Putri Kecil Tidak Resmi

Ketika Aelora membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna ungu tua.

Butuh beberapa detik sebelum ia ingat bahwa langit-langit rumah lama tidak pernah memiliki ukiran bulan sabit. Rumah lama juga tidak mempunyai tirai setebal itu, perapian yang menyala sendiri, atau bantal yang terasa seperti menelan kepalanya.

Ia berada di Istana Bulan Merah.

Di Nocthara.

Dan Kael masih hidup.

Aelora menoleh cepat ke sisi ranjang.

Sebuah kursi diletakkan dekat jendela. Kael duduk di sana dengan kepala bersandar pada tangan, tampak seperti seseorang yang sedang menunggu sekaligus menyesali keputusannya untuk menunggu. Di atas meja kecil di sampingnya terdapat tiga gulungan surat, satu cangkir yang sudah tidak beruap, serta sepotong kain hitam yang terbakar di ujungnya.

Bekas rantai dari ruang penyembuhan.

Aelora mengangkat tangan kirinya.

Tanda hitam di pergelangan masih ada, tetapi bentuknya tidak lagi menyerupai akar. Garis-garis tipis itu melengkung seperti sayap yang dilipat. Di tengahnya terdapat lingkaran kecil berwarna pucat.

Ia mengusapnya menggunakan ibu jari.

“Jangan.”

Kael tidak mengangkat kepala, tetapi suaranya membuat Aelora segera berhenti.

“Kau bangun?”

“Tidak. Aku sedang berbicara dalam tidur.”

Aelora menatapnya beberapa saat, mencoba memastikan apakah itu lelucon. Wajah Kael tetap datar.

“Kau seharusnya lebih lucu kalau mau bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

“Itu lebih buruk.”

Kael akhirnya mengangkat kepala. Ada bayangan lelah di bawah matanya. Rambutnya sedikit berantakan, dan kancing paling atas pakaiannya terbuka. Aelora belum pernah melihat Raja Iblis tampak begitu tidak rapi di depan orang lain.

“Kepalamu sakit?” tanyanya.

“Sedikit.”

“Punggung?”

“Tidak.”

“Pergelangan?”

Aelora melihat tandanya lagi. “Hangat.”

Kael langsung berdiri.

“Bukan panas,” tambah Aelora cepat. “Hanya hangat.”

Ia tetap mendekat dan menyentuh bagian dalam pergelangan Aelora menggunakan dua jari. Tidak ada cahaya yang muncul kali ini. Hanya denyut kecil di bawah kulit.

“Aku akan memanggil Eirna.”

“Aku baru bangun.”

“Justru itu.”

“Aku tidak mau diperiksa lagi.”

Kael berhenti di tengah langkah. “Dia hanya akan melihat keadaanmu.”

“Semua pemeriksaan selalu mulai dari melihat.”

“Aelora.”

“Aku masih capek.”

Kael memperhatikan wajahnya cukup lama, kemudian kembali duduk. “Baik. Lima menit.”

“Sepuluh.”

“Lima.”

“Tujuh.”

Kael menyipitkan mata.

Aelora menarik selimut sampai ke dagu. “Enam?”

“Lima.”

“Raja Iblis pelit sekali.”

“Kau baru mengenalku satu hari.”

Aelora memandang cangkir dingin di meja. “Kau tidur di sini?”

“Tidak.”

“Kursinya ada selimut.”

Kael melirik selimut tipis yang terlipat tidak rapi di sandaran. “Orin membawanya.”

“Bantalnya juga?”

“Eirna.”

“Dan cangkir itu?”

Kael tidak menjawab.

Aelora tersenyum kecil. “Kau tidur di sini.”

“Aku memejamkan mata beberapa menit.”

“Itu namanya tidur.”

“Tidak kalau dilakukan sambil tetap mendengar penjaga di lorong.”

“Berarti kau mendengkur sambil berjaga?”

Kael memandangnya tajam.

Aelora menutup mulut, tetapi senyumnya tidak hilang.

Pintu kamar diketuk.

Tanpa menunggu jawaban, Eirna masuk membawa nampan obat. Di belakangnya berjalan Orin dengan setumpuk pakaian anak yang tingginya hampir menutupi wajah.

“Bagus, Anda sudah sadar,” kata Eirna. “Bagaimana rasanya?”

“Seperti baru bangun.”

“Jawaban yang tidak membantu.”

“Kael juga bilang begitu.”

Eirna meletakkan nampan di meja. “Yang Mulia, Dewan Bulan menunggu di ruang sidang.”

“Biarkan mereka menunggu.”

“Mereka sudah menunggu sejak pagi.”

“Berarti mereka terlatih.”

Orin menurunkan tumpukan pakaian ke atas kursi lain. “Maaf, Yang Mulia, tetapi Lord Sevran mengancam akan memasuki sayap keluarga tanpa izin.”

Kael berdiri. “Dia boleh mencoba.”

Orin membuka buku catatannya. “Apakah saya perlu menambah jumlah penjaga di pintu?”

“Tidak. Kurangi.”

Aelora menatapnya. “Kenapa dikurangi?”

“Supaya Sevran lebih percaya diri.”

Eirna memejamkan mata sebentar. “Membunuh anggota dewan di depan kamar anak bukan keputusan yang baik.”

“Aku tidak mengatakan akan membunuhnya.”

“Anda juga tidak mengatakan tidak.”

Kael mengambil salah satu gulungan surat dari meja. Segel lilin hitam di ujungnya sudah patah. Ia membaca beberapa baris, lalu meremas kertas itu sampai bentuknya tidak dapat dikenali.

Aelora memperhatikan wajahnya. “Mereka membicarakanku?”

Tidak ada yang menjawab.

Itu sudah menjadi jawaban.

Aelora duduk lebih tegak. Gerakan itu membuat kepalanya sedikit berputar, tetapi ia menahannya agar Eirna tidak langsung menyuruhnya berbaring.

“Apa yang mereka mau?”

Kael memasukkan surat kusut ke dalam perapian. Api menelannya dengan cepat. “Mereka ingin penjelasan.”

“Tentang tandaku?”

“Dan keberadaanmu di istana.”

“Kalau begitu aku ikut.”

“Tidak.”

“Aku yang dibicarakan.”

“Kau sedang sakit.”

“Aku tidak sakit.”

Eirna menyentuh dahinya tanpa izin.

Aelora meringis.

“Masih demam,” kata tabib itu.

“Sedikit.”

“Demam tidak menjadi lebih sopan hanya karena sedikit.”

Aelora memandang Kael. “Aku bisa duduk diam.”

“Tidak.”

“Aku tidak akan bicara.”

“Lebih tidak mungkin lagi.”

“Aku bisa—”

Kael berjalan mendekat dan menarik selimutnya sampai kembali menutupi bahu. “Kau tetap di kamar. Eirna akan menjagamu.”

“Aku tidak perlu dijaga.”

“Semalam kau pingsan di dalam lingkaran rune.”

“Itu karena tandanya.”

“Yang masih ada di tanganmu.”

Aelora menggenggam pergelangan kiri. “Mereka akan menyuruhmu mengembalikanku, ya?”

Kael tidak menjawab secepat biasanya.

Jantung Aelora turun ke perut.

“Asteria tidak akan menerimaku,” katanya. “Mereka sudah membuangku.”

“Aku tahu.”

“Kalau dewan tidak mengizinkanku tinggal, aku bisa pergi ke desa. Aku tidak perlu tinggal di istana.”

Eirna dan Orin saling pandang.

Kael berdiri diam di sisi ranjang. “Kau tidak akan pergi ke desa.”

“Aku bisa bekerja.”

“Kau tujuh tahun.”

“Aku bisa menyapu.”

“Tidak.”

“Mencuci piring.”

“Tidak.”

“Aku pernah menjaga ayam.”

“Apakah ayam-ayamnya selamat?”

Aelora berpikir sejenak. “Sebagian.”

Kael hampir mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya.

Aelora menunduk. Tangannya meremas telinga Piko yang tergeletak di samping bantal. “Aku tidak mau merepotkanmu.”

Kamar menjadi sunyi.

Orin berpura-pura memeriksa pakaian. Eirna sibuk menata botol yang sebenarnya sudah rapi.

Kael menarik kursi lebih dekat dan duduk menghadap Aelora.

“Dengar,” katanya. “Dewan tidak memutuskan siapa yang boleh tinggal di kamarku, istanaku, atau wilayah yang berada di bawah mahkotaku.”

“Mereka bisa membuatmu marah.”

“Mereka sudah melakukannya sebelum kau datang.”

“Mereka bisa membenciku.”

“Banyak orang membenciku. Aku tetap makan dengan baik.”

“Itu tidak sama.”

“Memang.” Kael menyandarkan siku pada lutut. “Kau lebih kecil dan lebih mudah menangis.”

“Aku tidak mudah menangis.”

“Bahuku kemarin basah.”

“Itu demam.”

“Begitu.”

Aelora memeluk Piko ke dada.

Kael menatapnya lebih serius. “Aku tidak akan mengembalikanmu ke Asteria.”

“Bahkan kalau dewan menyuruh?”

“Terutama kalau mereka menyuruh.”

Aelora ingin mempercayainya. Bagian dirinya yang berusia tujuh belas tahun tahu bahwa Kael jarang membuat janji yang tidak akan ditepati. Namun bagian kecil yang sedang duduk di ranjang ini masih mengingat pintu rumah lama ditutup dari dalam, suara langkah rombongan menjauh, dan sepotong roti yang ditinggalkan di lumpur.

“Kenapa?” tanyanya.

Kael mengerutkan dahi. “Kenapa apa?”

“Kenapa kau mau aku tinggal?”

Pertanyaan itu membuat Kael diam lebih lama daripada sebelumnya.

Aelora menunggu. Ia tidak meminta jawaban yang indah. Ia hanya ingin tahu apakah ada alasan selain tanda aneh di tangannya.

Kael melirik gelang perak di pergelangan Aelora, lalu memandang wajahnya.

“Karena kau membutuhkan tempat untuk tinggal,” katanya.

“Hanya itu?”

“Untuk sekarang.”

Jawaban itu terasa sederhana, tetapi tidak kosong.

Aelora mengangguk pelan.

Kael berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh kepada Eirna.

“Jangan biarkan siapa pun masuk.”

“Termasuk anggota dewan?”

“Terutama anggota dewan.”

“Kalau Aelora mencoba keluar?”

Kael menatap anak yang sedang pura-pura tidak mendengar.

“Kunci jendelanya.”

“Aku tidak akan kabur,” kata Aelora.

Kael membuka pintu. “Aku belum cukup mengenalmu untuk percaya itu.”

Setelah ia pergi, Orin mengeluarkan satu gaun dari tumpukan pakaian. Warnanya hitam dengan pita ungu kecil di bagian pinggang.

“Kami belum mengetahui ukuran yang tepat,” katanya. “Para penjahit memperkirakan berdasarkan tinggi anak-anak pelayan.”

Aelora menyentuh kainnya. “Ini untukku?”

“Untuk sementara. Setelah kondisi Nona membaik, penjahit istana akan mengukur langsung.”

“Aku tidak punya uang.”

Orin tampak bingung. “Anda tidak perlu membayar.”

“Kenapa?”

“Karena pakaian ini disediakan istana.”

Aelora tetap tidak mengambilnya. “Kalau aku tidak jadi tinggal?”

Eirna berhenti menuangkan obat.

Orin perlahan menurunkan gaun tersebut. “Saya rasa Yang Mulia tidak memiliki kebiasaan berubah pikiran setelah memutuskan sesuatu.”

“Kecuali tentang warna tirai ruang makan,” tambah Eirna.

“Itu berbeda,” kata Orin. “Tirai lama benar-benar buruk.”

Aelora memandang pintu yang baru saja dilewati Kael. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi di ruang sidang. Apakah para bangsawan Nocthara akan menganggapnya ancaman? Apakah Kael akan teringat bahwa membawa pulang anak asing memang terlalu merepotkan?

Piko bergerak sedikit di pelukannya.

Aelora menunduk.

Mata kancing boneka itu tetap diam.

“Jangan mulai,” bisiknya.

Eirna menoleh. “Kau mengatakan sesuatu?”

“Tidak.”

Tabib itu menyodorkan cangkir obat. Cairannya berwarna hijau pucat dan berbau seperti daun busuk.

“Apa ini?”

“Penurun demam.”

“Rasanya?”

“Buruk.”

“Setidaknya kau jujur.”

Aelora meneguknya sedikit, lalu langsung menjauhkan cangkir.

“Ini bukan buruk. Ini kejahatan.”

Orin berdeham untuk menahan tawa.

Eirna menyilangkan tangan. “Habiskan.”

“Kalau aku mati, katakan pada Kael obatmu yang membunuhku.”

“Kalau tidak dihabiskan, saya akan mengatakan kepadanya kau menolak perintah tabib.”

Aelora memandang obat itu dengan penuh kebencian, lalu meminumnya sampai habis.

Ruang Sidang Bulan tidak memiliki jendela.

Para pendiri Nocthara sengaja membangunnya demikian agar tidak ada bangsawan yang menghabiskan rapat dengan melihat cuaca. Keputusan itu tidak banyak membantu. Para anggota dewan tetap menemukan cara lain untuk membuang waktu.

Saat Kael masuk, tujuh kepala klan sudah duduk mengelilingi meja batu bundar. Dua kursi tambahan ditempati penasihat kerajaan dan pemimpin penjaga istana. Bisik-bisik berhenti begitu pintu tertutup di belakang sang raja.

Kael duduk di kursi tertinggi.

“Bicaralah.”

Lord Sevran menjadi orang pertama yang berdiri. Ia berasal dari Klan Morvath, keluarga tua yang memiliki terlalu banyak tanah dan terlalu sedikit kemampuan menahan pendapat.

“Yang Mulia membawa seorang anak manusia melewati perbatasan tanpa pemeriksaan resmi.”

“Aku memeriksanya sendiri.”

“Dengan segala hormat, Yang Mulia bukan petugas perbatasan.”

“Petugas perbatasanmu membawa tombak penangkap naga untuk menghadapi anak tujuh tahun. Aku tidak menyesal melewati prosedur mereka.”

Beberapa anggota dewan menahan senyum. Sevran tidak.

“Anak itu membawa tanda Elyrion.”

“Dia membawa segel yang digunakan untuk menyembunyikan garis darahnya.”

“Itu dugaan tabib.”

“Itu hasil pemeriksaan.”

Lady Varessa, pemimpin Klan Sanguin, mengetukkan kuku hitamnya pada meja. “Hasil pemeriksaan yang memecahkan kristal kerajaan dan mengaktifkan rune kuno di sayap keluarga. Kita tidak tahu apa yang disembunyikan dalam tubuhnya.”

“Karena itu dia sedang diperiksa.”

“Di kamar keluarga kerajaan.”

“Kamarnya hangat.”

Varessa mengangkat alis. “Istana memiliki kamar hangat lain.”

“Tidak ada yang cukup dekat dengan penjaga pribadiku.”

Keheningan kecil mengikuti jawaban itu.

Lord Merek menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Berarti Yang Mulia menganggap anak tersebut membutuhkan perlindungan pribadi?”

“Ya.”

“Dari siapa?”

Kael memandang seluruh meja. “Kalian, bila perlu.”

Beberapa wajah langsung menegang.

Sevran meletakkan kedua tangan di atas meja. “Tidak ada seorang pun di sini berniat menyakiti anak itu.”

“Bagus. Berarti kita tidak memiliki masalah.”

“Masalahnya adalah keberadaannya dapat mengundang Elyrion ke Nocthara. Darah malaikat tidak pernah muncul tanpa akibat.”

“Dia tidak memilih darahnya.”

“Kerajaan tidak bisa dibangun berdasarkan perasaan kasihan.”

“Dan tidak akan dipertahankan dengan membuang anak ke hutan.”

Sevran terdiam sesaat.

Lady Varessa berbicara lebih tenang. “Kami memahami kemarahan Yang Mulia terhadap Asteria. Namun anak itu tetap orang asing. Kita belum mengetahui tujuan segelnya, identitas ayahnya, atau alasan Gereja Fajar begitu ingin menyingkirkannya.”

“Semua itu sedang dicari.”

“Sementara itu, tempatkan dia di menara pengamatan.”

Kael menatap Varessa.

“Tidak.”

“Menara itu aman.”

“Menara itu penjara.”

“Untuk sementara.”

“Tidak.”

Lord Merek menyela, “Bagaimana kalau dia kehilangan kendali? Kita menerima laporan bahwa rantai sihir muncul dari tubuhnya.”

“Rantai berasal dari segel.”

“Kita belum tahu pasti.”

“Kalau begitu cari tahu tanpa memperlakukannya seperti monster.”

Sevran tertawa pendek. “Yang Mulia berbicara seolah anak itu sudah menjadi tanggung jawab pribadi Anda.”

Kael tidak menjawab.

Tawa Sevran perlahan hilang.

“Apakah ada hubungan antara anak tersebut dan Mirael Arvand?” tanya Varessa.

Nama itu mengubah udara ruangan.

Kael menatapnya tanpa berkedip.

“Dari mana kau mendapat nama itu?”

“Gelang yang dipakainya terlihat oleh para penjaga. Lambangnya sama dengan lambang keluarga Arvand dalam arsip perang.”

“Aku tidak tahu hubungannya.”

“Tetapi Yang Mulia mengenali gelang itu.”

“Pertanyaan berikutnya.”

Sevran berdiri lebih tegak. “Dewan menuntut anak tersebut diserahkan untuk pemeriksaan bersama.”

“Ditolak.”

“Yang Mulia tidak bisa menolak tanpa alasan.”

“Aku baru saja melakukannya.”

“Kami memiliki hak berdasarkan Piagam Bulan.”

“Piagam Bulan mengatur ancaman terhadap kerajaan, bukan anak sakit yang belum bisa memakai sepatu sendiri.”

“Darah Elyrion adalah ancaman.”

Bayangan di bawah kursi Kael bergerak.

Semua lilin di ruang sidang meredup.

Sevran melihat perubahan itu, tetapi telanjur melanjutkan.

“Jika anak tersebut terbukti membawa kutukan, dewan berhak menahannya. Jika perlu, kami juga berhak melakukan pemurnian sebelum pengaruhnya menyebar.”

Kael berdiri.

Tidak ada gerakan tiba-tiba. Ia hanya bangkit dari kursinya, meletakkan kedua telapak tangan di atas meja, lalu memandang satu per satu orang yang duduk di sekelilingnya.

Namun retakan kecil muncul pada permukaan batu di bawah jemarinya.

“Dengarkan baik-baik,” katanya. “Anak itu dibuang oleh manusia, diserang binatang di wilayah kita, dan ditemukan dalam keadaan demam. Ia belum melakukan kejahatan terhadap Nocthara.”

“Yang Mulia—”

“Aku belum selesai.”

Sevran menutup mulut.

“Mulai hari ini, Aelora Arvand berada di bawah perlindungan pribadi Raja Nocthara. Dia tinggal di Istana Bulan Merah sampai aku memutuskan tempat lain lebih aman baginya.”

Lady Varessa mengerutkan dahi. “Dengan kedudukan apa?”

“Belum ada.”

“Artinya dia bukan keluarga kerajaan.”

“Belum.”

Kata itu terdengar jelas di seluruh ruangan.

Kael meluruskan tubuh. Bayangannya menyebar dari belakang kursi, melintasi lantai hingga mencapai kaki setiap anggota dewan.

“Siapa pun yang mencoba menyentuh, menahan, memeriksa, atau memindahkan anak itu tanpa izinku akan dianggap menentang takhta.”

Tidak ada yang bergerak.

Bahkan Sevran tidak segera membantah.

Kael mengambil mahkota hitam yang diletakkan di atas meja, lalu memakainya kembali.

“Sekarang,” katanya, “adakah yang masih ingin mengirim orang ke kamarnya?”

Episodes
1 Hari Aku Dibuang
2 Boneka Rusak di Hutan Hitam
3 Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil
4 Tanda Hitam di Pergelangan
5 Putri Kecil Tidak Resmi
6 Makanan Pertama di Dunia Iblis
7 Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
8 Anak yang Mengingat Akhir Dunia
9 Pemburu di Perbatasan
10 Nama Baru dari Raja Iblis
11 Kamar yang Terlalu Besar
12 Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis
13 Ryn yang Tidak Suka Putri Baru
14 Surat dari Dunia Manusia
15 Janji yang Dibuat Tujuh Tahun Lalu
16 Bayangan Kedua Orin
17 Suara Ayah dari Balik Cermin
18 Utusan dari Langit
19 Gerbang di Bawah Kaki Putri
20 Ayah Angkat
21 Anak Kutukan Menyentuh Luka
22 Ruang Penyembuhan Terkunci
23 Milo si Kucing Bayangan
24 Ujian Darah
25 Kael Melanggar Hukum Sendiri
26 Lagu dari Masa Depan
27 Serangan di Ruang Anak
28 Laporan Rahasia Tabib
29 Putri Kecil di Balik Tirai
30 Menara yang Mengingat Masa Depan
31 Jejak Cahaya di Salju Hitam
32 Sebelum Bulan Ketiga Terbit
33 Bulan Ketiga Adalah Kunci
34 Mirael di Bawah Takhta
35 Pecahan Terakhir dari Waktu Mati
36 Mata di Dalam Lucien
37 Rantai yang Mengikat Nama
38 Pintu Kedelapan
39 Nama yang Tidak Diberikan Langit
40 Nama yang Dipilih Sendiri
41 Perempuan di Dalam Namaku
42 Anak yang Dihapus dari Waktu
43 Ribuan Aelora yang Tidak Pernah Hidup
44 Jangan Ambil Adikku
45 Raja yang Ditinggalkan di Luar Gerbang
46 Kakak yang Dibakar Menjadi Abu
47 Tubuh yang Disembunyikan di Bawah Kerajaan
48 Anak yang Memanggilku Ibu
49 Nama Pertama yang Membelah Dunia
50 Varael yang Tidak Pernah Menjadi Anak
51 Istana yang Mulai Mengingat
52 Ingatan yang Tidak Punya Saksi
53 Lagu yang Tidak Lagi Dikenal
54 Anak-Anak yang Tidak Sempat Pulang
55 Ibu yang Tidak Pernah Melahirkanku
56 Api yang Menuntut Pewarisnya
57 Dua Kerajaan dalam Satu Istana
58 Tubuh Bukan Kursi
59 Nama yang Pernah Dijadikan Takhta
60 Saksi yang Tidak Pernah Memilih
61 Saudara yang Ditinggalkan di Dalam Takhta
62 Kerajaan yang Dibangun di Atas Mulut
63 Sayap yang Dicabut dari Namanya
64 Anak yang Tidak Pernah Dibuang
65 Tujuh Pilihan Seorang Anak
66 Nama yang Dikembalikan Tanpa Izin
67 Nama yang Menolak Kembali
68 Ibu yang Menunggu di Luar Dunia
69 Malam yang Tidak Memberi Pagi
70 Pagi yang Harus Dibuat
71 Kemarin yang Dicuri dari Veyr
72 Mata yang Tinggal di Dalam Jantung
73 Jendela yang Tidak Pernah Memberi Izin
74 Rumah yang Tidak Cukup untuk Semua
75 Wadah yang Menemukan Jalan
76 Anak Sebelum Aelora
77 Solara Tidak Boleh Keluar
78 Anak yang Tidak Dibawa
79 Dunia yang Belum Mati
80 Ibu yang Memakan Akhir Dunia
81 Jangan Biarkan Matahari Tenggelam
82 Tamu dari Luar Dunia
83 Mahkota yang Memilih
84 Musuh yang Ikut Menanggung
85 Musuh yang Ikut Menanggung
86 Varion yang Pertama
87 Dua Ratus Tiga Belas Nama yang Sama
88 Tubuh yang Tidak Boleh Dipakai
89 Timeline yang Menolak Selesai
90 Bagian yang Tetap Tinggal
91 Surat yang Ditulis Sebelum Lahir
92 Kristal yang Bernapas
93 Kael Mengaku Dosa Lama
94 Milo Mengingat
95 Perjalanan ke Kuil Sayap Patah
96 Lukisan Keluarga yang Dihapus
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Hari Aku Dibuang
2
Boneka Rusak di Hutan Hitam
3
Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil
4
Tanda Hitam di Pergelangan
5
Putri Kecil Tidak Resmi
6
Makanan Pertama di Dunia Iblis
7
Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
8
Anak yang Mengingat Akhir Dunia
9
Pemburu di Perbatasan
10
Nama Baru dari Raja Iblis
11
Kamar yang Terlalu Besar
12
Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis
13
Ryn yang Tidak Suka Putri Baru
14
Surat dari Dunia Manusia
15
Janji yang Dibuat Tujuh Tahun Lalu
16
Bayangan Kedua Orin
17
Suara Ayah dari Balik Cermin
18
Utusan dari Langit
19
Gerbang di Bawah Kaki Putri
20
Ayah Angkat
21
Anak Kutukan Menyentuh Luka
22
Ruang Penyembuhan Terkunci
23
Milo si Kucing Bayangan
24
Ujian Darah
25
Kael Melanggar Hukum Sendiri
26
Lagu dari Masa Depan
27
Serangan di Ruang Anak
28
Laporan Rahasia Tabib
29
Putri Kecil di Balik Tirai
30
Menara yang Mengingat Masa Depan
31
Jejak Cahaya di Salju Hitam
32
Sebelum Bulan Ketiga Terbit
33
Bulan Ketiga Adalah Kunci
34
Mirael di Bawah Takhta
35
Pecahan Terakhir dari Waktu Mati
36
Mata di Dalam Lucien
37
Rantai yang Mengikat Nama
38
Pintu Kedelapan
39
Nama yang Tidak Diberikan Langit
40
Nama yang Dipilih Sendiri
41
Perempuan di Dalam Namaku
42
Anak yang Dihapus dari Waktu
43
Ribuan Aelora yang Tidak Pernah Hidup
44
Jangan Ambil Adikku
45
Raja yang Ditinggalkan di Luar Gerbang
46
Kakak yang Dibakar Menjadi Abu
47
Tubuh yang Disembunyikan di Bawah Kerajaan
48
Anak yang Memanggilku Ibu
49
Nama Pertama yang Membelah Dunia
50
Varael yang Tidak Pernah Menjadi Anak
51
Istana yang Mulai Mengingat
52
Ingatan yang Tidak Punya Saksi
53
Lagu yang Tidak Lagi Dikenal
54
Anak-Anak yang Tidak Sempat Pulang
55
Ibu yang Tidak Pernah Melahirkanku
56
Api yang Menuntut Pewarisnya
57
Dua Kerajaan dalam Satu Istana
58
Tubuh Bukan Kursi
59
Nama yang Pernah Dijadikan Takhta
60
Saksi yang Tidak Pernah Memilih
61
Saudara yang Ditinggalkan di Dalam Takhta
62
Kerajaan yang Dibangun di Atas Mulut
63
Sayap yang Dicabut dari Namanya
64
Anak yang Tidak Pernah Dibuang
65
Tujuh Pilihan Seorang Anak
66
Nama yang Dikembalikan Tanpa Izin
67
Nama yang Menolak Kembali
68
Ibu yang Menunggu di Luar Dunia
69
Malam yang Tidak Memberi Pagi
70
Pagi yang Harus Dibuat
71
Kemarin yang Dicuri dari Veyr
72
Mata yang Tinggal di Dalam Jantung
73
Jendela yang Tidak Pernah Memberi Izin
74
Rumah yang Tidak Cukup untuk Semua
75
Wadah yang Menemukan Jalan
76
Anak Sebelum Aelora
77
Solara Tidak Boleh Keluar
78
Anak yang Tidak Dibawa
79
Dunia yang Belum Mati
80
Ibu yang Memakan Akhir Dunia
81
Jangan Biarkan Matahari Tenggelam
82
Tamu dari Luar Dunia
83
Mahkota yang Memilih
84
Musuh yang Ikut Menanggung
85
Musuh yang Ikut Menanggung
86
Varion yang Pertama
87
Dua Ratus Tiga Belas Nama yang Sama
88
Tubuh yang Tidak Boleh Dipakai
89
Timeline yang Menolak Selesai
90
Bagian yang Tetap Tinggal
91
Surat yang Ditulis Sebelum Lahir
92
Kristal yang Bernapas
93
Kael Mengaku Dosa Lama
94
Milo Mengingat
95
Perjalanan ke Kuil Sayap Patah
96
Lukisan Keluarga yang Dihapus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!