Episode 2

Bab 002

Pertemuan Kembali

Pagi berikutnya, Sekar datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.

Langit Jakarta masih pucat. Lapangan sekolah belum ramai, hanya ada beberapa siswa piket yang menyapu daun kering di dekat parkiran motor. Udara pagi membawa bau tanah basah dan sabun pel dari koridor. Semuanya terlalu biasa, terlalu hidup, sampai Sekar beberapa kali harus menekan kuku ke telapak tangannya untuk memastikan ia benar-benar ada di sini.

Semalam ia tidak tidur.

Di rumah, Oma Lien sempat mengetuk pintu kamarnya dua kali. Pertama membawa susu hangat, kedua membawa minyak kayu putih karena mengira cucunya masuk angin. Sekar hampir menangis ketika melihat tangan Oma yang keriput menaruh gelas di meja.

Di kehidupan sebelumnya, tangan itu menggenggam fotonya di pemakaman.

Sekar tidak berani memikirkan lebih jauh. Ia hanya memeluk Oma Lien lama-lama, sampai Oma tertawa bingung dan menepuk punggungnya.

"Anak ini kenapa? Baru kelas dua belas sudah melankolis."

Sekar menjawab dengan suara kecil, "Kangen Oma."

Oma mengomel, tapi matanya lembut.

Pagi ini, bekas hangat pelukan itu masih terasa di dadanya. Namun begitu ia melewati gerbang sekolah, seluruh pikirannya kembali pada satu nama.

Kevin.

Menurut ingatan Sekar, Kevin akan datang terlambat sekitar lima belas menit setelah bel pertama. Ia tidak akan masuk lewat gerbang utama, melainkan dari sisi parkiran motor dekat lapangan basket. Rambutnya masih biru gelap, agak berantakan seolah disisir dengan jari. Seragamnya tidak pernah rapi. Kemeja putihnya sering keluar sedikit dari pinggang celana abu-abu, dasinya longgar, dan di telinga kirinya ada anting perak kecil yang membuat guru BK sakit kepala.

Dulu, gambaran itu hanya bagian dari gosip sekolah.

Hari ini, bagi Sekar, itu seperti janji hidup.

"Lo serius nggak mau ke UKS?" Yola menjatuhkan tas di kursi sebelahnya begitu masuk kelas. "Kemarin lo pucat kayak habis lihat hantu. Sekarang mata lo bengkak. Jangan-jangan lo putus sama orang yang belum gue tahu?"

Sekar yang sedang menatap koridor langsung menoleh.

"Aku nggak punya pacar."

"Nah, itu lebih parah. Belum punya pacar tapi tampang lo udah kayak ditinggal nikah."

Sekar hampir tertawa.

Yola selalu seperti ini. Mulutnya cepat, perhatiannya juga cepat. Di kehidupan sebelumnya, Yola menjadi salah satu orang pertama yang curiga pada Om Budi, tapi waktu itu Sekar terlalu takut melibatkan siapa pun.

Kali ini, ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

"Yol," panggil Sekar pelan.

"Hmm?"

"Kalau suatu hari aku cerita sesuatu yang terdengar aneh, lo percaya sama aku nggak?"

Yola mengerjap. "Aneh kayak apa dulu? Kalau lo bilang alien turun di Monas, gue butuh bukti video."

"Kalau tentang keluargaku."

Candaan di wajah Yola pelan-pelan hilang. Ia menurunkan suaranya. "Om Budi lagi?"

Sekar tidak menjawab langsung. Nama itu saja membuat perutnya dingin, tetapi ia memaksa diri tetap tenang.

"Belum sekarang," katanya. "Nanti aku cerita. Tapi kalau aku minta bantuan, jangan tanya terlalu banyak dulu."

Yola menatapnya beberapa detik. Lalu gadis itu mengangguk.

"Oke. Tapi lo juga jangan sok kuat sendirian. Gue sahabat lo, bukan hiasan kelas."

Sekar tersenyum tipis. "Iya."

Bel pertama berbunyi.

Kelas menjadi lebih ramai. Bu Wati masuk membawa map hijau dan langsung mengatur suasana. Di papan tulis, ia menuliskan beberapa pengumuman awal semester. Sekar mencoba mendengarkan, tetapi setiap detik terasa panjang.

Lima menit.

Delapan menit.

Sepuluh menit.

Jari Sekar meremas ujung rok sekolahnya. Ia tahu Kevin akan muncul. Ia sudah melihatnya dalam ingatan berkali-kali. Namun menunggu orang yang pernah mati untuknya berjalan kembali ke dunia hidup ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Suara motor terdengar dari arah parkiran.

Tidak keras, hanya deru pendek yang berhenti tiba-tiba. Namun tubuh Sekar langsung menegang.

Di luar kelas, beberapa siswa yang sedang berdiri dekat jendela menoleh.

"Itu dia datang," bisik salah satu anak laki-laki.

"Kevin?"

"Siapa lagi? Anak biliar itu."

"Gila, rambutnya makin biru aja."

Bu Wati berhenti menulis. Wajahnya berubah lelah sebelum orangnya bahkan muncul.

Sekar tidak bisa menahan diri. Ia menoleh ke arah pintu.

Langkah kaki terdengar di koridor. Lambat, tidak terburu-buru, seolah bel sekolah bukan urusannya. Beberapa siswa yang tadi bergerombol otomatis menyingkir. Lalu Kevin Senja Halim muncul di depan kelas mereka.

Untuk sesaat, dunia Sekar benar-benar berhenti.

Ia ada di sana.

Bukan bayangan di makam. Bukan tubuh yang jatuh dari atap senja. Bukan suara pecah dari telepon. Kevin berdiri hidup-hidup di bawah cahaya pagi, mengenakan seragam putih abu-abu yang berantakan, tas hitam disampirkan di satu bahu.

Rambut birunya lebih mencolok daripada ingatan Sekar. Warna itu gelap seperti langit sebelum hujan, jatuh sedikit menutupi alis. Di telinga kirinya, anting perak kecil memantulkan cahaya matahari. Wajahnya masih muda, lebih tajam, lebih dingin, dengan tatapan yang membuat orang lain memilih pura-pura sibuk.

Sekar menggigit bagian dalam pipinya.

Sakit.

Tetapi sakit itu tidak cukup menahan air matanya.

Kevin melirik ke dalam kelas, hanya sekilas, karena kelasnya ada di sebelah. Tatapannya melewati deretan meja, melewati Bu Wati, melewati Yola yang sedang berbisik "seram banget", lalu berhenti sekejap pada Sekar.

Hanya sekejap.

Namun sekejap itu membuat dada Sekar seperti dihantam ombak.

Matanya sama.

Tatapan yang dulu ia lihat di pemakaman. Tatapan yang menatap batu nisannya tanpa berkedip. Bedanya, sekarang mata itu belum mengenalnya. Belum mencintainya. Belum kehilangan apa pun karena dirinya.

Sekar berdiri tanpa sadar.

Kaki kursinya menggesek lantai, membuat beberapa kepala menoleh. Bu Wati mengangkat alis.

"Sekar?"

Sekar tidak mendengar.

Kevin juga menoleh lagi, kali ini benar-benar melihatnya. Alisnya bergerak sedikit, bukan karena kenal, melainkan karena heran melihat siswi teladan tiba-tiba berdiri seperti orang kehilangan napas.

Jarak mereka hanya beberapa meter.

Sekar membuka mulut.

Nama itu sudah berada di ujung lidahnya. Ia pernah meneriakkannya tanpa suara di atap gedung. Ia pernah memanggilnya dalam mimpi sepanjang malam. Sekarang Kevin berdiri di depannya, dan ia punya kesempatan untuk mengucapkannya dengan benar.

"Ke..."

Suara Sekar patah.

Yola langsung menyentuh lengannya. "Sekar, lo kenapa?"

Kevin menatapnya dengan ekspresi datar. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ingatan tentang bunga putih, makam basah, atau janji untuk datang menyusulnya.

Di belakang Kevin, seorang guru piket muncul dari ujung koridor.

"Kevin! Jam berapa ini?"

Kevin mengalihkan pandangan dari Sekar, seolah ia hanya melihat sesuatu yang aneh sebentar lalu kehilangan minat.

"Masih pagi, Bu," jawabnya datar.

"Masih pagi dari mana? Masuk kelas sekarang."

Kevin tidak membantah. Ia hanya memasukkan satu tangan ke saku celana, lalu berjalan melewati pintu kelas Sekar menuju kelas sebelah. Saat melewati ambang pintu, bahunya hampir menyentuh kusen. Aroma samar rokok, sabun murah, dan udara jalanan tertinggal sebentar di koridor.

Sekar masih berdiri.

Ia melihat punggung Kevin sampai lelaki itu menghilang di balik pintu kelas sebelah. Setelah itu, suara kursi ditarik terdengar, disusul gumaman beberapa siswa.

"Sok banget."

"Tapi ganteng, ya?"

"Ganteng sih, tapi nyusahin."

Bu Wati mengetuk papan tulis dengan spidol.

"Sekar, duduk. Kalau tidak enak badan, nanti istirahat di UKS."

Sekar menelan napas yang terasa seperti pecahan kaca. Pelan-pelan ia duduk kembali. Lututnya lemas. Tangannya dingin. Di bawah meja, Yola menyelipkan tisu ke genggamannya tanpa banyak bertanya.

"Lo kenal dia?" bisik Yola.

Sekar menatap pintu kelas sebelah.

Di balik dinding tipis itu, Kevin sedang duduk entah di bangku mana. Mungkin menunduk tidur. Mungkin menatap keluar jendela. Mungkin sama sekali tidak memikirkan gadis aneh dari kelas sebelah yang hampir memanggil namanya.

Sekar meremas tisu itu sampai kusut.

"Belum," jawabnya.

Yola mengerutkan dahi. "Belum?"

Sekar menunduk, menyembunyikan matanya yang kembali panas.

Belum, karena di hidup ini mereka memang belum saling mengenal.

Belum, karena Kevin baru saja melewatinya dengan dingin, seperti ia melewati semua orang.

Belum, karena baginya Sekar Ayu Raganari hanyalah siswi rapi dari kelas sebelah yang tiba-tiba berdiri dan menatapnya terlalu lama.

Tetapi Sekar ingat semuanya.

Ia ingat tangan Kevin yang membersihkan daun dari batu nisannya. Ia ingat suara Kevin yang mengatakan mereka belum selesai. Ia ingat senja di atap gedung, anting perak yang berkilat, dan kalimat terakhir yang menghancurkan hatinya.

Kali ini gue yang datang ke lo.

Sekar menutup mata sebentar.

Tidak, Kev.

Kali ini aku yang akan datang kepadamu lebih dulu.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!