Kepulangan Sang Kakak

Suasana ruang tamu rumah keluarga Fatimah terasa begitu hangat bagi semua orang, kecuali bagi Fatimah sendiri.

Aroma masakan opor ayam dan sambal goreng ati kesukaan Faisal menyeruak dari arah dapur, memenuhi rumah sederhana yang terletak di sudut kota tersebut.

Tawa renyah Faisal terdengar bersahut-shutan dengan suara sang ayah yang sesekali terbatuk kecil, menceritakan bagaimana perjuangannya mempertahankan skripsi di hadapan para dosen penguji.

Fatimah berdiri mematung di balik tirai pembatas dapur. Di tangannya, sebuah nampan berisi lima cangkir teh manis hangat terasa begitu berat.

Dadanya sesak. Sejak menginjakkan kaki di rumah ini kemarin sore setelah dijemput oleh Faisal, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya kecuali salam dan sapaan formal.

"Fatimah, ayo tehnya dibawa ke depan. Malah melamun di situ."

Tegur ibunya lembut sembari menepuk pelan bahu Fatimah yang tertutup jilbab lebar.

Fatimah tersentak kecil, lalu mengangguk patuh. Dengan langkah yang diatur seanggun mungkin, ia melangkah memasuki ruang tamu.

Di sana, Faisal duduk dengan kemeja barunya, sementara Fadia, si bungsu yang baru saja lulus SMA, sibuk memainkan ponsel pintar di samping ayahnya.

"Wah, pas banget! Mas lagi haus banget ini, Dek," ujar Faisal menyambut kedatangan adiknya dengan senyum lebar.

Fatimah tersenyum tipis, meletakkan cangkir-cangkir itu satu per satu di atas meja.

"Silakan diminum, Mas, Ayah."

"Sini duduk dekat Mas, Fatimah," Faisal menepuk tempat kosong di sebelahnya.

"Mas kangen banget sama kamu. Setelah mengapdi satu tahun di pesantren bikin kamu makin kelihatan dewasa, ya."

Fatimah mengambil tempat duduk di dekat kakaknya. Ia memandang wajah Faisal yang tampak cerah dan penuh energi masa depan.

Ada rasa bangga yang besar di hati Fatimah melihat kakaknya sukses meraih gelar sarjana.

Namun, di saat yang sama, ada rasa perih yang menelusup.

"Mas Faisal sudah lulus,"

Fatimah membuka suara, nadanya tenang namun ada getaran halus di sana.

"Berarti... setelah ini Fatimah sudah bisa mendaftar kuliah, kan, Yah? Kemarin Fatimah sempat melihat jadwal gelombang terakhir untuk ujian masuk UIN."

Seketika, tawa di ruang tamu itu menyurut. Keheningan yang janggal mendadak menyergap.

Faisal menghentikan cangkir teh yang baru saja hendak menyentuh bibirnya, lalu melirik ke arah sang ayah dengan tatapan bersalah.

Ayah Fatimah, yang wajahnya tampak lebih pucat dan kurus dari setahun lalu, mendesah berat dan meletakkan cangkirnya kembali ke meja.

"Fatimah."

Ayah berdeham, mencoba memperbaiki posisi duduknya.

"Soal kuliah itu... bukankah Ibu sudah menyuratimu minggu lalu di pesantren?"

Jantung Fatimah berdegup lebih kencang.

"Surat Ibu bilang Ayah menjodohkan Fatimah dan mereka sudah melamar Fatimah. Tapi Fatimah kira, itu bisa dibicarakan baik-baik setelah Mas Faisal pulang. Fatimah masih ingin belajar, Yah. Fatimah sudah menepati janji untuk mengabdi satu tahun."

"Nggak bisa gitu dong, Mbak," sahut Fadia tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Ayah yang ge jodohin kalian dan lamaran dari Pak Rayhan itu sudah diterima sama Ayah dan Ibu. Malu-maluin keluarga aja kalau dibatalkan tiba-tiba. Lagian, dia itu kaya raya, Mbak nggak bakal hidup susah."

Fatimah menoleh menatap adik bungsunya.

"Fadia, ini masalah masa depanku. Aku hanya ingin hak yang sama untuk kuliah."

"Mbak kan sudah empat tahun di pesantren, ilmunya sudah banyak. Kalau aku kan baru lulus SMA, ya wajar kalau langsung kuliah tahun ini.

Ayah sama Ibu sudah janji mau daftarin aku di universitas swasta bulan depan," tukas Fadia acuh tak acuh.

Mendengar kalimat Fadia, dada Fatimah seperti dihantam batu besar.

*Adiknya yang baru lulus SMA langsung dikuliahkan di universitas swasta yang biayanya tentu tidak murah, sementara dirinya yang sudah mengalah selama satu tahun justru harus mengubur impiannya demi sebuah pernikahan?*

Di mana letak keadilannya?

Fatimah beralih menatap ibunya, mencari pembelaan, namun sang ibu hanya menunduk dalam sembari meremas ujung daster yang dikenakannya.

Air mata Fatimah mulai menggenang di pelupuk mata, membuat pandangannya mengabur.

"Ayah, Ibu... ini tidak adil untuk Fatimah," bisik Fatimah, suaranya mulai serak menahan tangis yang mendesak keluar.

"Mengapa Fatimah dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak Fatimah kenal, di saat Fadia dengan mudahnya diizinkan kuliah?"

Faisal memegang pundak Fatimah, mencoba menenangkan.

"Fatimah, dengarkan Mas dulu—"

"Tidak, Mas!"

Fatimah menepis pelan tangan kakaknya. Kepalanya menggeleng, menolak semua kenyataan pahit yang tiba-tiba dihamparkan di depannya.

Ruang tamu yang tadinya penuh tawa, kini berubah menjadi saksi awal dari runtuhnya benteng kesabaran seorang Fatimah.

Episodes
1 Penantian di Ujung Pengabdian
2 Kepulangan Sang Kakak
3 Petir di Siang Bolong
4 Mengapa Harus Aku
5 Air Mata di Balik Pintu Kamar
6 Pemberontakan yang Bungkam
7 Langkah Berat Kembali ke Pesantren
8 Air Mata di Hadapan Ustazah
9 Nasihat dan Doa yang Menguatkan
10 Pulang Bersama Isyarat
11 Rahasia Air Mata Ibu
12 Waktu yang Tak Banyak Lagi
13 Alasan di Balik Takdir
14 Penerimaan yang Ikhlas
15 Gaun Pengantin dan Senyum Terakhir Ayah
16 Janji Suci di Depan Saksi
17 Perpisahan Selamanya
18 Malam Pertama di Rumah yang Asing
19 Percakapan di Sisi Ranjang
20 Belajar Mencintai Karena Allah
21 Tangan Dingin Seorang Pengusaha
22 Pengajian
23 Mengetuk Pintu Hati Fatimah
24 Ratu di Istana Kecil
25 Pacaran Setelah Menikah
26 Ketika Manja Jadi Kebiasaan
27 Cadar dan Keindahan yang Terjaga
28 Tatapan Para Pegawai Kantor
29 Makan Siang Romantis
30 Doa-Doa di Sepertiga Malam
31 Kehangatan yang Mulai Tumbuh
32 Keinginanmu adalah Perintahku
33 Menjaga Sang Permata Hati
34 Ketenangan Sebelum Badai
35 Ketukan dari Masa Lalu
36 Janji Konyol yang Menuntut Balas
37 Aku Hanya Mencintai Istriku
38 Ancaman di Ujung Pisau
39 Jebakan yang Tersusun Rapi
40 Pulang dalam Penyesalan
41 Janji di Sisa Malam
42 Kunci Rumah dan Ambisi yang Haus
43 Firasat dan Bayang-Bayang Cemas
44 Jeratan Lembut Sang Pemburu
45 Keraguan yang Mulai Tumbuh
46 Ancaman dari Balik Layar
47 Umpan yang Mulai Menarik Mangsa
48 Sandiwara di Kamar Sempit
49 Pernikahan di Bawah Tekanan
50 Mangsa yang Terjebak
51 Ikatan yang Terkoyak
52 Kegelapan dalam Kesunyian
53 Berpacu dengan Waktu
54 Di Ambang Ruang Putih
55 Sudut Penyesalan dan Penantian
56 Tatapan Penuh Tanya
57 Rasa Bersalah yang Menyiksa
58 Ketakutan Kehilangan Fatimah
59 Cemburu yang Membakar
60 Kemarahan Wanita yang Terbuang
61 Menari di Atas Penderitaan Sendiri
62 Melacak Jejak Sang Ratu
63 Pertemuan di Minimarket
64 Aura di Balik Cadar Hitam
65 Getaran Ketakutan yang Asing
66 Langkah Mundur Sang Penyusup
67 Pulang dengan Tangan Hampa
68 Kebenaran yang Meretakkan Dinding Hati
69 Naluri Seorang Istri
70 Lembar demi Lembar Fakta Terbuka
71 Kecewa tapi Tak Boleh Runtuh
72 Menata Hati yang Terluka
73 Penyelidikan dalam Diam
74 Menggali Kebenaran dari Akar
75 Bukan Saatnya Menangis
76 Logika dan Iman di Atas Amarah
77 Ujian Pertama: Menahan Diri
78 Keraguan di Antara Bayang-Bayang
79 Jeratan Licik dan Bayang-Bayang Kepalsuan
80 Isyarat Duka dan Langkah Histeris
81 Pengakuan masa lalu yang kelam
82 Luka yang Terkubur dan Titik Balik
83 Cahaya di Ujung Kegelapan
84 Muara dari Segala Jawaban
85 Jaring Siasat di Balik Tirai
86 Senyum Sumbing Sang Ular
87 Siasat di Balik Air Mata
88 Manisnya Balas Dendam dan Sepiring Rujak
89 Percikan Siasat dan Permintaan Tak Terduga
90 Perangkap Manis di Sangkar Emas
91 Taktik Lembut yang Mematikan
92 Akting Sempurna Wanita Berilmu
93 Perang Dingin Tanpa Suara
94 Manja Menjadi Senjata
95 Pengakuan di Balik Topeng Kebencian
96 Pengakuan Air Mata dan Benang Takdir yang Terurai
97 Sisi Lain Sang Musuh
98 Muara Kebenaran dan Pilihan Hati
99 Dinding Keraguan dan Sunyinya Penyesalan
100 Singkap Tabir dan Bukti Nyata
101 Badai Kedatangan Fadia
102 Dinding yang Memiliki Telinga
103 Prasangka di Balik Cangkir Teh
104 Renungan di Balik Pintu Kamar
105 Ikrar di Penghujung Malam
106 Muara Takdir dan Rasa Syukur
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Penantian di Ujung Pengabdian
2
Kepulangan Sang Kakak
3
Petir di Siang Bolong
4
Mengapa Harus Aku
5
Air Mata di Balik Pintu Kamar
6
Pemberontakan yang Bungkam
7
Langkah Berat Kembali ke Pesantren
8
Air Mata di Hadapan Ustazah
9
Nasihat dan Doa yang Menguatkan
10
Pulang Bersama Isyarat
11
Rahasia Air Mata Ibu
12
Waktu yang Tak Banyak Lagi
13
Alasan di Balik Takdir
14
Penerimaan yang Ikhlas
15
Gaun Pengantin dan Senyum Terakhir Ayah
16
Janji Suci di Depan Saksi
17
Perpisahan Selamanya
18
Malam Pertama di Rumah yang Asing
19
Percakapan di Sisi Ranjang
20
Belajar Mencintai Karena Allah
21
Tangan Dingin Seorang Pengusaha
22
Pengajian
23
Mengetuk Pintu Hati Fatimah
24
Ratu di Istana Kecil
25
Pacaran Setelah Menikah
26
Ketika Manja Jadi Kebiasaan
27
Cadar dan Keindahan yang Terjaga
28
Tatapan Para Pegawai Kantor
29
Makan Siang Romantis
30
Doa-Doa di Sepertiga Malam
31
Kehangatan yang Mulai Tumbuh
32
Keinginanmu adalah Perintahku
33
Menjaga Sang Permata Hati
34
Ketenangan Sebelum Badai
35
Ketukan dari Masa Lalu
36
Janji Konyol yang Menuntut Balas
37
Aku Hanya Mencintai Istriku
38
Ancaman di Ujung Pisau
39
Jebakan yang Tersusun Rapi
40
Pulang dalam Penyesalan
41
Janji di Sisa Malam
42
Kunci Rumah dan Ambisi yang Haus
43
Firasat dan Bayang-Bayang Cemas
44
Jeratan Lembut Sang Pemburu
45
Keraguan yang Mulai Tumbuh
46
Ancaman dari Balik Layar
47
Umpan yang Mulai Menarik Mangsa
48
Sandiwara di Kamar Sempit
49
Pernikahan di Bawah Tekanan
50
Mangsa yang Terjebak
51
Ikatan yang Terkoyak
52
Kegelapan dalam Kesunyian
53
Berpacu dengan Waktu
54
Di Ambang Ruang Putih
55
Sudut Penyesalan dan Penantian
56
Tatapan Penuh Tanya
57
Rasa Bersalah yang Menyiksa
58
Ketakutan Kehilangan Fatimah
59
Cemburu yang Membakar
60
Kemarahan Wanita yang Terbuang
61
Menari di Atas Penderitaan Sendiri
62
Melacak Jejak Sang Ratu
63
Pertemuan di Minimarket
64
Aura di Balik Cadar Hitam
65
Getaran Ketakutan yang Asing
66
Langkah Mundur Sang Penyusup
67
Pulang dengan Tangan Hampa
68
Kebenaran yang Meretakkan Dinding Hati
69
Naluri Seorang Istri
70
Lembar demi Lembar Fakta Terbuka
71
Kecewa tapi Tak Boleh Runtuh
72
Menata Hati yang Terluka
73
Penyelidikan dalam Diam
74
Menggali Kebenaran dari Akar
75
Bukan Saatnya Menangis
76
Logika dan Iman di Atas Amarah
77
Ujian Pertama: Menahan Diri
78
Keraguan di Antara Bayang-Bayang
79
Jeratan Licik dan Bayang-Bayang Kepalsuan
80
Isyarat Duka dan Langkah Histeris
81
Pengakuan masa lalu yang kelam
82
Luka yang Terkubur dan Titik Balik
83
Cahaya di Ujung Kegelapan
84
Muara dari Segala Jawaban
85
Jaring Siasat di Balik Tirai
86
Senyum Sumbing Sang Ular
87
Siasat di Balik Air Mata
88
Manisnya Balas Dendam dan Sepiring Rujak
89
Percikan Siasat dan Permintaan Tak Terduga
90
Perangkap Manis di Sangkar Emas
91
Taktik Lembut yang Mematikan
92
Akting Sempurna Wanita Berilmu
93
Perang Dingin Tanpa Suara
94
Manja Menjadi Senjata
95
Pengakuan di Balik Topeng Kebencian
96
Pengakuan Air Mata dan Benang Takdir yang Terurai
97
Sisi Lain Sang Musuh
98
Muara Kebenaran dan Pilihan Hati
99
Dinding Keraguan dan Sunyinya Penyesalan
100
Singkap Tabir dan Bukti Nyata
101
Badai Kedatangan Fadia
102
Dinding yang Memiliki Telinga
103
Prasangka di Balik Cangkir Teh
104
Renungan di Balik Pintu Kamar
105
Ikrar di Penghujung Malam
106
Muara Takdir dan Rasa Syukur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!