Satu Triliun Untuk Semalam

Satu Triliun Untuk Semalam

: tawaran yang mustahil

Langit sore di kota Semarang itu terlihat kelabu, seolah ikut merasakan beban berat yang sedang dipikul oleh Laras. Di dalam ruang tunggu rumah sakit yang berbau obat dan kesunyian, gadis berusia dua puluh dua tahun itu duduk menunduk, tangannya meremas selembar kertas tagihan rumah sakit yang sudah ia baca puluhan kali.

Angka yang tertera di sana terasa seperti tanda akhir dari segalanya. Seratus lima puluh juta rupiah. Jumlah yang mustahil untuk dikumpulkan dalam waktu tujuh hari—batas terakhir yang diberikan dokter sebelum ayahnya tidak bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut dan nyawanya semakin terancam.

Laras mengusap sudut matanya yang mulai basah. Ia sudah menjual semua barang berharga yang dimiliki, meminjam ke sana ke mari sampai tidak ada lagi kerabat atau teman yang berani menolong. Usahanya selama ini hanya mengumpulkan sedikit lebih dari dua puluh juta rupiah. Masih sangat jauh dari yang dibutuhkan.

“Nak Laras?”

Suara lembut memecah kesunyian. Ia mendongak, melihat Pak Budi, petugas administrasi yang sudah mengenalnya sejak ayahnya masuk rumah sakit dua minggu lalu. Wajah pria paruh baya itu terlihat prihatin.

“Ada kabar baik sekaligus kabar yang mungkin terdengar aneh untukmu,” kata Pak Budi pelan sambil melirik sekeliling agar tidak didengar orang lain. “Ada seseorang yang tahu keadaanmu. Ia bersedia melunasi semua biaya pengobatan ayahmu… bahkan memberikanmu uang yang jauh lebih banyak dari itu.”

Jantung Laras berdegup kencang. “Siapa, Pak? Apa syaratnya?”

“Beliau menunggu di ruang tamu utama. Namanya Raka Dirgantara. Kau pasti pernah mendengar namanya pemilik kelompok usaha terbesar di negeri ini. Tapi… aku harus ingatkan. Jangan terburu-buru setuju sebelum mendengar semuanya.”

Nama itu sudah cukup membuat Laras menahan nafas. Raka Dirgantara. Orang yang sering terlihat di berita, pemilik kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, dikenal sebagai pria yang dingin, tegas, dan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa ada keuntungan untuk dirinya. Apa yang mungkin ia inginkan dari gadis biasa sepertinya?

Dengan kaki yang terasa lemas, Laras mengikuti Pak Budi menuju ruang yang lebih tenang dan mewah. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca besar. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan jas hitam rapi yang terlihat sangat mahal. Udara di ruangan itu terasa lebih dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan, tapi juga karena aura yang terpancar dari pria itu.

“Silakan masuk,” suara Raka terdengar dalam dan tenang, meski ia belum berbalik.

Laras melangkah masuk perlahan, jantungnya berdegup semakin kencang. Ketika Raka akhirnya memutar badannya, pandangan matanya langsung bertemu dengan tatapan pria itu. Matanya gelap dan tajam, seolah bisa menembus ke dalam setiap rahasia yang disembunyikan Laras. Wajahnya tampan sempurna, namun tanpa senyum—hanya ada ketegasan dan jarak yang sulit ditembus.

“Duduklah,” perintahnya singkat, lalu ia menempati kursi di hadapannya.

Laras duduk dengan hati-hati, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan untuk menyembunyikan kegugupannya. “Terima kasih sudah sudi menemui saya, Tuan. Saya dengar Anda bersedia membantu… tapi tentu saja ada syaratnya, bukan?”

Raka menatapnya lekat selama beberapa detik, seolah sedang menilai sesuatu pada diri gadis itu. Ia lalu menyandarkan punggungnya dan berbicara dengan nada datar, seolah sedang membahas urusan bisnis biasa.

“Kondisimu sedang terdesak. Ayahmu butuh biaya besar, dan waktu yang tersisa sangat sedikit. Aku bisa menyelesaikan semuanya dalam hitungan jam.”

“Lalu apa yang Tuan inginkan dari saya?” tanya Laras lurus, berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

Sudut bibir Raka terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tidak menyentuh matanya. “Jawaban yang tepat. Aku tidak suka bertele-tele. Aku punya satu syarat sederhana: Kau harus menghabiskan satu malam bersamaku.”

Darah seketika terasa berhenti mengalir di tubuh Laras. Matanya terbelalak, wajahnya memucat. Ia sudah menduga ada syarat berat, tapi tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu.

“Satu malam?” ulangnya dengan suara yang nyaris tercekik.

“Ya. Hanya satu malam,” tegas Raka tanpa ragu. “Mulai dari matahari terbenam sampai matahari terbit keesokan harinya. Selama itu, kau akan menemaniku sesuai apa yang aku butuhkan. Setelah malam itu berakhir… semuanya selesai.”

Laras menelan ludah, pikirannya berputar kacau. Harga diri melawan rasa takut kehilangan ayahnya. “Dan sebagai gantinya… Tuan akan membayar biaya rumah sakit ayah saya?”

Raka menggeleng perlahan. “Lebih dari itu. Biaya pengobatan, biaya perawatan lanjutan, semuanya akan ditanggung. Dan sebagai bayaran untuk satu malam itu… aku akan memberimu uang tunai sebesar Satu Triliun Rupiah.”

Satu triliun.

Angka itu berputar di kepala Laras seolah menjadi gema yang memekakkan telinga. Jumlah yang nilainya cukup untuk mengubah nasib keluarganya selama tujuh turunan, cukup untuk menghapus segala kekhawatiran soal uang selamanya. Namun di balik angka yang luar biasa itu, tersimpan harga yang mungkin tidak bisa ia bayar dengan apa pun selain dirinya sendiri.

“Mengapa saya?” tanya Laras akhirnya, suaranya bergetar namun berusaha tetap tenang. “Dunia ini penuh wanita yang lebih cantik, lebih cerdas, dan tentu saja lebih pantas untuk tawaran sebesar itu dibanding saya.”

Raka menatapnya lebih dalam, ada kilatan samar yang sulit diartikan di balik matanya. “Karena kau terlihat bersih. Tidak ada niat tersembunyi, tidak ada ambisi untuk memanfaatkan kekayaanku. Aku hanya butuh seseorang yang bisa hadir malam itu tanpa membuat masalah, tanpa menuntut apa pun lagi setelahnya. Dan menurut laporan yang aku dapatkan, saat ini kau sedang dalam posisi yang tidak punya banyak pilihan.”

Kalimat itu jujur, namun terasa menusuk. Benar, Laras sadar ia sedang terjebak. Menolak berarti membiarkan ayahnya perlahan pergi, dan hidupnya akan hancur selamanya. Menerima berarti ia harus menyerahkan dirinya ke tangan pria yang tidak ia kenal, dengan risiko yang tidak bisa diprediksi.

“Berikan aku waktu untuk berpikir,” bisik Laras pelan.

“Tentu saja,” jawab Raka tenang. “Tapi ingat, tawaran ini hanya berlaku sampai matahari terbenam besok sore. Jika kau belum menjawab saat itu, tawaran ini akan ditarik kembali selamanya. Tidak akan ada kesempatan kedua.”

Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Laras.

“Jika kau setuju, hubungi nomor itu. Seseorang akan menjemputmu malam itu juga.”

Setelah mengucapkannya, Raka berdiri seolah urusannya sudah selesai. Ia melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Laras yang masih terduduk kaku, ditinggalkan bersama tawaran yang terasa seperti mimpi sekaligus jebakan.

Saat pintu tertutup rapat, Laras menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan menangis dalam diam. Di satu sisi ada harga diri, di sisi lain ada nyawa ayahnya yang tergantung. Dan di tengah-tengah itu, ada angka satu triliun yang terus berputar di pikirannya sebuah tawaran yang terlalu besar untuk ditolak, tapi terlalu berat untuk diterima.

Apakah ia sanggup menjajakan satu malam hidupnya demi segunung uang? Dan yang lebih penting lagi… apa yang sebenarnya tersembunyi di balik tawaran itu?

Laras belum tahu, bahwa keputusan yang akan ia ambil itu bukan hanya akan menyelamatkan hidupnya, tapi juga akan menjeratnya masuk ke dalam dunia Raka Dirgantara—dunia yang penuh kekuasaan, rahasia kelam, dan perasaan yang bisa menghancurkan keduanya.

Episodes
1 : tawaran yang mustahil
2 pilihan yang menyiksa
3 di balik pintu kediaman
4 cerita ditengah malam
5 fajar yang mengakhiri dan memulai
6 hidup yang berubah
7 badai di ufuk desa
8 janji dibawah langit desa
9 pertarungan di dua sisi
10 jejak yang terlupakan
11 kebenaran di ruang sidang
12 nilai yang tak tertawar
13 warisan yang terus hidup
14 pelajaran yang tak lekang oleh waktu
15 warisan yang tidak ternilai
16 kisah yang terus diceritakan
17 hikmah yang menjalar jauh
18 warisan yang tidak pernah berakhir
19 jejak yang tak terhapuskan
20 harta yang tak terhitung
21 harta yang tak pernah habis
22 angka yang lenyap
23 Draft
24 cermin waktu yang tak pernah bohong
25 gerbang harmoni yang tak terkunci
26 badai ujian diufuk cakrawala
27 mahkota damai dipuncak
28 sumber yang tidak pernah mengering
29 jejak yang menembus dinding waktu
30 cahaya yang tak pernah padam
31 akar yang tak pernah putus
32 benih yang menjadi hutan
33 cahaya yang tak terbatas
34 warisan yang tak pernah dimiliki
35 cahaya yang menemukan jalan pulang
36 benih yang menjadi hutan
37 aliran yang tidak pernah kering
38 jejak yang menyebar
39 benih yang tumbuh ditengah badai
40 jejak kaki yang menyatu ditanah
41 tangan yang menyambung jarak
42 jalan yang terbuka dari hati ke hati
43 benih persaudaraan
44 jalan yang ditemukan
45 jalan yang menyambung
46 angin yang membawa kabar
47 asap yang menebal
48 asap yang menutup langit
49 jejak yang tak hilang
50 jejak yang saling menyambung
51 kabar yang menembus
52 langkah yang tak henti
53 suara yang tak bisa dibungkam
54 tembok yang runtuh
55 jejak di balik kabut
56 pintu yang terbuka
57 fondasi dibawah kaki
58 tembok yang berpindah
59 langkah bayangan
60 bayang yang menggigil
61 langit yang bergeming
Episodes

Updated 61 Episodes

1
: tawaran yang mustahil
2
pilihan yang menyiksa
3
di balik pintu kediaman
4
cerita ditengah malam
5
fajar yang mengakhiri dan memulai
6
hidup yang berubah
7
badai di ufuk desa
8
janji dibawah langit desa
9
pertarungan di dua sisi
10
jejak yang terlupakan
11
kebenaran di ruang sidang
12
nilai yang tak tertawar
13
warisan yang terus hidup
14
pelajaran yang tak lekang oleh waktu
15
warisan yang tidak ternilai
16
kisah yang terus diceritakan
17
hikmah yang menjalar jauh
18
warisan yang tidak pernah berakhir
19
jejak yang tak terhapuskan
20
harta yang tak terhitung
21
harta yang tak pernah habis
22
angka yang lenyap
23
Draft
24
cermin waktu yang tak pernah bohong
25
gerbang harmoni yang tak terkunci
26
badai ujian diufuk cakrawala
27
mahkota damai dipuncak
28
sumber yang tidak pernah mengering
29
jejak yang menembus dinding waktu
30
cahaya yang tak pernah padam
31
akar yang tak pernah putus
32
benih yang menjadi hutan
33
cahaya yang tak terbatas
34
warisan yang tak pernah dimiliki
35
cahaya yang menemukan jalan pulang
36
benih yang menjadi hutan
37
aliran yang tidak pernah kering
38
jejak yang menyebar
39
benih yang tumbuh ditengah badai
40
jejak kaki yang menyatu ditanah
41
tangan yang menyambung jarak
42
jalan yang terbuka dari hati ke hati
43
benih persaudaraan
44
jalan yang ditemukan
45
jalan yang menyambung
46
angin yang membawa kabar
47
asap yang menebal
48
asap yang menutup langit
49
jejak yang tak hilang
50
jejak yang saling menyambung
51
kabar yang menembus
52
langkah yang tak henti
53
suara yang tak bisa dibungkam
54
tembok yang runtuh
55
jejak di balik kabut
56
pintu yang terbuka
57
fondasi dibawah kaki
58
tembok yang berpindah
59
langkah bayangan
60
bayang yang menggigil
61
langit yang bergeming

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!