Episode 5

Bab 5: Kamu Operasi Plastik?

Pagi setelah malam itu tidak membuat hidup Naomi berubah.

Kelvin Hartono tetap berada di tempat yang terlalu tinggi untuk disentuh. Naomi tetap bangun sebelum alarm kedua berbunyi, mencuci muka dengan air kamar mandi kos yang kadang terlalu dingin, lalu berangkat ke kampus sambil membawa roti tawar sisa semalam di dalam tas.

Satu-satunya yang berubah hanya kebiasaan kecil yang memalukan.

Setiap kali melewati minimarket kampus, matanya otomatis mencari rak minuman dingin.

Seolah satu kaleng es kola bisa muncul sendiri dan membawa kembali suara rendah seseorang yang berkata, Masuk.

Naomi menggeleng pelan, mengusir pikiran itu, lalu mempercepat langkah menuju gedung fakultas. Hari ini ia punya kelas pagi. Selain itu, Farel, mahasiswa dari kelas paralel yang pernah bekerja satu kelompok dengannya, mengirim pesan sejak subuh.

"Nao, tolong titip absen ya. Aku kejebak di Bekasi, dosennya suka panggil nama. Nanti aku transfer."

Naomi sebenarnya tidak suka titip absen. Aturan kampus jelas melarang, dan ia bukan orang yang nyaman berbohong di depan dosen. Tapi Farel pernah membantunya mencetak tugas saat printer kos mati, dan uang transport yang ia janjikan cukup untuk makan dua hari.

Ia membalas singkat.

"Sekali ini saja."

Begitu sampai di koridor, suara seseorang memanggilnya.

"Naomi."

Naomi menoleh.

Brandon Sutanto berdiri di dekat papan pengumuman BEM, memakai kemeja biru muda dengan lengan digulung rapi. Wajahnya selalu tampak bersih, seperti orang yang tidak pernah terlambat, tidak pernah berkeringat mengejar bus, dan tidak pernah salah memilih kata.

"Pagi, Kak Brandon," sapa Naomi.

Brandon tersenyum. "Kamu kelihatan capek. Masalah di kos sudah lebih baik?"

Pertanyaan itu membuat Naomi sedikit menurunkan pandangan.

Beberapa minggu lalu, saat Ibu kos mempermasalahkan pembayaran administrasi yang sebenarnya sudah Naomi lunasi, Brandon yang kebetulan berada di sekretariat BEM membantu menelepon pihak kampus untuk mengeluarkan surat keterangan beasiswa. Karena itu Ibu kos berhenti menekan Naomi untuk pindah, setidaknya untuk sementara.

"Sudah, Kak. Terima kasih waktu itu sudah bantu."

"Nggak perlu sungkan. Kamu kan teman fakultas." Brandon mengatakannya dengan mudah, seolah bantuan adalah hal kecil yang memang seharusnya ia berikan. "Tapi kalau kos itu masih bikin kamu nggak nyaman, bilang saja. Aku bisa carikan opsi lain."

Naomi cepat menggeleng. "Tidak apa-apa. Saya masih bisa."

Brandon menatapnya sebentar, lalu mengangguk, tidak memaksa. Itulah yang membuat Naomi merasa nyaman berbicara dengannya. Brandon tidak pernah terdengar seperti sedang memerintah. Ia menawarkan jalan, lalu membiarkan orang lain memilih.

"Oh ya," katanya kemudian, seperti baru ingat. "Kamu jurusan Sastra Jerman, kan?"

"Iya."

"Kebetulan ada kerja part-time. Tante kenalan keluargaku punya anjing Doberman. Katanya anjingnya dilatih pakai beberapa perintah bahasa Jerman, tapi pengurus lamanya pulang kampung. Mereka cari orang yang bisa bantu jaga dan latih ringan beberapa kali seminggu."

Naomi berkedip.

"Anjing?"

"Doberman. Besar, tapi katanya pintar." Brandon tersenyum kecil melihat wajah Naomi yang langsung tegang. "Honornya lumayan. Lebih besar dari kerja minimarket, mungkin."

Kalimat terakhir itu membuat Naomi tidak bisa langsung menolak.

"Tapi saya belum pernah merawat Doberman."

"Kamu bisa belajar. Yang penting kamu telaten. Dari yang aku lihat, kamu telaten." Brandon membuka ponselnya, lalu mengetik sesuatu. "Kalau kamu mau, nanti aku kirim alamat dan kontaknya. Hari Sabtu bisa interview."

Naomi menggigit bibir bawah. Kerja tambahan berarti waktu tidur berkurang. Tapi uang tambahan juga berarti ia bisa membayar cicilan berikutnya tanpa menunggu klien terjemahan yang selalu terlambat.

"Saya pikir dulu boleh?"

"Tentu." Brandon memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Satu lagi. Akhir bulan ini aku ulang tahun. Cuma makan kecil sama beberapa teman BEM. Kalau kamu sempat, datang ya."

Naomi hampir menolak otomatis, tapi Brandon sudah tersenyum lebih dulu, hangat dan tidak menuntut.

"Nggak harus jawab sekarang."

Bel kelas berbunyi dari dalam ruangan.

Naomi tersentak. "Saya masuk kelas dulu, Kak."

"Silakan. Jangan telat."

Naomi mengangguk, lalu masuk ke ruang kuliah dengan napas sedikit terburu-buru.

Kelas sudah hampir penuh. Ia memilih kursi di tengah, cukup jauh dari dosen agar tidak terlalu mencolok, tapi cukup dekat untuk mendengar saat nama Farel dipanggil. Ruangan berbau spidol, kertas fotokopi, dan kopi sachet dari mahasiswa yang belum sarapan.

Dosen mulai mengabsen satu per satu.

Naomi menahan ponselnya di bawah meja, membaca pesan Farel lagi.

"Kalau dipanggil, jawab aja hadir. Suaranya dibuat agak berat kalau bisa."

Naomi hampir ingin membalas bahwa ia bukan aktor.

"Farel?"

Jantung Naomi melonjak.

Ia mengangkat tangan cepat. "Hadir, Bu."

Beberapa mahasiswa di dekatnya menoleh. Naomi menunduk, berharap dosen tidak memperhatikan terlalu lama. Untungnya dosen hanya memberi tanda di daftar absen dan lanjut memanggil nama lain.

Naomi baru saja mengembuskan napas lega ketika pintu belakang kelas terbuka.

Suara langkah yang masuk tidak keras, tapi entah bagaimana seluruh ruangan seperti menyadarinya.

Naomi tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.

Kelvin Hartono berjalan masuk terlambat dengan wajah seolah kelas inilah yang terlalu pagi, bukan ia yang terlambat. Ia memakai hoodie gelap, rambut sedikit berantakan, dan membawa satu buku tipis yang mungkin bahkan tidak akan dibuka.

Dosen meliriknya. "Kelvin, terlambat lagi?"

"Macet, Bu."

Tidak ada yang percaya.

Dosen hanya menghela napas. "Duduk."

Kursi kosong masih banyak.

Tentu saja Kelvin memilih kursi di sebelah Naomi.

Naomi langsung menegang.

Aroma sabun dingin yang samar itu datang lagi, bercampur sedikit bau hujan dari luar. Kelvin duduk dengan santai, meletakkan buku di meja, lalu menoleh ke arahnya.

Matanya turun ke daftar nama yang masih berada di layar ponsel Naomi.

Farel.

Naomi buru-buru menutup layar.

Terlambat.

Sudut bibir Kelvin bergerak.

"Farel," ucapnya pelan.

Naomi menatap papan tulis, pura-pura tidak mendengar.

Kelvin mendekat sedikit. Suaranya tidak cukup keras untuk didengar seluruh kelas, tapi cukup untuk membuat telinga Naomi panas.

"Kamu operasi plastik?"

Naomi hampir batuk.

Kelvin menatapnya dari samping dengan ekspresi malas yang menyebalkan. "Atau ganti kelamin?"

"Jangan bicara begitu," bisik Naomi panik.

"Kenapa? Aku cuma memastikan. Tadi dosen panggil Farel, yang jawab kamu."

"Saya... membantu teman."

"Dengan menjadi dia?"

Naomi tidak punya jawaban yang terdengar masuk akal.

Di depan, dosen mulai menjelaskan materi tentang perubahan makna dalam bahasa. Naomi mencoba menulis catatan, tapi tulisan tangannya kacau. Setiap kali Kelvin menggerakkan tangan atau menyandarkan siku di meja, konsentrasinya pecah.

"Dibayar berapa?" tanya Kelvin tiba-tiba.

Naomi menoleh. "Apa?"

"Jadi Farel."

"Bukan urusan kamu."

Kalimat itu keluar sebelum Naomi sempat menyaringnya.

Kelvin menatapnya.

Naomi langsung menyesal, tapi anehnya Kelvin tidak marah. Ia justru tampak sedikit tertarik.

"Bisa juga jawab."

Naomi menunduk lagi. Pipinya panas.

Sisa kelas berjalan sangat lambat. Saat dosen akhirnya menutup perkuliahan, Naomi langsung memasukkan buku ke tas.

"Naomi."

Ia berpura-pura tidak mendengar.

"Farel."

Langkah Naomi hampir tersandung kaki kursi.

Kelvin bersandar di kursinya, menatapnya dengan mata tenang yang terlalu tahu cara membuat orang gugup. "Lain kali kalau mau ganti identitas, pilih yang namanya lebih cocok."

Naomi memeluk tas ke dada. "Saya tidak akan titip absen lagi."

"Bagus."

"Dan saya permisi."

Ia keluar sebelum Kelvin sempat mengatakan apa pun lagi.

Di koridor, udara terasa lebih lega. Naomi berjalan cepat melewati papan pengumuman, melewati kantin kecil, melewati sekelompok mahasiswa yang sedang tertawa. Baru setelah sampai di tangga darurat, ia berhenti dan menyentuh pipinya yang masih panas.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Brandon masuk.

"Kalau kamu tertarik dengan pekerjaan jaga Doberman itu, Sabtu jam 10 bisa datang ke alamat ini. Rumah keluarga di Menteng. Aku sudah bilang kamu orangnya telaten."

Di bawahnya ada alamat lengkap, dengan nama jalan yang terdengar seperti milik rumah-rumah besar di berita properti.

Naomi membaca pesan itu dua kali.

Menteng.

Ia tidak tahu bahwa alamat itu akan membawanya kembali pada orang yang baru saja membuatnya kabur dari kelas dengan wajah panas.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!