Episode 4

Bab 004

"Kita bertaruh, Lo Hafeng."

Kalimat itu menggantung di koridor seperti lampu yang tiba-tiba padam.

Dua mahasiswa di ujung lorong benar-benar berhenti berjalan. Wanyu berdiri di pintu studio dengan wajah lembut yang makin lama makin sulit dipertahankan. Hafeng menatap Meiran seolah sedang menilai apakah perempuan di depannya masih waras.

"Aku tidak main-main denganmu," kata Hafeng.

"Bagus. Aku juga tidak."

Meiran membuka map sketsanya, mengeluarkan selembar kertas kosong dari bagian belakang. Ia mengambil pulpen, lalu menulis di atasnya dengan cepat.

Taruhan Ujian Tengah Semester.

Peserta: Lim Meiran dan Lo Hafeng.

Penilaian: total nilai mata kuliah Desain Dasar, Teori Visual, dan proyek lintas studio.

Jika Lim Meiran menang: Lo Hafeng harus mengikuti instruksi Lim Meiran selama satu bulan dalam batas kampus, hukum, dan batas pribadi.

Jika Lo Hafeng menang: Lim Meiran berhenti mengejar Lo Hafeng, meminta maaf di grup angkatan, dan tidak mengganggunya lagi.

Tulisan tangan Meiran rapi. Terlalu rapi untuk suasana yang mulai panas.

Hafeng membaca cepat. "Kamu pikir ini lucu?"

"Tidak. Aku pikir ini adil."

"Adil?" Hafeng tertawa pendek tanpa humor. "Kamu yang selama ini menggangguku, lalu kamu membuat taruhan seolah aku punya kewajiban membuktikan sesuatu padamu?"

"Kalau kamu menang, kamu bebas dariku."

Kalimat itu membuat Wanyu langsung menatap Hafeng.

Meiran melihatnya. Tentu saja Wanyu ingin Hafeng menang. Di atas kertas, hadiah itu seperti mimpi bagi mereka berdua: Lim Meiran pergi, reputasi Hafeng bersih, Wanyu bisa kembali berdiri sebagai perempuan yang paling dekat dengannya.

Justru karena itu Hafeng akan sulit menolak.

Hafeng melipat tangan di depan dada. "Aku tidak perlu taruhan untuk bebas darimu."

"Kalau begitu kenapa sampai sekarang kamu belum bebas?"

Koridor makin sunyi.

Sistem di kepala Meiran tidak berbunyi, tetapi angka -100 masih menyala seperti bara. Ia bisa merasakan semua mata di sekitarnya. Ini bukan lagi soal cinta. Ini soal kendali atas cerita. Selama ini semua orang punya versi mereka tentang Lim Meiran: putri konglomerat manja, perempuan yang tidak tahu malu, pengganggu kehidupan Hafeng.

Hari ini ia akan menulis versinya sendiri, di depan mereka semua.

Wanyu melangkah mendekat. "Meiran, aku tahu kamu mungkin sedang emosi. Tapi taruhan seperti ini tidak baik. Ko Hafeng tidak perlu meladeni hal yang kekanak-kanakan."

"Kamu benar," kata Meiran.

Wanyu tertegun.

Meiran menatapnya. "Dia tidak perlu meladeni. Tapi kalau dia menolak, semua orang akan tahu Lo Hafeng lebih memilih kabur daripada mengambil kesempatan resmi untuk membuatku berhenti."

Wajah Hafeng berubah dingin total.

"Jangan pakai namaku untuk permainanmu."

"Namamu sudah ada di semua gosip karena aku," jawab Meiran tenang. "Aku sedang memberimu jalan keluar."

"Dengan syarat menjadi milikmu satu bulan?"

"Aku sudah tulis batasnya." Meiran menunjukkan kertas itu. "Instruksi dalam batas kampus, hukum, dan batas pribadi. Kamu akan membawa buku kalau aku minta, mengambilkan kopi kalau aku minta, menungguku selesai kelas kalau aku minta. Tidak lebih."

Seorang mahasiswa di ujung lorong berbisik, "Jadi kayak asisten pribadi?"

Meiran menoleh sedikit. "Anggap saja begitu."

Hafeng menyambar kertas itu dari tangan Meiran dan meremasnya.

"Aku tidak akan jadi mainanmu."

Remasan kertas itu terdengar jelas. Wanyu menunduk, seolah sedih melihat Hafeng dipaksa. Dua mahasiswa di ujung lorong sudah jelas merekam, meski pura-pura melihat layar ponsel biasa.

Meiran tidak menghentikan mereka.

Biarkan.

Alur lama membunuhnya di tempat sepi. Alur baru harus dimulai di depan saksi.

"Takut?" tanya Meiran.

Hafeng melangkah maju. "Jangan ulangi kata itu."

"Takut kalah dariku?"

"Kamu bahkan tidak pernah serius belajar."

"Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk menggambar wajahmu."

Hafeng mengerutkan dahi. Ia tidak suka jawaban itu. Terlalu jujur untuk diejek, terlalu tenang untuk disebut memalukan.

Meiran mengambil satu langkah lagi.

Jarak mereka menjadi pendek.

Panel sistem berkedip.

**【Sistem Predator】Peringatan: Target berada pada Nilai Cinta -100. Provokasi berlebihan dapat meningkatkan Nilai Kehancuran.**

Meiran berhenti setengah detik.

Nilai Kehancuran di sudut panel bergerak dari 12 ke 13.

Jadi setiap permainan punya harga.

Baik. Ia mencatatnya.

Hafeng melihat jeda kecil itu dan salah mengartikannya sebagai ragu. "Sudah selesai?"

"Belum."

"Kalau begitu cepat. Aku muak melihat wajahmu."

Kalimat itu seharusnya menyakitkan.

Memang menyakitkan.

Tapi Meiran pernah mendengar kalimat yang jauh lebih dingin saat darahnya mengalir di aspal. Dibandingkan suara Hafeng di ujung telepon kematiannya, hinaan pagi ini hanya goresan.

Ia mengangkat wajah.

"Kamu akan lebih muak setelah ini."

Sebelum Hafeng sempat memahami maksudnya, Meiran meraih kerah kemejanya dan menariknya turun.

Bibirnya menyentuh bibir Hafeng.

Tidak lama.

Hanya satu detik yang cukup untuk membunuh seluruh suara di koridor.

Kertas remuk jatuh dari tangan Hafeng. Ponsel seseorang hampir terlepas. Wanyu menutup mulutnya, tetapi matanya terbuka lebar bukan karena sedih saja, melainkan karena marah yang terlambat disembunyikan.

Hafeng membeku.

Meiran melepaskannya lebih dulu.

Ia tidak mundur jauh. Ia hanya berdiri di sana, menatap pria yang baru saja ia cium secara paksa di depan saksi, dan ia tahu ini bukan tindakan manis. Ini serangan. Ini tanda perang. Ia mempertaruhkan reputasinya sendiri untuk memecahkan kebekuan yang terlalu lama mengikat alur lama.

Detik berikutnya, tangan Hafeng terangkat.

Plak.

Wajah Meiran tersentak ke samping.

Suara tamparan itu lebih keras dari yang ia kira.

Pipi kirinya langsung panas. Rambutnya jatuh menutupi separuh wajah. Luka di telapak tangannya berdenyut bersamaan dengan rasa perih di pipi, seolah tubuhnya ingin mengingatkan bahwa hidup kembali bukan berarti kebal.

Koridor kacau.

"Astaga."

"Dia menamparnya."

"Tapi Meiran yang cium duluan."

"Rekam, rekam."

Wanyu maju cepat. "Ko Hafeng!"

Hafeng menatap tangannya sendiri selama sepersekian detik. Jari-jarinya kaku. Kemarahannya masih ada, tetapi di balik itu ada sesuatu yang lebih tajam: terkejut pada dirinya sendiri.

Ia tidak meminta maaf. Harga dirinya terlalu tinggi untuk itu, apalagi di depan orang-orang yang mulai berkerumun. Namun warna di wajahnya berubah sedikit pucat. Tamparan itu bukan kemenangan. Bagi pria sebeku Hafeng, kehilangan kendali di depan umum adalah noda yang lebih menyakitkan daripada gosip apa pun.

Meiran melihatnya.

Catatan pertama: Lo Hafeng lebih takut kehilangan kendali daripada kehilangan muka karena perempuan.

Meiran menyentuh sudut bibirnya. Tidak berdarah.

Sialnya, tidak ada darah. Darah akan membuat adegan ini lebih mudah diingat.

"Meiran, kamu keterlaluan," kata Wanyu, suaranya gemetar dengan sangat terukur. "Kamu tidak bisa memaksa orang seperti itu."

"Benar," jawab Meiran.

Semua orang kembali diam.

Meiran menurunkan tangannya dari pipi. Bekas merah mulai terasa berdenyut, tetapi matanya tetap lurus pada Hafeng.

"Aku salah karena menciummu tanpa izin," katanya jelas, cukup keras untuk ponsel yang sedang merekam. "Dan kamu salah karena menamparku. Kita sama-sama membuat adegan buruk pagi ini."

Hafeng tidak bicara.

"Karena itu," Meiran mengambil kertas taruhan yang jatuh, merapikannya sebisanya meski sudah kusut, "kita ubah menjadi aturan yang bisa diawasi semua orang."

Hafeng menatapnya seolah baru pertama kali melihatnya.

Mungkin memang begitu.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran setelah ditampar akan hancur. Ia akan menangis, meminta maaf, dan semakin terlihat seperti perempuan putus asa.

Sekarang ia berdiri dengan pipi merah, suara stabil, dan kertas taruhan di tangan.

**【Sistem Predator】Respons target berubah. Kebencian tetap maksimum. Variabel baru terdeteksi: keterkejutan, kewaspadaan, rasa ingin tahu.**

Nilai Cinta: -100.

Tidak naik.

Namun ada sesuatu yang bergerak.

Meiran menahan rasa puas tipis di dadanya.

Wanyu melihat ke arah mahasiswa yang merekam. "Tolong hapus videonya. Ini masalah pribadi."

"Jangan hapus," kata Meiran.

Wanyu menoleh cepat. "Meiran?"

"Aku sudah minta maaf atas bagian yang salah. Kalau video itu menyebar, semua orang juga akan melihat aku menawarkan taruhan yang jelas dan dia menamparku setelahnya. Biarkan publik menilai seimbang."

Wanyu kehilangan kata.

Hafeng akhirnya bicara, suaranya rendah. "Kamu benar-benar gila."

"Mungkin."

"Kamu pikir setelah ini aku akan menerima taruhanmu?"

"Ya."

"Kenapa?"

Meiran melipat kertas itu, lalu menyodorkannya lagi.

"Karena kalau kamu tidak menerima, ciuman tadi menjadi satu-satunya hal yang orang ingat. Tapi kalau kamu menerima, kamu punya kesempatan mengubah cerita menjadi kemenanganmu."

Hafeng menatap kertas itu.

Meiran menambahkan, lebih pelan, khusus untuknya, "Kalahkan aku. Buat aku meminta maaf di depan semua orang. Bukankah itu yang kamu mau?"

Hafeng diam lama.

Di belakangnya, Wanyu tampak ingin berkata sesuatu, tetapi ia tidak berani memotong saat mata Hafeng sudah terpaku pada Meiran. Untuk pertama kalinya pagi itu, Wanyu bukan pusat kelembutan yang perlu dilindungi. Ia hanya penonton.

Itu cukup untuk membuat Meiran tahu serangannya mengenai sasaran.

Hafeng mengambil kertas itu.

Ia merapikannya dengan gerakan kasar, lalu menarik pulpen dari saku kemejanya. Ujung pulpen menekan kertas begitu kuat sampai hampir robek.

Lo Hafeng.

Tanda tangannya tajam.

Setelah selesai, ia menyodorkan kertas itu kembali ke dada Meiran.

"Baik," katanya di antara gigi yang terkatup. "Satu bulan. Tapi jangan menyesal ketika kamu kalah."

Meiran menerima kertas itu, pipinya masih panas, dadanya masih berdenyut, tetapi senyumnya tidak runtuh.

"Aku tidak punya kebiasaan menyesal dua kali."

Hafeng berbalik pergi.

Wanyu memanggilnya, "Ko Hafeng!"

Kali ini Hafeng tidak berhenti.

Meiran menatap tanda tangan di kertas kusut itu.

**【Sistem Predator】Ikatan taruhan terbentuk. Jalur interaksi berulang terbuka.**

Di depan semua orang, Lo Hafeng baru saja masuk ke permainan yang ia benci.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!