Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Episode 1

Bab 001

Malam yang Mengubah Segalanya

Kevin Tanuwijaya tertawa tepat ketika Louisa Hartono berhenti di depan pintu ballroom.

Suara tawa itu tidak keras. Hanya cukup jelas untuk menembus musik jazz, denting gelas kristal, dan percakapan para tamu yang berbalut parfum mahal. Namun bagi Louisa, suara itu seperti ujung sendok yang mengetuk dasar gelas kosong, kecil, dingin, dan membuat dadanya bergetar tanpa suara.

Di bawah cahaya chandelier Hotel Langham Jakarta, Kevin berdiri dengan setelan hitam yang bahunya jatuh sempurna. Di sampingnya, Yvonne Lim mengenakan gaun champagne yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul rendah, lehernya dihiasi kalung berlian tipis, dan tangan Kevin sedang berada di dekat tengkuknya.

"Biar aku bantu," ucap Kevin.

Yvonne menunduk sedikit. "Kev, nanti orang lihat."

"Biarin. Pengaitnya miring."

Louisa menggenggam clutch kecilnya lebih erat.

Tadi sore, Kevin sendiri yang mengirim pesan kepadanya.

Lulu, tolong cek seating arrangement untuk meja tamu VVIP. Yvonne nggak makan udang. Jangan sampai kitchen salah.

Pesan itu masih ada di layar ponselnya. Ia bahkan membalas dalam waktu kurang dari satu menit, seperti biasa.

Oke, aku urus.

Dan sekarang, perempuan yang ia pastikan tidak akan terkena alergi udang sedang tertawa pelan saat Kevin merapikan kalungnya dengan jari yang begitu hati-hati. Jari yang dulu pernah Louisa tatap diam-diam saat Kevin menandatangani proposal kerja. Jari yang ingin ia genggam, tapi tidak pernah berani.

Sepuluh tahun.

SMA Penabur, ruang seni yang bau cat air, halte Transjakarta saat hujan deras, koridor UI, kantor Tanuwijaya Group dengan lampu yang selalu menyala sampai malam. Sepuluh tahun Louisa menaruh namanya di tempat yang sama, di bagian paling sunyi dari hatinya.

Malam ini, tempat itu retak.

"Lulu?"

Louisa tersentak. Steven Oei muncul dari samping, membawa dua gelas sparkling water. Ia menatap wajah Louisa, lalu mengikuti arah pandangnya. Dalam satu detik, ekspresi Steven berubah.

"Kamu baru datang?" tanyanya pelan.

Louisa mengangguk. Bibirnya bergerak membentuk senyum kecil yang terlalu rapi. "Iya. Macet dari Kelapa Gading."

Steven menyerahkan satu gelas. "Mau duduk dulu?"

"Nggak perlu. Aku harus cek tamu dari Surabaya sudah datang atau belum."

"Lulu."

Panggilan itu membuat langkahnya tertahan.

Steven jarang memakai nada seperti itu. Tidak memaksa, tapi tahu terlalu banyak.

Louisa menatap permukaan minuman di gelasnya. Gelembung kecil naik dan pecah satu per satu, cepat, tidak meninggalkan bekas.

"Aku baik-baik aja, Steve."

"Kamu selalu bilang begitu."

Louisa ingin tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas tipis. "Karena memang harus begitu."

Sebelum Steven sempat menjawab, suara pembawa acara memenuhi ballroom. Gala tahunan Tanuwijaya Group dimulai. Para tamu bertepuk tangan. Kevin naik ke panggung, berdiri di belakang podium dengan tenang, seperti seseorang yang sejak lahir sudah disiapkan untuk dilihat banyak orang.

Louisa berdiri di barisan belakang.

Ia tahu isi pidato Kevin bahkan sebelum pria itu bicara. Ia yang menyiapkan drafnya, memperbaiki kalimat pembuka, memastikan nama sponsor tidak terlewat. Ia hafal jeda yang harus Kevin ambil setelah kalimat tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Ia hafal bagian ketika Kevin harus tersenyum ke arah kamera media.

Yang tidak ia hafal adalah cara Kevin menoleh sekilas ke arah Yvonne sebelum mengucapkan, "Terima kasih juga untuk rekan-rekan yang selalu berada di sisi saya."

Yvonne tersenyum dari meja depan.

Tepuk tangan kembali pecah.

Louisa ikut bertepuk tangan. Telapak tangannya bertemu berkali-kali, tapi ia tidak merasakan apa pun selain perih kecil di kulit.

Di ujung ballroom, seorang pria berdiri di dekat pilar marmer.

Louisa tidak langsung mengenalinya. Ia hanya menangkap sosok tinggi dengan setelan gelap, wajah tenang, dan mata hitam yang tidak ikut tersenyum bersama ruangan. Saat pandangan mereka bersinggungan, pria itu tidak segera berpaling.

Nathanael Susanto.

Nama itu muncul di benak Louisa bersama ingatan yang samar. CEO PT Nusatek Mandiri. Salah satu undangan penting malam ini. Konglomerat muda yang jarang muncul di media, tapi setiap kali muncul, kolom bisnis mendadak ramai.

Ia pernah melihatnya beberapa kali di acara industri. Mereka tidak dekat. Paling jauh hanya saling mengangguk, bertukar sapaan singkat, lalu kembali ke dunia masing-masing.

Namun malam ini, tatapan Nathanael terasa seperti seseorang yang melihat ada retakan di cangkir porselen, meski cangkir itu masih diletakkan rapi di atas meja.

Louisa menurunkan pandangan lebih dulu.

Setelah pidato selesai, ia memaksa diri bergerak. Mengecek meja tamu, menyapa sponsor, memanggil staf hotel untuk mengganti wine glass yang salah. Ia melakukan semuanya seperti biasa. Senyum. Angguk. Catatan kecil di ponsel. Permintaan maaf yang sopan.

Sampai Kevin memanggilnya.

"Lulu."

Louisa berhenti di samping meja dessert.

Kevin datang bersama Yvonne. Yvonne membawa piring kecil berisi panna cotta, sementara Kevin memegang ponsel. Wajahnya serius, tapi bukan karena melihat Louisa. Ia sedang membaca sesuatu di layar.

"Kamu sudah kasih tahu kitchen soal Yvonne, kan?" tanya Kevin tanpa basa-basi.

Louisa menatapnya beberapa detik. "Sudah."

"Good. Tadi dia hampir ambil canapé yang ada udangnya."

Yvonne tersenyum manis. "Untung ada kamu, Louisa. Kevin selalu bilang kamu paling bisa diandalkan."

Paling bisa diandalkan.

Bukan paling penting.

Bukan paling ia cari.

Bukan perempuan yang ia lihat ketika ruangan penuh orang.

Hanya bisa diandalkan.

Louisa menelan sesuatu yang terasa tajam di tenggorokannya. "Sama-sama."

Kevin akhirnya mengangkat wajah dari ponsel. "Kamu pucat."

Pertanyaan yang seharusnya sederhana itu hampir membuat Louisa kalah. Hampir saja ia bertanya, kalau aku pucat, kamu baru sadar sekarang?

Tapi ia hanya tersenyum.

"Mungkin kurang makan."

"Ya udah, makan dulu. Jangan sampai pingsan, nanti repot."

Nanti repot.

Louisa mengangguk pelan. "Iya."

Yvonne menyentuh lengan Kevin. "Kev, Om Herman cari kamu."

"Sekarang?"

"Katanya soal tamu dari Singapura."

Kevin menoleh kepada Louisa. "Kalau ada apa-apa, kabari Ray. Aku ke depan dulu."

Ia pergi begitu saja.

Seperti biasa, Kevin selalu pergi dengan keyakinan bahwa Louisa akan tetap berada di tempat yang sama ketika ia kembali.

Louisa menatap punggungnya sampai hilang di antara tamu.

Lalu ia meletakkan gelas sparkling water yang belum diminum ke meja terdekat.

"Bu, wine putih satu."

Staf bar tersenyum sopan. "Baik, Bu."

Louisa hampir mengoreksi panggilan itu, tapi kemudian membiarkannya. Mungkin malam ini ia memang terlihat seperti seseorang yang lebih tua dari usianya. Seseorang yang sudah terlalu lama menunggu.

Gelas pertama turun dengan rasa asam di lidah.

Gelas kedua membuat ujung jarinya hangat.

Gelas ketiga membuat suara ballroom terdengar jauh, seperti berasal dari balik kaca tebal.

Steven menemukannya di dekat balkon samping, saat ia sedang menatap lampu SCBD yang basah oleh gerimis tipis.

"Lulu, cukup."

Louisa menoleh. "Aku nggak mabuk."

"Orang mabuk selalu bilang begitu."

"Aku cuma capek."

Steven mengambil gelas dari tangannya. "Aku antar pulang."

"Jangan." Louisa cepat menggeleng. Terlalu cepat, sampai lantai terasa bergeser sedikit. Ia menggenggam railing balkon. "Aku bisa sendiri."

"Kamu nggak bisa sendiri malam ini."

Louisa menatap Steven. Mata sahabatnya penuh khawatir. Untuk sesaat, ia hampir ingin menangis di sana. Di depan orang yang tahu ia pernah menunggu Kevin di bawah hujan. Di depan orang yang mungkin sejak lama ingin bilang, cukup, jangan hancurkan dirimu lagi.

Tapi Louisa sudah terlalu terlatih untuk tidak merepotkan siapa pun.

"Steve, tolong. Aku cuma butuh udara."

Steven ragu. "Aku tunggu di dalam. Lima menit."

Louisa mengangguk.

Namun begitu Steven masuk kembali, ia berjalan ke arah pintu keluar.

Langkahnya tidak lurus. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan ritme kacau. Ia melewati koridor hotel, melewati cermin besar yang memantulkan wajahnya. Lipstiknya masih rapi. Rambutnya masih rapi. Gaun satin warna mawar pucatnya masih jatuh indah di tubuh.

Hanya matanya yang berantakan.

Di lift, ia menekan tombol lobi. Angka-angka turun perlahan. Tiga puluh dua. Dua puluh sembilan. Dua puluh lima.

Ponselnya bergetar.

Kevin: Kamu lihat Ray?

Louisa menatap pesan itu lama.

Tidak ada pertanyaan kamu di mana.

Tidak ada kamu sudah makan?

Tidak ada kamu pulang dengan siapa?

Hanya Ray.

Pintu lift terbuka.

Louisa keluar ke lobi hotel yang luas. Aroma bunga segar dan kopi dari lounge bercampur dengan udara dingin AC. Di tengah lobi, rangkaian mawar putih melati berdiri tinggi di dalam vas kristal.

Louisa berhenti.

Mawar putih melati.

Pada hari kelulusan SMA, ia pernah membeli bunga seperti itu untuk Kevin. Ia menyimpannya sampai sore, menunggu kesempatan yang tepat. Lalu Kevin pergi lebih dulu karena ada urusan keluarga. Bunga itu akhirnya layu di kamar Louisa, kelopaknya jatuh satu per satu ke meja belajar.

Ia tertawa kecil.

Tawa itu pecah menjadi isak yang segera ia tahan dengan punggung tangan.

"Louisa."

Suara rendah itu datang dari sisi kiri.

Louisa menoleh.

Nathanael Susanto berdiri beberapa langkah darinya. Jasnya sudah terbuka, dasinya sedikit longgar, tapi wajahnya tetap tenang. Tidak ada rasa ingin tahu yang kasar di matanya. Tidak ada kasihan yang membuat orang ingin menghilang.

Hanya perhatian yang terlalu diam.

"Kamu sendirian?" tanyanya.

Louisa mengerjap. "Pak Nathanael."

"Nathanael saja."

"Aku..." Ia mencoba berdiri lebih tegak. "Aku lagi nunggu mobil."

"Kamu sudah pesan?"

Louisa membuka ponsel. Layar menyala, tapi ia lupa apa yang ingin ia lakukan. Aplikasi Grab ada di halaman kedua. Jarinya berhenti di atas layar tanpa menekan apa pun.

Nathanael tidak mengambil ponselnya. Ia hanya berdiri di sana, memberi jarak yang sopan.

"Aku bisa minta sopirku mengantar kamu pulang," ucapnya.

Louisa menggeleng. "Nggak usah. Aku nggak mau merepotkan."

"Tidak merepotkan."

Cara pria itu mengucapkan kalimat sederhana membuat Louisa menatapnya. Ada sesuatu di sana. Bukan basa-basi ballroom. Bukan keramahan bisnis. Seperti kalimat itu sudah lama disimpan, lalu akhirnya menemukan waktu untuk keluar.

"Kita kenal?" tanya Louisa pelan.

Nathanael terdiam sejenak.

Di belakangnya, pintu otomatis lobi terbuka. Udara malam Jakarta masuk membawa bau aspal basah. Suara klakson dari jalan terdengar jauh.

"Kita pernah satu sekolah," jawab Nathanael.

Louisa mengerutkan kening, mencoba mencari wajah itu di antara ingatan SMA yang penuh Kevin. Koridor, lapangan, kantin, hujan. Tidak ada yang jelas.

"Maaf," bisiknya. "Aku nggak ingat."

Nathanael menunduk sedikit. Senyumnya hampir tidak terlihat. "Tidak apa-apa."

Entah mengapa, jawaban itu membuat dada Louisa lebih sakit daripada jika pria itu tersinggung.

Ia melihat lagi rangkaian mawar putih melati di tengah lobi. Kelopaknya segar, putih, bersih, seolah tidak pernah tahu rasanya menunggu sampai layu.

"Aku bodoh, ya?" gumamnya.

Nathanael menatapnya. "Kenapa bilang begitu?"

"Sepuluh tahun suka sama orang yang bahkan nggak pernah lihat aku." Louisa tertawa pelan, kali ini tanpa tenaga. "Malam ini aku baru sadar. Selama ini aku bukan tokoh utama di ceritanya. Aku cuma orang yang dia hubungi kalau butuh sesuatu."

Nathanael tidak langsung menjawab.

Kesunyian di antara mereka anehnya tidak membuat Louisa malu. Mungkin karena wine sudah membuat kepalanya ringan. Mungkin karena pria di depannya terlalu asing untuk menghakimi, tapi terlalu tenang untuk ditakuti.

"Kalau begitu," ucap Nathanael perlahan, "berhenti berdiri di cerita orang yang tidak memilihmu."

Louisa mengangkat wajah.

Matanya panas. Namun kali ini, air mata tidak jatuh. Ia menatap pria yang nyaris tidak ia ingat, pria yang suaranya tidak memerintah, hanya membuka pintu kecil yang selama ini tidak pernah ia lihat.

"Kalau aku berhenti," bisiknya, "aku harus ke mana?"

Nathanael memandangnya lama.

"Ke tempat yang membuatmu tidak perlu memohon untuk dilihat."

Kalimat itu menghantam bagian paling lelah dalam diri Louisa.

Ia ingin tertawa, ingin menangis, ingin pulang, ingin menghapus sepuluh tahun dari kulitnya. Di luar, hujan mulai turun lebih deras, menepuk kaca lobi dengan suara rapat. Di ponselnya, pesan Kevin masih belum dibalas.

Louisa mematikan layar.

Lalu ia maju setengah langkah ke arah Nathanael.

"Nathanael."

"Ya?"

"Kamu belum menikah, kan?"

Sorot mata Nathanael berubah. Sangat halus, tapi Louisa melihatnya.

"Belum."

"Punya pacar?"

"Tidak."

"Bagus."

Nathanael menahan napas. "Louisa, kamu mabuk."

"Sedikit."

"Aku antar kamu pulang dulu."

Louisa menggeleng lagi. Kali ini lebih pelan. Ia menatap mawar putih melati, lalu menatap pria di hadapannya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak ingin kembali ke ballroom. Tidak ingin menunggu Kevin. Tidak ingin menjadi orang yang selalu tersedia.

Ia ingin melakukan satu hal gila.

Satu hal yang bukan untuk Kevin.

Satu hal yang mungkin akan ia sesali besok pagi, tapi malam ini terasa seperti satu-satunya cara untuk keluar dari cerita lama.

Louisa menarik napas. Ujung jarinya masih dingin, tapi suaranya keluar jelas.

"Nikah sama aku, ya?"

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!