Petir di Siang Bolong

"Fatimah! Jaga bicaramu!"

Suara Ayah yang biasanya lembut kini meninggi, memotong kalimat Fatimah dengan ketegasan yang tak terbantahkan.

Ruang tamu mendadak sepi seketika. Fadia bahkan menghentikan jemarinya di atas layar ponsel, terkejut mendengar bentakan yang jarang sekali keluar dari mulut sang ayah.

Fatimah terpaku. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi kain kerudung nya.

Dada gadis itu naik turun menahan gejolak kecewa yang teramat besar.

"Kenapa, Yah? Kenapa Fatimah tidak boleh bicara?"

Tanya Fatimah dengan suara bergetar, menatap langsung ke netra sang ayah.

"Satu tahun Fatimah mengubur mimpi dan memutuskan untuk mengapdi setahun di pesantren, menanti dengan sabar karena Fatimah tahu kondisi kita sedang sulit."

"Tapi begitu Mas Faisal lulus, kenapa justru Fadia yang dikuliahkan dan Fatimah yang harus dijual dalam bentuk pernikahan?"

"Fatimah!

"Jaga mulutmu!"

"Siapa yang menjualmu?!"

Ibu akhirnya angkat bicara, suaranya melengking perih dibarengi linangan air mata yang mulai deras.

"Kami ini orang tuamu, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya!"

"Tapi ini tidak adil, Bu!"

" Lelaki itu usianya tiga puluh delapan tahun!"

"Dua kali lipat dari usia Fatimah!"

"Di mana hati nurani Ayah dan Ibu menjodohkan Fatimah dengan pria sejauh itu?"

Tangis Fatimah akhirnya pecah. Pertahanan yang ia bangun sejak membaca surat di pesantren runtuh total.

Faisal mencoba menengahi, memegang kedua bahu adiknya yang bergetar hebat.

"Dek, tenang dulu, Dek."

"Dengarkan penjelasan Ayah dulu."

"Pak Rayhan itu orang baik-baik, dia pengusaha yang sukses—"

"Mas Faisal bisa bicara begitu karena Mas sudah mendapatkan apa yang Mas mau!"

Potong Fatimah dengan tatapan terluka pada kakak laki-lakinya.

"Mas sudah sarjana, Mas bebas melangkah."

"Sementara aku?"

"Aku dipaksa menjadi istri dari orang asing di saat aku bahkan belum memulai mimpiku!"

Ayah memukul meja dengan telapak tangannya, membuat cangkir-cangkir teh di atasnya berdenting keras.

Wajah pria paruh baya itu memerah, napasnya memburu kencang sebelum akhirnya ia terbatuk-batuk hebat hingga harus memegangi dadanya.

"Ayah! Ayah tenang, Yah," Ibu panik, segera menggosok punggung suaminya dan menyodorkan air putih.

Setelah batuknya mereda, Ayah menatap Fatimah dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam.

"Fatimah... Ayah membesarkanmu dengan ilmu agama."

"Ayah menyekolahkanmu di pesantren agar kamu menjadi anak yang saleha, yang tahu bagaimana cara berbakti kepada orang tua."

"Tapi apa ini? Kamu berani berteriak di depan Ayah hanya karena ego kuliahmu?"

Kata-kata Ayah bagai petir di siang bolong yang menyambar langsung ke lubuk hati Fatimah.

"Apakah kamu ingin menjadi anak durhaka, Fatimah?" tanya Ayah lagi, suaranya melemah namun setiap katanya terasa begitu menghujam.

"Apakah empat tahun di pesantren hanya mengajarimu cara melawan orang tua yang telah merawatmu sejak kecil?"

*Anak durhaka.*

Kata itu berdengung hebat di telinga Fatimah. Seketika, lidah gadis itu mendadak kelu.

Seluruh argumen yang sudah tersusun di kepalanya menguap tanpa sisa.

Sebagai seorang santriwati yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari kitab tentang adab dan bakti kepada orang tua, tuduhan "durhaka" adalah pukulan paling telak yang mematikan seluruh energinya.

Fatimah terdiam. Kepalanya menunduk dalam-dalam, menatap lantai semen rumahnya yang terasa sedingin es.

Air matanya mengalir semakin deras, menyerap ke dalam kain kerudungnya hingga basah kuyup.

Tidak ada lagi bantahan, tidak ada lagi pemberontakan. Hanya ada rasa sesak yang begitu menghimpit dada hingga ia merasa sulit untuk sekadar bernapas.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Fatimah bangkit berdiri. Dengan langkah gulai dan pandangan yang kabur oleh air mata, ia berjalan cepat menuju kamarnya di bagian belakang rumah.

*Braakk!*

Pintu kamar ditutup rapat. Fatimah menguncinya dari dalam, lalu mengempaskan tubuhnya di atas kasur tipis miliknya.

Ia memeluk bantal erat-erat, meredam suara tangisnya yang pecah malam itu di balik dinding kamar yang sepi.

Malam yang seharusnya menjadi perayaan kebahagiaan keluarga, kini berubah menjadi malam paling kelam dalam hidup seorang Fatimah.

Terpopuler

Comments

Imi Omi

Imi Omi

😭

2026-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 Penantian di Ujung Pengabdian
2 Kepulangan Sang Kakak
3 Petir di Siang Bolong
4 Mengapa Harus Aku
5 Air Mata di Balik Pintu Kamar
6 Pemberontakan yang Bungkam
7 Langkah Berat Kembali ke Pesantren
8 Air Mata di Hadapan Ustazah
9 Nasihat dan Doa yang Menguatkan
10 Pulang Bersama Isyarat
11 Rahasia Air Mata Ibu
12 Waktu yang Tak Banyak Lagi
13 Alasan di Balik Takdir
14 Penerimaan yang Ikhlas
15 Gaun Pengantin dan Senyum Terakhir Ayah
16 Janji Suci di Depan Saksi
17 Perpisahan Selamanya
18 Malam Pertama di Rumah yang Asing
19 Percakapan di Sisi Ranjang
20 Belajar Mencintai Karena Allah
21 Tangan Dingin Seorang Pengusaha
22 Pengajian
23 Mengetuk Pintu Hati Fatimah
24 Ratu di Istana Kecil
25 Pacaran Setelah Menikah
26 Ketika Manja Jadi Kebiasaan
27 Cadar dan Keindahan yang Terjaga
28 Tatapan Para Pegawai Kantor
29 Makan Siang Romantis
30 Doa-Doa di Sepertiga Malam
31 Kehangatan yang Mulai Tumbuh
32 Keinginanmu adalah Perintahku
33 Menjaga Sang Permata Hati
34 Ketenangan Sebelum Badai
35 Ketukan dari Masa Lalu
36 Janji Konyol yang Menuntut Balas
37 Aku Hanya Mencintai Istriku
38 Ancaman di Ujung Pisau
39 Jebakan yang Tersusun Rapi
40 Pulang dalam Penyesalan
41 Janji di Sisa Malam
42 Kunci Rumah dan Ambisi yang Haus
43 Firasat dan Bayang-Bayang Cemas
44 Jeratan Lembut Sang Pemburu
45 Keraguan yang Mulai Tumbuh
46 Ancaman dari Balik Layar
47 Umpan yang Mulai Menarik Mangsa
48 Sandiwara di Kamar Sempit
49 Pernikahan di Bawah Tekanan
50 Mangsa yang Terjebak
51 Ikatan yang Terkoyak
52 Kegelapan dalam Kesunyian
53 Berpacu dengan Waktu
54 Di Ambang Ruang Putih
55 Sudut Penyesalan dan Penantian
56 Tatapan Penuh Tanya
57 Rasa Bersalah yang Menyiksa
58 Ketakutan Kehilangan Fatimah
59 Cemburu yang Membakar
60 Kemarahan Wanita yang Terbuang
61 Menari di Atas Penderitaan Sendiri
62 Melacak Jejak Sang Ratu
63 Pertemuan di Minimarket
64 Aura di Balik Cadar Hitam
65 Getaran Ketakutan yang Asing
66 Langkah Mundur Sang Penyusup
67 Pulang dengan Tangan Hampa
68 Kebenaran yang Meretakkan Dinding Hati
69 Naluri Seorang Istri
70 Lembar demi Lembar Fakta Terbuka
71 Kecewa tapi Tak Boleh Runtuh
72 Menata Hati yang Terluka
73 Penyelidikan dalam Diam
74 Menggali Kebenaran dari Akar
75 Bukan Saatnya Menangis
76 Logika dan Iman di Atas Amarah
77 Ujian Pertama: Menahan Diri
78 Keraguan di Antara Bayang-Bayang
79 Jeratan Licik dan Bayang-Bayang Kepalsuan
80 Isyarat Duka dan Langkah Histeris
81 Pengakuan masa lalu yang kelam
82 Luka yang Terkubur dan Titik Balik
83 Cahaya di Ujung Kegelapan
84 Muara dari Segala Jawaban
85 Jaring Siasat di Balik Tirai
86 Senyum Sumbing Sang Ular
87 Siasat di Balik Air Mata
88 Manisnya Balas Dendam dan Sepiring Rujak
89 Percikan Siasat dan Permintaan Tak Terduga
90 Perangkap Manis di Sangkar Emas
91 Taktik Lembut yang Mematikan
92 Akting Sempurna Wanita Berilmu
93 Perang Dingin Tanpa Suara
94 Manja Menjadi Senjata
95 Pengakuan di Balik Topeng Kebencian
96 Pengakuan Air Mata dan Benang Takdir yang Terurai
97 Sisi Lain Sang Musuh
98 Muara Kebenaran dan Pilihan Hati
99 Dinding Keraguan dan Sunyinya Penyesalan
100 Singkap Tabir dan Bukti Nyata
101 Badai Kedatangan Fadia
102 Dinding yang Memiliki Telinga
103 Prasangka di Balik Cangkir Teh
104 Renungan di Balik Pintu Kamar
105 Ikrar di Penghujung Malam
106 Muara Takdir dan Rasa Syukur
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Penantian di Ujung Pengabdian
2
Kepulangan Sang Kakak
3
Petir di Siang Bolong
4
Mengapa Harus Aku
5
Air Mata di Balik Pintu Kamar
6
Pemberontakan yang Bungkam
7
Langkah Berat Kembali ke Pesantren
8
Air Mata di Hadapan Ustazah
9
Nasihat dan Doa yang Menguatkan
10
Pulang Bersama Isyarat
11
Rahasia Air Mata Ibu
12
Waktu yang Tak Banyak Lagi
13
Alasan di Balik Takdir
14
Penerimaan yang Ikhlas
15
Gaun Pengantin dan Senyum Terakhir Ayah
16
Janji Suci di Depan Saksi
17
Perpisahan Selamanya
18
Malam Pertama di Rumah yang Asing
19
Percakapan di Sisi Ranjang
20
Belajar Mencintai Karena Allah
21
Tangan Dingin Seorang Pengusaha
22
Pengajian
23
Mengetuk Pintu Hati Fatimah
24
Ratu di Istana Kecil
25
Pacaran Setelah Menikah
26
Ketika Manja Jadi Kebiasaan
27
Cadar dan Keindahan yang Terjaga
28
Tatapan Para Pegawai Kantor
29
Makan Siang Romantis
30
Doa-Doa di Sepertiga Malam
31
Kehangatan yang Mulai Tumbuh
32
Keinginanmu adalah Perintahku
33
Menjaga Sang Permata Hati
34
Ketenangan Sebelum Badai
35
Ketukan dari Masa Lalu
36
Janji Konyol yang Menuntut Balas
37
Aku Hanya Mencintai Istriku
38
Ancaman di Ujung Pisau
39
Jebakan yang Tersusun Rapi
40
Pulang dalam Penyesalan
41
Janji di Sisa Malam
42
Kunci Rumah dan Ambisi yang Haus
43
Firasat dan Bayang-Bayang Cemas
44
Jeratan Lembut Sang Pemburu
45
Keraguan yang Mulai Tumbuh
46
Ancaman dari Balik Layar
47
Umpan yang Mulai Menarik Mangsa
48
Sandiwara di Kamar Sempit
49
Pernikahan di Bawah Tekanan
50
Mangsa yang Terjebak
51
Ikatan yang Terkoyak
52
Kegelapan dalam Kesunyian
53
Berpacu dengan Waktu
54
Di Ambang Ruang Putih
55
Sudut Penyesalan dan Penantian
56
Tatapan Penuh Tanya
57
Rasa Bersalah yang Menyiksa
58
Ketakutan Kehilangan Fatimah
59
Cemburu yang Membakar
60
Kemarahan Wanita yang Terbuang
61
Menari di Atas Penderitaan Sendiri
62
Melacak Jejak Sang Ratu
63
Pertemuan di Minimarket
64
Aura di Balik Cadar Hitam
65
Getaran Ketakutan yang Asing
66
Langkah Mundur Sang Penyusup
67
Pulang dengan Tangan Hampa
68
Kebenaran yang Meretakkan Dinding Hati
69
Naluri Seorang Istri
70
Lembar demi Lembar Fakta Terbuka
71
Kecewa tapi Tak Boleh Runtuh
72
Menata Hati yang Terluka
73
Penyelidikan dalam Diam
74
Menggali Kebenaran dari Akar
75
Bukan Saatnya Menangis
76
Logika dan Iman di Atas Amarah
77
Ujian Pertama: Menahan Diri
78
Keraguan di Antara Bayang-Bayang
79
Jeratan Licik dan Bayang-Bayang Kepalsuan
80
Isyarat Duka dan Langkah Histeris
81
Pengakuan masa lalu yang kelam
82
Luka yang Terkubur dan Titik Balik
83
Cahaya di Ujung Kegelapan
84
Muara dari Segala Jawaban
85
Jaring Siasat di Balik Tirai
86
Senyum Sumbing Sang Ular
87
Siasat di Balik Air Mata
88
Manisnya Balas Dendam dan Sepiring Rujak
89
Percikan Siasat dan Permintaan Tak Terduga
90
Perangkap Manis di Sangkar Emas
91
Taktik Lembut yang Mematikan
92
Akting Sempurna Wanita Berilmu
93
Perang Dingin Tanpa Suara
94
Manja Menjadi Senjata
95
Pengakuan di Balik Topeng Kebencian
96
Pengakuan Air Mata dan Benang Takdir yang Terurai
97
Sisi Lain Sang Musuh
98
Muara Kebenaran dan Pilihan Hati
99
Dinding Keraguan dan Sunyinya Penyesalan
100
Singkap Tabir dan Bukti Nyata
101
Badai Kedatangan Fadia
102
Dinding yang Memiliki Telinga
103
Prasangka di Balik Cangkir Teh
104
Renungan di Balik Pintu Kamar
105
Ikrar di Penghujung Malam
106
Muara Takdir dan Rasa Syukur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!