Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil

Kael tidak langsung bergerak.

Boneka kelinci di pelukan Aelora baru saja berbicara menggunakan suaranya—lebih tua, lebih serak, dan terdengar seperti seseorang yang telah melewati terlalu banyak malam tanpa tidur.

Eirna membeku dengan botol obat masih di tangan.

“Kau mendengarnya?” tanya Kael.

“Saya berharap tidak.”

Mata kancing boneka itu kembali diam. Jahitan di perutnya berhenti bergerak. Jika Kael tidak mendengar sendiri, benda tersebut akan terlihat seperti mainan buruk yang kebetulan dibawa seorang anak dari hutan.

Kael mengulurkan tangan.

Sebelum jarinya menyentuh telinga boneka, Aelora menggeliat dalam tidur dan menarik Piko lebih erat ke dadanya.

“Jangan,” gumamnya.

Kael berhenti.

“Aelora.”

Anak itu tidak membuka mata.

“Kau akan membangunkannya,” kata Eirna.

“Itu boneka baru saja mengancamku dengan suaraku sendiri.”

“Secara teknis, ia memperingatkan Anda.”

“Perbedaannya tidak banyak.”

Eirna menyimpan kembali botol obatnya. “Kita bisa memeriksanya setelah tiba di istana. Di dalam kereta, rune yang salah dapat meledakkan seluruh atap.”

Kael melirik langit-langit kereta.

“Kereta ini seharusnya tahan ledakan.”

“Bukan alasan untuk menguji.”

Boneka itu tidak berbicara lagi.

Kael akhirnya menarik tangannya dan duduk kembali. Tatapannya tetap tertuju pada Piko, seolah sedang menunggu benda itu membuka mulut sekali lagi.

Kau akan membunuhnya lagi.

Bukan membunuhnya.

Membunuhnya lagi.

Kata terakhir itulah yang mengganggunya.

Kael belum pernah melihat anak ini sebelum sore tadi. Setidaknya, ia yakin belum pernah. Wajah kecil Aelora tidak mengingatkannya pada siapa pun, tetapi gelang perak di pergelangan anak itu adalah perkara lain.

Ia pernah melihat gelang serupa bertahun-tahun lalu.

Di tangan Mirael Arvand.

Kael memandang keluar jendela. Hutan bergerak di balik kaca, gelap dan basah. Ia seharusnya hanya memeriksa perbatasan, memastikan kawanan serigala bayangan tidak masuk terlalu dekat ke jalur perdagangan. Tidak ada rencana membawa pulang anak manusia, apalagi anak dengan tanda malaikat dan benda terkutuk yang menggunakan suaranya.

Namun membiarkan Aelora di hutan juga bukan pilihan.

“Yang Mulia,” kata Eirna pelan, “Anda mengenali gelangnya?”

Kael tidak menoleh. “Tidak.”

“Jawaban Anda terlalu cepat.”

“Aku tidak membayar tabib untuk menginterogasiku.”

“Saya juga tidak dibayar cukup untuk menangani boneka yang berbicara dengan suara masa depan.”

Kael menatapnya.

Eirna mengangkat kedua tangan. “Baik. Saya diam.”

Kereta terus bergerak.

Tidak lama kemudian, pohon-pohon mulai jarang. Kabut menipis dan memperlihatkan dinding batu hitam yang membentang di sepanjang perbatasan Nocthara. Menara-menara penjaga berdiri pada jarak tertentu, masing-masing diterangi api ungu.

Penjaga gerbang sudah membuka jalan sebelum kereta tiba.

Mereka membungkuk ketika lambang kerajaan terlihat pada pintu, lalu mengangkat kepala saat salah seorang prajurit pengiring berbisik bahwa Raja membawa seorang anak manusia.

Kabar itu bergerak lebih cepat daripada kereta.

Di pos kedua, lima penjaga berdiri berdesakan untuk mengintip ke jendela. Pada pos ketiga, seorang kapten datang bersama dua penyihir pertahanan dan sebuah tombak yang biasanya digunakan untuk menangkap binatang suci.

Kael membuka jendela sedikit.

“Apa yang kalian lakukan?”

Kapten itu menegakkan punggung. Tanduk kirinya belum tumbuh sempurna dan tampak lebih pendek daripada tanduk kanan.

“Kami menerima laporan bahwa ada manusia di dalam kereta, Yang Mulia.”

“Laporan itu benar.”

“Manusia kecil.”

“Masih benar.”

Kapten tersebut menatap ke balik bahu Kael. Ia berhasil melihat ujung rambut basah Aelora dan telinga boneka hitam yang muncul dari balik mantel.

“Apakah dia tahanan?”

“Tidak.”

“Upeti?”

“Tidak.”

“Bahan pemeriksaan?”

Eirna menutup wajah dengan telapak tangan.

Kael memandang kapten itu sampai warna wajahnya berubah.

“Dia anak-anak,” kata Kael.

“Ya, Yang Mulia.”

“Anak-anak bukan bahan pemeriksaan.”

“Tentu. Saya hanya—”

“Dan simpan tombak itu sebelum dia bangun dan mengira Nocthara sama buruknya dengan manusia.”

Kapten itu buru-buru memberi isyarat kepada bawahannya. Tombak panjang tersebut disembunyikan di belakang pos, meski ujungnya masih terlihat dari samping dinding.

Kereta melanjutkan perjalanan.

Eirna bersandar dan menghela napas. “Saat tiba di istana, seluruh pelayan pasti sudah mendengar.”

“Bagus. Mereka bisa menyiapkan kamar.”

“Kamar mana?”

Kael berpikir sejenak.

Istana Bulan Merah memiliki ratusan kamar, tetapi sebagian besar tidak pernah digunakan. Kamar tamu terlalu dekat dengan ruang dewan. Sayap timur sedang direnovasi setelah salah satu gargoyle atap jatuh dan menghancurkan tiga jendela. Sayap utara terlalu dingin bagi anak manusia.

“Kamar dekat taman dalam,” katanya.

Eirna menoleh. “Kamar keluarga kerajaan?”

“Letaknya paling hangat.”

“Dewan akan bertanya.”

“Dewan selalu bertanya.”

“Dan Anda selalu marah ketika mereka bertanya.”

“Mereka seharusnya belajar.”

Aelora bergerak lagi.

Dahinya berkerut. Napas yang tadi tenang berubah pendek-pendek. Tangannya mencengkeram tubuh boneka sampai buku-buku jarinya memutih.

“Tidak,” gumamnya. “Jangan buka.”

Eirna segera berpindah tempat dan menyentuh dahinya.

“Demamnya naik.”

Kael melihat butir keringat di pelipis Aelora, meski tubuhnya masih menggigil.

“Apa yang dia lihat?”

“Mungkin mimpi buruk.”

Aelora menggeleng di dalam tidur.

“Gerbangnya… tutup gerbangnya.”

Kael menegang.

Eirna menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa.

Aelora mulai meronta. Mantel di tubuhnya terlepas dari salah satu bahu. Garis hitam di pergelangan tangannya bersinar, lalu cahaya tipis merambat sampai ke siku.

Eirna mengambil ramuan penenang.

Sebelum sempat memberikannya, Aelora terbangun.

Ia menarik napas panjang, lalu memandang sekeliling dengan panik. Butuh beberapa detik sampai matanya mengenali bagian dalam kereta.

“Tenang,” kata Eirna. “Kau hanya bermimpi.”

Aelora tidak menjawab. Pandangannya langsung mencari Kael.

Ia masih ada.

Duduk di tempat yang sama, dengan satu tangan pada lutut dan wajah yang berusaha terlihat biasa saja.

Aelora menunduk pada Piko. Boneka itu tidak bergerak.

“Apa kita sudah sampai?”

“Belum,” jawab Kael. “Sebentar lagi.”

Aelora memperhatikan mantel yang menutupi tubuhnya. “Maaf.”

“Untuk apa?”

“Mantelmu kotor.”

Kael melihat bekas lumpur pada ujung kain. “Bisa dicuci.”

“Orang-orang di rumah lama marah kalau aku mengotori barang.”

“Orang-orang di rumah lamamu tampaknya mudah marah.”

Aelora memikirkan itu, lalu mengangguk.

Eirna menyodorkan cangkir. “Minum sedikit.”

“Apa itu?”

“Air.”

Aelora mencium isinya terlebih dahulu.

Eirna memandang Kael, lalu kembali menatap anak tersebut. “Benar-benar hanya air.”

Aelora minum dua teguk.

“Apakah Piko berbicara?” tanyanya tiba-tiba.

Kael dan Eirna saling pandang.

“Kenapa kau menanyakan itu?” ujar Kael.

Aelora meneliti wajah mereka. “Berarti dia bicara.”

“Kau tahu bonekamu bisa berbicara?”

“Kadang-kadang.”

Eirna mengerutkan dahi. “Sejak kapan?”

“Di hutan.”

“Apa yang dia katakan?”

Aelora ragu. “Hal-hal aneh.”

“Seperti apa?”

“Dia pernah menyuruhku lari.”

“Dengan suara siapa?”

Aelora memegang telinga boneka yang hampir putus. “Aku tidak tahu.”

Kael mencondongkan tubuh sedikit. “Tadi dia menggunakan suaraku.”

Aelora berhenti mengelus Piko.

Ia tidak tampak terkejut. Justru itulah yang membuat Kael semakin curiga.

“Apa yang dikatakannya?” tanya Aelora.

Kael tidak langsung menjawab. “Dia menyuruhku tidak membawamu ke istana.”

Wajah Aelora memucat.

“Lalu?”

“Katanya aku akan membunuhmu lagi.”

Roda kereta menghantam batu. Tubuh Aelora bergeser sedikit, tetapi ia tidak bereaksi. Tatapannya tertuju pada boneka di tangannya.

“Dia berbohong,” katanya.

“Kau terlihat seperti sedang meyakinkan dirimu sendiri.”

Aelora mengangkat wajah. “Kau tidak membunuhku.”

“Benda itu berkata lain.”

“Kau tidak membunuhku,” ulangnya, lebih keras.

Kael memperhatikan mata ungunya. Ada ketakutan di sana, tetapi bukan ketakutan seorang anak yang baru mendengar ancaman. Itu lebih mirip ketakutan seseorang yang sedang menjaga rahasia agar tidak jatuh dari mulutnya.

“Kita pernah bertemu?” tanya Kael.

Aelora menggeleng.

“Pikirkan baik-baik.”

“Aku belum pernah ke Nocthara.”

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Aelora menunduk lagi.

Kereta mulai menanjak. Dari balik jendela, Istana Bulan Merah akhirnya terlihat di kejauhan. Bangunan itu berdiri di atas bukit batu, dikelilingi menara tinggi dan dinding berlapis. Bulan merah yang belum sepenuhnya muncul tergantung di belakangnya, membuat seluruh istana tampak seperti bayangan besar.

Aelora mengenal setiap menaranya.

Menara barat tempat Ryn pernah bersembunyi setelah dihukum. Balkon kecil dekat perpustakaan tempat Nira menjatuhkan tiga pot bunga karena mencoba mengintip rapat. Jendela tinggi ruang takhta yang kelak pecah saat perang pertama mencapai ibu kota.

Rasa rindu datang begitu cepat hingga dadanya sakit.

Ia kembali.

Belum menjadi rumah, tetapi tetap tempat pertama yang pernah menerima dirinya.

“Menakutkan?” tanya Kael.

Aelora menghapus sudut matanya sebelum air mata jatuh. “Tidak.”

“Kebanyakan manusia menangis saat pertama kali melihat istana.”

“Aku tidak menangis.”

“Matamu basah.”

“Itu karena demam.”

Eirna mengangguk seolah sedang mendukung alasan tersebut. “Demam memang sering membuat mata berair.”

Kael tidak percaya, tetapi membiarkannya.

Kereta melewati jembatan batu. Di bawahnya mengalir sungai berwarna hitam dengan ikan-ikan kecil yang mengeluarkan cahaya biru. Para penjaga di gerbang istana berdiri dalam dua baris.

Begitu pintu kereta dibuka, Aelora mendengar keributan dari halaman.

Puluhan pelayan berkumpul di tangga depan. Mereka berusaha terlihat seperti sedang menjalankan tugas, padahal sebagian membawa benda-benda yang tidak masuk akal.

Seorang pelayan bertanduk membawa nampan penuh daging mentah.

Pelayan lain memegang kandang besi kecil.

Kepala dapur datang bersama panci besar.

Kael turun lebih dulu. “Apa ini?”

Kepala pelayan, lelaki tinggi bernama Orin, membungkuk. “Kami mendengar Yang Mulia membawa anak manusia.”

“Lalu?”

“Kami tidak tahu apa yang dimakan anak manusia.”

Aelora masih duduk di dalam kereta. Ia melihat nampan daging mentah, kemudian panci yang isinya mengeluarkan gelembung hijau.

Kael mengikuti arah pandangnya.

“Singkirkan itu.”

Kepala dapur tampak tersinggung. “Ini sup sumsum naga, Yang Mulia.”

“Dia tujuh tahun.”

“Anak naga memakannya sejak usia tiga.”

“Dia bukan naga.”

Pelayan yang membawa kandang mengangkat tangan ragu-ragu. “Apakah anak manusia perlu dimasukkan ke sini agar tidak menggigit?”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Aku pernah mendengar manusia menggigit kalau ketakutan,” lanjutnya, lalu perlahan menurunkan kandang.

Kael memijat pangkal hidung.

“Raja Iblis tidak makan anak kecil,” katanya kepada seluruh halaman. “Anak kecil juga tidak disimpan dalam kandang. Siapa pun yang menyebarkan cerita lain akan membersihkan kandang chimera selama satu bulan.”

Para pelayan langsung berpencar. Kandang besi menghilang paling cepat.

Kael berbalik ke arah kereta dan mengulurkan tangan.

Aelora menatap telapak tangannya.

Ia dapat turun sendiri. Namun pergelangan kakinya masih sakit, dan halaman dipenuhi mata yang mengawasi.

Akhirnya ia menerima bantuan itu.

Kael mengangkatnya dari kereta. Ia bermaksud menurunkannya setelah kedua kaki Aelora mencapai tanah, tetapi anak itu meringis begitu berat badannya bertumpu pada kaki kanan.

Tanpa berkata apa-apa, Kael mengangkatnya kembali.

Aelora memeluk Piko dengan satu tangan. Tangan lainnya mencengkeram bagian depan pakaian Kael agar tidak jatuh.

Orin memperhatikan dengan mata melebar. Eirna berdeham, memberi isyarat agar ia tidak berkomentar.

Kael membawa Aelora menaiki tangga.

Istana terasa sama seperti dalam ingatannya: lantai hitam mengilap, pilar tinggi, lampu-lampu ungu yang melayang tanpa rantai. Namun sekarang semuanya tampak jauh lebih besar karena ia melihatnya dari tubuh anak tujuh tahun.

Saat memasuki aula utama, dua gargoyle batu di atas pintu menoleh.

Salah satunya mengendus.

“Bau manusia,” katanya.

Gargoyle kedua membuka satu mata. “Kecil sekali.”

“Diam,” ujar Kael.

Kedua patung kembali kaku.

Aelora menahan tawa.

Kael melihatnya. “Apa?”

“Mereka selalu bicara terlalu banyak.”

Langkah Kael berhenti.

Aelora menyadari kesalahannya terlambat.

“Selalu?” tanyanya.

Ia berusaha mencari alasan. “Maksudku… patung bicara biasanya begitu.”

“Berapa banyak patung bicara yang pernah kautemui?”

Aelora menatap bahunya dan berpura-pura tertarik pada sulaman mantel.

Kael kembali berjalan, tetapi ia tidak melupakan jawaban itu.

Mereka melewati tangga besar menuju sayap keluarga kerajaan. Beberapa pelayan mengikuti dari jauh sambil berbisik. Aelora dapat merasakan tatapan mereka pada rambut pucat, pakaian manusia, dan tanda di tangannya.

Semakin banyak mata memandang, semakin erat ia mencengkeram pakaian Kael.

“Kau akan jatuh kalau terus bergerak,” katanya.

“Aku tidak bergerak.”

“Kau gemetar.”

Aelora menarik napas.

Mungkin karena demam. Mungkin juga karena lorong ini membawa terlalu banyak kenangan. Di ujungnya terdapat ruang yang kelak dipakai Kael untuk menyembunyikannya saat istana diserang.

Ruang tempat ia menunggu sampai suara pertempuran berhenti.

Ruang tempat Kael tidak pernah kembali.

Tanpa sadar, Aelora menempelkan wajah pada bahunya.

Kael merasakan kain pakaiannya menjadi basah.

“Aelora?”

Anak itu mencoba menjawab, tetapi tangisnya keluar lebih dulu. Bukan tangisan keras. Hanya sesenggukan kecil yang selama ini berusaha ia tahan sejak ditinggalkan di hutan.

Kael berhenti di tengah lorong.

Para pelayan ikut berhenti.

Ia tampak benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

“Apakah kakimu sakit?”

Aelora menggeleng.

“Demam?”

Ia kembali menggeleng.

“Lalu kenapa menangis?”

Aelora ingin berkata bahwa ia merindukannya. Bahwa di kehidupan lain ia menunggu bertahun-tahun untuk kembali ke lorong ini. Bahwa ia masih mengingat darah Kael di tangannya sendiri.

Namun kalimat yang keluar jauh lebih sederhana.

“Aku takut kau pergi.”

Kael memandang wajah kecil yang tersembunyi di bahunya.

“Aku tidak pergi ke mana-mana.”

“Kau pernah.”

Ucapan itu nyaris tidak terdengar.

“Apa?”

Aelora mengangkat wajah. Air mata memenuhi matanya. Dalam keadaan lelah dan demam, ia lupa bahwa lelaki di depannya belum mengenal panggilan itu.

“Jangan tinggalkan aku lagi, Kae.”

Seluruh lorong mendadak sunyi.

Orin menjatuhkan buku catatannya.

Eirna menoleh cepat kepada Kael.

Wajah Raja Iblis kehilangan seluruh ekspresi.

Tidak ada seorang pun di istana yang memanggilnya Kae.

Tidak ada seorang pun yang masih hidup.

Panggilan itu hanya pernah digunakan oleh satu orang bertahun-tahun lalu.

Mirael Arvand.

Episodes
1 Hari Aku Dibuang
2 Boneka Rusak di Hutan Hitam
3 Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil
4 Tanda Hitam di Pergelangan
5 Putri Kecil Tidak Resmi
6 Makanan Pertama di Dunia Iblis
7 Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
8 Anak yang Mengingat Akhir Dunia
9 Pemburu di Perbatasan
10 Nama Baru dari Raja Iblis
11 Kamar yang Terlalu Besar
12 Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis
13 Ryn yang Tidak Suka Putri Baru
14 Surat dari Dunia Manusia
15 Janji yang Dibuat Tujuh Tahun Lalu
16 Bayangan Kedua Orin
17 Suara Ayah dari Balik Cermin
18 Utusan dari Langit
19 Gerbang di Bawah Kaki Putri
20 Ayah Angkat
21 Anak Kutukan Menyentuh Luka
22 Ruang Penyembuhan Terkunci
23 Milo si Kucing Bayangan
24 Ujian Darah
25 Kael Melanggar Hukum Sendiri
26 Lagu dari Masa Depan
27 Serangan di Ruang Anak
28 Laporan Rahasia Tabib
29 Putri Kecil di Balik Tirai
30 Menara yang Mengingat Masa Depan
31 Jejak Cahaya di Salju Hitam
32 Sebelum Bulan Ketiga Terbit
33 Bulan Ketiga Adalah Kunci
34 Mirael di Bawah Takhta
35 Pecahan Terakhir dari Waktu Mati
36 Mata di Dalam Lucien
37 Rantai yang Mengikat Nama
38 Pintu Kedelapan
39 Nama yang Tidak Diberikan Langit
40 Nama yang Dipilih Sendiri
41 Perempuan di Dalam Namaku
42 Anak yang Dihapus dari Waktu
43 Ribuan Aelora yang Tidak Pernah Hidup
44 Jangan Ambil Adikku
45 Raja yang Ditinggalkan di Luar Gerbang
46 Kakak yang Dibakar Menjadi Abu
47 Tubuh yang Disembunyikan di Bawah Kerajaan
48 Anak yang Memanggilku Ibu
49 Nama Pertama yang Membelah Dunia
50 Varael yang Tidak Pernah Menjadi Anak
51 Istana yang Mulai Mengingat
52 Ingatan yang Tidak Punya Saksi
53 Lagu yang Tidak Lagi Dikenal
54 Anak-Anak yang Tidak Sempat Pulang
55 Ibu yang Tidak Pernah Melahirkanku
56 Api yang Menuntut Pewarisnya
57 Dua Kerajaan dalam Satu Istana
58 Tubuh Bukan Kursi
59 Nama yang Pernah Dijadikan Takhta
60 Saksi yang Tidak Pernah Memilih
61 Saudara yang Ditinggalkan di Dalam Takhta
62 Kerajaan yang Dibangun di Atas Mulut
63 Sayap yang Dicabut dari Namanya
64 Anak yang Tidak Pernah Dibuang
65 Tujuh Pilihan Seorang Anak
66 Nama yang Dikembalikan Tanpa Izin
67 Nama yang Menolak Kembali
68 Ibu yang Menunggu di Luar Dunia
69 Malam yang Tidak Memberi Pagi
70 Pagi yang Harus Dibuat
71 Kemarin yang Dicuri dari Veyr
72 Mata yang Tinggal di Dalam Jantung
73 Jendela yang Tidak Pernah Memberi Izin
74 Rumah yang Tidak Cukup untuk Semua
75 Wadah yang Menemukan Jalan
76 Anak Sebelum Aelora
77 Solara Tidak Boleh Keluar
78 Anak yang Tidak Dibawa
79 Dunia yang Belum Mati
80 Ibu yang Memakan Akhir Dunia
81 Jangan Biarkan Matahari Tenggelam
82 Tamu dari Luar Dunia
83 Mahkota yang Memilih
84 Musuh yang Ikut Menanggung
85 Musuh yang Ikut Menanggung
86 Varion yang Pertama
87 Dua Ratus Tiga Belas Nama yang Sama
88 Tubuh yang Tidak Boleh Dipakai
89 Timeline yang Menolak Selesai
90 Bagian yang Tetap Tinggal
91 Surat yang Ditulis Sebelum Lahir
92 Kristal yang Bernapas
93 Kael Mengaku Dosa Lama
94 Milo Mengingat
95 Perjalanan ke Kuil Sayap Patah
96 Lukisan Keluarga yang Dihapus
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Hari Aku Dibuang
2
Boneka Rusak di Hutan Hitam
3
Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil
4
Tanda Hitam di Pergelangan
5
Putri Kecil Tidak Resmi
6
Makanan Pertama di Dunia Iblis
7
Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
8
Anak yang Mengingat Akhir Dunia
9
Pemburu di Perbatasan
10
Nama Baru dari Raja Iblis
11
Kamar yang Terlalu Besar
12
Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis
13
Ryn yang Tidak Suka Putri Baru
14
Surat dari Dunia Manusia
15
Janji yang Dibuat Tujuh Tahun Lalu
16
Bayangan Kedua Orin
17
Suara Ayah dari Balik Cermin
18
Utusan dari Langit
19
Gerbang di Bawah Kaki Putri
20
Ayah Angkat
21
Anak Kutukan Menyentuh Luka
22
Ruang Penyembuhan Terkunci
23
Milo si Kucing Bayangan
24
Ujian Darah
25
Kael Melanggar Hukum Sendiri
26
Lagu dari Masa Depan
27
Serangan di Ruang Anak
28
Laporan Rahasia Tabib
29
Putri Kecil di Balik Tirai
30
Menara yang Mengingat Masa Depan
31
Jejak Cahaya di Salju Hitam
32
Sebelum Bulan Ketiga Terbit
33
Bulan Ketiga Adalah Kunci
34
Mirael di Bawah Takhta
35
Pecahan Terakhir dari Waktu Mati
36
Mata di Dalam Lucien
37
Rantai yang Mengikat Nama
38
Pintu Kedelapan
39
Nama yang Tidak Diberikan Langit
40
Nama yang Dipilih Sendiri
41
Perempuan di Dalam Namaku
42
Anak yang Dihapus dari Waktu
43
Ribuan Aelora yang Tidak Pernah Hidup
44
Jangan Ambil Adikku
45
Raja yang Ditinggalkan di Luar Gerbang
46
Kakak yang Dibakar Menjadi Abu
47
Tubuh yang Disembunyikan di Bawah Kerajaan
48
Anak yang Memanggilku Ibu
49
Nama Pertama yang Membelah Dunia
50
Varael yang Tidak Pernah Menjadi Anak
51
Istana yang Mulai Mengingat
52
Ingatan yang Tidak Punya Saksi
53
Lagu yang Tidak Lagi Dikenal
54
Anak-Anak yang Tidak Sempat Pulang
55
Ibu yang Tidak Pernah Melahirkanku
56
Api yang Menuntut Pewarisnya
57
Dua Kerajaan dalam Satu Istana
58
Tubuh Bukan Kursi
59
Nama yang Pernah Dijadikan Takhta
60
Saksi yang Tidak Pernah Memilih
61
Saudara yang Ditinggalkan di Dalam Takhta
62
Kerajaan yang Dibangun di Atas Mulut
63
Sayap yang Dicabut dari Namanya
64
Anak yang Tidak Pernah Dibuang
65
Tujuh Pilihan Seorang Anak
66
Nama yang Dikembalikan Tanpa Izin
67
Nama yang Menolak Kembali
68
Ibu yang Menunggu di Luar Dunia
69
Malam yang Tidak Memberi Pagi
70
Pagi yang Harus Dibuat
71
Kemarin yang Dicuri dari Veyr
72
Mata yang Tinggal di Dalam Jantung
73
Jendela yang Tidak Pernah Memberi Izin
74
Rumah yang Tidak Cukup untuk Semua
75
Wadah yang Menemukan Jalan
76
Anak Sebelum Aelora
77
Solara Tidak Boleh Keluar
78
Anak yang Tidak Dibawa
79
Dunia yang Belum Mati
80
Ibu yang Memakan Akhir Dunia
81
Jangan Biarkan Matahari Tenggelam
82
Tamu dari Luar Dunia
83
Mahkota yang Memilih
84
Musuh yang Ikut Menanggung
85
Musuh yang Ikut Menanggung
86
Varion yang Pertama
87
Dua Ratus Tiga Belas Nama yang Sama
88
Tubuh yang Tidak Boleh Dipakai
89
Timeline yang Menolak Selesai
90
Bagian yang Tetap Tinggal
91
Surat yang Ditulis Sebelum Lahir
92
Kristal yang Bernapas
93
Kael Mengaku Dosa Lama
94
Milo Mengingat
95
Perjalanan ke Kuil Sayap Patah
96
Lukisan Keluarga yang Dihapus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!