Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Episode 1

Bab 001

Pria Itu Kembali

Pintu utama rumah keluarga Liem terbuka tepat ketika lilin di depan foto Kevin hampir padam.

Yola baru saja menangkupkan kedua tangan, belum sempat menyelesaikan doa pendek yang selalu ia ucapkan setiap sore. Aroma dupa tipis menggantung di ruang memorial, bercampur dengan wangi pear blossom dari saputangan putih di pangkuannya. Di luar, suara roda koper berhenti di teras. Setelah itu, rumah yang biasanya tenang seperti menahan napas.

Sari yang berdiri tidak jauh dari ambang pintu menoleh lebih dulu. Wajahnya berubah tegang.

"Nona Yola," bisiknya, "Tuan Muda sudah sampai."

Jari Yola meremas saputangan itu.

Tuan Muda.

Selama lima tahun menjadi bagian keluarga Liem, Yola hanya mendengar sebutan itu dari mulut para staf. Rayhan Liem, adik kedua Kevin. Pria yang pergi ke Kalimantan sebelum pernikahan Yola dengan Kevin benar-benar menjadi kehidupan rumah tangga. Pria yang namanya selalu disebut dengan suara pelan, seolah rumah ini punya aturan khusus untuk tidak mengganggu bayangannya.

Kevin pernah tersenyum ketika menceritakan adiknya.

"Rayhan keras, tapi dia menjaga keluarga lebih baik dari siapa pun."

Waktu itu, Yola percaya karena Kevin mengatakannya dengan mata lembut.

Sekarang, ketika langkah berat terdengar mendekat dari koridor marmer, kalimat itu terasa seperti peringatan yang terlambat.

"Yola?"

Suara Mama Liem datang dari arah ruang tengah. Yola segera berdiri, melipat saputangan Kevin, lalu menyelipkannya di sela buku puisi bersampul biru tua di atas meja memorial.

"Iya, Mama."

Ia keluar dari ruang memorial dengan langkah tenang. Setidaknya, ia berusaha terlihat tenang. Masa berkabung sudah berjalan satu tahun, tetapi tubuhnya masih hafal cara menjadi janda Kevin: berjalan pelan, bicara lembut, tidak membuat suara yang bisa mengganggu orang lain.

Di ruang tengah, semua staf berdiri berjajar di belakang Pak Wahyu. Mama Liem berdiri di dekat sofa, matanya basah, bibirnya bergetar menahan senyum.

Dan di ambang pintu utama, seorang pria berdiri dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku.

Rayhan Liem tidak mirip Kevin.

Itu pikiran pertama yang menghantam Yola.

Kevin selalu tampak seperti cahaya pagi yang jatuh di atas buku. Pucat, hangat, rapuh, dan penuh kata-kata lembut. Rayhan seperti pintu besi yang baru ditutup dari luar. Tinggi, bahunya lebar, garis wajahnya tegas. Kulitnya lebih gelap karena matahari Kalimantan, dan matanya tidak mencari sambutan siapa pun.

Matanya memeriksa rumah seperti memeriksa aset.

Lalu berhenti pada Yola.

Napas Yola tersangkut.

Tidak ada rasa terkejut di wajah pria itu. Tidak ada sapaan keluarga, tidak ada senyum untuk istri almarhum kakaknya. Tatapannya turun sekilas ke baju hitam sederhana yang dikenakan Yola, naik ke wajahnya, lalu berhenti terlalu lama di matanya.

Seolah ia sedang memastikan sesuatu yang sudah lama ia dengar.

"Rayhan," Mama Liem memanggil dengan suara bergetar.

Baru saat itu tatapan Rayhan lepas dari Yola.

Ia berjalan mendekati ibunya. Para staf menunduk serempak. Bahkan Pak Wahyu, yang sudah bekerja untuk keluarga Liem lebih dari dua puluh tahun, tampak menahan tubuhnya agar tidak terlalu kaku.

"Mama." Rayhan menunduk sedikit saat Mama Liem memeluknya.

Pelukan itu hanya berlangsung sebentar. Mama Liem yang memeluk erat, Rayhan yang membiarkan. Tangannya menyentuh punggung ibunya satu kali, singkat, seperti orang yang tidak terbiasa menunjukkan rindu.

"Kamu kurus," kata Mama Liem sambil menatap wajah putranya. "Kalimantan tidak memberimu makan?"

"Pekerjaan memberi cukup."

"Jawabanmu masih sama saja." Mama Liem menghela napas, lalu menoleh pada Yola. "Yola, sini, Nak."

Kaki Yola bergerak sebelum pikirannya selesai menolak.

Ia berhenti di samping Mama Liem, memberi jarak yang pantas. Jarak yang seharusnya aman. Jarak antara seorang janda kakak dan adik iparnya.

"Ini Yola," ujar Mama Liem, suaranya melembut. "Istri Kevin."

Rayhan menatapnya lagi.

Yola menunduk sedikit. "Selamat datang kembali, Pak Rayhan."

Ada jeda.

Jeda kecil yang membuat suara hujan di luar terdengar lebih jelas.

"Pak Rayhan?" ulangnya pelan.

Yola mengangkat mata, lalu langsung menyesal. Dari dekat, mata Rayhan lebih gelap daripada yang ia kira. Bukan hanya dingin. Ada sesuatu di sana yang tajam dan terlalu diam.

"Saya tidak tahu harus memanggil Anda apa," jawab Yola, tetap sopan.

Sudut bibir Rayhan bergerak sedikit. Bukan senyum.

"Kamu istri kakakku."

Kalimat itu seharusnya menjelaskan posisi mereka. Seharusnya membuat Yola merasa lebih aman.

Namun cara Rayhan mengucapkannya membuat tengkuk Yola meremang.

"Maka panggil aku seperti keluarga."

Yola merasakan tangan Mama Liem menyentuh lengannya, lembut, memberi isyarat agar ia tidak terlalu tegang.

"Kak Rayhan," kata Yola akhirnya.

Tatapan Rayhan tidak berubah. "Kaku sekali."

Yola tidak menjawab.

Mama Liem tersenyum canggung, berusaha menghangatkan ruangan. "Kalian baru pertama kali bertemu. Wajar masih kaku. Rayhan, istirahat dulu. Perjalananmu pasti melelahkan. Pak Wahyu sudah siapkan kamar lamamu."

"Nanti." Rayhan melepas jam tangannya dan menyerahkannya kepada Ardi yang berdiri di belakangnya. "Aku ingin melihat ruang memorial."

Mama Liem terdiam sesaat.

Yola ikut terdiam.

Tidak ada yang salah dengan permintaan itu. Kevin adalah kakaknya. Ia berhak masuk, berhak berdoa, berhak mengenang. Tapi entah mengapa, mendengar Rayhan menyebut ruang memorial membuat Yola merasa pintu kecil yang selama ini ia jaga rapat-rapat akan didobrak tanpa izin.

"Tentu," kata Mama Liem akhirnya. "Yola setiap hari merawatnya. Semua barang Kevin masih rapi."

Rayhan melirik Yola. "Setiap hari?"

"Iya," jawab Yola.

"Masih?"

Satu kata itu menampar lebih keras daripada pertanyaan panjang.

Wajah Mama Liem berubah. "Rayhan."

Rayhan tidak menoleh kepada ibunya. Ia tetap menatap Yola, seolah hanya jawaban Yola yang penting.

Yola menahan ujung jarinya agar tidak gemetar. "Kevin suami saya. Satu tahun tidak menghapus kewajiban saya untuk mendoakannya."

Untuk pertama kalinya, sesuatu lewat di mata Rayhan.

Cepat sekali. Hampir tidak terlihat.

"Suami," gumamnya.

Nada itu rendah, tetapi cukup untuk membuat Sari menunduk lebih dalam.

Mama Liem menarik napas. "Yola, Nak, bantu Mama cek dapur. Rayhan biar diantar Pak Wahyu."

Yola mengangguk. Ia tahu Mama Liem sedang menyelamatkan suasana. "Baik, Mama."

Ia baru berbalik ketika suara Rayhan menghentikannya.

"Kak Yola."

Panggilan itu terdengar benar, tetapi terasa salah di telinganya.

Yola menoleh pelan. "Iya?"

Rayhan berjalan melewatinya menuju ruang memorial. Saat bahunya hampir sejajar dengan Yola, wangi hujan, kopi hitam, dan kulit yang terkena matahari menyentuh hidungnya. Berbeda jauh dari aroma obat dan buku lama yang dulu melekat pada Kevin.

"Jangan pindahkan apa pun dari ruangan itu," katanya.

Yola menatap punggungnya. "Saya tidak pernah memindahkan barang Kevin tanpa izin Mama."

Rayhan berhenti di depan pintu ruang memorial. Kepalanya menoleh sedikit, cukup untuk membuat garis rahangnya terlihat keras.

"Aku tidak bicara tentang izin Mama."

Ruangan mendadak sunyi.

Sebelum Yola sempat bertanya, Rayhan masuk ke ruang memorial. Pak Wahyu buru-buru mengikuti, tetapi Rayhan mengangkat tangan.

"Tinggalkan aku."

Pak Wahyu berhenti. "Baik, Tuan Muda."

Pintu ruang memorial tidak ditutup. Dari tempatnya berdiri, Yola bisa melihat Rayhan berhenti di depan foto Kevin. Punggung pria itu tegak, tak bergerak. Ia tidak menangkupkan tangan. Tidak menunduk. Hanya berdiri, lama sekali, seperti sedang berhadapan dengan orang yang masih hidup.

Yola baru sadar ia menahan napas ketika Mama Liem menggenggam tangannya.

"Jangan masukkan ke hati," bisik Mama. "Rayhan memang seperti itu."

Yola mencoba tersenyum. "Saya mengerti, Mama."

Ia tidak mengerti.

Sama sekali tidak.

Beberapa menit kemudian, Rayhan keluar. Wajahnya tetap datar. Tidak ada bekas duka, tidak ada mata merah, tidak ada tanda bahwa ia baru saja berdiri di depan foto kakaknya yang meninggal setahun lalu.

Yola menunduk untuk memberi jalan.

Saat itulah ia melihat sesuatu.

Buku puisi Kevin di atas meja memorial terbuka sedikit. Saputangan putih yang tadi ia selipkan di sana tidak terlihat.

Jantung Yola jatuh.

Ia melangkah kecil ke arah ruangan, tetapi Rayhan sudah berdiri di depannya.

"Mencari ini?"

Di antara jari panjangnya, saputangan putih itu terlipat rapi.

Wajah Yola memucat. "Itu milik Kevin."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, tolong kembalikan."

Rayhan menatap saputangan itu, lalu menatap Yola. "Kenapa kamu yang menyimpannya?"

Pertanyaan itu membuat pipi Yola panas. Bukan karena malu, melainkan karena cara Rayhan mengiris batas yang seharusnya dihormati.

"Karena Kevin memberikannya kepada saya."

"Semua yang Kevin miliki kembali ke keluarga Liem setelah dia meninggal."

Mama Liem terkejut. "Rayhan, jangan bicara seperti itu."

Yola menatap pria di depannya. Kali ini ia lupa menunduk.

"Saya juga keluarga Liem," katanya pelan.

Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang mengisi ruang tengah.

Rayhan memasukkan saputangan itu ke saku kemejanya.

"Kalau begitu," katanya, suaranya rendah, "mulai sekarang ingat baik-baik kamu berada di rumah siapa."

Yola berdiri kaku.

Pria itu berbalik dan berjalan menuju tangga, meninggalkan aroma hujan yang dingin di udara.

Baru setelah langkahnya menghilang di lantai atas, Yola menyadari telapak tangannya kosong.

Dan untuk pertama kalinya sejak Kevin meninggal, rumah keluarga Liem terasa bukan seperti tempat berlindung, melainkan seperti pintu kandang yang baru saja dikunci dari dalam.

Terpopuler

Comments

👣Sandaria🦋

👣Sandaria🦋

wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍

2026-07-17

0

Lily

Lily

keknya seru nih

2026-07-20

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!