Episode 4

Bab 004

Adik yang Suka Cari Masalah

Tinta tanda tangan Nathanael bahkan belum benar-benar kering ketika ponsel Louisa berdering lagi.

Louisa mengira itu Kevin.

Ia sudah siap melihat nama itu muncul dengan pesan baru yang lebih tidak sabar. Namun layar ponselnya menampilkan foto seorang laki-laki muda dengan hoodie hitam, ekspresi malas, dan topi baseball yang ditarik rendah.

Darren Lesmana.

Louisa langsung mengangkat telepon. "Dar?"

"Ci Lou."

Suara Darren terdengar terlalu pelan untuk ukuran Darren. Biasanya adik angkatnya itu membuka telepon dengan keluhan, candaan, atau pertanyaan tidak penting seperti apakah mi ayam di dekat kampusnya masih buka. Kali ini hanya dua suku kata, dan di belakangnya ada suara orang bicara keras.

Louisa berdiri. "Kamu di mana?"

"Jangan panik dulu."

"Kalau kamu mulai dengan kalimat itu, berarti aku harus panik."

Di seberang sana, Darren mendesah. "Aku di Polsek Kelapa Gading."

Louisa memejamkan mata.

Nathanael yang sedang merapikan dokumen berhenti bergerak. Tatapannya naik, tapi ia tidak bertanya.

"Kenapa bisa di Polsek?" tanya Louisa, menahan suaranya agar tidak naik.

"Cuma salah paham kecil."

"Darren."

"Aku pukul orang."

Louisa menarik napas panjang. Kepalanya yang baru pulih dari hangover kembali berdenyut.

"Kamu luka?"

"Nggak parah."

"Aku tanya kamu luka atau tidak."

"Bibir pecah dikit. Tangan lecet. Udah, nggak usah heboh."

Louisa mengambil tasnya dari kursi. "Tunggu di sana. Aku ke sana sekarang."

"Jangan bilang Mama."

"Aku tidak akan bilang Mama kalau kamu menjelaskan semuanya nanti."

"Ci..."

"Tunggu."

Louisa menutup telepon sebelum Darren sempat menawar.

Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit. Di atas meja, draft perjanjian pranikah masih terbuka, dua nama mereka berdampingan di bagian bawah. Beberapa menit lalu ia berpikir keputusan paling gila hari ini adalah menandatangani kesepakatan menikah. Ternyata hidupnya belum selesai bercanda.

"Adikmu?" tanya Nathanael.

"Darren. Anak Mama Renata." Louisa memasukkan ponsel ke tas. "Dia berantem dan sekarang di Polsek Kelapa Gading."

"Aku antar."

"Nggak perlu. Ini masalah keluarga."

Nathanael berdiri. "Justru karena itu kamu tidak perlu pergi sendiri."

Louisa menatapnya. "Kamu baru saja menandatangani perjanjian pranikah denganku. Kamu tidak harus langsung ikut mengurus adikku yang bikin masalah."

"Di perjanjian tadi tidak ada pasal aku dilarang membantu."

Jawaban itu membuat Louisa kehilangan kata selama satu detik.

Nathanael mengambil map kulit cokelat dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. "Aku tunggu di bawah. Kalau kamu tetap ingin pergi sendiri, aku panggilkan Grab."

Ia tidak memaksa.

Justru karena tidak memaksa, Louisa tidak menemukan alasan untuk menolak.

***

Mobil Nathanael adalah sedan hitam dengan interior kulit yang terlalu rapi untuk seseorang seperti Darren yang mungkin sebentar lagi akan duduk di dalamnya dengan bibir pecah.

Sopir membukakan pintu. Louisa sempat ragu sebelum masuk. Nathanael duduk di sisi lain, memberi jarak yang sama seperti pagi tadi. Di antara mereka ada konsol tengah, botol air mineral, dan kesunyian yang tidak seberat sebelumnya.

"Dia sering seperti ini?" tanya Nathanael setelah mobil keluar dari area apartemen.

"Tidak sering." Louisa berhenti, lalu mengoreksi diri. "Tidak terlalu sering."

Nathanael menoleh sedikit.

Louisa menghela napas. "Darren itu... keras kepala. Dari kecil kalau marah langsung bergerak dulu, mikirnya belakangan. Tapi biasanya dia punya alasan."

"Kamu percaya dia?"

"Aku percaya dia tidak sepenuhnya jahat." Louisa melihat jalanan Kuningan yang padat. "Itu berbeda."

Nathanael mengangguk, seolah jawaban itu cukup.

Louisa menekan nomor Darren lagi. Tidak diangkat.

Ia mengetik pesan.

Jangan kabur. Aku sudah di jalan.

Balasan datang cepat.

Darren: Aku bukan kriminal.

Louisa: Kamu di Polsek.

Darren: Itu detail.

Louisa hampir tertawa meski dadanya masih tegang.

Nathanael melihat sudut bibirnya bergerak. "Dia lucu?"

"Menyebalkan."

"Biasanya dua hal itu datang bersamaan."

Louisa menatap Nathanael. Komentar itu ringan, tetapi tidak dibuat-buat. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia melihat kemungkinan bahwa pria di sampingnya tidak hanya serius dan rapi seperti dokumen. Ada bagian yang bisa memahami kekacauan kecil dalam hidup orang lain.

"Kamu punya adik?" tanyanya.

"Stella. Dia tidak pernah masuk Polsek, tapi dia bisa membuat satu keluarga panik hanya dengan satu Instagram Story."

Kali ini Louisa benar-benar tersenyum sedikit.

Senyum itu pendek, tapi Nathanael melihatnya. Ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menurunkan pandangan ke jam di pergelangan tangannya.

Jam itu berwarna silver dengan dial gelap. Desainnya sederhana, tetapi Louisa yang pernah menghabiskan waktu mencari hadiah untuk Kevin langsung tahu itu bukan jam biasa.

Ia tidak bertanya.

Belum.

***

Polsek Kelapa Gading tidak seromantis hotel semalam dan tidak sebersih kantor notaris yang akan mereka datangi nanti sore. Ruang tunggunya berbau kopi sachet, kertas lembap, dan sedikit antiseptik. Kipas angin berputar lambat di sudut ruangan. Beberapa orang duduk di bangku panjang, sebagian menunduk ke ponsel, sebagian berdebat pelan.

Darren duduk di kursi dekat meja petugas.

Hoodie hitamnya kusut. Bibir bawahnya pecah. Di tulang pipinya ada memar tipis yang mulai membiru. Namun begitu melihat Louisa masuk, ia malah menarik topinya lebih rendah.

"Ci Lou," gumamnya.

Louisa berhenti di depannya.

"Topi dilepas."

"Ngapain?"

"Aku mau lihat wajahmu."

Darren mendecak, tapi tetap melepas topinya. Rambutnya berantakan. Wajahnya tampak seperti anak kecil yang ketahuan memecahkan vas mahal, meski tubuhnya sudah tinggi dan bahunya lebih lebar dari dulu.

Louisa menyentuh dagunya, memiringkan wajahnya sedikit.

"Sakit?"

"Nggak."

Louisa menekan sedikit area dekat memar.

"Aduh, Ci!"

"Berarti sakit."

Nathanael berdiri beberapa langkah di belakang Louisa, diam. Ia tidak langsung masuk ke lingkaran keluarga itu. Hanya mengamati, menjaga jarak, tetapi cukup dekat jika Louisa membutuhkan sesuatu.

Darren baru menyadari keberadaannya setelah mengaduh. Matanya menyipit.

"Ci Lou bawa cowok siapa ini?"

Louisa menarik tangannya dari dagu Darren. Pertanyaan itu terlalu cepat datang.

"Teman."

Nathanael tidak mengoreksi.

Darren menatap Nathanael dari kepala sampai sepatu. "Teman jam sepuluh pagi bawa mobil semahal itu?"

"Darren," tegur Louisa.

"Apa? Aku cuma nanya."

Seorang petugas berseragam mendekat sambil membawa map. "Keluarga Darren Lesmana?"

Louisa langsung berdiri lebih tegak. "Saya, Pak. Saya kakaknya."

Petugas itu melihat KTP Louisa, lalu mencocokkan dengan berkas. "Tadi terjadi perkelahian di parkiran minimarket. Pihak satu lagi sudah sepakat damai, karena luka ringan dan ada saksi yang bilang awalnya saling dorong. Tapi tetap harus tanda tangan surat pernyataan dan ganti biaya pengobatan."

Louisa menoleh kepada Darren.

Darren membuang muka. "Dia duluan yang ngomong kasar."

"Tentang apa?"

"Nggak penting."

"Kalau tidak penting, kamu tidak akan memukul."

Darren mengatupkan rahang.

Petugas itu melirik mereka, lalu berkata, "Yang bersangkutan juga bilang temannya perempuan diganggu. Jadi mungkin emosinya terpancing. Tapi lain kali jangan main tangan."

Louisa menatap Darren lebih lama.

Darren tetap tidak mau melihatnya. "Aku udah bilang nggak penting."

Hati Louisa melunak, tapi ia tidak membiarkan wajahnya ikut lembut.

"Nanti kita bicara di rumah."

"Jangan rumah. Mama bisa lihat muka gue."

"Maka jangan berantem."

Darren mendengus pelan.

Nathanael maju satu langkah. "Biaya pengobatannya berapa, Pak?"

Petugas menyebut angka.

Louisa cepat membuka tas, tetapi Nathanael sudah mengeluarkan dompet lebih dulu. Louisa menahan pergelangan tangannya.

"Aku bisa bayar."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, biar aku bayar."

Nathanael berhenti. Ia tidak menarik tangannya. Ia hanya menatap Louisa, lalu memasukkan kembali dompetnya.

"Baik."

Darren melihat pertukaran kecil itu dengan alis terangkat.

Louisa membayar biaya pengobatan, menandatangani surat pernyataan sebagai keluarga, lalu memaksa Darren ikut membaca sebelum membubuhkan tanda tangan. Darren menggerutu, tapi menuruti. Saat petugas menjelaskan bahwa ia boleh pulang, Louisa baru merasa bahunya turun sedikit.

Mereka keluar dari Polsek menjelang siang.

Matahari Jakarta terasa tajam setelah ruang tunggu yang pengap. Darren berjalan di samping Louisa dengan langkah malas, satu tangan masuk ke saku hoodie. Nathanael berjalan di sisi lain, membawa map dokumen yang tadi sempat dibawa dari apartemen.

"Jadi," Darren memulai, "teman ya?"

"Iya."

"Teman kantor?"

"Bukan."

"Teman SMA?"

Louisa terdiam setengah detik terlalu lama.

Darren langsung menangkapnya. "Oh? Serius?"

Nathanael membuka pintu belakang mobil untuk Louisa. Darren berhenti, menatap mobil hitam itu, lalu menatap Nathanael lagi. Matanya turun ke jam silver di pergelangan tangan Nathanael.

"Coisíní?" gumam Darren.

Nathanael meliriknya. "Kamu tahu jam?"

"Aku tahu harga barang mahal." Darren menyipitkan mata, lalu melihat emblem mobil, sepatu kulit Nathanael, dan cara sopir menunduk hormat. "Ci Lou, teman kamu ini kayaknya bukan teman biasa."

Louisa belum sempat menjawab.

Darren masuk ke mobil lebih dulu, masih menatap Nathanael dari balik kaca.

Lalu ia berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun, "Orang ini nggak sederhana."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!