Bab 1. Kekonyolan Lyra di pagi hari

Matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kamar vintage milik Lyra, menyinari buku bersampul kulit yang tergeletak di atas meja kayu.

Udara sejuk di pagi hari berpadu dengan aroma bunga yang samar, menciptakan suasana pagi yang tenang dan menenangkan di dalam ruangannya.

Cahaya keemasan menyapa seprai putih dan koleksi tanaman hias mini di ambang jendela.

Suara kicau burung bersahutan terdengar dari kejauhan. Di atas kasur, seorang gadis bernama Lyra masih terlelap dengan sangat nyenyak, meringkuk di balik selimutnya yang tebal. Tidurnya santai tanpa ada rasa bersalah.

Sementara itu, dari arah dapur tercium aroma harum masakan. Masakan yang sangat enak untuk disantap saat bersama keluarga.

Ibu sedang sibuk menyiapkan sarapan di pagi hari, Ayah meminta Ibu untuk membangunkan putri mereka yang masih berada di kamar.

Ibu pun melangkah menuju kamar Lyra dengan langkah cepat, Ibu masih menggunakan celemek berwarna hijau yg di celemeknya terdapat gambar beruang kecil yang lucu.

Sesampainya di sana, ia melihat anak gadisnya tidur dengan sangat nyaman seperti tak punya beban. Anak gadisnya tidur dalam keadaan posisi memeluk bantal guling yang bergambar domba putih dan wajahnya sedikit menempel di bantal gulingnya, terlihat siapa saja gemas melihatnya.

"Lyra, bangun, Sayang," panggil Ibu dengan suara lembut sambil menepuk pipinya.

Tak ada respons. Gadis itu bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Ibu mulai meninggikan suaranya, memanggil nama anaknya itu hingga beberapa kali, namun Lyra tetap tak bergeming.

Kesabarannya diuji, Ibu akhirnya berjalan mendekat dan menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Lyra.

Whoosh..... (Suara selimut di tarik)

Bukannya bangun, Lyra justru mengeratkan kembali selimutnya, memeluknya erat-erat karena masih merasa malas untuk bangkit dari kasur.

Ibu menghela napas panjang. Ia menepuk pipi Lyra dengan lembut namun tegas.

"Lyra.. bangun.. ini udah pagi, besok mau sekolah," ucap Ibu sambil berusaha menggoyangkan tubuh gadis itu dan mencubit pipi anak gadisnya itu.

Bagaimanapun juga, ia harus berhasil membangunkan anak gadisnya yang kebo ini. Jangan sampai anak gadisnya itu seperti kerbau, yang tidur bisa dalam keadaan waktu yang lama dengan sikap santai dengan muka yang tidak berdosa seperti itu. Jangan sampai anak gadisnya di omongin oleh tetangga tetangga lain karena seorang gadis yang pemalas dan bangun lambat di pagi hari. "Duh, jauh-jauhlah," pikirnya

Mendengar kata "sekolah", mata Lyra tiba-tiba terbuka lebar.

Ia terkesiap dan langsung terduduk tegak di atas kasurnya dengan ekspresi wajahnya yang bercampur aduk, seperti keadaan bentuk rambut yang tidak rapi karena baru bangun tidur dan wajah kagetnya dengan mulut terbuka dan matanya yang membulat.

"HAH?! Hari ini sekolah?!" jerit Lyra panik saat melihat jam dinding yang berada di kamarnya yang menunjukkan pukul 06:30 WIB.

Dengan gerakan secepat kilat, ia melompat turun dari kasurnya, melesat melewati ibunya, dan langsung berlari ngibrit masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya.

Melihat tingkah heboh sang anak yang salah mengira hari sehingga anaknya langsung berlari kencang meninggalkan ibunya yang belum sempat membalas ucapan Lyra, kalau hari ini bukan hari Lyra masuk sekolah namun besok, Ibu pun hanya bisa terdiam keheranan.

Brakk!! (Suara pintu tertutup kencang)

Ibu Lyra kaget, Ia berdiri mematung menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala dan Ibu pun mulai berjalan meninggalkan kamar Lyra menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

_____________

Ibu keluar dari dapur dengan langkah yang tenang, membawa nampan berisi makanan hangat yang baru saja dimasak.

Ibu menaruh piring-piring makanan di atas meja makan kayu yang bersih. Di atas meja terdapat makanan yang sangat enak, yaitu: ada ayam goreng yang dilumuri cabe hijau, sayur tumis dan ada Ikan asin yg dilumuri cabe merah yang membuat ruangan tempat mereka berada menjadi harum karena masakan yang dibuat oleh Ibu hari ini.

Di sekeliling meja, Ayah dan adik perempuan sudah duduk rapi menanti hidangan siap disantap.

Saat Ibu duduk di kursinya, suasana masih terasa damai.

Tiba-tiba Ayah menoleh dan melirik ke arah kamar, lalu bertanya dengan nada lembut, "Apakah Lyra sudah bangun?"

Ibu tersenyum hangat dan menjawab pertanyaan Ayah,"Iya, Lyra sudah bangun"

Ibu memberikan kepastian bahwa Lyra itu sebentar lagi akan bergabung di ruang makan.

Sebelum Lyra datang, ketiganya larut dalam obrolan ringan sambil sesekali merapikan posisi piring atau gelas.

_______________

Di sisi lain...

Suasana pagi menjadi riuh oleh langkah kaki Lyra yang tergesa-gesa.

Suara gemercik air yang baru saja dimatikan menyisakan keheningan singkat sebelum ia membuka pintu kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.

Waktu menunjukkan pukul 06.40 WIB. Lyra sadar ia harus segera bersiap cepat, ia melirik jam tangannya dan menatap cermin.

Sembari menahan napas, ia memoles wajahnya dengan sentuhan bedak tipis dan lipstik bernuansa merah muda agar wajahnya tak terlihat pucat.

Dengan gerakan cepat, ia mengenakan setelan atasannya yang rapi: sebuah kemeja putih yang dipadukan dengan rok atau bawahan berwarna biru yaitu baju SMP-nya.

Perhatiannya kemudian beralih ke sudut kamar. Tas jinjing miliknya sudah dipersiapkan dan ditata sejak malam, berisi dokumen-dokumen penting, dompet, dan sebuah buku agenda.

Ia segera menyambar tas tersebut, memastikan tidak ada barang yang tertinggal, lalu meraih ponsel di atas meja rias.

Setelah merapikan sedikit kerah bajunya, Lyra melangkah keluar dari kamar ke arah ruang makan dengan napas yang mulai teratur, siap untuk memulai hari.

___________

Lyra melangkah dengan percaya diri menuju ruang makan dan duduk di kursinya.

Dengan ceria ia menyapa keluarganya, "Semangat! Selamat pagi semuanya!"

Awalnya, Ayah, Ibu, dan adik perempuannya yang sedang menyantap sarapan merespons dengan anggukan biasa.

Namun sedetik kemudian, mereka menghentikan kunyahannya. Mereka menoleh secara serempak ke arah Lyra, saling bertukar pandang dengan wajah bingung.

Ayah pun memecah keheningan, "Kenapa pakai baju sekolah, Lyra?" tanya Ayah dengan alis terangkat.

Lyra menatap mereka dengan tampang polos. "Kan katanya hari ini jadwalnya sekolah?" jawab Lyra santai, mengambil piringnya dan menuangkan air putih ke gelasnya.

Mendengar jawaban itu, keheningan lenyap seketika.

"Bwahaahahaha".... (Suara tawa)

Ibu, Ayah, dan adik perempuannya tiba-tiba tertawa lepas tanpa bisa ditahan. Tawa mereka begitu keras sampai memegang perut, adik perempuannya sampai memegang pipinya juga karena paling lucu dan momen langka.

Lyra hanya bisa berkedip heran melihat reaksi keluarganya yang berlebihan.

"Kenapa pada ketawa sih?" tanya Lyra, mulai merasa tidak enak, wajahnya berubah bertanya-tanya.

Di sela-sela tawanya, adik perempuannya menjawab sambil terpingkal-pingkal, "Ya ampun Kak! Kakak masuk sekolahnya besok, bukan sekarang!"Gelak tawa pun semakin menggema di ruangan itu.

Seketika itu juga wajah Lyra memerah padam karena malu. Ia menepuk jidatnya keras-keras, menyadari kebodohannya.

"Bwaahahahaha".... (Suara Tawa)

Tanpa membuang waktu, Lyra menoleh dan menatap tajam adik perempuannya yang sedang tertawa puas di sampingnya, merasa benar-benar kesal karena adik perempuan mengejeknya.

Lyra dan adiknya terlibat adu mulut hebat di meja makan karena sang adik mengejek penampilan Lyra yang terlihat konyol.

"Tuh lah, makanya jangan tidur seperti kebo kak. Jadi malu kan jadinya," ejek adiknya, yang membuat mulut Lyra gatal untuk tidak adu mulut dengan adik manisnya yang di hadapannya ini.

"Dasar!! Adik nyebelin!! adik juga pernah pun pakai kaos kaki yang salah, jangan merasa paling benar deh." ejek Lyra yang tidak mau kalah dengan sikap sombongnya, melipat kedua tangannya di dada.

"Uuu... cuma itu pun, dari pada kakak, lebih parah karena terlalu rajin." balas adik perempuannya dengan menjulurkan lidahnya mengejek, mengajak berantem.

Emosi Lyra memuncak hingga ia bersiap memukul adiknya. Matanya tajam, tangannya mengepal keras menahan amarah dan mulutnya gatal, siap menghabisi adik perempuannya secara habis-habisan di saat itu juga. namun sang ayah segera melerai dan menengahi, meminta mereka fokus menyantap hidangan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkelahian dengan makan yang khidmat.

Suasana meja makan yang awalnya hangat mendadak berubah menjadi arena ketegangan.

Lyra menatap tajam adiknya sambil mengepalkan tangan, bersiap melayangkan pukulan.

"Udah, udah!" sergah suara tegas sang ayah dari ujung meja.

Ayah meletakkan sendoknya dengan tenang namun penuh wibawa.

Lyra masih menatap adiknya dengan napas memburu, sementara sang adik menjulurkan lidah tanda meledek, memancing emosi kakaknya lebih jauh lagi.

"Kalian ini mau makan atau mau berantem, sih?" tanya sang ayah menengahi keduanya, menghentikan adu mulut yang semakin memanas.

"Hari ini kita lagi makan. Jadi, fokus makan dulu. Perkara berantemnya nanti dilanjutin lagi setelah perut kalian kenyang"

Mendengar ucapan sang ayah, Lyra menurunkan tangannya dengan perasaan kesal dengan mulut yang masih komat-kamit.

Sang adik juga terdiam dan kembali duduk dengan benar di kursinya. Ketegangan perlahan mencair dan mereka pun akhirnya mengambil makanan masing-masing lalu menyantapnya dengan tenang dan hikmat.

____________

Begitu sendok terakhir berdentang di atas piring, suasana meja makan kembali menegang.

Lyra langsung menegakkan punggungnya, menatap sang adik dengan pandangan yang siap menerkam.

Ayah yang melihat hal itu hanya menghela napas, bersiap dengan skenario lanjutan.

"Selesai makan, kan? Sekarang ayo maju!" tantang Lyra sambil berdiri dari kursinya.

Sang adik langsung menciut melihat kakaknya yang tampak sangat serius untuk memukulnya. Ia segera berlari dan bersembunyi di balik punggung besar sang ayah, mencari perlindungan aman.

"Yah, lihat Kak Lyra! Padahal dia emang konyol pakai baju sekolah begitu!" teriak adiknya dari belakang kursinya.

"Sini kamu! Jangan sembunyi di balik Ayah!" bentak Lyra yang emosinya kembali tersulut.

Ayah segera merentangkan kedua tangannya, menghalangi Lyra yang sudah bersiap melayangkan pukulan.

"Hap! Cukup, cukup. Enggak ada yang boleh pukul-pukulan di rumah ini," ucap ayah tegas.

Mendengar ucapan Ayah, Lyra mendengus kesal namun akhirnya menurunkan kepalan tangannya.

Sang adik pun menjulurkan lidah dengan jail dari balik punggung Ayah, tahu bahwa ia sudah aman dari amukan kakaknya pagi itu

Satu kata untuk hari ini, "Huh, konyolnya aku hari ini," batin Lyra menarik napas.

Bersambung ~~~

Yuhu!! 🥳🥳 Halo apa kabar? jangan lupa Follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 🤗

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

ditunggu cerita selanjutnya ya!! 😉

see you~~

Terpopuler

Comments

Protocetus

Protocetus

gk pp sesekali bolos. Urus rumah

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 PERKENALAN TOKOH!!
2 Bab 1. Kekonyolan Lyra di pagi hari
3 Bab 2. Bermain bersama Teman
4 Bab 3. Persiapan Masuk Sekolah dan Percakapan Trio SMA
5 Bab 4. Hari Pertama Sekolah
6 Bab 5. Membuat Yel-yel berkelompok
7 Bab 6. Kelucuan & keseruan Siswa dan Siswi
8 Bab 7. Hari terakhir MPLS
9 Bab 8. Penentuan Kelas
10 Bab 9. Kelas Lyra dan Pemilihan Ketua Kelas
11 Bab 10. Rian dan Tanggung jawabnya sebagai Ketua Kelas
12 Bab 11. Keadaan Minda di Kelas X-5 dan teman baru
13 Bab 12. Tugas kelompok dan Kehebohan Minda
14 Bab 13. Makan Seblak dan Minda yang Malu karena Tingkah lakunya
15 Bab 14. Minda dan Cowo Pemilik Es Teh Bertemu
16 Bab 15. Kehebohan Lyra, Amel, Minda dan Rian di Kantin
17 Bab 16. Drama Cowo yang tertarik kepada Lyra
18 Bab 17. Kecemburuan Zena yang mengakibatkan kerugian dirinya sendiri
19 Bab 18. Amel, Tempat Pendengar yang Baik
20 Bab 19. Bayu suka sama Amel
21 Bab 20. Teman Baru Lyra di Perpustakaan, Arka
22 Bab 21. Suasana Heboh Di kelas Lyra
23 Bab 22. Rian menggoda Lyra tentang Arka
24 Bab 23. Rian menjahili temannya, Lyra
25 Bab 24. Lyra balas dendam kepada Rian, Rian jadi Mati Kutu
26 Bab 25. Rencana Rian dan Amel sengaja mempertemukan Minda dan Devon di Seblak
27 Bab 26. Perhatian Devon ke Minda
28 Bab 27. Rian gugup bertemu Rina, Anak Olimpiade
29 Bab 28. Lyra dan teman-temannya di Kantin sekolah
30 Bab 29. Lyra, Amel, Minda dan Rian selalu bersama
31 Bab 30. Suasana tegang, Ujian Kenaikan Kelas Minggu Depan
32 Bab 31. Perbincangan Keempat Sahabat Lyra tentang Ujian Minggu Depan di Kantin
33 Bab 32. Cerita Lelah Lyra bersama keluarganya tentang Ujian Minggu Depan
34 Bab 33. Kondisi Ujian Hari Pertama di Kelas Lyra dan Rian
35 Bab 34. Kondisi Ujian Hari Kedua di kelas Lyra dan Rian
36 Bab 35. Kondisi Ujian Hari Ketiga di kelas Lyra dan Rian
37 Bab 36. Kondisi Ujian Hari Terakhir di kelas Lyra dan Rian
38 Bab 37. Pembagian Rapor Kenaikan Kelas
39 Bab 38. Liburan yang menyenangkan setelah selesai Ujian Kenaikan Kelas
40 Bab 39. Lyra bertemu dengan sosok Pemuda Dingin yang menolongnya
41 Bab 40. Pemuda Dingin itu namanya Arthan
42 Bab 41. Lyra dan teman-temannya Bercerita saat Masa Sekolah dan Pemuda dingin
43 Bab 42. Lyra dan Pikiran yang mengganggunya
44 Bab 43. Lyra dan Arthan bertemu lagi
45 Bab 44. Lyra Curhat tentang Arthan ke temannya
46 Bab 45. Hari Baru di kelas 11 MIPA 2
47 Bab 46. Hari pertama yang mengejutkan di kelas Xl MIPA 2
48 Bab 47. Aksi semangat Rian yang membuat dirinya malu karena tingkah konyolnya
49 Bab 48. Kebersamaan Rian dan temannya di Kantin setelah Rian di hukum
50 Bab 49. Amel, Bendahara kelas Xl MIPA2
51 Bab 50. Petualangan ekstrakurikuler yang penuh kejutan
52 Bab 51. Apresiasi langsung dari Pak Darmawan, Eskul Jurnalistik
53 Bab 52. Sosok Misterius, Siapakah Dia?
54 Bab 53. Sosok Misterius itu datang ke kelas Lyra dan hal yang menegangkan
55 Bab 54. Misi yang cukup menegangkan dan menantang
56 Bab 55. Lyra Bertemu Gilang dan Vandro di SMA Bangsa
57 Bab 56. Lyra Bertemu Arthan lagi di Laboratorium Komputer 2
58 Bab 57. Kagum dan Harapan Lyra kepada Arthan
59 Bab 58. Lyra menuntut penjelasan dari Vandro
60 Bab 59. Kesedihan Lyra atas kepergian Arthan
61 Bab 60. Kerja Kelompok di Rumah Amel
62 Bab 61. Aktivitas Pertemanan Lyra di sekolah
63 Bab 62. Diskusi seru di ruang Mading
64 Bab 63. Tugas baru dan Amanah baru
65 Bab 64. Aksi Rian memulai Orasi Pertamanya
66 Bab 65. Momen Manis saat keempatnya sedang membaca curhatan lucu dan unik
67 Bab 66. Menyusun jawaban dan solusi kreatif bersama Ibu Citra
68 Bab 67. Momen Manis saat diberi Pujian dan Keberhasilan Program Mading
69 Bab 68. Obrolan empat sahabat di Taman setelah pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas
70 Bab 69. Kehangatan, Kebersamaan dan Kebahagiaan Keluarga Lyra
71 Bab 70. Kelucuan Empat Sahabat dan Adik Lyra
72 Bab 71. Lomba menahan tawa
73 Bab 72. Kebersamaan persahabatan di malam hari
74 Bab 73. Momen sedih Empat Sahabat, Rian Terpaksa Pindah Sekolah
75 Bab 74. Hari Pertama Sekolah tanpa Rian
76 Bab 75. Gilang dan Vandro, ternyata di kelas yang sama dengan Lyra?!
77 Bab 76. Lyra Ketemu Orang Asing, Siapa Dia?!
78 Bab 77. Lyra dan Cowo Asing itu Bertemu kedua kalinya?! Apakah mereka jodoh?
79 Bab 78. Amel dan Minda turut prihatin keadaan Lyra
80 Bab 79. Lyra syok dengan kejadian yang dialaminya
81 Bab 80. Lyra dan Arthan Bertemu?!
82 Bab 81. Lyra dan Arthan, sempat perang mulut?!
83 Bab 82. Lyra dan Arthan, Terpaksa akur karena satu kelompok?!
84 Bab 83. Arthan diam-diam mengagumi Lyra?!
85 Bab 84. Agen rahasia gadungan yang dilakukan oleh Amel, Minda, Gilang dan Vandro
86 Bab 85. Pertemuan yang tidak sengaja
87 Bab 86. Lyra menyeret Arthan ke dalam masalah lagi?
88 Bab 87. Kemarahan Arthan
89 Bab 88. Sikap dingin Arthan
90 Bab 89. Suasana menegangkan saat presentasi
91 Bab 90. Arthan terpaksa menatap mata Lyra
92 Bab 91. Bentuk perhatian Arthan
93 Bab 92. Momen perjalanan pulang bersama
94 Bab 93. Arthan, Perhatian namun tersembunyi
95 Bab 94. Arthan terpaksa ke kantin
96 Bab 95. Mengantar Lyra pulang dan Kejadian tak terduga
97 Bab 96. Menerima perjodohan secara terpaksa
98 Bab 97. Lyra dan Arthan berangkat bersama?!
99 Bab 98. Lyra didesak Amel dan Minda untuk bercerita
100 Bab 99. Suasana kerja kelompok di perpustakaan
101 Bab 100. Candaan jahil Gilang dan Vandro
Episodes

Updated 101 Episodes

1
PERKENALAN TOKOH!!
2
Bab 1. Kekonyolan Lyra di pagi hari
3
Bab 2. Bermain bersama Teman
4
Bab 3. Persiapan Masuk Sekolah dan Percakapan Trio SMA
5
Bab 4. Hari Pertama Sekolah
6
Bab 5. Membuat Yel-yel berkelompok
7
Bab 6. Kelucuan & keseruan Siswa dan Siswi
8
Bab 7. Hari terakhir MPLS
9
Bab 8. Penentuan Kelas
10
Bab 9. Kelas Lyra dan Pemilihan Ketua Kelas
11
Bab 10. Rian dan Tanggung jawabnya sebagai Ketua Kelas
12
Bab 11. Keadaan Minda di Kelas X-5 dan teman baru
13
Bab 12. Tugas kelompok dan Kehebohan Minda
14
Bab 13. Makan Seblak dan Minda yang Malu karena Tingkah lakunya
15
Bab 14. Minda dan Cowo Pemilik Es Teh Bertemu
16
Bab 15. Kehebohan Lyra, Amel, Minda dan Rian di Kantin
17
Bab 16. Drama Cowo yang tertarik kepada Lyra
18
Bab 17. Kecemburuan Zena yang mengakibatkan kerugian dirinya sendiri
19
Bab 18. Amel, Tempat Pendengar yang Baik
20
Bab 19. Bayu suka sama Amel
21
Bab 20. Teman Baru Lyra di Perpustakaan, Arka
22
Bab 21. Suasana Heboh Di kelas Lyra
23
Bab 22. Rian menggoda Lyra tentang Arka
24
Bab 23. Rian menjahili temannya, Lyra
25
Bab 24. Lyra balas dendam kepada Rian, Rian jadi Mati Kutu
26
Bab 25. Rencana Rian dan Amel sengaja mempertemukan Minda dan Devon di Seblak
27
Bab 26. Perhatian Devon ke Minda
28
Bab 27. Rian gugup bertemu Rina, Anak Olimpiade
29
Bab 28. Lyra dan teman-temannya di Kantin sekolah
30
Bab 29. Lyra, Amel, Minda dan Rian selalu bersama
31
Bab 30. Suasana tegang, Ujian Kenaikan Kelas Minggu Depan
32
Bab 31. Perbincangan Keempat Sahabat Lyra tentang Ujian Minggu Depan di Kantin
33
Bab 32. Cerita Lelah Lyra bersama keluarganya tentang Ujian Minggu Depan
34
Bab 33. Kondisi Ujian Hari Pertama di Kelas Lyra dan Rian
35
Bab 34. Kondisi Ujian Hari Kedua di kelas Lyra dan Rian
36
Bab 35. Kondisi Ujian Hari Ketiga di kelas Lyra dan Rian
37
Bab 36. Kondisi Ujian Hari Terakhir di kelas Lyra dan Rian
38
Bab 37. Pembagian Rapor Kenaikan Kelas
39
Bab 38. Liburan yang menyenangkan setelah selesai Ujian Kenaikan Kelas
40
Bab 39. Lyra bertemu dengan sosok Pemuda Dingin yang menolongnya
41
Bab 40. Pemuda Dingin itu namanya Arthan
42
Bab 41. Lyra dan teman-temannya Bercerita saat Masa Sekolah dan Pemuda dingin
43
Bab 42. Lyra dan Pikiran yang mengganggunya
44
Bab 43. Lyra dan Arthan bertemu lagi
45
Bab 44. Lyra Curhat tentang Arthan ke temannya
46
Bab 45. Hari Baru di kelas 11 MIPA 2
47
Bab 46. Hari pertama yang mengejutkan di kelas Xl MIPA 2
48
Bab 47. Aksi semangat Rian yang membuat dirinya malu karena tingkah konyolnya
49
Bab 48. Kebersamaan Rian dan temannya di Kantin setelah Rian di hukum
50
Bab 49. Amel, Bendahara kelas Xl MIPA2
51
Bab 50. Petualangan ekstrakurikuler yang penuh kejutan
52
Bab 51. Apresiasi langsung dari Pak Darmawan, Eskul Jurnalistik
53
Bab 52. Sosok Misterius, Siapakah Dia?
54
Bab 53. Sosok Misterius itu datang ke kelas Lyra dan hal yang menegangkan
55
Bab 54. Misi yang cukup menegangkan dan menantang
56
Bab 55. Lyra Bertemu Gilang dan Vandro di SMA Bangsa
57
Bab 56. Lyra Bertemu Arthan lagi di Laboratorium Komputer 2
58
Bab 57. Kagum dan Harapan Lyra kepada Arthan
59
Bab 58. Lyra menuntut penjelasan dari Vandro
60
Bab 59. Kesedihan Lyra atas kepergian Arthan
61
Bab 60. Kerja Kelompok di Rumah Amel
62
Bab 61. Aktivitas Pertemanan Lyra di sekolah
63
Bab 62. Diskusi seru di ruang Mading
64
Bab 63. Tugas baru dan Amanah baru
65
Bab 64. Aksi Rian memulai Orasi Pertamanya
66
Bab 65. Momen Manis saat keempatnya sedang membaca curhatan lucu dan unik
67
Bab 66. Menyusun jawaban dan solusi kreatif bersama Ibu Citra
68
Bab 67. Momen Manis saat diberi Pujian dan Keberhasilan Program Mading
69
Bab 68. Obrolan empat sahabat di Taman setelah pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas
70
Bab 69. Kehangatan, Kebersamaan dan Kebahagiaan Keluarga Lyra
71
Bab 70. Kelucuan Empat Sahabat dan Adik Lyra
72
Bab 71. Lomba menahan tawa
73
Bab 72. Kebersamaan persahabatan di malam hari
74
Bab 73. Momen sedih Empat Sahabat, Rian Terpaksa Pindah Sekolah
75
Bab 74. Hari Pertama Sekolah tanpa Rian
76
Bab 75. Gilang dan Vandro, ternyata di kelas yang sama dengan Lyra?!
77
Bab 76. Lyra Ketemu Orang Asing, Siapa Dia?!
78
Bab 77. Lyra dan Cowo Asing itu Bertemu kedua kalinya?! Apakah mereka jodoh?
79
Bab 78. Amel dan Minda turut prihatin keadaan Lyra
80
Bab 79. Lyra syok dengan kejadian yang dialaminya
81
Bab 80. Lyra dan Arthan Bertemu?!
82
Bab 81. Lyra dan Arthan, sempat perang mulut?!
83
Bab 82. Lyra dan Arthan, Terpaksa akur karena satu kelompok?!
84
Bab 83. Arthan diam-diam mengagumi Lyra?!
85
Bab 84. Agen rahasia gadungan yang dilakukan oleh Amel, Minda, Gilang dan Vandro
86
Bab 85. Pertemuan yang tidak sengaja
87
Bab 86. Lyra menyeret Arthan ke dalam masalah lagi?
88
Bab 87. Kemarahan Arthan
89
Bab 88. Sikap dingin Arthan
90
Bab 89. Suasana menegangkan saat presentasi
91
Bab 90. Arthan terpaksa menatap mata Lyra
92
Bab 91. Bentuk perhatian Arthan
93
Bab 92. Momen perjalanan pulang bersama
94
Bab 93. Arthan, Perhatian namun tersembunyi
95
Bab 94. Arthan terpaksa ke kantin
96
Bab 95. Mengantar Lyra pulang dan Kejadian tak terduga
97
Bab 96. Menerima perjodohan secara terpaksa
98
Bab 97. Lyra dan Arthan berangkat bersama?!
99
Bab 98. Lyra didesak Amel dan Minda untuk bercerita
100
Bab 99. Suasana kerja kelompok di perpustakaan
101
Bab 100. Candaan jahil Gilang dan Vandro

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!