sebentar, lalu menaruhnya di meja tanpa ekspresi. Setelah itu, matanya kembali pada Naomi.

"Duduk sebentar?"

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!