Episode 5

Bab 005

Uang Perlindungan

"Coba sentuh dia sekali lagi."

Kalimat Kevin jatuh seperti bola besi di lantai.

Tidak ada yang langsung bicara. Pemuda bertopi yang pergelangan tangannya masih dicengkeram Kevin mencoba tertawa, tetapi suaranya pecah di tengah. Ia melirik teman-temannya, mungkin berharap ada yang maju membantunya. Namun orang-orang yang tadi ikut menertawakan Sekar justru pura-pura sibuk dengan meja masing-masing.

Nama Kevin ternyata cukup berat di tempat ini.

"Kev," Bryan berkata pelan, kali ini tidak bercanda. "Lepasin. Ada CCTV."

Kevin masih menatap pemuda itu.

"Minta maaf."

"Iya, iya." Pemuda bertopi meringis. "Maaf."

Kevin tidak bergerak.

Pemuda itu menggertakkan gigi, lalu menoleh ke arah Sekar tanpa berani melihat matanya lama-lama. "Maaf."

Sekar berdiri di belakang Kevin. Jantungnya masih terlalu cepat, tetapi ia memaksa dirinya menjawab. "Jangan ganggu perempuan lain lagi."

Bryan mengangkat alis, seolah tidak menyangka ia masih bisa memberi nasihat dalam keadaan seperti ini.

Pemuda bertopi mengangguk cepat. Kevin akhirnya melepaskan tangannya. Begitu bebas, pemuda itu langsung mundur sambil memegangi pergelangan. Temannya yang tadi mengangkat stik biliar ikut menjauh. Beberapa pengunjung menurunkan kepala, pura-pura tidak melihat apa pun.

Penjaga kasir di belakang meja baru berani bersuara. "Kevin, jangan ribut di sini."

Kevin menoleh dingin. "Bilang ke mereka."

Penjaga itu langsung diam.

Bryan menghela napas panjang. "Oke. Selesai. Semua masih hidup. Bagus."

Kevin berbalik menghadap Sekar.

Sekar mengira ia akan bertanya apakah ia baik-baik saja. Atau mungkin, kalau ia cukup beruntung, Kevin akan memanggil namanya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

Ternyata tidak.

"Lo gila?"

Sekar berkedip.

Bryan menutup wajah dengan satu tangan. "Bro, nada lo bisa diturunin dikit."

Kevin mengabaikannya. Matanya menyapu cardigan Sekar, rok denim, tas kecil di bahunya, lalu kembali ke wajahnya. "Datang ke tempat kayak gini sendirian. Pakai baju begitu. Mau cari masalah?"

Sekar tahu ia sedang dimarahi.

Anehnya, dadanya justru hangat.

Di kehidupan sebelumnya, tidak ada orang yang memarahinya karena takut ia terluka. Semua orang hanya menyuruhnya mengalah, diam, jangan mempermalukan keluarga. Bahkan saat Om Budi mulai menunjukkan taring, mereka berkata Sekar terlalu keras kepala.

Kevin marah karena ia datang ke tempat berbahaya.

Kevin marah karena ia hampir disentuh orang asing.

Sekar menunduk sebentar untuk menyembunyikan senyum kecil yang muncul.

"Kenapa senyum?" suara Kevin makin berat.

"Karena kamu khawatir."

Bryan tersedak angin.

Wajah Kevin tidak berubah, tetapi telinganya yang memakai anting perak tampak sedikit memerah di bawah lampu hijau.

"Gue nggak khawatir. Gue nggak suka ada orang bikin ribut di depan gue."

"Oh."

"Jangan oh."

"Iya."

Kevin menatapnya seolah jawaban patuh itu lebih membuatnya kesal. "Pulang."

Sekar melihat ke arah tangga. Sisa takut dari tadi masih tinggal di lututnya. Namun ia tahu kalau ia pergi begitu saja, besok Kevin mungkin kembali membangun pagar. Ia harus meninggalkan sesuatu. Sebuah alasan untuk bertemu lagi.

"Aku bisa bayar," katanya.

Bryan yang baru saja menarik napas kembali tersedak. "Bayar apa?"

Kevin menatapnya datar.

Sekar membuka tas kecilnya. Di dalamnya ada dompet tipis berisi uang jajan mingguan dari Oma Lien, beberapa lembar seratus ribu dan lima puluh ribu yang seharusnya ia pakai untuk makan siang, fotokopi, dan jajan kecil. Ia mengambil semuanya, merapikan dengan kedua tangan, lalu menyodorkannya pada Kevin.

"Uang perlindungan."

Ruangan yang baru mulai hidup lagi mendadak sunyi untuk kedua kalinya.

Bryan menatap uang itu, lalu menatap Sekar, lalu menatap Kevin. "Gue hidup buat menyaksikan hari ini."

Kevin tidak menerima uang itu. "Apa maksud lo?"

"Kamu tadi melindungi aku." Sekar berusaha bicara seserius mungkin, walau kata-katanya terdengar seperti lelucon aneh. "Kalau aku bayar uang perlindungan, berarti mulai sekarang aku punya alasan untuk minta kamu melindungi aku."

"Lo pikir gue preman?"

"Bukan."

"Terus?"

"Aku pikir kamu orang baik."

Kata itu membuat rahang Kevin mengeras.

Orang baik.

Mungkin sudah lama tidak ada yang menyebutnya begitu. Di sekolah, ia anak nakal. Di ruang guru, ia masalah berjalan. Di tempat biliar, ia orang yang tidak boleh dipancing kalau masih sayang wajah sendiri. Tetapi Sekar melihat melewati semua label itu, langsung ke bagian yang paling ia sembunyikan.

Kevin menatap uang di tangan Sekar.

"Tarik lagi sebelum gue ambil beneran."

Sekar tidak bergerak.

Bryan berbisik, "Sekar, saran gue, kalau Bro bilang begitu, biasanya dia serius."

"Aku juga serius."

Kevin mengulurkan tangan.

Sekar merasakan ujung jarinya tersentuh saat Kevin mengambil uang itu. Sentuhannya singkat, lebih ringan dari angin, tetapi cukup membuat seluruh tubuhnya tegang.

Kevin menghitung cepat. Matanya turun ke jumlah uang itu, lalu naik lagi.

"Ini uang jajan lo seminggu?"

"Iya."

"Bodoh."

Bryan mengangguk setuju. "Sedikit."

Sekar menoleh padanya.

Bryan buru-buru mengangkat kedua tangan. "Maksud gue, secara konsep aja aneh."

Kevin memasukkan uang itu ke saku jaketnya.

Sekar menatap gerakan itu. Ia tahu seharusnya ia khawatir. Namun yang muncul justru rasa lega. Uang itu bukan benar-benar pembayaran. Itu tali kecil yang ia lempar ke arah Kevin. Dan Kevin, meski memaki bodoh, tidak menolaknya.

"Sekarang pulang," kata Kevin.

"Kamu terima?"

"Uangnya udah di gue."

"Berarti kamu setuju melindungi aku?"

Kevin menatapnya lama. Bryan di belakangnya membuat gerakan seperti orang berdoa, jelas menikmati drama yang terjadi.

"Gue setuju lo nggak boleh datang ke tempat kayak gini sendirian lagi."

"Kalau sama kamu?"

"Jangan mulai."

Sekar menahan senyum.

Mereka turun dari ruko bersama. Bryan berjalan paling depan sambil bersiul kecil. Di luar, sore mulai turun. Jalan kecil di belakang sekolah ramai oleh motor, pedagang gorengan, dan siswa yang masih nongkrong.

Yola sudah mengirim tujuh pesan.

Yola: Lo masih hidup?

Yola: Lokasi lo berhenti di ruko. Jangan bilang lo masuk.

Yola: Sekar jawab.

Yola: Kalau lo diculik anak rambut biru, gue lapor Bu Wati.

Sekar hampir tertawa saat membacanya.

Kevin melirik layar ponselnya. "Teman lo?"

"Yola."

"Suruh dia jemput?"

"Aku bisa pulang sendiri."

Kevin berhenti di dekat parkiran motor. "Dengan baju begitu?"

Sekar melihat dirinya, lalu melihat Kevin. "Kamu benar-benar khawatir."

"Gue bilang jangan mulai."

Bryan tertawa keras dari samping motor. "Bro, lo kalah. Mukanya udah ketahuan."

Kevin menendang ringan ban motor Bryan, membuat Bryan cepat-cepat mundur.

Sekar menyimpan ponselnya. "Kalau begitu, aku pulang naik ojek online."

"Nggak."

"Taksi?"

"Nggak."

"Jalan kaki?"

Kevin menatapnya seperti ia baru saja menawarkan diri masuk lubang buaya.

"Mulai besok," katanya pelan, "makan siang sama gue."

Sekar terdiam.

Kevin mengeluarkan uang yang tadi ia ambil, melipatnya, lalu memasukkannya lagi ke saku. "Uang ini buat makan lo. Sampai habis, lo makan sama gue. Kalau habis, baru kita bicara lagi."

Bryan langsung berdeham dramatis. "Oh, jadi ini bisnis perlindungan yang menyediakan paket makan siang."

"Diam."

Sekar menunduk, tapi kali ini ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Makan siang bersama.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah melewati Kevin di kantin tanpa duduk satu meja. Kali ini, Kevin sendiri yang membuat aturan.

"Oke," katanya.

Kevin membuka kunci motor, suaranya tetap datar, tetapi sudut bibirnya seperti hampir bergerak.

"Besok jam istirahat. Jangan telat."

Sekar menggigit bibir, menahan senyum yang hampir terlalu jelas.

Makan siang berdua, dengan uang jajannya sendiri, di bawah pengawasan seorang anak nakal yang baru saja mengaku menerima uang perlindungan.

Ini bisa dihitung kencan pertama, kan?

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!