Bab 4. Hari Pertama Sekolah

Matahari mulai menyapa dengan lembut, menembus celah jendela kamar Lyra. Udara pagi terasa sejuk dan menyegarkan, dihiasi kicauan burung yang merdu.

Di rumah yang asri ini, hari baru yaitu Masa SMA dimulai dengan ketenangan, aroma bunga yang harum yang membuat aktivitas siapa saja yang tidak sengaja melewati rumah ini membuat lebih bersemangat.

Langit di luar jendela masih berwarna jingga kemerahan, perlahan mengusir sisa-sisa malam.

Kriiiing... (Suara alarm ponsel)

Suara alarm ponsel berdering nyaring tepat pukul 04.30 WIB.

Sinar matahari pagi yang menyelinap masuk menyentuh pipi Lyra, memberikan kehangatan alami yang membuat Lyra tersenyum.

Lyra langsung terbangun, mematikan alarm, dan bergegas mandi. Setelah Lyra Mandi, lalu ia merapikan selimut dan sprei tempat tidurnya.

___________________

Setelah salat Subuh, ia mengenakan seragam putih-biru SMP-nya yang masih bersih dan rapi.

Setelah itu, ia melangkah menuju jendela dan ia membuka gordennya lebar-lebar.

Kriet... sssst...

Suara derit cincin gorden yang bergeser memecah keheningan pagi, disusul desau kain yang tersapu angin.

Hembusan angin sejuk langsung menyeruak ke dalam kamar, membawa aroma embun dan wangi bunga melati yang ditanam sang ibu di halaman depan.

Deg... deg.. deg... (sensasi jantung berdebar)

Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat pantulan dirinya di cermin—hari ini ia resmi menjadi siswi SMA. Tepat pukul 06.00 WIB, bel rumah Lyra berbunyi.

Ting-tong!... (Suara bel rumah berbunyi)

Lyra bergegas melangkah ke depan dan segera membuka pintu rumah.

kriet.... (Suara pintu terbuka)

Amel dan Minda sudah berdiri di depan teras dengan wajah semi-tegang dan mengantuk.

"Masuk dulu, yuk! Ini pita kuning kunyitnya sudah aku potongin," kata Lyra sambil menyerahkan potongan pita.

Mereka bertiga sibuk saling membantu mengikatkan pita di lengan kanan seragam masing-masing di ruang tamu, sementara Ibu Lyra menyiapkan roti bakar untuk bekal di jalan.

___________________

Vroom.... (Suara mesin mobil)

Pukul 06.15 WIB, Ayah Lyra memanaskan mesin mobil.

Mereka bertiga berpamitan kepada Ibu Lyra dan langsung masuk ke dalam mobil.

Deru mesin mobil yang perlahan keluar dari garasi rumahku. Aroma khas kabin mobil yang bersih berpadu sempurna dengan wangi parfum kopi yang digantung di dekat AC.

Lyra duduk di depan menemani Ayahnya, sementara Amel dan Minda duduk di kursi tengah.

Dari pengeras suara mobil, mengalun lembut lagu L-O-V-E milik Nat King Cole yang diputar oleh ayah—menjadi pengiring setia setiap kali kami membelah jalanan menuju pusat kota.

Jendela mobil sedikit kuturunkan, membiarkan angin sejuk menyapa wajahku. Di luar, suasana jalanan mulai hidup.

Anak-anak berseragam putih-biru dan putih-abu-abu tampak bergerombol di halte bus, tas ransel mereka terlihat berat menanggung tumpukan buku.

Sementara itu, para pedagang gerobak sarapan mulai sibuk melayani pembeli di pinggir jalan. Asap tipis mengepul dari kukusan kue basah dan wajan gorengan, menggoda perut yang mulai keroncongan.

Di kursi pengemudi, Ayah tampak tenang mengendalikan setir. Sesap kopi dari termos stainless steel miliknya menjadi jeda di antara obrolan ringan kami di dalam mobil. Ayah Lyra sesekali menunjuk ke arah papan reklame besar di perempatan jalan dan membahas berita yang kami dengar sekilas di radio pagi.

"Gimana nih calon anak SMA? Sudah siap mental menghadapi kakak kelas OSIS yang galak-galak?" tanya Ayah Lyra, Ayah Lyra menggoda sambil melirik dari spion tengah.

"Aduh, Om! Jangan ditakut-takutin dong. Ini dari semalam Amel sudah mules mikirin atribut MOS-nya." balas Amel

"Iya nih, Om. Tapi untung barang bawaan teka-tekinya sudah lengkap semua di tas. 'Air Kehidupan' sama 'Roti Berdarah' aman!" balas Minda menghela napas lega.

"Yah, jangan digodain terus ih. Oh iya, kalian bawa payung lipat enggak? Tadi aku lihat di berita ramalan cuaca, siang nanti agak mendung." tanya Lyra kepada teman-temannya.

"Wah, aku enggak bawa! Tapi enggak apa-apa deh, nanti kalau hujan kita lari bareng-bareng atau neduh di koridor sekolah." balas Amel lupa.

"Aku bawa kok, nanti kita bisa pakai berdua kalau terpaksa, Mel. Eh, lihat deh jalanan ke arah sekolah baru kita, macet banget ya ternyata banyak motor anak sekolah lain." ucap Minda.

Brum, jleb (Suara berhenti diiringi mematikan mesin mobil)

Mobil Ayah Lyra berhenti sekitar 50 meter dari gerbang sekolah karena jalur di depan sudah sangat padat oleh kendaraan dan kerumunan murid baru.

"Nah, sudah sampai. Kalian turun di sini saja ya supaya tidak makin telat. Belajar yang benar, jangan lupa berdoa!" ucap Ayah Lyra mengingatkan.

"Siap, Yah! Terima kasih banyak ya, Ayah hati-hati di jalan." balas Lyra.

Mereka bertiga menyalimi tangan Ayah Lyra bergantian.

Begitu turun dari mobil, hawa menegangkan langsung terasa.

___________________

Di seberang jalan, berdiri sebuah gapura megah dengan tulisan mencolok berukir nama institusi bergengsi, tempat di mana mereka akan menimba ilmu selama tiga tahun ke depan.

Deg... deg.... deg...

Jantung mereka berdegup lebih kencang seiring laju kendaraan yang perlahan merapat ke bahu jalan, tepat di depan trotoar kawasan sekolah.

Mereka mendongak secara bersamaan. Di hadapan mereka terbentang kompleks bangunan dengan arsitektur modern yang dipadukan dengan sentuhan klasik, terlihat begitu megah dan mengintimidasi sekaligus memukau.

Dinding-dindingnya didominasi warna krem dan abu-abu yang bersih, dikelilingi pepohonan rindang yang menjulang tinggi, memberikan kesan sejuk dan berwibawa.

"Wow," gumam Amel pelan, matanya berbinar menatap tiang bendera di tengah lapangan utama yang tampak berkibar megah diterpa angin.

Di ujung lapangan, deretan ruang kelas berdinding kaca memperlihatkan aktivitas belajar-mengajar yang mulai sibuk.

Minda dan Lyra mengangguk takjub, merasakan atmosfer yang sangat berbeda dari sekolah menengah pertama mereka dulu.

Kompleks ini terasa seperti sebuah dunia baru yang lebih luas, tempat di mana impian-impian besar dirajut.

Di sudut kiri, terpampang papan pengumuman digital yang menyala terang, menampilkan jadwal Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan denah kelas.

Di sebelah kanan, sebuah selasar panjang menghubungkan aula utama dengan laboratorium.

Meskipun sedikit ciut melihat keramaian siswa-siswi senior yang berlalu-lalang dengan seragam rapi dan berbagai macam atribut organisasi, ada semangat yang membuncah di dalam dada mereka.

Mereka sadar, langkah kecil di titik ini adalah awal dari pendewasaan diri.

Mereka kemudian melangkah beriringan meninggalkan area parkir.

Tuk... tuk.. tuk...

Suara sepatu mereka beradu dengan konblok trotoar yang bersih, menciptakan ritme langkah yang seirama dengan detak jantung mereka.

Udara pagi terasa semakin segar ketika aroma embun bercampur wangi dedaunan menyapa penciuman.

Di depan mata, gerbang utama yang terbuat dari besi abu-abu yang menjulang tinggi, beberapa pengurus OSIS dengan almamater merah maroon dan ban lengan hitam bertuliskan "PANITIA" sudah berdiri tegap.

Tatapan mata mereka tajam, memeriksa setiap murid yang lewat.

"Ayo yang baru datang langsung merapat ke lapangan! Jangan ada yang jalannya lambat! Topi dan atributnya langsung dipakai!" seru Kakak Osis.

Amel berbisik sangat pelan sambil memegang lengan Lyra, "Ly, lihat deh Kakak yang tinggi itu, mukanya judes banget. Aku merinding."

Minda ikut berbisik, "Ssst, jangan keras-keras, Mel. Lihat ke depan aja, jangan tatap matanya nanti kita kena tegor."

"Ayo cepat jalannya, kita ikuti barisan di depan itu menuju lapangan utama." ajak Lyra.

Mereka bertiga berjalan dengan langkah cepat namun tetap berusaha tenang, membaur di antara ratusan murid baru lainnya.

Bau rumput lapangan yang basah oleh embun pagi dan suara pengeras suara yang menggema membuat atmosfer hari pertama SMA ini terasa begitu nyata dan tidak akan pernah mereka lupakan.

Bersambung~~~

Haloo semua!!! semoga suka ceritanya ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 🤩😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

Episodes
1 PERKENALAN TOKOH!!
2 Bab 1. Kekonyolan Lyra di pagi hari
3 Bab 2. Bermain bersama Teman
4 Bab 3. Persiapan Masuk Sekolah dan Percakapan Trio SMA
5 Bab 4. Hari Pertama Sekolah
6 Bab 5. Membuat Yel-yel berkelompok
7 Bab 6. Kelucuan & keseruan Siswa dan Siswi
8 Bab 7. Hari terakhir MPLS
9 Bab 8. Penentuan Kelas
10 Bab 9. Kelas Lyra dan Pemilihan Ketua Kelas
11 Bab 10. Rian dan Tanggung jawabnya sebagai Ketua Kelas
12 Bab 11. Keadaan Minda di Kelas X-5 dan teman baru
13 Bab 12. Tugas kelompok dan Kehebohan Minda
14 Bab 13. Makan Seblak dan Minda yang Malu karena Tingkah lakunya
15 Bab 14. Minda dan Cowo Pemilik Es Teh Bertemu
16 Bab 15. Kehebohan Lyra, Amel, Minda dan Rian di Kantin
17 Bab 16. Drama Cowo yang tertarik kepada Lyra
18 Bab 17. Kecemburuan Zena yang mengakibatkan kerugian dirinya sendiri
19 Bab 18. Amel, Tempat Pendengar yang Baik
20 Bab 19. Bayu suka sama Amel
21 Bab 20. Teman Baru Lyra di Perpustakaan, Arka
22 Bab 21. Suasana Heboh Di kelas Lyra
23 Bab 22. Rian menggoda Lyra tentang Arka
24 Bab 23. Rian menjahili temannya, Lyra
25 Bab 24. Lyra balas dendam kepada Rian, Rian jadi Mati Kutu
26 Bab 25. Rencana Rian dan Amel sengaja mempertemukan Minda dan Devon di Seblak
27 Bab 26. Perhatian Devon ke Minda
28 Bab 27. Rian gugup bertemu Rina, Anak Olimpiade
29 Bab 28. Lyra dan teman-temannya di Kantin sekolah
30 Bab 29. Lyra, Amel, Minda dan Rian selalu bersama
31 Bab 30. Suasana tegang, Ujian Kenaikan Kelas Minggu Depan
32 Bab 31. Perbincangan Keempat Sahabat Lyra tentang Ujian Minggu Depan di Kantin
33 Bab 32. Cerita Lelah Lyra bersama keluarganya tentang Ujian Minggu Depan
34 Bab 33. Kondisi Ujian Hari Pertama di Kelas Lyra dan Rian
35 Bab 34. Kondisi Ujian Hari Kedua di kelas Lyra dan Rian
36 Bab 35. Kondisi Ujian Hari Ketiga di kelas Lyra dan Rian
37 Bab 36. Kondisi Ujian Hari Terakhir di kelas Lyra dan Rian
38 Bab 37. Pembagian Rapor Kenaikan Kelas
39 Bab 38. Liburan yang menyenangkan setelah selesai Ujian Kenaikan Kelas
40 Bab 39. Lyra bertemu dengan sosok Pemuda Dingin yang menolongnya
41 Bab 40. Pemuda Dingin itu namanya Arthan
42 Bab 41. Lyra dan teman-temannya Bercerita saat Masa Sekolah dan Pemuda dingin
43 Bab 42. Lyra dan Pikiran yang mengganggunya
44 Bab 43. Lyra dan Arthan bertemu lagi
45 Bab 44. Lyra Curhat tentang Arthan ke temannya
46 Bab 45. Hari Baru di kelas 11 MIPA 2
47 Bab 46. Hari pertama yang mengejutkan di kelas Xl MIPA 2
48 Bab 47. Aksi semangat Rian yang membuat dirinya malu karena tingkah konyolnya
49 Bab 48. Kebersamaan Rian dan temannya di Kantin setelah Rian di hukum
50 Bab 49. Amel, Bendahara kelas Xl MIPA2
51 Bab 50. Petualangan ekstrakurikuler yang penuh kejutan
52 Bab 51. Apresiasi langsung dari Pak Darmawan, Eskul Jurnalistik
53 Bab 52. Sosok Misterius, Siapakah Dia?
54 Bab 53. Sosok Misterius itu datang ke kelas Lyra dan hal yang menegangkan
55 Bab 54. Misi yang cukup menegangkan dan menantang
56 Bab 55. Lyra Bertemu Gilang dan Vandro di SMA Bangsa
57 Bab 56. Lyra Bertemu Arthan lagi di Laboratorium Komputer 2
58 Bab 57. Kagum dan Harapan Lyra kepada Arthan
59 Bab 58. Lyra menuntut penjelasan dari Vandro
60 Bab 59. Kesedihan Lyra atas kepergian Arthan
61 Bab 60. Kerja Kelompok di Rumah Amel
62 Bab 61. Aktivitas Pertemanan Lyra di sekolah
63 Bab 62. Diskusi seru di ruang Mading
64 Bab 63. Tugas baru dan Amanah baru
65 Bab 64. Aksi Rian memulai Orasi Pertamanya
66 Bab 65. Momen Manis saat keempatnya sedang membaca curhatan lucu dan unik
67 Bab 66. Menyusun jawaban dan solusi kreatif bersama Ibu Citra
68 Bab 67. Momen Manis saat diberi Pujian dan Keberhasilan Program Mading
69 Bab 68. Obrolan empat sahabat di Taman setelah pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas
70 Bab 69. Kehangatan, Kebersamaan dan Kebahagiaan Keluarga Lyra
71 Bab 70. Kelucuan Empat Sahabat dan Adik Lyra
72 Bab 71. Lomba menahan tawa
73 Bab 72. Kebersamaan persahabatan di malam hari
74 Bab 73. Momen sedih Empat Sahabat, Rian Terpaksa Pindah Sekolah
75 Bab 74. Hari Pertama Sekolah tanpa Rian
76 Bab 75. Gilang dan Vandro, ternyata di kelas yang sama dengan Lyra?!
77 Bab 76. Lyra Ketemu Orang Asing, Siapa Dia?!
78 Bab 77. Lyra dan Cowo Asing itu Bertemu kedua kalinya?! Apakah mereka jodoh?
79 Bab 78. Amel dan Minda turut prihatin keadaan Lyra
80 Bab 79. Lyra syok dengan kejadian yang dialaminya
81 Bab 80. Lyra dan Arthan Bertemu?!
82 Bab 81. Lyra dan Arthan, sempat perang mulut?!
83 Bab 82. Lyra dan Arthan, Terpaksa akur karena satu kelompok?!
84 Bab 83. Arthan diam-diam mengagumi Lyra?!
85 Bab 84. Agen rahasia gadungan yang dilakukan oleh Amel, Minda, Gilang dan Vandro
86 Bab 85. Pertemuan yang tidak sengaja
87 Bab 86. Lyra menyeret Arthan ke dalam masalah lagi?
88 Bab 87. Kemarahan Arthan
89 Bab 88. Sikap dingin Arthan
90 Bab 89. Suasana menegangkan saat presentasi
91 Bab 90. Arthan terpaksa menatap mata Lyra
92 Bab 91. Bentuk perhatian Arthan
93 Bab 92. Momen perjalanan pulang bersama
94 Bab 93. Arthan, Perhatian namun tersembunyi
95 Bab 94. Arthan terpaksa ke kantin
96 Bab 95. Mengantar Lyra pulang dan Kejadian tak terduga
97 Bab 96. Menerima perjodohan secara terpaksa
98 Bab 97. Lyra dan Arthan berangkat bersama?!
99 Bab 98. Lyra didesak Amel dan Minda untuk bercerita
100 Bab 99. Suasana kerja kelompok di perpustakaan
101 Bab 100. Candaan jahil Gilang dan Vandro
Episodes

Updated 101 Episodes

1
PERKENALAN TOKOH!!
2
Bab 1. Kekonyolan Lyra di pagi hari
3
Bab 2. Bermain bersama Teman
4
Bab 3. Persiapan Masuk Sekolah dan Percakapan Trio SMA
5
Bab 4. Hari Pertama Sekolah
6
Bab 5. Membuat Yel-yel berkelompok
7
Bab 6. Kelucuan & keseruan Siswa dan Siswi
8
Bab 7. Hari terakhir MPLS
9
Bab 8. Penentuan Kelas
10
Bab 9. Kelas Lyra dan Pemilihan Ketua Kelas
11
Bab 10. Rian dan Tanggung jawabnya sebagai Ketua Kelas
12
Bab 11. Keadaan Minda di Kelas X-5 dan teman baru
13
Bab 12. Tugas kelompok dan Kehebohan Minda
14
Bab 13. Makan Seblak dan Minda yang Malu karena Tingkah lakunya
15
Bab 14. Minda dan Cowo Pemilik Es Teh Bertemu
16
Bab 15. Kehebohan Lyra, Amel, Minda dan Rian di Kantin
17
Bab 16. Drama Cowo yang tertarik kepada Lyra
18
Bab 17. Kecemburuan Zena yang mengakibatkan kerugian dirinya sendiri
19
Bab 18. Amel, Tempat Pendengar yang Baik
20
Bab 19. Bayu suka sama Amel
21
Bab 20. Teman Baru Lyra di Perpustakaan, Arka
22
Bab 21. Suasana Heboh Di kelas Lyra
23
Bab 22. Rian menggoda Lyra tentang Arka
24
Bab 23. Rian menjahili temannya, Lyra
25
Bab 24. Lyra balas dendam kepada Rian, Rian jadi Mati Kutu
26
Bab 25. Rencana Rian dan Amel sengaja mempertemukan Minda dan Devon di Seblak
27
Bab 26. Perhatian Devon ke Minda
28
Bab 27. Rian gugup bertemu Rina, Anak Olimpiade
29
Bab 28. Lyra dan teman-temannya di Kantin sekolah
30
Bab 29. Lyra, Amel, Minda dan Rian selalu bersama
31
Bab 30. Suasana tegang, Ujian Kenaikan Kelas Minggu Depan
32
Bab 31. Perbincangan Keempat Sahabat Lyra tentang Ujian Minggu Depan di Kantin
33
Bab 32. Cerita Lelah Lyra bersama keluarganya tentang Ujian Minggu Depan
34
Bab 33. Kondisi Ujian Hari Pertama di Kelas Lyra dan Rian
35
Bab 34. Kondisi Ujian Hari Kedua di kelas Lyra dan Rian
36
Bab 35. Kondisi Ujian Hari Ketiga di kelas Lyra dan Rian
37
Bab 36. Kondisi Ujian Hari Terakhir di kelas Lyra dan Rian
38
Bab 37. Pembagian Rapor Kenaikan Kelas
39
Bab 38. Liburan yang menyenangkan setelah selesai Ujian Kenaikan Kelas
40
Bab 39. Lyra bertemu dengan sosok Pemuda Dingin yang menolongnya
41
Bab 40. Pemuda Dingin itu namanya Arthan
42
Bab 41. Lyra dan teman-temannya Bercerita saat Masa Sekolah dan Pemuda dingin
43
Bab 42. Lyra dan Pikiran yang mengganggunya
44
Bab 43. Lyra dan Arthan bertemu lagi
45
Bab 44. Lyra Curhat tentang Arthan ke temannya
46
Bab 45. Hari Baru di kelas 11 MIPA 2
47
Bab 46. Hari pertama yang mengejutkan di kelas Xl MIPA 2
48
Bab 47. Aksi semangat Rian yang membuat dirinya malu karena tingkah konyolnya
49
Bab 48. Kebersamaan Rian dan temannya di Kantin setelah Rian di hukum
50
Bab 49. Amel, Bendahara kelas Xl MIPA2
51
Bab 50. Petualangan ekstrakurikuler yang penuh kejutan
52
Bab 51. Apresiasi langsung dari Pak Darmawan, Eskul Jurnalistik
53
Bab 52. Sosok Misterius, Siapakah Dia?
54
Bab 53. Sosok Misterius itu datang ke kelas Lyra dan hal yang menegangkan
55
Bab 54. Misi yang cukup menegangkan dan menantang
56
Bab 55. Lyra Bertemu Gilang dan Vandro di SMA Bangsa
57
Bab 56. Lyra Bertemu Arthan lagi di Laboratorium Komputer 2
58
Bab 57. Kagum dan Harapan Lyra kepada Arthan
59
Bab 58. Lyra menuntut penjelasan dari Vandro
60
Bab 59. Kesedihan Lyra atas kepergian Arthan
61
Bab 60. Kerja Kelompok di Rumah Amel
62
Bab 61. Aktivitas Pertemanan Lyra di sekolah
63
Bab 62. Diskusi seru di ruang Mading
64
Bab 63. Tugas baru dan Amanah baru
65
Bab 64. Aksi Rian memulai Orasi Pertamanya
66
Bab 65. Momen Manis saat keempatnya sedang membaca curhatan lucu dan unik
67
Bab 66. Menyusun jawaban dan solusi kreatif bersama Ibu Citra
68
Bab 67. Momen Manis saat diberi Pujian dan Keberhasilan Program Mading
69
Bab 68. Obrolan empat sahabat di Taman setelah pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas
70
Bab 69. Kehangatan, Kebersamaan dan Kebahagiaan Keluarga Lyra
71
Bab 70. Kelucuan Empat Sahabat dan Adik Lyra
72
Bab 71. Lomba menahan tawa
73
Bab 72. Kebersamaan persahabatan di malam hari
74
Bab 73. Momen sedih Empat Sahabat, Rian Terpaksa Pindah Sekolah
75
Bab 74. Hari Pertama Sekolah tanpa Rian
76
Bab 75. Gilang dan Vandro, ternyata di kelas yang sama dengan Lyra?!
77
Bab 76. Lyra Ketemu Orang Asing, Siapa Dia?!
78
Bab 77. Lyra dan Cowo Asing itu Bertemu kedua kalinya?! Apakah mereka jodoh?
79
Bab 78. Amel dan Minda turut prihatin keadaan Lyra
80
Bab 79. Lyra syok dengan kejadian yang dialaminya
81
Bab 80. Lyra dan Arthan Bertemu?!
82
Bab 81. Lyra dan Arthan, sempat perang mulut?!
83
Bab 82. Lyra dan Arthan, Terpaksa akur karena satu kelompok?!
84
Bab 83. Arthan diam-diam mengagumi Lyra?!
85
Bab 84. Agen rahasia gadungan yang dilakukan oleh Amel, Minda, Gilang dan Vandro
86
Bab 85. Pertemuan yang tidak sengaja
87
Bab 86. Lyra menyeret Arthan ke dalam masalah lagi?
88
Bab 87. Kemarahan Arthan
89
Bab 88. Sikap dingin Arthan
90
Bab 89. Suasana menegangkan saat presentasi
91
Bab 90. Arthan terpaksa menatap mata Lyra
92
Bab 91. Bentuk perhatian Arthan
93
Bab 92. Momen perjalanan pulang bersama
94
Bab 93. Arthan, Perhatian namun tersembunyi
95
Bab 94. Arthan terpaksa ke kantin
96
Bab 95. Mengantar Lyra pulang dan Kejadian tak terduga
97
Bab 96. Menerima perjodohan secara terpaksa
98
Bab 97. Lyra dan Arthan berangkat bersama?!
99
Bab 98. Lyra didesak Amel dan Minda untuk bercerita
100
Bab 99. Suasana kerja kelompok di perpustakaan
101
Bab 100. Candaan jahil Gilang dan Vandro

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!