Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Penantian di Ujung Pengabdian

​Aroma tanah basah sisa hujan semalam masih menguar di udara pagi kompleks Pesantren Al-Hidayah.

Di teras asrama putri, Fatimah duduk bersimpuh di atas tikar pandan, tangannya cekatan melipat tumpukan mukena bersih yang baru saja kering dijemur. Gerakannya berirama, seiring dengan lantunan zikir yang tak putus dari bibirnya di balik cadar kain yang ia kenakan.

​Dua puluh tahun usianya kini. Sebuah usia di mana gadis-gadis di luar sana mungkin sedang sibuk memilih baju untuk pergi ke kampus atau nongkrong di kafe.

Namun, bagi Fatimah, dunianya selama satu tahun terakhir ini terpaku pada tembok-tembok pesantren, kitab-kitab kuning, dan wajah-wajah polos para santri cilik yang ia ajar.

​"Fatimah,"

sebuah suara lembut memanggilnya.

​Fatimah menoleh. Ustazah Zahra, sang pengasuh asrama, berjalan mendekat dengan senyum keibuan yang selalu menentramkan.

"Iya, Ustazah."

Sahut Fatimah lembut, menghentikan kegiatannya sejenak lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.

​"Surat dari rumahmu baru saja tiba lewat pengurus depan."

Ustazah Zahra mengulurkan selembar amplop putih.

"Ibumu bilang, Faisal akan diwisuda minggu depan."

​Mendengar nama kakak laki-lakinya disebut, sepasang mata Fatimah yang jernih langsung berbinar bahagia. Ia menerima surat itu dengan tangan sedikit gemetar karena rasa antusias yang membuncah.

​"Alhamdulillah... Akhirnya Mas Faisal selesai juga kuliahnya, Ustazah," ucap Fatimah, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.

​Satu tahun yang lalu, sebuah kesepakatan tak tertulis terjadi di rumahnya. Sang ayah, yang kondisi ekonominya mulai tidak stabil karena usaha yang merosot, meminta Fatimah untuk menunda keinginannya melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi Islam negeri.

Karena itulah Fatimah memutuskan untuk mengabdi dulu di pesantren tempatnya menimba ilmu, sembari menunggu Faisal—kakak tertuanya—menyelesaikan babak akhir kuliah tekniknya.

​Sebagai anak perempuan yang berbakti, Fatimah menerima keputusan itu tanpa tapi. Di dalam hatinya, ia menanam sebuah janji kecil. Begitu Mas Faisal lulus, mendapat gelar, dan mulai menata masa depan, maka tibalah giliran Fatimah untuk mengejar cita-citanya yang sempat tertunda.

Ia ingin belajar lebih dalam, ingin menjadi wanita yang berwawasan luas.

​"Kamu pasti sudah sangat rindu rumah, ya?"

Ustazah Zahra mengusap bahu Fatimah dengan penuh kasih sayang.

"Pengabdianmu di sini sudah genap satu tahun, Nak. Ilmu yang kamu bagikan ke anak-anak di sini akan menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Sekarang, bersiaplah untuk menjemput impianmu yang selanjutnya."

​"Terima kasih banyak, Ustazah. Tanpa bimbingan Ustazah, Fatimah tidak akan sekuat ini," jawab Fatimah tulus. Matanya terasa hangat oleh air mata haru.

​Setelah Ustazah Zahra pamit untuk memeriksa dapur asrama, Fatimah buru-buru membuka amplop tersebut. Ia duduk bersandar pada tiang kayu teras, perlahan membaca deretan tulisan tangan ibunya.

​Awalnya, senyum Fatimah mengembang membaca detail rencana kedatangan Mas Faisal dari kota tempatnya merantau.

Namun, semakin helai kertas itu dibaca ke bawah, senyum di wajah Fatimah perlahan memudar. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak salah membaca baris demi baris kalimat yang tertulis di sana.

​...Fatimah, anakku sayang. Kepulangan Mas Faisal minggu depan bukan hanya untuk merayakan kelulusannya. Ada hal besar yang harus Ibu dan Ayah sampaikan kepadamu.

Ayahmu telah menjodohkan mu dengan Seseorang dan mereka telah datang melamarmu, secara resmi Nak. Dia seorang pengusaha yang sukses dan mapan. Ayah dan Ibu sudah menetapkan tanggalnya, dan pernikahan kalian akan dilangsungkan secepatnya setelah kakakmu tiba di rumah...

​Pernikahan? Dilangsungkan secepatnya?

​Jantung Fatimah mendadak berdegup kencang, seperti dihantam godam yang sangat berat. Surat di tangannya perlahan merosot ke pangkuan. Pasokan udara di sekitarnya seolah menipis secara tiba-tiba.

​"Nggak... ini nggak mungkin," bisik Fatimah dengan suara bergetar.

​Pikiran Fatimah langsung berkecamuk. Mengapa mendadak seperti ini? Siapa lelaki itu?

Mengapa orang tuanya sama sekali tidak meminta pendapatnya atau setidaknya memberi tahu jauh-jauh hari?

Di mana janji bahwa ia bisa melanjutkan kuliah setelah pengabdiannya selesai?

​Fatimah memeluk lututnya di atas teras asrama yang sepi. Rasa bahagia yang baru beberapa menit lalu membubung tinggi, kini diempaskan begitu saja ke dasar jurang yang paling dalam.

Di ujung penantian pengabdiannya yang ia kira adalah gerbang menuju impian, justru sebuah belenggu tak terlihat kini sedang menantinya di rumah.

Episodes
1 Penantian di Ujung Pengabdian
2 Kepulangan Sang Kakak
3 Petir di Siang Bolong
4 Mengapa Harus Aku
5 Air Mata di Balik Pintu Kamar
6 Pemberontakan yang Bungkam
7 Langkah Berat Kembali ke Pesantren
8 Air Mata di Hadapan Ustazah
9 Nasihat dan Doa yang Menguatkan
10 Pulang Bersama Isyarat
11 Rahasia Air Mata Ibu
12 Waktu yang Tak Banyak Lagi
13 Alasan di Balik Takdir
14 Penerimaan yang Ikhlas
15 Gaun Pengantin dan Senyum Terakhir Ayah
16 Janji Suci di Depan Saksi
17 Perpisahan Selamanya
18 Malam Pertama di Rumah yang Asing
19 Percakapan di Sisi Ranjang
20 Belajar Mencintai Karena Allah
21 Tangan Dingin Seorang Pengusaha
22 Pengajian
23 Mengetuk Pintu Hati Fatimah
24 Ratu di Istana Kecil
25 Pacaran Setelah Menikah
26 Ketika Manja Jadi Kebiasaan
27 Cadar dan Keindahan yang Terjaga
28 Tatapan Para Pegawai Kantor
29 Makan Siang Romantis
30 Doa-Doa di Sepertiga Malam
31 Kehangatan yang Mulai Tumbuh
32 Keinginanmu adalah Perintahku
33 Menjaga Sang Permata Hati
34 Ketenangan Sebelum Badai
35 Ketukan dari Masa Lalu
36 Janji Konyol yang Menuntut Balas
37 Aku Hanya Mencintai Istriku
38 Ancaman di Ujung Pisau
39 Jebakan yang Tersusun Rapi
40 Pulang dalam Penyesalan
41 Janji di Sisa Malam
42 Kunci Rumah dan Ambisi yang Haus
43 Firasat dan Bayang-Bayang Cemas
44 Jeratan Lembut Sang Pemburu
45 Keraguan yang Mulai Tumbuh
46 Ancaman dari Balik Layar
47 Umpan yang Mulai Menarik Mangsa
48 Sandiwara di Kamar Sempit
49 Pernikahan di Bawah Tekanan
50 Mangsa yang Terjebak
51 Ikatan yang Terkoyak
52 Kegelapan dalam Kesunyian
53 Berpacu dengan Waktu
54 Di Ambang Ruang Putih
55 Sudut Penyesalan dan Penantian
56 Tatapan Penuh Tanya
57 Rasa Bersalah yang Menyiksa
58 Ketakutan Kehilangan Fatimah
59 Cemburu yang Membakar
60 Kemarahan Wanita yang Terbuang
61 Menari di Atas Penderitaan Sendiri
62 Melacak Jejak Sang Ratu
63 Pertemuan di Minimarket
64 Aura di Balik Cadar Hitam
65 Getaran Ketakutan yang Asing
66 Langkah Mundur Sang Penyusup
67 Pulang dengan Tangan Hampa
68 Kebenaran yang Meretakkan Dinding Hati
69 Naluri Seorang Istri
70 Lembar demi Lembar Fakta Terbuka
71 Kecewa tapi Tak Boleh Runtuh
72 Menata Hati yang Terluka
73 Penyelidikan dalam Diam
74 Menggali Kebenaran dari Akar
75 Bukan Saatnya Menangis
76 Logika dan Iman di Atas Amarah
77 Ujian Pertama: Menahan Diri
78 Keraguan di Antara Bayang-Bayang
79 Jeratan Licik dan Bayang-Bayang Kepalsuan
80 Isyarat Duka dan Langkah Histeris
81 Pengakuan masa lalu yang kelam
82 Luka yang Terkubur dan Titik Balik
83 Cahaya di Ujung Kegelapan
84 Muara dari Segala Jawaban
85 Jaring Siasat di Balik Tirai
86 Senyum Sumbing Sang Ular
87 Siasat di Balik Air Mata
88 Manisnya Balas Dendam dan Sepiring Rujak
89 Percikan Siasat dan Permintaan Tak Terduga
90 Perangkap Manis di Sangkar Emas
91 Taktik Lembut yang Mematikan
92 Akting Sempurna Wanita Berilmu
93 Perang Dingin Tanpa Suara
94 Manja Menjadi Senjata
95 Pengakuan di Balik Topeng Kebencian
96 Pengakuan Air Mata dan Benang Takdir yang Terurai
97 Sisi Lain Sang Musuh
98 Muara Kebenaran dan Pilihan Hati
99 Dinding Keraguan dan Sunyinya Penyesalan
100 Singkap Tabir dan Bukti Nyata
101 Badai Kedatangan Fadia
102 Dinding yang Memiliki Telinga
103 Prasangka di Balik Cangkir Teh
104 Renungan di Balik Pintu Kamar
105 Ikrar di Penghujung Malam
106 Muara Takdir dan Rasa Syukur
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Penantian di Ujung Pengabdian
2
Kepulangan Sang Kakak
3
Petir di Siang Bolong
4
Mengapa Harus Aku
5
Air Mata di Balik Pintu Kamar
6
Pemberontakan yang Bungkam
7
Langkah Berat Kembali ke Pesantren
8
Air Mata di Hadapan Ustazah
9
Nasihat dan Doa yang Menguatkan
10
Pulang Bersama Isyarat
11
Rahasia Air Mata Ibu
12
Waktu yang Tak Banyak Lagi
13
Alasan di Balik Takdir
14
Penerimaan yang Ikhlas
15
Gaun Pengantin dan Senyum Terakhir Ayah
16
Janji Suci di Depan Saksi
17
Perpisahan Selamanya
18
Malam Pertama di Rumah yang Asing
19
Percakapan di Sisi Ranjang
20
Belajar Mencintai Karena Allah
21
Tangan Dingin Seorang Pengusaha
22
Pengajian
23
Mengetuk Pintu Hati Fatimah
24
Ratu di Istana Kecil
25
Pacaran Setelah Menikah
26
Ketika Manja Jadi Kebiasaan
27
Cadar dan Keindahan yang Terjaga
28
Tatapan Para Pegawai Kantor
29
Makan Siang Romantis
30
Doa-Doa di Sepertiga Malam
31
Kehangatan yang Mulai Tumbuh
32
Keinginanmu adalah Perintahku
33
Menjaga Sang Permata Hati
34
Ketenangan Sebelum Badai
35
Ketukan dari Masa Lalu
36
Janji Konyol yang Menuntut Balas
37
Aku Hanya Mencintai Istriku
38
Ancaman di Ujung Pisau
39
Jebakan yang Tersusun Rapi
40
Pulang dalam Penyesalan
41
Janji di Sisa Malam
42
Kunci Rumah dan Ambisi yang Haus
43
Firasat dan Bayang-Bayang Cemas
44
Jeratan Lembut Sang Pemburu
45
Keraguan yang Mulai Tumbuh
46
Ancaman dari Balik Layar
47
Umpan yang Mulai Menarik Mangsa
48
Sandiwara di Kamar Sempit
49
Pernikahan di Bawah Tekanan
50
Mangsa yang Terjebak
51
Ikatan yang Terkoyak
52
Kegelapan dalam Kesunyian
53
Berpacu dengan Waktu
54
Di Ambang Ruang Putih
55
Sudut Penyesalan dan Penantian
56
Tatapan Penuh Tanya
57
Rasa Bersalah yang Menyiksa
58
Ketakutan Kehilangan Fatimah
59
Cemburu yang Membakar
60
Kemarahan Wanita yang Terbuang
61
Menari di Atas Penderitaan Sendiri
62
Melacak Jejak Sang Ratu
63
Pertemuan di Minimarket
64
Aura di Balik Cadar Hitam
65
Getaran Ketakutan yang Asing
66
Langkah Mundur Sang Penyusup
67
Pulang dengan Tangan Hampa
68
Kebenaran yang Meretakkan Dinding Hati
69
Naluri Seorang Istri
70
Lembar demi Lembar Fakta Terbuka
71
Kecewa tapi Tak Boleh Runtuh
72
Menata Hati yang Terluka
73
Penyelidikan dalam Diam
74
Menggali Kebenaran dari Akar
75
Bukan Saatnya Menangis
76
Logika dan Iman di Atas Amarah
77
Ujian Pertama: Menahan Diri
78
Keraguan di Antara Bayang-Bayang
79
Jeratan Licik dan Bayang-Bayang Kepalsuan
80
Isyarat Duka dan Langkah Histeris
81
Pengakuan masa lalu yang kelam
82
Luka yang Terkubur dan Titik Balik
83
Cahaya di Ujung Kegelapan
84
Muara dari Segala Jawaban
85
Jaring Siasat di Balik Tirai
86
Senyum Sumbing Sang Ular
87
Siasat di Balik Air Mata
88
Manisnya Balas Dendam dan Sepiring Rujak
89
Percikan Siasat dan Permintaan Tak Terduga
90
Perangkap Manis di Sangkar Emas
91
Taktik Lembut yang Mematikan
92
Akting Sempurna Wanita Berilmu
93
Perang Dingin Tanpa Suara
94
Manja Menjadi Senjata
95
Pengakuan di Balik Topeng Kebencian
96
Pengakuan Air Mata dan Benang Takdir yang Terurai
97
Sisi Lain Sang Musuh
98
Muara Kebenaran dan Pilihan Hati
99
Dinding Keraguan dan Sunyinya Penyesalan
100
Singkap Tabir dan Bukti Nyata
101
Badai Kedatangan Fadia
102
Dinding yang Memiliki Telinga
103
Prasangka di Balik Cangkir Teh
104
Renungan di Balik Pintu Kamar
105
Ikrar di Penghujung Malam
106
Muara Takdir dan Rasa Syukur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!