Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Episode 1

Bab 1: Apakah Orang Jahat Boleh Dicintai?

Bau hujan yang basah bercampur dengan dingin AC minimarket, membuat lantai di dekat pintu kaca terasa licin dan lengket. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, putih pucat, menimpa wajah Naomi Liem yang sudah dua kali menahan kantuk di balik meja kasir.

Di luar, hujan turun seperti seseorang sedang menuangkan ember dari langit.

Universitas Nusantara biasanya ramai sampai malam, apalagi saat awal semester. Tapi malam ini, hanya beberapa mahasiswa yang nekat menembus hujan untuk membeli mi instan, kopi sachet, atau payung plastik yang harganya naik dua kali lipat karena stok tinggal sedikit.

Naomi merapikan tumpukan struk di samping mesin kasir. Jari-jarinya agak kaku karena terlalu lama terkena udara dingin. Seragam minimarket yang ia pakai masih menyimpan bau deterjen murah dari kos, bercampur sedikit aroma gorengan yang tadi ia makan diam-diam di gudang.

Perutnya belum benar-benar kenyang.

Tapi shift malam memberi tambahan upah.

Tambahan upah berarti satu hari lagi ia bisa menunda pesan dari pinjol yang selalu datang dengan kalimat sopan tapi terasa seperti tangan yang mencengkeram leher.

Pintu kaca bergeser terbuka.

Dua mahasiswi masuk sambil tertawa tertahan. Sepatu mereka basah, payung mereka ditutup sembarangan di dekat rak promo. Salah satunya langsung berjalan ke bagian minuman, sementara yang satu lagi menunduk menatap layar ponsel.

"Lo udah dengar belum? Celine katanya beneran ninggalin Kelvin."

Tangan Naomi yang sedang menata permen di dekat kasir berhenti sebentar.

Nama itu jatuh begitu saja di tengah dengung lampu neon.

Kelvin.

Nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras.

"Celine Tanuwijaya?" tanya temannya. "Serius? Bukannya mereka dijodohin keluarga?"

"Perjodohan doang. Katanya Celine mau ke luar negeri. Lagian Kelvin Hartono mana pernah kelihatan sayang sama orang? Mantan-mantannya aja katanya kaya mendadak setelah putus."

Yang satu tertawa kecil. "Ya ampun, putus sama dia dapat pesangon? Kalau gitu aku juga mau."

"Jangan gila. Dia itu serem. Orang ganteng, kaya, tapi matanya kayak nggak punya hati."

Naomi menunduk, pura-pura sibuk menghitung uang kembalian di laci kasir.

Matanya seperti nggak punya hati.

Kalimat itu terlalu mudah masuk ke kepalanya, karena Naomi pernah melihat mata itu dari dekat. Bukan benar-benar dekat, sebenarnya. Hanya beberapa meter. Hanya dari balik tirai hujan. Hanya pada satu sore di masa SMA yang sampai sekarang masih sering datang ke mimpinya.

Hujan. Gerbang sekolah. Jalanan becek di depan warung nasi bungkus kecil milik Mama Rosa.

Naomi yang dulu masih memakai seragam putih abu-abu berdiri di bawah atap warung, menggenggam bungkusan nasi yang sudah dingin. Badannya terasa berat karena obat yang harus ia minum setiap hari. Napasnya mudah pendek. Rambutnya lepek. Seragamnya terlalu ketat di lengan.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti.

Seorang anak laki-laki duduk di kursi belakang. Kaca mobil turun sedikit. Wajahnya tampak samar di balik hujan, tapi Naomi ingat garis rahangnya, cara matanya menatap keluar, dingin dan tidak terburu-buru.

Di dekat pos satpam, dua orang berbadan besar sedang mengurus seorang pria yang berteriak-teriak soal utang. Mereka tidak memukulnya di depan umum, tapi cara mereka memegang lengan pria itu cukup membuat semua orang tahu bahwa perlawanan tidak akan berguna.

Anak laki-laki di mobil itu hanya melihat.

Tidak marah.

Tidak takut.

Tidak kasihan.

Kelvin Hartono, kata murid-murid lain waktu itu. Anak dari keluarga Hartono. Orang seperti dia tidak perlu berlari menghindari hujan. Hujan yang akan dibukakan jalannya.

Naomi masih ingat bagaimana ia diam-diam bertanya pada dirinya sendiri malam itu.

Kalau seseorang terlihat begitu jahat, kenapa jantungnya tetap berdebar saat melihatnya?

"Mbak."

Naomi tersentak.

Salah satu mahasiswi tadi sudah berdiri di depan kasir dengan dua botol teh dan sebungkus tisu basah. Naomi cepat-cepat memindai barcode.

"Dua puluh tujuh ribu lima ratus," ucapnya.

Mahasiswi itu membayar dengan QRIS sambil masih berbicara pada temannya. "Tapi kalau dipikir-pikir, Kelvin itu cocok sih jadi tokoh novel. Bad boy konglomerat, dingin, terus nanti luluh sama cewek biasa."

"Cewek biasa yang mana dulu? Yang biasa tapi cantik, bukan yang biasa banget."

Mereka tertawa lagi.

Naomi menempelkan struk pada kantong plastik, lalu menyerahkannya dengan kedua tangan. "Terima kasih."

Mereka pergi tanpa benar-benar melihat wajahnya.

Itu tidak apa-apa. Naomi sudah terbiasa tidak dilihat.

Pintu kaca tertutup. Hujan kembali menjadi suara paling keras di ruangan kecil itu. Naomi menarik napas pelan, lalu merapikan rak cokelat yang sebenarnya sudah rapi.

Kelvin Hartono.

Ia pikir nama itu akan tetap tinggal di masa SMA, terkunci bersama seragam lama, foto-foto yang tidak ingin ia lihat lagi, dan suara tawa orang-orang yang memanggilnya dengan julukan yang membuat perutnya mual.

Ternyata tidak.

Nama itu masuk ke universitasnya, masuk ke tempat kerjanya, masuk ke malam hujan yang harusnya biasa saja.

Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas. Shift-nya masih tersisa empat puluh lima menit. Setelah ini ia harus mengepel lantai, menghitung stok rokok elektrik, lalu pulang ke kos di Tebet dengan jaket tipis yang tidak pernah cukup menahan angin malam.

Naomi menekan telapak tangannya ke perut.

Lapar bisa ditahan.

Kantuk bisa ditahan.

Mengingat Kelvin Hartono, ternyata tidak semudah itu.

Pintu kaca kembali bergeser.

Angin basah masuk lebih dulu, membawa aroma aspal dan hujan. Naomi otomatis mengangkat kepala, siap mengucapkan salam toko yang sudah ia hafal.

"Selamat datang di..."

Kalimatnya berhenti di tengah jalan.

Seorang laki-laki masuk sambil menutup payung hitam. Jaket gelapnya sedikit basah di bahu, rambutnya terkena titik hujan, tapi ia tampak seolah cuaca buruk hanya sesuatu yang terjadi pada orang lain. Di belakangnya, Danny Setiawan masuk sambil menggerutu karena sepatunya kebasahan.

"Kel, gue bilang tadi parkir dekat sini aja, lo malah sok drama jalan kaki," kata Danny.

Laki-laki itu tidak menjawab.

Naomi tahu wajah itu bahkan sebelum otaknya sempat menerima kenyataan.

Kelvin Hartono berjalan ke rak minuman dingin.

Minimarket yang tadi terasa sempit mendadak seperti kehilangan udara.

Naomi menunduk terlalu cepat. Jantungnya memukul rusuk, keras sekali sampai ia takut suara itu bisa terdengar. Tangannya mencari-cari kesibukan, tapi mesin kasir tidak perlu disentuh dan rak permen sudah rapi.

Pintu kulkas terbuka. Ada bunyi kaleng saling beradu.

Es kola.

Tentu saja.

Di masa SMA, Naomi pernah melihatnya memegang minuman yang sama. Kaleng merah dingin di antara jari panjangnya, tetesan air turun ke pergelangan tangan, sementara dunia di sekitarnya seperti tidak berani mengganggu.

"Mbak, bayar," ujar Danny lebih dulu, menaruh sebungkus permen karet di meja kasir.

Naomi mengangguk. "Baik."

Suaranya terlalu pelan.

Lalu Kelvin meletakkan satu kaleng es kola di depan mesin pemindai.

Jarak tangan mereka hanya beberapa sentimeter.

Kaleng itu dingin. Dingin yang langsung merambat ke meja kaca, menyisakan lingkaran air di bawahnya. Naomi memindai barcode dengan gerakan kaku.

"Delapan belas ribu," katanya.

Kelvin mengeluarkan kartu dari dompet tipis. Tidak ada logo mencolok, tidak ada gerakan pamer. Justru karena terlalu biasa, semuanya terasa semakin jauh. Naomi menerima kartu itu dengan hati-hati, seolah benda kecil itu bisa membakar jarinya.

Saat ia mengembalikan kartu, Kelvin menatapnya.

Hanya satu detik.

Mungkin kurang.

Tapi cukup untuk membuat dunia Naomi kehilangan suara. Dengung neon, hujan, keluhan Danny, semua mundur ke belakang.

Mata itu masih sama.

Tenang. Dingin. Seperti tidak menyisakan ruang untuk siapa pun masuk.

Namun kali ini, mata itu melihatnya.

Benar-benar melihatnya.

"Terima kasih," ucap Naomi, hampir berbisik.

Kelvin menerima kartu itu. Ujung jarinya menyentuh sisi jari Naomi, ringan sekali, mungkin tidak sengaja.

Naomi menahan napas.

"Kel, ayo. Hujannya makin gila," kata Danny dari dekat pintu.

Kelvin menarik kaleng es kola dari meja. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan jejak air kecil di lantai yang baru saja Naomi pel.

Pintu kaca bergeser tertutup.

Naomi tetap berdiri di belakang kasir, tangannya masih menggantung di udara.

Di luar, hujan menghantam kaca semakin keras.

Di atas meja, lingkaran air bekas kaleng es kola perlahan melebar. Naomi menatapnya seperti menatap sesuatu yang tidak seharusnya ia simpan, tapi tidak sanggup ia hapus.

Ujung jarinya masih dingin.

Seolah sisa suhu dari kaleng itu, atau mungkin dari sentuhan Kelvin Hartono, tertinggal lebih lama dari yang seharusnya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!