Boneka Rusak di Hutan Hitam

Kael masih memegang pergelangan tangan Aelora ketika cahaya berbentuk sayap itu padam.

Bekasnya tidak langsung hilang. Di bawah kulit, garis putih tipis bergerak mengikuti tanda hitam yang selama ini dianggap kutukan. Keduanya bertemu di tengah pergelangan, lalu saling menjauh seperti tidak tahan berada terlalu dekat.

Aelora mencoba menarik tangannya, tetapi jemari Kael menahannya dengan hati-hati.

“Apakah itu sakit?” tanyanya.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Kael mengangkat alis.

Aelora mengalihkan pandangan ke boneka kelinci dalam pelukannya. Bagian wajah boneka itu sudah terkena lumpur. Salah satu mata kancingnya yang tersisa menggantung pada seutas benang.

“Sedikit,” katanya akhirnya.

Kael melepaskan tangannya. “Sejak kapan tanda itu muncul?”

Aelora tahu jawaban yang seharusnya diberikan anak berusia tujuh tahun: sejak tiga hari lalu, setelah ia jatuh sakit dan lampu-lampu rumah mulai padam setiap kali disentuhnya.

Namun ia juga ingat bahwa tanda itu bukan kutukan. Dalam kehidupan sebelumnya, para pendeta menggunakan rune gelap untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi mereka.

Darah malaikat.

Kalau Kael mengetahuinya sekarang, masa depan dapat berubah lebih cepat daripada yang sanggup ia kendalikan.

“Tidak ingat,” jawabnya.

“Kau tidak ingat kapan tubuhmu mulai mengeluarkan cahaya?”

“Mereka bilang aku sakit.”

“Siapa mereka?”

“Orang-orang di rumah.”

“Orang tuamu?”

Aelora menunduk. “Aku tidak punya ayah.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kael terdiam sejenak. Tatapannya berubah, meski hanya sedikit. “Ibumu?”

“Sudah mati.”

Itulah yang selama bertahun-tahun dikatakan orang-orang Asteria. Mirael Arvand, penyihir pengkhianat yang dibakar sebelum putrinya cukup besar untuk mengingat wajahnya.

Aelora baru mengetahui kebenarannya jauh setelah perang dimulai. Ibunya tidak mati di tiang pembakaran. Setidaknya, tidak pada hari itu.

Namun bagian ingatannya tentang Mirael kabur. Wajahnya seperti lukisan yang terlalu lama terkena hujan.

Kael berdiri dan memandang sekeliling hutan. “Siapa yang membawamu ke sini?”

“Pendeta Mareth. Empat prajurit.”

“Mereka meninggalkan seorang anak sendirian di wilayah serigala bayangan?”

Aelora mengangguk.

Rahang Kael mengeras. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tetapi kabut di sekitar sepatu botnya bergerak menjauh, seolah ikut takut pada perubahan suasana hatinya.

Kuda hitam yang tadi ditungganginya mendekat. Makhluk itu lebih besar daripada kuda biasa, dengan mata ungu dan api kecil di sekitar kuku. Ia menundukkan kepala untuk mengendus Aelora.

Aelora memeluk bonekanya lebih erat.

Kuda itu bersin.

Asap ungu menyembur dari lubang hidungnya dan mengenai rambut Aelora.

Kael menepuk leher kuda. “Sopan sedikit.”

Makhluk itu memalingkan kepala, tampak tidak merasa bersalah.

Aelora hampir tersenyum.

Hampir.

Kael melepas mantel luarnya, kemudian menyampirkannya ke bahu Aelora. Mantel itu terlalu panjang. Ujungnya langsung menyentuh tanah dan menutupi tubuhnya sampai ke kaki.

Aelora mengenali aroma kulit, logam, dan daun pinus yang melekat pada kain tersebut. Bau yang sama pernah memenuhi ruang kerja Kael bertahun-tahun kemudian. Ingatan sederhana itu membuat tenggorokannya mendadak sesak.

Ia menarik mantel lebih rapat.

Kael memperhatikannya. “Kau kedinginan?”

Aelora mengangguk.

“Kenapa tidak bilang?”

Aelora tidak tahu harus menjawab apa.

Anak-anak di rumah lama tidak boleh mengeluh. Mengatakan lapar dianggap tidak tahu bersyukur. Mengatakan sakit hanya membuatnya diperiksa oleh pendeta. Mengatakan takut sering membuat orang dewasa mengingat bahwa keberadaannya memang tidak diinginkan.

Kael berjongkok lagi, kali ini membelakanginya.

“Naik.”

Aelora menatap punggungnya.

“Apa?”

“Kakimu terluka.”

“Aku bisa jalan.”

“Kau baru saja jatuh karena tersandung akar.”

“Itu karena aku berlari.”

“Penjelasan yang sangat membantu.”

Aelora menatap rambut gelap di belakang kepala Kael. Dalam ingatannya, Raja Iblis tidak pernah menawarkan punggung kepada siapa pun. Bahkan ketika terluka, ia lebih suka berjalan sendiri daripada menerima bantuan.

Barangkali pada masa ini Kael memang berbeda.

Atau mungkin Aelora tidak pernah benar-benar mengenalnya.

“Cepat,” kata Kael. “Aku tidak berniat tinggal di tengah hujan sampai malam.”

Aelora ragu sebelum merangkul lehernya. Kael mengangkatnya dengan mudah. Tubuh lelaki itu hangat, jauh lebih hangat daripada udara hutan.

Boneka kelinci terjepit di antara mereka.

Kael melirik benda itu. “Kau membawa itu sejak tadi?”

“Namanya Piko.”

“Benda itu masih punya nama?”

“Dia cuma rusak.”

Kael melihat telinga yang hampir putus dan kapas yang menyembul dari perutnya. “Cuma?”

Aelora mengerutkan hidung. “Dia masih bisa diperbaiki.”

Kael tidak membantah. Ia berjalan ke arah kuda, lalu menempatkan Aelora di atas pelana. Setelah memastikan anak itu tidak akan jatuh, ia naik di belakangnya.

Aelora duduk kaku. Tangannya masih memegang Piko, sedangkan Kael mengambil tali kekang di kedua sisi tubuhnya.

“Ke mana kita pergi?” tanyanya.

“Keluar dari hutan.”

“Ke Asteria?”

“Tidak.”

Jawaban Kael datang tanpa keraguan.

Aelora menoleh sedikit. “Lalu?”

“Ke wilayahku.”

Nocthara.

Istana Bulan Merah.

Rumah yang belum menjadi rumah.

Jantung Aelora berdebar lebih cepat.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia baru bertemu Kael ketika usianya hampir dua belas tahun. Saat itu ia sudah belajar mencuri makanan, tidur dengan pisau di bawah bantal, dan tidak mempercayai siapa pun yang menawarkan pertolongan.

Namun sekarang Kael menemukannya pada hari pembuangan.

Lima tahun lebih awal.

Ini bukan sekadar perubahan kecil.

“Aku manusia,” katanya.

“Aku sudah melihatnya.”

“Manusia tidak boleh masuk Nocthara.”

“Siapa yang melarang?”

“Gereja.”

“Gerejamu juga membuangmu ke hutan. Aku tidak yakin pendapat mereka perlu dipertimbangkan.”

Aelora menunduk agar Kael tidak melihat senyum kecil yang muncul di bibirnya.

Kuda bergerak menyusuri jalan sempit. Langkahnya tidak membuat pelana berguncang keras seperti kuda biasa. Ia seperti meluncur di atas tanah, sementara api pada kukunya meninggalkan bekas ungu yang segera hilang terkena hujan.

Mereka baru berjalan beberapa menit ketika Aelora melihat bayangan kecil berlari di antara pepohonan.

Kucing yang tadi menolongnya.

Kadang-kadang hanya telinganya yang terlihat. Kadang ekornya muncul dari balik akar, kemudian lenyap saat Aelora menoleh.

Kael juga melihatnya.

“Makhluk itu mengikutimu?”

“Aku tidak tahu.”

“Dia membantuku.”

“Kucing bayangan jarang membantu manusia.”

“Mungkin dia baik.”

“Tidak ada kucing yang baik.”

Aelora menoleh. “Kau tidak suka kucing?”

“Aku tidak mempercayai makhluk yang tersenyum ketika menjatuhkan barang dari meja.”

Itu terdengar seperti pengalaman pribadi.

Aelora ingin bertanya, tetapi Kael mempercepat laju kuda ketika suara lolongan terdengar dari kejauhan.

Hutan berubah semakin gelap. Pohon-pohonnya lebih tinggi, dan daun hitamnya menutup hampir seluruh langit. Beberapa bunga pucat tumbuh di dekat akar. Saat kuda melewatinya, kelopak bunga membuka dan memperlihatkan gigi kecil di tengah.

Aelora segera menarik mantel agar tidak menyentuh tanaman.

“Kau pernah ke sini?” tanya Kael.

“Tidak.”

“Kau tahu bunga itu menggigit.”

“Orang-orang suka bercerita tentang Hutan Hitam.”

“Cerita manusia biasanya mengatakan bunga itu memakan bayi.”

“Apakah benar?”

“Tidak. Mereka terlalu kecil.”

“Lalu mereka makan apa?”

“Jari.”

Aelora memasukkan tangannya ke balik mantel.

Kael tertawa pendek.

Suara itu mengejutkannya.

Dalam ingatannya, Kael jarang tertawa. Kalaupun melakukannya, biasanya hanya dengusan yang cepat hilang. Mendengar suara itu sekarang terasa aneh, seperti menemukan jendela di ruangan yang sebelumnya ia kira tidak memilikinya.

“Kau menakut-nakutiku,” kata Aelora.

“Sedikit.”

“Itu jahat.”

“Aku Raja Iblis.”

“Bukan berarti kau harus membuat semua cerita tentangmu benar.”

Kael tidak segera menjawab. “Kau cukup berani untuk anak yang baru dibuang.”

Aelora memandang jalan di depan mereka. “Aku tidak berani.”

“Tidak?”

“Aku takut.”

“Pada apa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya terlalu panjang.

Ia takut pada Hutan Hitam. Takut pada Gereja Fajar. Takut bahwa dunia akan berakhir lagi. Takut Kael akan mati karena keputusan yang belum ia buat. Takut pada tangannya sendiri, yang dalam masa depan pernah memegang pedang berlumuran darah.

Aelora memilih jawaban terkecil.

“Aku takut kau mengembalikanku.”

Tangan Kael pada tali kekang tidak bergerak.

“Ke Asteria?”

Aelora mengangguk.

“Mereka membuangmu ke wilayahku.”

“Jadi?”

“Artinya mereka melepaskan hak untuk mengambilmu kembali.”

“Kalau mereka bilang aku berbahaya?”

“Aku sudah memelihara hal-hal yang lebih berbahaya.”

Aelora menoleh pada kuda mereka.

Makhluk itu menggeram pelan, mungkin tersinggung.

“Bukan dia,” kata Kael.

Kuda itu mengibaskan telinga.

Aelora diam sebentar. “Apakah kau akan membunuhku kalau aku memang berbahaya?”

Pertanyaan itu membuat langkah kuda melambat.

Kael tidak langsung menjawab. Ia memandang bagian belakang kepala Aelora, seolah mencoba memahami mengapa seorang anak kecil dapat menanyakan sesuatu seperti itu tanpa menangis.

“Siapa yang mengatakan kau harus dibunuh?”

“Semua orang.”

“Semua orang sering salah.”

“Tapi kalau mereka benar?”

Kael menarik napas perlahan. “Aku belum mengenalmu cukup lama untuk memutuskan apakah kau berbahaya.”

Aelora menunggu.

“Namun aku tidak membunuh anak-anak hanya karena orang dewasa takut kepada mereka.”

Jawaban itu tidak sempurna. Kael tidak berjanji akan selalu melindunginya. Ia juga tidak mengatakan Aelora aman.

Aneh, tetapi justru itu yang membuatnya terdengar dapat dipercaya.

Jalan mulai menurun. Di depan mereka tampak cahaya dari beberapa lentera ungu. Sebuah kereta hitam berhenti di bawah pohon besar, dijaga empat prajurit Nocthara. Mereka mengenakan zirah gelap dan membawa tombak pendek.

Ketika melihat Kael kembali bersama seorang anak manusia, keempatnya menunjukkan reaksi yang berbeda.

Prajurit pertama menjatuhkan tombaknya.

Prajurit kedua refleks menghunus pedang.

Prajurit ketiga membungkuk terlalu cepat sampai tanduknya membentur pintu kereta.

Yang terakhir hanya menatap Aelora, lalu menatap Kael, lalu kembali melihat Aelora.

“Yang Mulia,” katanya hati-hati, “apakah itu… anak?”

Kael turun dari kuda. “Pengamatan yang bagus.”

Prajurit itu menutup mulut.

Kael mengangkat Aelora dari pelana. Saat kakinya menyentuh tanah, nyeri di pergelangan kanan membuatnya meringis.

Kael langsung melihatnya.

“Tabib.”

Seorang perempuan keluar dari dalam kereta. Rambutnya merah gelap, diikat tinggi agar tidak mengganggu. Ia mengenakan mantel abu-abu dan membawa tas kulit besar.

Perempuan itu berhenti ketika melihat Aelora.

“Dari mana Anda mendapatkan anak manusia?”

“Hutan.”

“Seperti memungut jamur?”

“Dia terluka.”

Perempuan itu menatap Kael seolah memiliki banyak pertanyaan, tetapi memilih menyimpannya. Ia berlutut dan membuka tas.

“Namaku Eirna,” katanya kepada Aelora. “Aku tabib. Boleh kulihat kakimu?”

Aelora memandang Kael lebih dulu.

Eirna memperhatikan gerakan kecil itu, lalu melirik sang raja.

Kael mengangguk. “Dia tidak akan menyakitimu.”

Aelora membiarkan Eirna memeriksanya.

Luka di tumit dibersihkan dengan cairan yang terasa dingin. Pergelangan kaki kanannya dibalut kain hitam. Eirna juga menemukan memar di lengan dan luka kecil di bawah rambutnya.

“Dia demam,” kata Eirna setelah menyentuh dahi Aelora.

“Aku tidak demam,” bantah Aelora.

“Kau panas.”

“Aku kedinginan.”

“Keduanya bisa terjadi bersamaan.”

Eirna membuka mantel Kael sedikit untuk memeriksa lehernya. Gerakannya berhenti ketika melihat tanda hitam di pergelangan Aelora.

“Apa ini?”

“Katanya kutukan,” jawab Aelora.

Eirna mengusap tanda itu menggunakan ibu jari. Garis hitam di bawah kulit langsung bergerak.

Tabib itu menarik tangannya.

“Aku perlu memeriksanya di istana.”

“Sangat buruk?” tanya Kael.

“Aku tidak tahu.”

“Aku membayar tabib agar mereka tahu.”

“Anda membayar tabib agar kami mencari tahu sebelum memberikan jawaban yang salah.”

Kael tampaknya tidak puas, tetapi tidak melanjutkan perdebatan.

Eirna menatap boneka kelinci yang masih dipeluk Aelora. “Boleh kulihat juga?”

Aelora menggeleng.

“Hanya sebentar.”

“Tidak.”

“Bisa saja ada rune yang disembunyikan di dalamnya.”

“Piko tidak berbahaya.”

Kael berdiri di dekat pintu kereta. “Biarkan dia menyimpannya.”

Eirna mengangkat alis. “Yang Mulia, seorang anak manusia ditemukan dengan tanda yang tidak dikenal di tengah hutan. Barang yang dibawanya harus diperiksa.”

Aelora memeluk Piko sampai kapas dari perutnya semakin keluar.

Kael melihat tangannya yang gemetar.

“Periksa nanti,” katanya. “Tidak sekarang.”

Eirna menutup tas dengan gerakan sedikit lebih keras daripada perlu. “Baik.”

Kael membantu Aelora masuk ke kereta.

Bagian dalamnya hangat dan tidak terlalu luas. Ada dua bangku berlapis kulit, sebuah meja kecil, selimut, dan lampu rune yang bergantung di langit-langit.

Aelora duduk dekat jendela. Ia masih mengenakan mantel Kael, sehingga tubuhnya hampir tenggelam di antara lipatan kain.

Kael duduk berhadapan dengannya. Eirna mengambil tempat di samping, sementara Milo—kucing bayangan yang sejak tadi mengikuti—muncul sebentar di bawah kereta sebelum kembali menghilang.

Kereta mulai bergerak.

Aelora memandang Hutan Hitam melalui jendela. Pohon-pohon bergeser perlahan, lalu tenggelam dalam kabut.

Hari itu seharusnya menjadi awal dari sepuluh tahun penderitaan.

Namun sekarang ia duduk di kereta Raja Iblis.

Kael belum mengenalnya. Nocthara belum menerimanya. Masa depan belum benar-benar berubah.

Tetapi untuk pertama kalinya, jalan di hadapannya tidak sama dengan yang pernah dilalui.

Kelopak matanya mulai terasa berat.

Eirna memberi secangkir minuman hangat yang rasanya pahit. Aelora meminumnya tanpa protes, lalu menyandarkan kepala pada dinding kereta.

Boneka Piko tetap berada dalam pelukannya.

“Tidurlah,” kata Kael. “Perjalanannya masih panjang.”

Aelora menatapnya melalui mata yang setengah tertutup. “Kau tidak akan pergi saat aku tidur?”

Kael tampak tidak siap menerima pertanyaan itu.

“Aku ada di kereta yang sama.”

“Itu bukan jawaban.”

Kael menghela napas. “Aku tidak akan pergi.”

Aelora mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian napasnya menjadi teratur.

Kael menoleh kepada Eirna. “Apa pendapatmu?”

“Tubuhnya kekurangan makan. Ada bekas hukuman lama di punggung dan lengannya. Demamnya mungkin karena terpapar hujan, mungkin juga karena tanda itu.”

“Bisakah tanda tersebut dibuang?”

“Kalau itu kutukan, mungkin.”

“Kalau bukan?”

Eirna memandang pergelangan tangan Aelora yang tersembunyi di balik mantel.

“Kalau bukan, saya harus tahu apa yang sebenarnya berusaha disembunyikannya.”

Di luar jendela, kabut hutan menebal.

Aelora tertidur tanpa mendengar percakapan mereka.

Ia juga tidak melihat jahitan pada perut boneka kelincinya bergerak sendiri.

Mata kancing Piko berputar perlahan ke arah Kael.

Kemudian, dari dalam tubuh boneka yang rusak itu, keluar suara rendah seorang lelaki.

Suara yang lebih berat dan jauh lebih lelah daripada suara Kael sekarang.

“Jangan bawa dia ke istana.”

Kael langsung menoleh.

Boneka itu melanjutkan dengan suaranya sendiri—suara Kael dari masa depan.

“Kau akan membunuhnya lagi.”

Episodes
1 Hari Aku Dibuang
2 Boneka Rusak di Hutan Hitam
3 Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil
4 Tanda Hitam di Pergelangan
5 Putri Kecil Tidak Resmi
6 Makanan Pertama di Dunia Iblis
7 Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
8 Anak yang Mengingat Akhir Dunia
9 Pemburu di Perbatasan
10 Nama Baru dari Raja Iblis
11 Kamar yang Terlalu Besar
12 Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis
13 Ryn yang Tidak Suka Putri Baru
14 Surat dari Dunia Manusia
15 Janji yang Dibuat Tujuh Tahun Lalu
16 Bayangan Kedua Orin
17 Suara Ayah dari Balik Cermin
18 Utusan dari Langit
19 Gerbang di Bawah Kaki Putri
20 Ayah Angkat
21 Anak Kutukan Menyentuh Luka
22 Ruang Penyembuhan Terkunci
23 Milo si Kucing Bayangan
24 Ujian Darah
25 Kael Melanggar Hukum Sendiri
26 Lagu dari Masa Depan
27 Serangan di Ruang Anak
28 Laporan Rahasia Tabib
29 Putri Kecil di Balik Tirai
30 Menara yang Mengingat Masa Depan
31 Jejak Cahaya di Salju Hitam
32 Sebelum Bulan Ketiga Terbit
33 Bulan Ketiga Adalah Kunci
34 Mirael di Bawah Takhta
35 Pecahan Terakhir dari Waktu Mati
36 Mata di Dalam Lucien
37 Rantai yang Mengikat Nama
38 Pintu Kedelapan
39 Nama yang Tidak Diberikan Langit
40 Nama yang Dipilih Sendiri
41 Perempuan di Dalam Namaku
42 Anak yang Dihapus dari Waktu
43 Ribuan Aelora yang Tidak Pernah Hidup
44 Jangan Ambil Adikku
45 Raja yang Ditinggalkan di Luar Gerbang
46 Kakak yang Dibakar Menjadi Abu
47 Tubuh yang Disembunyikan di Bawah Kerajaan
48 Anak yang Memanggilku Ibu
49 Nama Pertama yang Membelah Dunia
50 Varael yang Tidak Pernah Menjadi Anak
51 Istana yang Mulai Mengingat
52 Ingatan yang Tidak Punya Saksi
53 Lagu yang Tidak Lagi Dikenal
54 Anak-Anak yang Tidak Sempat Pulang
55 Ibu yang Tidak Pernah Melahirkanku
56 Api yang Menuntut Pewarisnya
57 Dua Kerajaan dalam Satu Istana
58 Tubuh Bukan Kursi
59 Nama yang Pernah Dijadikan Takhta
60 Saksi yang Tidak Pernah Memilih
61 Saudara yang Ditinggalkan di Dalam Takhta
62 Kerajaan yang Dibangun di Atas Mulut
63 Sayap yang Dicabut dari Namanya
64 Anak yang Tidak Pernah Dibuang
65 Tujuh Pilihan Seorang Anak
66 Nama yang Dikembalikan Tanpa Izin
67 Nama yang Menolak Kembali
68 Ibu yang Menunggu di Luar Dunia
69 Malam yang Tidak Memberi Pagi
70 Pagi yang Harus Dibuat
71 Kemarin yang Dicuri dari Veyr
72 Mata yang Tinggal di Dalam Jantung
73 Jendela yang Tidak Pernah Memberi Izin
74 Rumah yang Tidak Cukup untuk Semua
75 Wadah yang Menemukan Jalan
76 Anak Sebelum Aelora
77 Solara Tidak Boleh Keluar
78 Anak yang Tidak Dibawa
79 Dunia yang Belum Mati
80 Ibu yang Memakan Akhir Dunia
81 Jangan Biarkan Matahari Tenggelam
82 Tamu dari Luar Dunia
83 Mahkota yang Memilih
84 Musuh yang Ikut Menanggung
85 Musuh yang Ikut Menanggung
86 Varion yang Pertama
87 Dua Ratus Tiga Belas Nama yang Sama
88 Tubuh yang Tidak Boleh Dipakai
89 Timeline yang Menolak Selesai
90 Bagian yang Tetap Tinggal
91 Surat yang Ditulis Sebelum Lahir
92 Kristal yang Bernapas
93 Kael Mengaku Dosa Lama
94 Milo Mengingat
95 Perjalanan ke Kuil Sayap Patah
96 Lukisan Keluarga yang Dihapus
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Hari Aku Dibuang
2
Boneka Rusak di Hutan Hitam
3
Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil
4
Tanda Hitam di Pergelangan
5
Putri Kecil Tidak Resmi
6
Makanan Pertama di Dunia Iblis
7
Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
8
Anak yang Mengingat Akhir Dunia
9
Pemburu di Perbatasan
10
Nama Baru dari Raja Iblis
11
Kamar yang Terlalu Besar
12
Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis
13
Ryn yang Tidak Suka Putri Baru
14
Surat dari Dunia Manusia
15
Janji yang Dibuat Tujuh Tahun Lalu
16
Bayangan Kedua Orin
17
Suara Ayah dari Balik Cermin
18
Utusan dari Langit
19
Gerbang di Bawah Kaki Putri
20
Ayah Angkat
21
Anak Kutukan Menyentuh Luka
22
Ruang Penyembuhan Terkunci
23
Milo si Kucing Bayangan
24
Ujian Darah
25
Kael Melanggar Hukum Sendiri
26
Lagu dari Masa Depan
27
Serangan di Ruang Anak
28
Laporan Rahasia Tabib
29
Putri Kecil di Balik Tirai
30
Menara yang Mengingat Masa Depan
31
Jejak Cahaya di Salju Hitam
32
Sebelum Bulan Ketiga Terbit
33
Bulan Ketiga Adalah Kunci
34
Mirael di Bawah Takhta
35
Pecahan Terakhir dari Waktu Mati
36
Mata di Dalam Lucien
37
Rantai yang Mengikat Nama
38
Pintu Kedelapan
39
Nama yang Tidak Diberikan Langit
40
Nama yang Dipilih Sendiri
41
Perempuan di Dalam Namaku
42
Anak yang Dihapus dari Waktu
43
Ribuan Aelora yang Tidak Pernah Hidup
44
Jangan Ambil Adikku
45
Raja yang Ditinggalkan di Luar Gerbang
46
Kakak yang Dibakar Menjadi Abu
47
Tubuh yang Disembunyikan di Bawah Kerajaan
48
Anak yang Memanggilku Ibu
49
Nama Pertama yang Membelah Dunia
50
Varael yang Tidak Pernah Menjadi Anak
51
Istana yang Mulai Mengingat
52
Ingatan yang Tidak Punya Saksi
53
Lagu yang Tidak Lagi Dikenal
54
Anak-Anak yang Tidak Sempat Pulang
55
Ibu yang Tidak Pernah Melahirkanku
56
Api yang Menuntut Pewarisnya
57
Dua Kerajaan dalam Satu Istana
58
Tubuh Bukan Kursi
59
Nama yang Pernah Dijadikan Takhta
60
Saksi yang Tidak Pernah Memilih
61
Saudara yang Ditinggalkan di Dalam Takhta
62
Kerajaan yang Dibangun di Atas Mulut
63
Sayap yang Dicabut dari Namanya
64
Anak yang Tidak Pernah Dibuang
65
Tujuh Pilihan Seorang Anak
66
Nama yang Dikembalikan Tanpa Izin
67
Nama yang Menolak Kembali
68
Ibu yang Menunggu di Luar Dunia
69
Malam yang Tidak Memberi Pagi
70
Pagi yang Harus Dibuat
71
Kemarin yang Dicuri dari Veyr
72
Mata yang Tinggal di Dalam Jantung
73
Jendela yang Tidak Pernah Memberi Izin
74
Rumah yang Tidak Cukup untuk Semua
75
Wadah yang Menemukan Jalan
76
Anak Sebelum Aelora
77
Solara Tidak Boleh Keluar
78
Anak yang Tidak Dibawa
79
Dunia yang Belum Mati
80
Ibu yang Memakan Akhir Dunia
81
Jangan Biarkan Matahari Tenggelam
82
Tamu dari Luar Dunia
83
Mahkota yang Memilih
84
Musuh yang Ikut Menanggung
85
Musuh yang Ikut Menanggung
86
Varion yang Pertama
87
Dua Ratus Tiga Belas Nama yang Sama
88
Tubuh yang Tidak Boleh Dipakai
89
Timeline yang Menolak Selesai
90
Bagian yang Tetap Tinggal
91
Surat yang Ditulis Sebelum Lahir
92
Kristal yang Bernapas
93
Kael Mengaku Dosa Lama
94
Milo Mengingat
95
Perjalanan ke Kuil Sayap Patah
96
Lukisan Keluarga yang Dihapus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!