cerita ditengah malam

Suasana di ruangan itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan saat Laras baru tiba. Di tengah cahaya redup dari lampu dinding dan nyala api perapian yang menari-nari, kehangatan perlahan menyelimuti udara yang tadinya terasa dingin dan kaku. Laras memegang gelas berisi teh hangat itu, merasakan kelembutannya menjalar hingga ke seluruh tubuhnya, sedikit demi sedikit menghilangkan rasa tegang yang menyelimuti dirinya sejak sore tadi.

Ia duduk dengan tenang di kursi empuk yang menghadap langsung ke perapian, sesekali melirik ke arah Raka yang sedang duduk bersila tidak jauh darinya. Pria itu kini terlihat jauh lebih santai, punggungnya bersandar pada sandaran kursi, matanya menatap nyala api seolah sedang teringat sesuatu yang jauh di masa lalu. Wajahnya yang tampan dan tegas kini terlihat lebih lembut, seolah semua beban dan topeng kekuasaan yang ia pakai sehari-hari perlahan terlepas di hadapan gadis asing ini.

“Kau pasti bertanya-tanya, mengapa aku rela mengeluarkan jumlah uang sebesar itu hanya untuk ditemani mengobrol semalam, bukan?” tanya Raka tiba-tiba, memecah keheningan yang terasa nyaman itu. Ia tidak menoleh, tapi suaranya terdengar jelas dan lembut.

Laras mengangkat wajah, mengangguk jujur tanpa ragu. “Memang itu yang ada di pikiran saya sejak awal, Tuan. Bagi orang biasa seperti saya, satu triliun rupiah adalah angka yang sulit dibayangkan. Terlalu besar hanya untuk sebuah percakapan.”

Raka tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa tulus tanpa ada rasa meremehkan. Ia menyesap sedikit minumannya, lalu akhirnya memutar kepalanya menatap Laras. Di balik matanya yang gelap itu, Laras kini bisa melihat kedalaman kesunyian yang selama ini tersembunyi dari pandangan dunia luar.

“Karena bagi orang sepertiku, uang tidak lagi menjadi masalah,” jawab Raka perlahan, suaranya terdengar agak berat. “Aku bisa membeli apa saja yang terjual di pasaran—mobil termahal, rumah paling megah, perhiasan berlian, bahkan nama baik orang-orang yang bersedia menjualnya. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan berapa pun jumlah uang, sekalipun satu triliun atau sepuluh triliun sekalipun.”

“Apa itu?” tanya Laras tanpa sadar, rasa penasarannya tumbuh menggantikan rasa takut yang tersisa.

“Kejujuran dan ketenangan hati,” jawab Raka lirih. Ia menatap api perapian lagi, seolah mulai membuka lembaran masa lalunya yang jarang diceritakan pada siapa pun. “Sejak ayahku meninggal lima tahun lalu, aku harus mengambil alih seluruh tanggung jawab ini. Dunia yang aku masuki bukanlah dunia yang indah. Setiap orang yang mendekatiku punya tujuan tersendiri—ada yang ingin jabatan, ada yang ingin uang, ada yang ingin memanfaatkan kekuasaanku. Tidak ada satu pun yang mau mendengarkanku apa adanya, atau melihatku hanya sebagai Raka, bukan sebagai pemilik kerajaan bisnis ini.”

Laras mendengarkan dengan saksama, matanya melebar sedikit menyadari sisi kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan. Selama ini ia hanya melihat Raka sebagai orang paling beruntung yang memiliki segalanya, namun ternyata di balik kekayaan itu tersandung kesepian yang mendalam.

“Jadi… malam ini kau butuh seseorang yang hanya mau mendengarkan, tanpa menghakimi dan tanpa meminta imbalan lain?” tanya Laras dengan nada lembut.

“Tepat sekali,” jawab Raka mengangguk. “Dan saat aku mendengar ceritamu—gadis yang berjuang mati-matian demi ayahnya, tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta lebih dari yang dibutuhkan—aku tahu kau adalah orang yang aku cari. Kau masih punya hati yang bersih, tidak terkontaminasi oleh keserakahan dan kepura-puraan dunia luar. Aku ingin bicara dengan seseorang yang tidak melihat angka kekayaanku saat menatapku.”

Kalimat itu membuat hati Laras terasa terenyuh. Ia baru menyadari bahwa posisi seseorang yang memiliki segalanya belum tentu lebih beruntung dibandingkan dirinya yang miskin namun masih memiliki ketulusan dan kedamaian hati.

“Tapi tetap saja jumlahnya terlalu besar, Tuan,” ujar Laras pelan. “Satu triliun itu bisa mengubah hidup saya selamanya. Saya merasa tidak pantas menerima sebanyak itu hanya karena duduk dan mendengarkan cerita.”

Raka menoleh menatapnya dalam, ada rasa tegas namun lembut di tatapannya. “Anggap saja sebagai ganti ketenangan yang kau berikan padaku malam ini. Selain itu… ada satu hal lagi yang membuatku ingin memberimu lebih dari sekadar biaya pengobatan.”

Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan. Laras menunggu dengan sabar, merasakan bahwa Raka baru akan membuka rahasia yang lebih besar lagi.

“Sebelum ayahku meninggal, ia juga jatuh sakit parah, sama seperti ayahmu,” lanjut Raka perlahan, suaranya mulai terasa sedikit bergetar menahan perasaan. “Saat itu aku baru mulai memegang kendali perusahaan, sibuk mengurus ini dan itu, merasa bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya. Aku mengeluarkan biaya sebesar apa pun untuk pengobatan terbaik, tapi aku lupa satu hal terpenting—menemaninya, mendengarkan ceritanya, dan memberinya kehangatan di hari-hari terakhirnya. Aku terlalu sibuk mengejar kesuksesan, sampai akhirnya ia pergi tanpa sempat aku menghabiskan cukup waktu bersamanya.”

Air mata tanpa sadar menggenang di sudut mata Raka. Ia menyeka cepat, seolah tidak terbiasa menunjukkan kelemahan seperti itu di depan orang lain.

“Sejak itu aku menyesal seumur hidup,” lanjutnya. “Aku memiliki segalanya, tapi gagal melakukan hal paling sederhana yang bisa membuat orang yang kucintai merasa bahagia sebelum pergi. Saat melihatmu, berjuang keras demi ayahmu, rela melakukan apa pun asalkan ia sembuh… aku melihat diriku sendiri di masa lalu. Memberimu lebih dari cukup adalah caraku menebus kesalahan yang tidak bisa diperbaiki lagi pada ayahku.”

Laras tertegun, hatinya terasa sesak mendengar pengakuan itu. Ternyata di balik tawaran yang terasa seperti keajaiban itu, tersimpan luka mendalam yang tak kunjung sembuh di hati Raka. Ia tidak merasa lagi bahwa uang itu adalah imbalan semata, tapi justru bentuk penyesalan dan keinginan untuk berbuat baik dari seseorang yang sedang kesepian.

“Jadi… ini bukan hanya untuk malam ini, tapi juga sebagai cara Tuan melepaskan beban hati?” tanya Laras lembut.

“Bisa dibilang begitu,” jawab Raka dengan senyum getir. “Jadi jangan merasa tidak pantas. Anggap saja takdir mempertemukan kita untuk saling melengkapi—kau butuh bantuan, dan aku butuh ketenangan yang hanya bisa kudapatkan dari seseorang yang tulus sepertimu.”

Suasana kembali hening sejenak, namun kali ini tidak lagi terasa canggung. Ada rasa saling memahami yang perlahan tumbuh di antara keduanya, seolah dinding pembatas antara orang kaya dan miskin, antara berkuasa dan biasa saja perlahan runtuh satu per satu.

Laras menyesap tehnya lagi, merasakan rasa hangat itu turun ke kerongkongannya. Ia merasa aman di sini, jauh lebih aman dibandingkan apa yang ia bayangkan saat pertama kali menerima tawaran itu. Raka tidak terlihat seperti orang yang akan menyakiti dirinya; justru ia terlihat seperti pria yang sedang membutuhkan tempat bercerita dan didengarkan.

“Kalau begitu… apa yang ingin Tuan ceritakan malam ini?” tanya Laras akhirnya dengan senyum lembut yang tulus, senyum yang sudah lama tidak terlihat sejak ayahnya jatuh sakit. “Saya siap mendengarkan semuanya, apa pun itu.”

Melihat senyum itu, hati Raka terasa sedikit lebih ringan. Seolah beban yang ia pikul selama bertahun-tahun terangkat sedikit demi sedikit. Ia merasa benar memilih Laras—gadis sederhana yang bisa melihatnya apa adanya, tanpa topeng dan tanpa kepentingan tersembunyi.

“Banyak hal,” jawab Raka dengan nada yang lebih rileks. “Mulai dari masa kecilku, perjuangan membangun kerajaan bisnis ini, sampai ketakutan dan kesepian yang selama ini kusembunyikan dari semua orang. Dan kau pun boleh bertanya apa saja yang ingin kau ketahui, selama tidak melanggar janji kerahasiaan kita.”

“Baiklah,” jawab Laras dengan semangat baru. “Mulai saja, saya siap mendengarkan sampai matahari terbit nanti.”

Sejak saat itu, malam itu berjalan sangat berbeda dari apa yang dibayangkan Laras. Bukan ketakutan, bukan rasa malu, melainkan pertukaran cerita yang tulus. Raka menceritakan masa-masa sulitnya, bagaimana ia harus belajar tegas dan dingin hanya untuk bertahan di dunia bisnis yang kejam. Sebaliknya, Laras juga bercerita tentang hidupnya yang sederhana namun penuh kehangatan, tentang kebersamaan dengan ayahnya yang menjadi sumber kekuatannya.

Semakin lama mereka berbicara, semakin mereka menyadari bahwa meski hidup di dua dunia yang sangat berbeda, mereka memiliki banyak kesamaan dalam hal perasaan—sama-sama pernah jatuh, sama-sama berjuang, dan sama-sama merindukan kehangatan yang tulus.

Namun di balik kehangatan itu, satu hal masih tergantung di udara: kesepakatan ini hanya berlaku sampai matahari terbit. Setelah itu, semuanya selesai, dan mereka harus kembali ke dunia masing-masing. Tidak ada lagi pertemuan, tidak ada lagi hubungan apa pun.

Saat malam semakin larut, dan bintang-bintang di langit mulai meredup bersiap menyambut fajar, pertanyaan itu mulai terlintas di hati keduanya: Akankah mereka sanggup kembali hidup seperti sebelum bertemu, setelah merasakan kehadiran satu sama lain.

Episodes
1 : tawaran yang mustahil
2 pilihan yang menyiksa
3 di balik pintu kediaman
4 cerita ditengah malam
5 fajar yang mengakhiri dan memulai
6 hidup yang berubah
7 badai di ufuk desa
8 janji dibawah langit desa
9 pertarungan di dua sisi
10 jejak yang terlupakan
11 kebenaran di ruang sidang
12 nilai yang tak tertawar
13 warisan yang terus hidup
14 pelajaran yang tak lekang oleh waktu
15 warisan yang tidak ternilai
16 kisah yang terus diceritakan
17 hikmah yang menjalar jauh
18 warisan yang tidak pernah berakhir
19 jejak yang tak terhapuskan
20 harta yang tak terhitung
21 harta yang tak pernah habis
22 angka yang lenyap
23 Draft
24 cermin waktu yang tak pernah bohong
25 gerbang harmoni yang tak terkunci
26 badai ujian diufuk cakrawala
27 mahkota damai dipuncak
28 sumber yang tidak pernah mengering
29 jejak yang menembus dinding waktu
30 cahaya yang tak pernah padam
31 akar yang tak pernah putus
32 benih yang menjadi hutan
33 cahaya yang tak terbatas
34 warisan yang tak pernah dimiliki
35 cahaya yang menemukan jalan pulang
36 benih yang menjadi hutan
37 aliran yang tidak pernah kering
38 jejak yang menyebar
39 benih yang tumbuh ditengah badai
40 jejak kaki yang menyatu ditanah
41 tangan yang menyambung jarak
42 jalan yang terbuka dari hati ke hati
43 benih persaudaraan
44 jalan yang ditemukan
45 jalan yang menyambung
46 angin yang membawa kabar
47 asap yang menebal
48 asap yang menutup langit
49 jejak yang tak hilang
50 jejak yang saling menyambung
51 kabar yang menembus
52 langkah yang tak henti
53 suara yang tak bisa dibungkam
54 tembok yang runtuh
55 jejak di balik kabut
56 pintu yang terbuka
57 fondasi dibawah kaki
58 tembok yang berpindah
59 langkah bayangan
60 bayang yang menggigil
61 langit yang bergeming
Episodes

Updated 61 Episodes

1
: tawaran yang mustahil
2
pilihan yang menyiksa
3
di balik pintu kediaman
4
cerita ditengah malam
5
fajar yang mengakhiri dan memulai
6
hidup yang berubah
7
badai di ufuk desa
8
janji dibawah langit desa
9
pertarungan di dua sisi
10
jejak yang terlupakan
11
kebenaran di ruang sidang
12
nilai yang tak tertawar
13
warisan yang terus hidup
14
pelajaran yang tak lekang oleh waktu
15
warisan yang tidak ternilai
16
kisah yang terus diceritakan
17
hikmah yang menjalar jauh
18
warisan yang tidak pernah berakhir
19
jejak yang tak terhapuskan
20
harta yang tak terhitung
21
harta yang tak pernah habis
22
angka yang lenyap
23
Draft
24
cermin waktu yang tak pernah bohong
25
gerbang harmoni yang tak terkunci
26
badai ujian diufuk cakrawala
27
mahkota damai dipuncak
28
sumber yang tidak pernah mengering
29
jejak yang menembus dinding waktu
30
cahaya yang tak pernah padam
31
akar yang tak pernah putus
32
benih yang menjadi hutan
33
cahaya yang tak terbatas
34
warisan yang tak pernah dimiliki
35
cahaya yang menemukan jalan pulang
36
benih yang menjadi hutan
37
aliran yang tidak pernah kering
38
jejak yang menyebar
39
benih yang tumbuh ditengah badai
40
jejak kaki yang menyatu ditanah
41
tangan yang menyambung jarak
42
jalan yang terbuka dari hati ke hati
43
benih persaudaraan
44
jalan yang ditemukan
45
jalan yang menyambung
46
angin yang membawa kabar
47
asap yang menebal
48
asap yang menutup langit
49
jejak yang tak hilang
50
jejak yang saling menyambung
51
kabar yang menembus
52
langkah yang tak henti
53
suara yang tak bisa dibungkam
54
tembok yang runtuh
55
jejak di balik kabut
56
pintu yang terbuka
57
fondasi dibawah kaki
58
tembok yang berpindah
59
langkah bayangan
60
bayang yang menggigil
61
langit yang bergeming

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!