Episode 3

Bab 003

Perjanjian Pranikah

Louisa tidak langsung menyentuh formulir itu.

Dua lembar kertas putih di atas meja tampak terlalu bersih untuk keputusan yang lahir dari malam paling berantakan dalam hidupnya. Kolom nama masih kosong. Kolom tempat lahir, tanggal lahir, agama, alamat, tanda tangan saksi, semuanya menunggu diisi.

Menunggu.

Kata itu membuat ujung jari Louisa dingin.

Ia sudah terlalu lama menunggu orang yang salah. Menunggu Kevin membalas pesan. Menunggu Kevin menoleh. Menunggu hari ketika Kevin sadar bahwa ia selalu ada. Sekarang, di hadapannya, ada jalan keluar yang justru meminta ia berhenti menunggu dan mulai memilih.

"Kalau aku tanda tangan," ucap Louisa, "apa yang sebenarnya kamu dapat?"

Nathanael menatapnya dari sofa seberang. "Status."

"Status?"

"Suami."

Jawaban itu terlalu singkat, terlalu tenang. Louisa tidak tahu harus tertawa atau takut.

"Kamu bicara seolah itu hal kecil."

"Bukan hal kecil." Nathanael menurunkan pandangan ke map. "Karena itu semua harus jelas dari awal."

Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen lain, lebih tebal dari formulir Catatan Sipil. Di halaman pertama tertulis draft perjanjian pranikah. Bahasa hukumnya rapi, kering, tidak romantis sama sekali.

Aneh, justru bagian itu membuat Louisa sedikit lega.

Kertas hukum tidak berjanji akan mencintainya. Kertas hukum hanya menulis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Setelah sepuluh tahun hidup dari harapan yang tidak pernah diucapkan, sesuatu yang dingin dan jelas terasa lebih aman.

Nathanael meletakkan dokumen itu di antara mereka.

"Aku minta pengacara keluargaku menyiapkan draft dasar. Belum sah. Nanti harus dibaca notaris, lalu disesuaikan dengan keputusanmu."

"Keputusanku?"

"Pernikahan ini dimulai dari permintaanmu. Jadi syarat utamanya harus melindungimu."

Louisa menatapnya lama.

Ponselnya bergetar di meja.

Nama Kevin muncul di layar.

Kevin Tanuwijaya.

Jantung Louisa masih bereaksi. Ternyata tubuh memang lebih lambat belajar daripada pikiran. Selama bertahun-tahun, satu panggilan dari Kevin selalu membuatnya bergerak sebelum sempat berpikir. Mengangkat telepon, membuka laptop, mencatat jadwal, pergi menjemput, membatalkan urusan sendiri.

Hari ini, jarinya hanya berhenti di udara.

Nathanael tidak melihat layar. Ia menatap cangkir kosong di meja, memberi ruang seolah panggilan itu bukan urusannya.

"Kamu perlu angkat?" tanyanya.

Louisa menelan ludah. "Nggak."

Panggilan itu berhenti.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

Kevin: Lulu, file vendor. Sekarang.

Louisa membaca kata terakhir itu.

Sekarang.

Tidak ada tolong. Tidak ada kamu di mana. Tidak ada semalam kamu kenapa pulang tanpa kabar.

Ia membalik ponsel hingga layarnya menghadap meja.

"Tulis syaratnya," ucap Louisa.

Nathanael mengambil bolpoin, tapi tidak langsung menulis. "Kamu yakin tidak mau istirahat dulu?"

"Kalau aku istirahat, aku mungkin kembali takut."

"Takut tidak selalu buruk."

"Tapi aku sudah terlalu sering memakai takut sebagai alasan untuk tetap di tempat yang sama."

Untuk pertama kalinya sejak ia datang pagi itu, ekspresi Nathanael berubah jelas. Ada sesuatu yang menghangat di matanya, cepat sekali lalu menghilang.

"Baik," ucapnya.

Ia menarik satu lembar kertas kosong dari map.

"Satu. Pernikahan berlangsung satu tahun. Setelah itu, kalau kamu ingin berpisah, aku akan mengurus perceraian secara baik-baik lewat Pengadilan Negeri."

Louisa mengangguk. "Kalau kamu yang ingin bercerai sebelum satu tahun?"

"Aku tidak akan mengajukan lebih dulu."

"Kenapa?"

"Karena aku yang menawarkan perlindungan. Tidak masuk akal kalau aku menariknya saat kamu belum siap."

Louisa menatap bolpoin di tangan Nathanael. Tangan itu stabil. Tidak seperti tangannya sendiri yang masih sesekali bergetar.

"Tulis saja, kedua pihak berhak mengajukan pembatalan kesepakatan kalau terjadi kekerasan, pemaksaan, atau pelanggaran berat," katanya.

"Setuju."

Nathanael menulis tanpa memperdebatkan.

"Dua," lanjut Louisa. "Pisah harta. Semua asetmu tetap milikmu. Semua penghasilanku tetap milikku."

"Aku tambahkan tidak ada kewajiban saling menanggung utang pribadi."

"Iya."

"Tiga?"

Louisa mengalihkan pandangan ke meja kerjanya. Ada sketsa setengah jadi di sana, gambar seorang perempuan berdiri di halte saat hujan. Ia membuatnya beberapa bulan lalu setelah menunggu Kevin pulang dari meeting, hanya untuk diberi tahu bahwa pria itu sudah makan malam dengan Yvonne.

"Kita pasangan nominal," katanya pelan. "Tidak perlu..."

Ia berhenti.

Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.

Nathanael meletakkan bolpoin. "Tidak ada kewajiban fisik apa pun tanpa persetujuan dua pihak."

Wajah Louisa panas.

"Iya. Itu."

"Aku tulis jelas."

Nathanael menulis dengan tenang, tanpa membuatnya merasa kotor karena menyebut batas tubuhnya sendiri. Louisa menatap sisi wajah pria itu. Garis rahangnya tegas, bulu matanya menurunkan bayangan tipis. Ia tampak seperti seseorang yang terbiasa memutuskan kontrak miliaran, tetapi pagi ini ia menulis kalimat paling sederhana: tidak ada sentuhan tanpa persetujuan.

Dada Louisa melunak sedikit.

"Empat," ucap Nathanael setelah selesai. "Kamu bebas bekerja, melukis, bertemu teman, dan tinggal di tempat yang kamu pilih. Aku tidak akan mengatur kehidupanmu."

"Kalau nanti kita harus terlihat sebagai suami istri?"

"Kita sepakati jadwalnya. Acara keluarga, acara publik, kebutuhan legal. Di luar itu, tidak ada paksaan."

"Kamu juga bebas."

"Aku tidak punya hubungan lain."

Jawaban itu terlalu cepat.

Louisa berkedip. "Maksudku, pekerjaan, keluarga, teman."

"Aku tahu." Nathanael menutup sedikit bibirnya, seolah sadar ia menjawab bagian yang tidak ditanya. "Iya, tulis juga untukku."

Louisa hampir tersenyum.

Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, hanya pesan berturut-turut.

Kevin: Ray bilang kamu belum kirim.

Kevin: Kamu sakit?

Kevin: Kalau sakit, kirim file dulu, nanti izin ke HR.

Kalimat terakhir itu membuat senyum yang nyaris muncul di bibir Louisa menghilang.

Nathanael akhirnya menoleh ke ponsel, bukan untuk membaca, hanya karena getarnya tidak berhenti.

"Kamu boleh memblokirnya sementara."

"Aku masih kerja di perusahaannya."

"Kalau kamu ingin resign, aku bisa bantu cari pengacara ketenagakerjaan."

"Belum." Louisa menarik napas. "Aku mau keluar dengan caraku sendiri."

Nathanael mengangguk. "Baik."

Tidak ada "aku urus saja". Tidak ada "kamu tidak perlu bekerja di sana". Tidak ada rasa memiliki yang menindih.

Hanya baik.

Louisa mengambil ponsel, membuka chat Kevin, lalu mengetik perlahan.

File vendor ada di folder kantor. Aku cuti sakit hari ini. Tolong minta Ray ambil dari server.

Ia menatap kalimat itu. Tidak ada kata maaf.

Untuk pertama kalinya, ia mengirim pesan kepada Kevin tanpa meminta maaf.

Centang dua muncul.

Louisa meletakkan ponsel lagi. Tangannya masih bergetar, tapi kali ini bukan karena takut sepenuhnya. Ada rasa asing yang kecil dan tajam, seperti udara masuk ke kamar yang terlalu lama tertutup.

"Lima," katanya. "Kita tidak perlu mengumumkan alasan pernikahan ini kepada siapa pun."

"Setuju."

"Kalau keluarga bertanya?"

"Kita bilang keputusan bersama."

"Kalau keluargamu marah?"

Nathanael berhenti menulis. "Mereka tidak akan marah."

"Kamu yakin?"

"Engkong mungkin akan terlalu senang."

Louisa tidak mengerti kenapa kalimat itu terdengar begitu aneh. Terlalu senang? Untuk cucunya yang tiba-tiba menikah dengan perempuan yang baru kemarin mabuk di lobi hotel?

Sebelum ia sempat bertanya, Nathanael sudah kembali ke dokumen.

"Ada lagi?"

Louisa membaca daftar itu dari awal. Satu tahun. Pisah harta. Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan. Tidak saling mengatur pekerjaan dan pertemanan. Alasan pernikahan tidak diumumkan. Perceraian bisa dilakukan baik-baik setelah masa kesepakatan selesai.

Semua terdengar seperti pagar.

Pagar yang ia bangun agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

"Kalau dalam satu tahun itu..." Louisa berhenti, lalu memaksa dirinya melanjutkan. "Kalau salah satu dari kita menyukai orang lain?"

Nathanael tidak segera menjawab.

Louisa menatapnya. Pertanyaan itu sebenarnya untuk dirinya sendiri. Ia belum benar-benar bersih dari Kevin. Bayangan pria itu masih ada di sudut-sudut kebiasaannya, di jadwal kerja, di password folder kantor, di memori hujan SMA, di bunga yang layu.

Nathanael memutar bolpoin di antara jarinya sekali.

"Kalau kamu menyukai orang lain," katanya, "kamu boleh memberitahuku. Aku tidak akan menahanmu."

"Kamu?"

"Aku tidak akan menyukai orang lain."

Louisa tertawa pelan, tidak percaya. "Kamu yakin sekali."

"Iya."

"Kenapa?"

Nathanael menatap kertas di depannya. "Aku orang yang kalau sudah memilih, sulit pindah."

Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, ruangan terasa berubah. Louisa melihat wajahnya yang tenang, tangan yang menahan bolpoin, dan jeda yang terlalu panjang setelah kata memilih.

Ia tidak tahu harus menaruh kalimat itu di mana.

Akhirnya ia hanya berkata, "Tulis saja, kalau salah satu pihak memiliki hubungan serius dengan orang lain, pihak lain harus diberi tahu."

"Baik."

Mereka menyusun draft itu selama hampir satu jam.

Nathanael menghubungi notaris keluarga Susanto melalui pesan singkat, meminta jadwal konsultasi sore ini. Louisa mengirim foto KTP dan akta lahir yang tersimpan di folder digitalnya. Ia juga mencari kartu keluarga Lesmana, lalu berhenti sebentar saat melihat namanya berada di bawah nama Vincent Lesmana dan Renata Tanuwijaya-Lesmana.

Anak angkat.

Status yang sah, tapi selalu terasa seperti tanda kurung di hidupnya.

Nathanael melihat tangannya diam di atas layar.

"Kalau dokumennya belum lengkap, kita bisa tunggu."

"Lengkap." Louisa mengunci ponsel. "Aku cuma..."

"Tidak perlu dijelaskan."

Kebaikan yang tidak memaksa kadang lebih sulit ditahan daripada pertanyaan tajam.

Louisa mengambil bolpoin yang satu lagi.

"Draft sementara saja, kan?"

"Iya. Nanti notaris baca ulang. Kamu juga bisa minta Steven atau pengacara lain memeriksa."

"Aku akan minta Steven baca."

"Bagus."

Louisa membaca halaman terakhir. Di bawah daftar syarat, Nathanael menulis dua baris kosong untuk tanda tangan mereka. Bukan dokumen final, hanya kesepakatan awal yang akan dibawa ke notaris.

Namun tangan Louisa tetap terasa berat.

Jika ia menandatangani, ia tidak lagi bisa berpura-pura bahwa semalam hanya kesalahan mabuk.

Ia akan benar-benar berjalan keluar dari cerita Kevin.

Ponselnya menyala lagi.

Kevin: Sejak kapan kamu cuti tanpa lapor aku dulu?

Louisa menatap pesan itu.

Lalu ia menunduk dan menandatangani namanya.

Louisa Hartono.

Tinta hitam itu mengering cepat di atas kertas.

Nathanael menatap tanda tangan tersebut beberapa detik. Setelah itu, ia mengambil bolpoinnya sendiri.

Gerakannya berhenti tepat sebelum ujung bolpoin menyentuh kertas.

Louisa melihat jeda itu.

Untuk sesaat, ia mengira Nathanael akhirnya sadar betapa gilanya semua ini. Mungkin ia menimbang nama keluarga Susanto, reputasi PT Nusatek Mandiri, Engkong yang akan terlalu senang, dan perempuan di hadapannya yang baru kemarin patah hati karena pria lain.

"Kalau kamu mau mundur, masih bisa," ucap Louisa pelan.

Nathanael mengangkat wajah.

Matanya menatap Louisa dengan sesuatu yang tidak ia mengerti. Terlalu dalam untuk ragu. Terlalu sunyi untuk sekadar nekat.

Louisa tidak tahu, di balik jeda itu, sepuluh tahun hidup Nathanael sedang menahan napas.

Pria itu menunduk.

Lalu menulis namanya di bawah namanya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!