Episode 3

Bab 003

"Ko Hafeng... kamu di situ?"

Suara Wanyu menempel di sisi lain pintu kabinet seperti napas dingin.

Meiran tidak bergerak. Hafeng juga tidak. Dalam ruang sempit itu, bahu mereka hampir saling menekan. Hanya satu gerakan kecil, satu papan gambar jatuh, dan seluruh studio akan tahu bahwa Lo Hafeng bersembunyi bersama Lim Meiran di dalam kabinet peralatan.

Nilai Cinta masih menyala merah di tepi pandangan Meiran.

-100.

Angka itu seperti tamparan yang belum selesai.

Hafeng menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Meiran ketika ia berbisik, "Ini semua salahmu."

"Aku tidak menyangkal."

"Buka."

"Kalau kamu ingin keluar sebagai bahan gosip, silakan."

Mata Hafeng menyipit. "Kamu mengancamku?"

"Aku sedang memberimu pilihan."

Di luar, Wanyu mengetuk pintu kabinet pelan.

Tok.

Suara kecil itu membuat punggung Meiran semakin rapat pada papan gambar. Hafeng mengulurkan tangan, seolah hendak mendorong pintu. Meiran cepat menahan lengannya, kali ini hanya dengan dua jari di manset kemejanya.

Panel sistem langsung berkedip.

**【Sistem Predator】Kontak fisik tambahan terdeteksi. Tidak disarankan memperpanjang kontak pada Nilai Cinta -100.**

Terima kasih atas peringatannya yang terlambat, Sisi.

Hafeng menatap dua jari Meiran di mansetnya. "Lepaskan."

Meiran melepaskan. "Tiga detik lagi."

"Untuk apa?"

"Agar dia mulai ragu apakah kamu benar-benar di sini."

Hafeng terlihat ingin membantah, tetapi Wanyu sudah memanggil lagi, nada suaranya lebih pelan.

"Ko Hafeng, aku masuk, ya?"

Pintu studio berderit. Wanyu rupanya tidak hanya berdiri di depan kabinet, ia juga memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu. Bayangannya bergerak melalui celah bawah.

Meiran mengangkat tangan, menghitung tanpa suara.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hafeng membuka pintu kabinet dari dalam.

Wanyu mundur terkejut ketika Hafeng keluar dengan wajah dingin dan tabung gambar di tangan. Gerakannya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terjebak di ruang sempit dengan musuhnya.

"Kamu kenapa di situ?" tanya Wanyu.

"Mengambil alat."

Jawaban Hafeng pendek.

Meiran tetap berada di dalam kabinet, menunggu dua detik sebelum keluar sambil membawa gulungan kanvas kosong. Ia sengaja tidak terburu-buru. Jika ia terlihat bersalah, Wanyu akan menang. Jika ia terlihat terlalu santai, Hafeng akan semakin marah.

Pilihan kedua lebih berguna.

Wanyu menatapnya. Senyumnya sempat hilang sebelum kembali dipasang.

"Meiran? Kamu juga di sini?"

"Studio seni memang untuk mahasiswa seni," jawab Meiran. "Aneh kalau aku muncul di bengkel mesin."

Wajah Wanyu menegang halus.

Hafeng menoleh tajam pada Meiran. "Jangan mulai."

"Aku belum mulai apa pun."

"Kamu menarikku masuk ke kabinet."

Wanyu membeku. Beberapa detik kemudian, matanya melebar dengan sangat pas, tidak terlalu berlebihan, cukup untuk terlihat terluka jika ada orang ketiga yang melihat.

"Meiran, kenapa kamu melakukan itu?" suaranya melembut. "Kalau kamu ingin bicara dengan Ko Hafeng, kamu bisa bicara baik-baik. Jangan membuatnya tidak nyaman."

Kalimat itu nyaris sempurna.

Meiran bahkan ingin bertepuk tangan.

Ia menaruh gulungan kanvas di meja. "Benar. Aku salah."

Wanyu tampak tidak siap mendengar pengakuan secepat itu.

Hafeng juga diam sepersekian detik.

Meiran melanjutkan, "Karena itu aku tidak akan mengulang cara yang sama."

"Bagus," kata Hafeng dingin.

"Aku akan pakai cara yang lebih jelas."

Hafeng menatapnya lagi. "Apa maksudmu?"

Meiran tidak menjawab di depan Wanyu. Ia mengambil map sketsanya, melewati Hafeng, lalu berjalan menuju pintu studio. Hafeng ternyata mengikutinya, mungkin karena amarahnya belum selesai, mungkin karena ia tidak suka Meiran meninggalkan pertanyaan begitu saja.

Wanyu ikut melangkah. "Ko Hafeng, kelasmu..."

"Nanti," jawab Hafeng tanpa menoleh.

Satu kata itu membuat senyum Wanyu retak lebih jelas.

Meiran menangkapnya dari pantulan kaca jendela studio. Bagus. Bukan hanya Hafeng yang harus dipindahkan dari alur lama. Wanyu juga harus belajar bahwa panggung bukan lagi miliknya seorang.

Begitu mereka keluar ke koridor samping yang lebih sepi, Hafeng menangkap pergelangan tangan Meiran.

Pegangannya kuat, tetapi tidak sampai menyakitkan.

Meiran berhenti dan menatap tangannya.

"Kalau kamu ingin mempertahankan reputasi sebagai pria terhormat," katanya, "jangan menarik perempuan di koridor kampus."

Hafeng segera melepaskan, seolah baru sadar ada dua mahasiswa lewat di ujung lorong.

"Kamu benar-benar tidak tahu malu."

"Itu kalimat lama. Cari yang baru."

"Lim Meiran."

Nada suaranya turun. Marahnya tidak lagi panas, tetapi padat. Lebih berbahaya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu pagi ini. Tapi dengarkan baik-baik. Aku tidak suka kamu. Aku tidak tertarik padamu. Aku muak dengan caramu membuat semua orang berpikir aku punya hubungan denganmu."

Setiap kata menghantam tepat sasaran.

Di kehidupan sebelumnya, kalimat itu cukup untuk membuat Meiran berlari ke toilet dan menangis sampai mata bengkak. Hari ini, dadanya tetap sakit, tetapi rasa sakit itu seperti bekas luka lama yang disentuh, bukan luka baru yang menguasai tubuh.

Panel sistem berkedip pelan, seakan ikut menonton.

Nilai Cinta: -100.

Meiran mengangkat wajah. "Selesai?"

Hafeng terdiam.

"Kalau sudah selesai, sekarang giliranku."

"Aku tidak mau mendengarkan."

"Tapi kamu tetap berdiri di sini."

Rahang Hafeng mengeras lagi.

Di ujung lorong, dua mahasiswa yang tadi lewat memperlambat langkah. Meiran melihat mereka, lalu sengaja menaikkan suara secukupnya. Konflik yang tersembunyi hanya akan menjadi cerita versi Wanyu. Konflik yang terlihat bisa ia kendalikan sendiri.

"Lo Hafeng, kamu membenciku karena aku mengejarmu tanpa aturan. Baik. Aku akui itu menjijikkan."

Bisikan kecil terdengar dari ujung lorong.

Hafeng tampak tidak nyaman. "Pelankan suaramu."

"Kenapa? Bukankah kamu ingin semua orang tahu aku tidak punya hubungan denganmu?"

"Jangan memutarbalikkan kata-kataku."

"Aku tidak memutarbalikkan. Aku merapikannya."

Wanyu muncul di pintu studio, berdiri cukup jauh untuk terlihat tidak ikut campur, cukup dekat untuk mendengar. Meiran tahu perempuan itu sedang menunggu kesempatan. Maka Meiran memberinya sesuatu untuk didengar.

"Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu tanpa hasil," kata Meiran.

Hafeng mencibir. "Akhirnya sadar?"

"Tapi aku tidak bilang aku akan menyerah."

Wajah Hafeng berubah gelap.

Wanyu melangkah setengah maju. "Meiran..."

Meiran mengangkat satu tangan tanpa menatapnya. Gerakan kecil itu cukup untuk menghentikan Wanyu di tempat.

"Kamu suka angka, kan?" Meiran menatap Hafeng. "Nilai, peringkat, hasil yang bisa dilihat semua orang. Kita pakai itu."

"Kita?"

"Ujian tengah semester tinggal beberapa minggu. Kamu selalu nomor satu di jurusan desain arsitektur lintas kelas, dan aku selalu dianggap hanya tahu menggambar wajahmu." Meiran tersenyum tipis. "Mari bertaruh."

Hafeng menatapnya seolah ia baru saja mengucapkan lelucon paling buruk pagi itu.

"Aku tidak tertarik."

"Takut kalah?"

Kata itu bekerja.

Bukan karena Hafeng mudah dipancing seperti anak kecil. Justru karena pria seperti dia tidak tahan jika harga dirinya disentuh di tempat yang tepat. Meiran tahu itu dari masa depan, dari rapat-rapat bisnis, dari cara Hafeng mengerjakan ulang satu maket semalaman hanya karena seorang dosen menyebut desainnya kurang bernyawa.

Mata Hafeng menjadi lebih dingin. "Kamu tidak akan menang melawanku."

"Kalau begitu, terima."

Wanyu cepat berkata, "Ko Hafeng, tidak perlu meladeni. Semua orang tahu kemampuanmu."

Meiran akhirnya menoleh pada Wanyu. "Justru karena semua orang tahu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?"

Wanyu tersenyum kaku.

Hafeng menatap Meiran lama. "Apa taruhannya?"

Sistem di kepala Meiran berbunyi sebelum ia menjawab.

**【Sistem Predator】Peluang menciptakan ikatan berulang terdeteksi. Host, lanjutkan.**

Meiran menahan senyum.

Ikatan berulang. Itulah yang ia butuhkan. Bukan cinta hari ini. Bukan maaf. Bukan belas kasihan. Ia butuh alasan yang sah untuk membuat Lo Hafeng terus berada di sekitarnya sampai angka merah itu punya celah untuk berubah.

Ia melangkah mendekat satu langkah.

Hafeng tidak mundur, tetapi bahunya menegang.

"Taruhannya sederhana," kata Meiran. "Kalau aku menang, kamu harus menjadi milikku selama satu bulan."

Koridor langsung sunyi.

Hafeng menatapnya tajam. "Apa maksudmu, milikmu?"

Meiran tersenyum, pelan dan berbahaya.

"Kita bertaruh, Lo Hafeng."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!