Episode 3

Bab 003

Mendekati

Kali ini aku yang akan datang kepadamu lebih dulu.

Kalimat itu terus berputar di kepala Sekar sepanjang dua jam pelajaran pertama. Di papan tulis, angka-angka matematika berbaris rapi. Bu Wati menjelaskan materi dengan suara tegas. Yola sesekali menyikutnya karena Sekar menatap buku terlalu lama tanpa benar-benar menulis apa pun.

"Lo hari ini aneh banget," bisik Yola.

Sekar baru sadar ujung pulpennya berhenti di satu titik sampai tinta melebar seperti noda kecil.

"Maaf."

"Jangan minta maaf ke gue. Minta maaf sama buku lo. Itu udah lo tusuk dari tadi."

Sekar menunduk. Di sudut halaman, tanpa sadar ia menulis satu nama.

Kevin.

Ia cepat-cepat menutupnya dengan telapak tangan.

Yola melihat gerakan itu. Matanya menyipit. "Oke. Jadi benar karena anak rambut biru itu?"

Sekar tidak menjawab.

Yola menarik napas panjang, lalu berbisik lebih pelan. "Sekar, gue tahu lo bukan tipe yang gampang suka cowok cuma karena muka. Tapi Kevin itu beda. Dia sering berantem, sering dipanggil guru, dan setengah sekolah takut sama dia. Kalau lo cuma penasaran, jangan."

Sekar menatap papan tulis. Kapur putih meninggalkan debu tipis di ujung jari Bu Wati.

"Aku bukan cuma penasaran."

"Terus?"

Sekar menutup buku perlahan ketika bel istirahat berbunyi. Suara kursi bergeser memenuhi kelas. Anak-anak langsung berhamburan ke kantin.

"Aku mau kenalan."

Yola menatapnya seolah ia baru mengumumkan ingin pindah ke planet lain.

"Sekar."

"Iya?"

"Lo sadar dia tadi pagi bahkan nggak senyum?"

"Sadar."

"Dan itu nggak bikin lo mundur?"

Sekar mengambil dompet kecil dari tasnya. Di kehidupan sebelumnya, ia mundur terlalu sering. Ia menunduk saat harus menatap, diam saat harus bicara, takut saat harus meminta tolong. Semua itu berakhir dengan tubuhnya jatuh dari gedung dan Kevin menyusulnya ke kematian.

Tidak lagi.

"Nggak."

Yola membuka mulut, menutupnya lagi, lalu akhirnya berdiri. "Gue ikut."

"Nggak usah."

"Justru harus. Kalau dia nyakitin lo, minimal ada saksi."

Sekar ingin tertawa, tapi dadanya terlalu hangat. Ia membiarkan Yola berjalan di sampingnya sampai kantin.

Jam istirahat selalu membuat kantin SMA mereka seperti pasar kecil. Suara sendok beradu dengan piring, bau nasi goreng dan ayam kecap bercampur dengan es teh manis, murid-murid berebut kursi sambil tertawa keras. Namun ada satu sudut dekat jendela belakang yang lebih sepi dari bagian lain.

Kevin duduk di sana.

Ia tidak sendiri. Di depannya ada seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah cerah dan ekspresi paling santai di dunia. Laki-laki itu sedang mengaduk mi ayam sambil bicara tanpa henti, sementara Kevin hanya bersandar di kursi, satu kaki diselonjorkan, mata setengah menatap halaman belakang.

Bryan Tanuwijaya.

Sekar mengenalinya dari kehidupan sebelumnya. Saudara angkat Kevin. Orang yang selalu berdiri di samping Kevin bahkan saat seluruh dunia meninggalkannya. Orang yang kelak menangis di rumah sakit karena Kevin memakai tubuhnya sendiri untuk melindunginya dari kecelakaan.

Melihat Bryan hidup, sehat, dan masih bisa bicara begitu banyak membuat tenggorokan Sekar kembali sesak.

"Itu Bryan," bisik Yola. "Temannya Kevin. Sama-sama rusuh, tapi Bryan lebih banyak omong."

"Aku tahu."

Yola menoleh cepat. "Lo tahu dari mana?"

Sekar pura-pura tidak mendengar. Ia menuju etalase kantin dan membeli dua roti isi cokelat serta dua susu kotak. Tangannya sempat gemetar saat menerima kembalian, tetapi kali ini ia tidak mundur.

Ketika Sekar berjalan ke arah meja Kevin, beberapa siswa di sekitar kantin langsung melambat. Bisikan bergerak seperti angin.

"Itu Sekar, kan?"

"Ngapain dia ke meja Kevin?"

"Jangan-jangan mau negur karena tadi Kevin telat?"

"Gila, berani banget."

Kevin menyadari perubahan suasana sebelum Sekar sampai di hadapannya. Ia mengangkat mata. Tatapannya dingin, waspada, dan sedikit tidak sabar.

Bryan berhenti mengaduk mi.

"Bro," katanya pelan, tapi cukup terdengar, "ada bidadari nyasar."

Kevin tidak tertawa. "Diam."

Sekar berhenti di sisi meja. Jarak mereka tidak sampai satu meter. Dari dekat, ia bisa melihat noda kecil di ujung manset Kevin, goresan tipis di buku jarinya, dan anting perak yang bergerak saat ia memiringkan kepala.

Jantung Sekar berdetak begitu keras sampai ia takut semua orang mendengarnya.

Namun suaranya keluar lebih tenang dari yang ia kira.

"Kamu Kevin, kan?"

Kevin menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, bukan dengan cara tidak sopan, melainkan seperti sedang menilai apakah ia membawa masalah.

"Kalau iya?"

Yola yang berdiri dua langkah di belakang Sekar langsung menarik napas.

Bryan menyeringai. "Galak amat, Bro. Cewek nanya nama, bukan nagih utang."

Kevin mengabaikannya.

Sekar meletakkan satu roti dan satu susu kotak di atas meja Kevin. Satu set lagi ia taruh di depan Bryan.

"Aku Sekar. Kelas sebelah."

Bryan langsung duduk lebih tegak. "Oh, jadi ini Sekar. Anak ranking atas itu?"

Sekar tersenyum tipis. "Halo, Bryan."

Bryan hampir tersedak.

Kevin juga berhenti bergerak.

Beberapa detik berlalu. Suasana di meja itu berubah. Kevin menatapnya lebih tajam.

"Lo kenal dia?" tanya Kevin.

Sekar sadar ia melakukan kesalahan kecil. Di kehidupan ini, ia seharusnya belum tahu nama Bryan. Namun ia tidak panik. Ia menunjuk ke kartu nama OSIS kecil yang tergantung di lanyard Bryan, kartu yang menampilkan nama lengkap untuk panitia acara awal semester.

"Tertulis di situ."

Bryan menunduk melihat dadanya sendiri. "Oh. Pantes."

Kevin tidak langsung percaya. Matanya tetap pada Sekar.

"Ada urusan apa?"

"Mau kenalan," jawab Sekar.

Jawaban itu terlalu sederhana untuk semua bisikan di kantin. Bryan menutup mulut dengan punggung tangan, jelas menahan tawa. Yola di belakangnya berbisik, "Ya Tuhan, dia beneran."

Kevin menatap roti dan susu di meja.

"Gue nggak minta."

"Aku tahu."

"Terus kenapa dikasih?"

"Karena kamu belum makan."

Bryan mengangkat alis. "Wah. Perhatian."

"Bryan," Kevin memperingatkan.

"Iya, iya, gue makan aja bagian gue." Bryan langsung mengambil roti yang di depannya, lalu bergumam, "Kalau perhatian begini tiap hari, gue rela jadi saksi."

Kevin tidak menyentuh roti itu. Ia hanya menatap Sekar, seolah gadis di depannya adalah soal ujian yang tidak masuk akal.

"Lo salah orang," katanya. "Kalau mau main drama anak baik nyelamatin anak nakal, cari yang lain."

Kantin mendadak lebih sunyi bagi Sekar. Kalimat itu tajam, tapi tidak menyakitinya. Ia tahu Kevin sedang membuat pagar. Dulu pagar itu berhasil menjauhkan semua orang.

Hari ini, Sekar berdiri tepat di depannya.

"Aku nggak mau menyelamatkan kamu," katanya.

Kevin menyipit.

Sekar menarik napas pelan. "Aku cuma mau kenal kamu."

Untuk pertama kalinya, wajah Kevin kehilangan jawaban selama satu detik.

Satu detik itu cukup bagi Sekar.

Ia mendorong susu kotak sedikit lebih dekat. "Kalau nggak mau, buang aja. Tapi jangan kasih Bryan. Dia sudah dapat satu."

Bryan yang sedang menggigit roti langsung menunjuk dirinya sendiri. "Loh, kenapa gue dibawa-bawa?"

Sekar berbalik sebelum keberaniannya habis. Ia melewati Yola yang masih mematung, lalu berjalan keluar dari kantin dengan punggung tegak. Baru setelah sampai di koridor sepi dekat tangga, napasnya pecah.

Yola mengejarnya.

"Sekar Ayu Raganari."

Sekar berhenti.

"Lo baru saja ngasih roti ke Kevin Senja Halim di depan setengah kantin."

"Aku tahu."

"Dan lo bilang cuma mau kenal dia."

"Iya."

Yola memijat pelipis. "Gue butuh es teh."

Sekar akhirnya tertawa kecil.

Tawanya belum selesai ketika suara langkah terdengar dari arah kantin. Sekar menoleh. Kevin keluar lebih dulu, tas hitam sudah tersampir di bahu. Bryan berjalan di sampingnya sambil masih mengunyah roti.

Roti yang diberikan Sekar untuk Bryan sudah hampir habis.

Roti yang diberikan untuk Kevin tidak terlihat.

Namun susu kotak itu ada di tangan Kevin.

Belum dibuka.

Hanya dipegang.

Kevin melewati mereka tanpa berhenti. Sekar juga tidak memanggil. Ia hanya menatap susu kotak di tangan Kevin, lalu menatap wajahnya.

Saat jarak mereka tinggal selangkah, Sekar berkata pelan, "Sampai ketemu lagi, Kevin."

Langkah Kevin berhenti.

Yola membeku. Bryan perlahan menurunkan roti dari mulutnya.

Kevin menoleh. Kali ini tatapannya tidak sesingkat tadi pagi. Ia melihat Sekar lama, seolah baru menyadari bahwa gadis ini bukan sekadar siswi kelas sebelah yang aneh.

"Lo selalu begini?" tanyanya.

"Begini bagaimana?"

"Datang ke orang yang nggak lo kenal."

Sekar menahan senyum yang hampir muncul.

"Nggak," jawabnya. "Cuma ke kamu."

Bryan tersedak roti.

Kevin tidak langsung pergi. Matanya masih tertahan pada Sekar, dinginnya belum hilang, tapi ada sesuatu yang berubah di sana. Bukan lagi sekadar bingung. Bukan lagi sekadar waspada.

Untuk pertama kalinya di kehidupan ini, Kevin benar-benar melihatnya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!