Bayangan yang Tenggelam

Bayangan yang Tenggelam

Episode 1

Bab 001: Kucing Peliharaan

Kang Xian membuka mata ketika tirai otomatis di kamar utama bergerak tanpa suara, membiarkan cahaya pagi Jakarta masuk seperti pisau tipis.

Di luar jendela lantai dua, halaman rumah Pondok Indah masih basah oleh sisa hujan semalam. Rumput dipotong rapi, kolam renang biru pucat tidak beriak, dan dua petugas keamanan berdiri di dekat gerbang tinggi yang dari dalam terlihat indah, dari luar tampak seperti peringatan.

Xian tidak langsung bangun.

Ia berbaring di atas seprai abu-abu mahal yang tidak pernah ia pilih sendiri, memandang langit-langit kamar Liem Yuan Zhou, lalu menghitung dalam hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pintu kamar mandi terbuka.

Baru saat itulah Xian mengubah napasnya. Lebih pelan. Lebih ringan. Senyumnya naik sedikit, cukup lembut untuk terlihat seperti seseorang yang bahagia dibangunkan oleh kehadiran pria yang semalam memeluknya tanpa bertanya apakah ia ingin dipeluk.

Liem Yuan Zhou keluar dengan kemeja putih belum dikancingkan penuh. Rambutnya masih basah. Wajahnya, seperti biasa, bersih dari ekspresi yang tidak perlu. Mata gelapnya hanya melirik Xian sekilas, tetapi satu lirikan itu sudah cukup untuk membuat ruangan terasa lebih sempit.

"Bangun," katanya.

Suaranya rendah, datar. Bukan permintaan.

Xian duduk perlahan, selimut turun dari bahunya. Ia tidak buru-buru menutup diri. Yuan Zhou tidak suka perempuan yang panik, tidak suka yang terlalu berani, tetapi juga tidak suka yang membuatnya merasa ditolak. Selama empat tahun, Xian sudah tahu takaran yang tepat.

"Pagi, Liem Yuan Zhou."

Yuan Zhou berhenti mengancingkan kemeja. "Sudah berapa kali kubilang, jangan panggil nama lengkapku saat baru bangun."

Xian menunduk sedikit. "Maaf."

Ia membuat suaranya terdengar hangat, nyaris manja, tetapi tidak sampai lancang. Liem Yuan Zhou suka kepatuhan yang punya sedikit rasa hidup di dalamnya. Seekor boneka terlalu membosankan. Seekor kucing peliharaan yang tahu kapan harus mendekat, kapan harus diam, jauh lebih menyenangkan.

Yuan Zhou berjalan ke sisi ranjang. Jari-jarinya menyentuh dagu Xian, mengangkat wajahnya.

"Lihat aku."

Xian menurut.

Untuk satu detik yang pendek, wajah di hadapannya tumpang tindih dengan wajah lain di ingatan. Garis rahang yang hampir sama. Hidung yang sama tajamnya. Bentuk mata yang begitu mirip sampai pertama kali melihat Yuan Zhou di sebuah acara amal, Xian sempat lupa cara bernapas.

Hanya matanya yang berbeda.

Mata Yuan Zhou dingin, terbiasa memiliki, terbiasa memerintah.

Mata orang itu dulu hangat, seperti cahaya yang jatuh di atas kanvas putih.

"Kamu melamun?" Yuan Zhou bertanya.

Senyum Xian tidak berubah. "Aku masih mengantuk."

"Semalam kamu tidak terlihat mengantuk."

Kalimat itu diucapkan tanpa senyum. Xian tahu bukan waktunya malu-malu seperti gadis polos, juga bukan waktunya membalas terlalu berani. Ia hanya menurunkan pandangan, bulu matanya bergetar sedikit.

"Karena kamu tidak suka menunggu."

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Yuan Zhou bergerak tipis. Entah puas, entah mengejek.

"Bagus kalau kamu ingat."

Ia melepas dagu Xian, lalu mengambil jam tangan dari nakas. Arloji hitam itu dikaitkan di pergelangan tangannya dengan gerakan tenang. Semua yang dipakai Yuan Zhou selalu terlihat seperti bagian dari kekuasaan: kemeja, jam, sepatu kulit, bahkan diamnya.

Ponsel di meja bergetar. Yuan Zhou melihat layar, lalu menjawab singkat.

"Feng."

Xian turun dari ranjang, mengambil jubah sutra yang tergantung di kursi. Ia bergerak ke arah meja rias, cukup jauh untuk memberi Yuan Zhou ruang berbicara, cukup dekat untuk tetap tampak tersedia jika ia dipanggil.

"Rapat jam sembilan tetap jalan. Kirim dokumen akuisisi ke tabletku." Yuan Zhou berhenti sejenak. "Tidak. Aku tidak perlu datang ke rumah utama pagi ini."

Xian menyisir rambutnya dengan jari. Di cermin, ia melihat Yuan Zhou memandang punggungnya.

"Shu Li sudah mengatur jadwal makan siang?" tanyanya ke telepon.

Jeda.

"Batalkan. Aku tidak ingin melihat Ding Zhi hari ini."

Nama itu lewat seperti bayangan kecil.

Poe Ding Zhi. Perempuan dari lingkaran lama Yuan Zhou, perempuan yang semua orang pikir lebih pantas berdiri di sisinya daripada Xian. Xian pernah melihatnya dua kali. Cantik, mahal, dan memandang Xian seolah Xian hanyalah noda lipstik di kemeja pria yang seharusnya menjadi miliknya.

Xian tidak cemburu.

Ia hanya mengerti, di dunia seperti ini, perempuan yang benar-benar mencintai Liem Yuan Zhou pun bisa dibatalkan dengan satu kalimat.

Apalagi dirinya.

Telepon ditutup. Yuan Zhou mengambil jas dari sandaran sofa.

"Aku pergi ke kantor. Jangan keluar hari ini."

Tangan Xian berhenti di rambutnya. Ia menoleh dengan ekspresi yang sudah ia latih bertahun-tahun: sedikit heran, sedikit kecewa, tetapi tetap menerima.

"Aku mau ke toko buku."

"Pesan saja."

"Ada buku yang harus kulihat sendiri."

Yuan Zhou menatapnya. Kamar langsung kehilangan udara.

Xian meletakkan sisir, lalu berjalan mendekat. Ia tidak berhenti terlalu jauh. Yuan Zhou tidak suka jarak yang dibuat orang lain. Ia lebih suka menjadi orang yang menentukan jarak itu.

"Kalau kamu tidak suka, aku tidak pergi," katanya pelan.

Yuan Zhou menatap wajahnya beberapa saat. Mungkin mencari perlawanan. Mungkin mencari kebohongan. Xian membiarkan matanya lembut, kosong di bagian yang perlu kosong, hangat di bagian yang perlu hangat.

Akhirnya Yuan Zhou mengangkat tangan dan merapikan rambut di dekat telinga Xian. Sentuhannya tidak kasar. Justru karena tidak kasar, orang luar mungkin akan salah paham dan menyebutnya perhatian.

"Kamu selalu tahu harus berkata apa."

"Karena aku mendengarkanmu."

"Atau karena kamu takut padaku?"

Xian tersenyum kecil. "Apa bedanya, kalau hasilnya sama?"

Mata Yuan Zhou menyipit sedikit. Untuk sesaat, Xian mengira ia sudah salah menghitung. Lalu pria itu tertawa pendek, tanpa suara penuh.

"Kucing pintar."

Kata itu jatuh di antara mereka.

Kucing.

Peliharaan.

Xian menunduk, membiarkan Yuan Zhou mencium keningnya. Bibir pria itu dingin karena baru minum air es. Bau sabun mahal dan parfum kayu menempel di kulitnya. Dulu, bau seperti ini asing bagi Xian. Sekarang, ia bisa mengenalinya bahkan saat mata tertutup.

Tetapi tidak pernah menjadi rumah.

Ketukan terdengar di pintu.

"Tuan Yuan," suara Lim Feng datang dari luar, sopan dan rendah. "Mobil sudah siap."

Yuan Zhou tidak segera menjawab. Ia masih memandang Xian, seperti seseorang yang memeriksa apakah barang miliknya berada di tempat semestinya.

"Makan siang yang benar," katanya. "Kalau Shu Li bilang kamu tidak makan lagi, aku pulang lebih cepat."

Ancaman itu dibungkus seperti perhatian.

Xian mengangguk. "Baik."

"Dan jangan kunci pintu kamar."

Kali ini Xian mengangkat mata. "Kenapa?"

"Karena ini rumahku."

Tidak ada kemarahan dalam suara Yuan Zhou. Hanya fakta, dingin dan utuh.

Xian tersenyum lagi. "Baik."

Yuan Zhou akhirnya pergi. Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya, disusul suara langkah Feng yang menjauh di koridor. Beberapa menit kemudian, deru mobil terdengar dari halaman depan, lalu semakin tipis sampai hilang di balik gerbang.

Rumah besar itu kembali sunyi.

Senyum di bibir Xian lenyap.

Tidak pelan-pelan. Tidak ragu. Seperti lampu yang dimatikan.

Ia berdiri di tengah kamar dengan jubah sutra menggantung longgar di tubuhnya, wajahnya datar, matanya jernih tanpa sisa kelembutan. Jika Yuan Zhou kembali pada detik itu, mungkin ia tidak akan mengenali perempuan yang baru saja ia sebut kucing pintar.

Xian berjalan ke kamar mandi, mencuci wajah, lalu mengganti pakaian dengan blus putih dan celana kain krem. Ia mengikat rambut, merapikan ranjang, membuka jendela sedikit, lalu memeriksa meja kerja kecil di sudut kamar.

Tablet Yuan Zhou tidak ada.

Jam tangannya yang lain ada.

Dompet kulit ada.

Kartu akses rumah ada di laci, seperti biasa, tetapi Xian tidak menyentuhnya.

Ia hanya mengambil ponselnya sendiri dari bawah tumpukan buku. Ponsel itu terlihat biasa. Casing bening, layar sedikit retak di sudut kiri, tidak ada yang menarik. Yuan Zhou pernah mengeceknya beberapa kali dan tidak menemukan apa pun selain kontak-kontak aman, riwayat belanja buku, catatan draf novel, dan pesan pendek yang sengaja Xian biarkan membosankan.

Xian membuka galeri tersembunyi.

Kata sandi enam angka.

Tanggal kematian yang tidak pernah ia tulis di kalender mana pun.

Layar berubah gelap sejenak, lalu sebuah foto muncul.

Foto lama, sedikit buram. Seorang pemuda berdiri di bawah pohon flamboyan di halaman kampus UPH, kemeja putihnya tergulung sampai siku, tangan kirinya memegang kuas, tangan kanannya terangkat untuk menahan cahaya matahari. Ada noda cat biru di pipinya. Ia tidak sedang tersenyum ke kamera, tetapi kepada seseorang di belakang kamera.

Kepada Xian.

Yap Ting Zhi.

Di sudut bawah foto, ada tanda kecil yang dulu ia gambar sendiri dengan spidol hitam: TZ.

Jari Xian menyentuh layar, berhenti di garis rahang pemuda itu. Jika orang lain melihat foto ini setelah melihat Yuan Zhou, mereka mungkin akan menahan napas. Mirip. Terlalu mirip untuk disebut kebetulan, tetapi dunia sering menyimpan kekejaman dalam bentuk kebetulan.

Xian menatap foto itu lama.

"Pagi, Ting," bisiknya.

Suaranya tidak selembut saat berbicara kepada Yuan Zhou. Tidak semanis itu. Justru lebih rendah, lebih telanjang, seperti seseorang yang melepaskan semua perhiasan sebelum tidur.

Tidak ada jawaban.

Tentu saja tidak ada.

Orang mati tidak menjawab.

Xian duduk di tepi ranjang Yuan Zhou, masih memegang ponsel. Tempat yang baru saja disentuh tubuh pria itu masih menyimpan sedikit hangat. Di atas seprai yang sama, beberapa jam lalu ia memanggil nama Liem Yuan Zhou dengan suara yang tepat, menyentuh wajahnya dengan tangan yang tepat, tersenyum di waktu yang tepat.

Tetapi setiap kali ia memejamkan mata, yang ia lihat adalah pemuda dalam foto ini.

Ia tidak pernah lupa.

Tidak sehari pun.

Ponsel bergetar oleh pesan baru.

Shu Li: `Nona Xian, makan siang akan dikirim pukul dua belas. Tuan Yuan meminta saya memastikan Anda tetap di rumah.`

Xian membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Lalu ia membalas: `Baik. Terima kasih.`

Patuh. Ringkas. Manis.

Setelah pesan terkirim, ia kembali menatap foto Ting Zhi. Di layar, mata pemuda itu tetap hangat, tetap muda, tetap berhenti di usia delapan belas. Sementara di dunia nyata, seorang pria dengan wajah hampir sama mengurung Xian di rumah mahal dan menyebutnya milik.

Xian menyimpan ponsel ke dada.

"Kamu bukan dia," katanya pelan, entah kepada foto itu, entah kepada pria yang sudah pergi ke kantor.

Di luar kamar, rumah Pondok Indah berdiri tenang, dijaga pagar tinggi dan kamera pengawas. Di dalamnya, Kang Xian duduk di ranjang Liem Yuan Zhou seperti perempuan yang dimanjakan seluruh dunia.

Hanya ia sendiri yang tahu, selama empat tahun ini, ia tidak sedang mencintai seorang pria.

Ia sedang memelihara bayangan orang mati.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!