di balik pintu kediaman

Mobil melaju terus meninggalkan kawasan rumah sakit, membelok ke jalan-jalan yang semakin sepi dan berkelok. Laras duduk menekan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menatap lurus ke depan, namun pandangannya kosong. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras sampai ia merasa suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri. Setiap detik yang berlalu terasa semakin mendekatkannya pada sesuatu yang ia takuti sekaligus harapkan.

Pengemudi itu tetap diam sepanjang perjalanan, tidak berbicara sepatah kata pun, hanya fokus mengemudi. Kesunyian di dalam mobil terasa menyesakkan, membuat pikiran Laras semakin liar berkelana. Ia membayangkan berbagai kemungkinan apakah ia akan dibawa ke tempat yang asing dan terpencil? Apakah Raka akan memperlakukannya dengan kasar, atau justru bersikap dingin tanpa emosi seperti yang terlihat saat pertama kali bertemu?

Lebih dari empat puluh menit kemudian, mobil mulai melambat. Jalan raya yang luas berubah menjadi jalan masuk yang dipagari tembok tinggi, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang rapi sepanjang sisi kanan dan kiri. Cahaya lampu jalan yang lembut menerangi jalur itu, menciptakan suasana yang tenang namun juga terasa terasing dari hiruk pikuk kota.

Sesampainya di gerbang utama yang besar dan kokoh, dua penjaga berseragam rapi segera mendekat. Setelah memeriksa identitas dan mengenali nomor kendaraan, gerbang besi itu terbuka perlahan dengan suara gesekan halus, mempersilakan mobil masuk ke dalam kawasan yang terlihat sangat luas.

Hati Laras terasa semakin berdebar. Dari balik jendela yang sedikit terbuka, ia bisa melihat hamparan taman yang terawat sempurna, kolam air mancur yang tenang, dan pepohonan yang sudah berusia puluhan tahun. Jauh di ujung jalan itu, berdiri sebuah bangunan besar bergaya klasik modern, bercat putih bersih dengan atap tinggi dan banyak jendela yang memancarkan cahaya hangat dari dalamnya. Itulah kediaman Raka Dirgantara—tempat yang konon dijaga sangat ketat, tidak sembarang orang bisa melangkahkan kakinya.

Mobil berhenti tepat di depan tangga utama. Pengemudi segera turun dan membukakan pintu untuk Laras dengan sikap hormat.

“Silakan turun, Nona. Tuan Raka sudah menunggu di dalam,” ucapnya singkat.

Dengan kaki yang terasa sedikit lemas, Laras melangkah turun. Udara malam di sini terasa lebih sejuk dan bersih, membawa aroma bunga melati dan tanah basah yang menenangkan, namun tidak mampu meredakan kegelisahan yang melanda hatinya. Ia menggenggam erat tali tas kainnya, mengikuti langkah pelayan rumah yang sudah berdiri menunggu di depan pintu.

Begitu pintu utama terbuka, suasana mewah namun tenang langsung menyambutnya. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menjuntai tinggi dari langit-langit. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan bernilai tinggi, dan perabotan yang terlihat mahal tersusun rapi tanpa terasa berlebihan. Di sini terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berjalan teratur.

“Silakan ikuti saya, Nona,” ajak pelayan itu, lalu berjalan mendahului Laras menuju ruang tengah yang lebih luas lagi.

Saat melangkah masuk, pandangan Laras langsung tertuju pada sosok yang sudah ia kenal. Raka Dirgantara sedang berdiri di dekat perapian yang masih menyala lembut, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan kancing atas terbuka, tampak lebih santai dibandingkan saat bertemu di rumah sakit, namun tetap memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.

Mendengar langkah kaki, Raka menoleh perlahan. Tatapan matanya yang gelap dan tajam langsung jatuh menatap Laras, membuat gadis itu secara tidak sadar berhenti melangkah dan menundukkan kepala. Ia merasa seperti sedang diteliti dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah Raka sedang memastikan bahwa ia tidak membawa niat buruk apa pun masuk ke dalam rumahnya.

“Masuklah,” kata Raka dengan nada tenang, lalu melambaikan tangan memberi isyarat agar pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.

Begitu hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu, suasana menjadi semakin hening. Laras berdiri kaku di ambang pintu, tidak berani bergerak sembarangan, rasa takut dan malu perlahan merayap masuk ke dalam dirinya. Ia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di hadapan pria yang memiliki segalanya ini.

“Sudah memutuskan dengan pasti?” tanya Raka memecah keheningan, berjalan mendekat perlahan hingga berjarak sekitar dua meter dari Laras. “Ingat, jika kau ingin mundur sekarang, masih ada kesempatan. Aku tidak akan memaksamu, dan biaya pengobatan ayahmu akan tetap ditanggung sebagai bentuk rasa hormat atas kejujuranmu.”

Kalimat itu membuat Laras terkejut dan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Raka dengan pandangan bingung. Ia tidak menyangka akan mendengar tawaran seperti itu. Mengapa pria ini memberinya jalan keluar lagi, padahal ia tahu posisinya sedang terdesak?

“Tapi… mengapa Tuan melakukan itu?” tanya Laras dengan suara bergetar. “Jika saya mundur, Tuan tidak akan mendapatkan apa pun sebagai gantinya.”

Sudut bibir Raka terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. “Karena aku tidak ingin kau menjalani malam ini dengan perasaan dipaksa. Jika kau melakukannya hanya karena terjepit keadaan, maka kesepakatan ini tidak ada gunanya bagiku. Aku butuh seseorang yang datang dengan keputusan sadar, bukan dengan rasa benci atau tertekan.”

Laras terdiam mendengar penjelasan itu. Pikirannya kembali berputar, namun kali ini lebih tenang. Ia mengingat wajah ayahnya yang lemah, mengingat tagihan yang menanti, dan mengingat masa depan yang masih tergantung di ujung jalan. Ia menggeleng perlahan, lalu menegakkan punggungnya sekuat tenaga.

“Saya tidak akan mundur, Tuan,” jawabnya dengan suara yang mulai mantap. “Saya sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Saya menerima tawaran itu. Satu malam, dan semuanya selesai sesuai janji.”

Raka menatapnya dalam-dalam selama beberapa detik, seolah membaca kebenaran di balik tatapan gadis itu. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan menuju meja panjang di sisi ruangan. Di atas meja itu sudah tergeletak sebuah dokumen yang dicetak rapi dan dua pena emas.

“Baiklah. Sebelum kita mulai, ada hal yang harus kita luruskan terlebih dahulu,” kata Raka sambil duduk dan memberi isyarat agar Laras duduk di seberangnya. “Ini adalah perjanjian tertulis yang mencatat semua kesepakatan kita. Baca dengan teliti sebelum menandatanganinya.”

Laras mendekat dengan hati-hati, lalu duduk di ujung kursi. Ia mengambil lembaran kertas itu dan membacanya dengan cermat, jari-jarinya menelusuri setiap baris tulisan. Isinya jelas dan lugas: Raka akan menanggung seluruh biaya pengobatan, perawatan lanjutan, serta memberikan sejumlah satu triliun rupiah setelah malam itu berakhir. Sebagai gantinya, Laras akan menghabiskan waktu dari matahari terbenam hingga terbit tanpa menuntut hal lain, dan setelah itu tidak ada hubungan apa pun lagi di antara mereka. Tidak ada kewajiban untuk saling bertemu, tidak ada hak untuk menuntut warisan atau kedudukan, semuanya selesai sepenuhnya.

Setelah membaca sampai akhir, Laras menghela napas panjang. Tidak ada klausul tersembunyi, tidak ada jebakan tertulis, semuanya terbuka. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Raka.

“Saya sudah membacanya. Semuanya sesuai dengan apa yang Tuan katakan,” ujarnya.

“Bagus. Tanda tangani di tempat yang disediakan,” perintah Raka tenang.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Laras mengambil pena dan menandatangani namanya di bagian bawah dokumen. Begitu tinta mengering, Raka juga menandatanganinya sebagai tanda persetujuan dari pihaknya. Ia melipat dokumen itu dan menyimpannya di dalam amplop, lalu mendorongnya ke arah Laras.

“Satu salinan ini untuk kau simpan sebagai bukti. Tidak ada yang bisa mengingkari apa yang sudah tertulis di sini,” katanya tegas.

Laras menerima amplop itu dengan rasa campur aduk. Kini secara resmi ia sudah terikat pada kesepakatan itu. Tidak ada jalan mundur lagi.

Raka berdiri kembali, menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “Sekarang, mari kita luruskan satu hal lagi agar tidak ada kesalahpahaman sepanjang malam ini. Selama di sini, kau boleh berbicara, bertanya, bergerak bebas selama tidak melanggar aturan dasar rumah ini. Namun ingat satu hal: jangan mencoba mencari tahu urusan pribadiku, jangan membuka laci atau ruangan yang tidak diperbolehkan, dan jangan berharap lebih dari apa yang sudah disepakati. Mengerti?”

“Saya mengerti, Tuan,” jawab Laras singkat.

Raka mengangguk puas. “Baik. Malam ini kita tidak akan melakukan apa yang mungkin kau bayangkan selama ini. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang melukai harga dirimu. Aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku, mendengarkan, dan menjadi teman bicara selama malam ini. Tidak ada sentuhan yang tidak dikehendaki, tidak ada paksaan apa pun.”

Kalimat itu membuat Laras tertegun dan matanya terbelalak kaget. “Tapi… apa maksud Tuan? Bukankah tawaran ini untuk…”

“Untuk menghabiskan satu malam bersamaku,” potong Raka tenang, namun suaranya tidak keras. “Bukan berarti harus melibatkan keintiman fisik. Itu hanya asumsi orang kebanyakan. Alasanku memilihmu bukan karena penampilanmu, tapi karena ketulusan yang terlihat di matamu. Aku hanya butuh ketenangan yang sudah lama tidak aku rasakan. Dan itu tidak butuh hal lain selain kehadiran seseorang yang tidak melihatku hanya sebagai orang kaya atau berkuasa.”

Laras terdiam terpaku. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa kenyataannya akan berbeda jauh dari apa yang ia bayangkan selama ini. Beban berat yang terasa menekan dadanya perlahan terangkat sedikit, digantikan oleh rasa bingung yang semakin besar. Mengapa seseorang setingkat Raka Dirgantara rela mengeluarkan uang sebesar satu triliun rupiah hanya untuk ditemani mengobrol semalam? Pasti ada alasan lain yang tersembunyi di balik semua ini, pikirnya.

Namun apa pun alasannya, fakta bahwa ia tidak harus menyerahkan tubuhnya membuat rasa takut itu perlahan berkurang. Setidaknya ia masih bisa mempertahankan harga dirinya, dan tetap mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk menyelamatkan ayahnya.

“Jadi… saya hanya perlu duduk dan menemanimu bicara sepanjang malam?” tanya Laras memastikan sekali lagi.

“Tepat sekali,” jawab Raka dengan pandangan tenang. “Tapi ingat, rahasia apa pun yang kau dengar atau lihat malam ini harus tetap tersimpan rapat di hatimu. Jika sampai bocor ke telinga orang luar, maka kesepakatan ini batal, dan konsekuensinya akan jauh lebih berat daripada apa yang kau bayangkan. Bisa kau janjikan itu?”

Laras mengangguk mantap. “Saya janji. Mulai sekarang sampai selamanya, apa pun yang terjadi malam ini akan tetap menjadi rahasia saya sendiri.”

Raka tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa lebih hangat dari sebelumnya. Ia berjalan mendekat ke meja samping perapian, menuangkan dua gelas minuman hangat, lalu menyerahkan satu gelas itu pada Laras.

“Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai malam ini. Waktunya masih panjang, dan ada banyak hal yang mungkin ingin kau tanyakan… atau mungkin aku yang butuh didengarkan.”

Laras menerima gelas itu dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya. Ia menatap wajah Raka yang terlihat lebih manusiawi dalam cahaya api perapian itu, perlahan menyadari bahwa malam ini mungkin akan membawanya pada jawaban-jawaban yang selama ini tersembunyi, dan membuatnya mengenal sisi lain dari Raka Dirgantara yang tidak pernah diketahui dunia luar.

Episodes
1 : tawaran yang mustahil
2 pilihan yang menyiksa
3 di balik pintu kediaman
4 cerita ditengah malam
5 fajar yang mengakhiri dan memulai
6 hidup yang berubah
7 badai di ufuk desa
8 janji dibawah langit desa
9 pertarungan di dua sisi
10 jejak yang terlupakan
11 kebenaran di ruang sidang
12 nilai yang tak tertawar
13 warisan yang terus hidup
14 pelajaran yang tak lekang oleh waktu
15 warisan yang tidak ternilai
16 kisah yang terus diceritakan
17 hikmah yang menjalar jauh
18 warisan yang tidak pernah berakhir
19 jejak yang tak terhapuskan
20 harta yang tak terhitung
21 harta yang tak pernah habis
22 angka yang lenyap
23 Draft
24 cermin waktu yang tak pernah bohong
25 gerbang harmoni yang tak terkunci
26 badai ujian diufuk cakrawala
27 mahkota damai dipuncak
28 sumber yang tidak pernah mengering
29 jejak yang menembus dinding waktu
30 cahaya yang tak pernah padam
31 akar yang tak pernah putus
32 benih yang menjadi hutan
33 cahaya yang tak terbatas
34 warisan yang tak pernah dimiliki
35 cahaya yang menemukan jalan pulang
36 benih yang menjadi hutan
37 aliran yang tidak pernah kering
38 jejak yang menyebar
39 benih yang tumbuh ditengah badai
40 jejak kaki yang menyatu ditanah
41 tangan yang menyambung jarak
42 jalan yang terbuka dari hati ke hati
43 benih persaudaraan
44 jalan yang ditemukan
45 jalan yang menyambung
46 angin yang membawa kabar
47 asap yang menebal
48 asap yang menutup langit
49 jejak yang tak hilang
50 jejak yang saling menyambung
51 kabar yang menembus
52 langkah yang tak henti
53 suara yang tak bisa dibungkam
54 tembok yang runtuh
55 jejak di balik kabut
56 pintu yang terbuka
57 fondasi dibawah kaki
58 tembok yang berpindah
59 langkah bayangan
60 bayang yang menggigil
61 langit yang bergeming
Episodes

Updated 61 Episodes

1
: tawaran yang mustahil
2
pilihan yang menyiksa
3
di balik pintu kediaman
4
cerita ditengah malam
5
fajar yang mengakhiri dan memulai
6
hidup yang berubah
7
badai di ufuk desa
8
janji dibawah langit desa
9
pertarungan di dua sisi
10
jejak yang terlupakan
11
kebenaran di ruang sidang
12
nilai yang tak tertawar
13
warisan yang terus hidup
14
pelajaran yang tak lekang oleh waktu
15
warisan yang tidak ternilai
16
kisah yang terus diceritakan
17
hikmah yang menjalar jauh
18
warisan yang tidak pernah berakhir
19
jejak yang tak terhapuskan
20
harta yang tak terhitung
21
harta yang tak pernah habis
22
angka yang lenyap
23
Draft
24
cermin waktu yang tak pernah bohong
25
gerbang harmoni yang tak terkunci
26
badai ujian diufuk cakrawala
27
mahkota damai dipuncak
28
sumber yang tidak pernah mengering
29
jejak yang menembus dinding waktu
30
cahaya yang tak pernah padam
31
akar yang tak pernah putus
32
benih yang menjadi hutan
33
cahaya yang tak terbatas
34
warisan yang tak pernah dimiliki
35
cahaya yang menemukan jalan pulang
36
benih yang menjadi hutan
37
aliran yang tidak pernah kering
38
jejak yang menyebar
39
benih yang tumbuh ditengah badai
40
jejak kaki yang menyatu ditanah
41
tangan yang menyambung jarak
42
jalan yang terbuka dari hati ke hati
43
benih persaudaraan
44
jalan yang ditemukan
45
jalan yang menyambung
46
angin yang membawa kabar
47
asap yang menebal
48
asap yang menutup langit
49
jejak yang tak hilang
50
jejak yang saling menyambung
51
kabar yang menembus
52
langkah yang tak henti
53
suara yang tak bisa dibungkam
54
tembok yang runtuh
55
jejak di balik kabut
56
pintu yang terbuka
57
fondasi dibawah kaki
58
tembok yang berpindah
59
langkah bayangan
60
bayang yang menggigil
61
langit yang bergeming

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!