Episode 2

Bab 2

Hana keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata merah. Ia sudah mengganti handuknya dengan kemeja panjang dan celana bahan, tapi rambutnya masih basah. Biasanya ia akan mengeluh jika Arka menyuruhnya keluar pagi-pagi seperti itu, apalagi tanpa sempat berdandan. Kali ini ia tidak berani banyak bicara.

Arka menyimpan ponselnya ke saku, lalu membuka pintu kontrakan. "Ayo."

"Arka, kita bisa bicara dulu baik-baik," ucap Hana dengan suara yang sudah jauh lebih lunak. "Aku tadi emosi. Pesan itu juga tidak seperti yang kamu pikirkan."

Arka berhenti di depan pintu dan menatapnya. "Kamu mau aku kirim satu foto sekarang?"

Hana langsung menutup mulutnya.

Mereka pergi ke kantor catatan sipil dan pengadilan agama dengan suasana yang lebih mirip dua orang asing daripada suami istri. Prosesnya tidak selesai hari itu juga, tapi berkas awal sudah masuk. Ada masa tunggu dan prosedur yang harus dilewati, namun bagi Arka, pernikahan itu sudah selesai sejak ia membaca pesan Hana dan Bima.

Saat keluar dari gedung, Hana masih mencoba menarik lengannya.

"Kamu benar-benar tega? Lima tahun kita bersama, Arka."

Arka menepis tangannya. "Lima tahun aku minum racun dari tanganmu sendiri."

Hana menggigit bibir, tidak bisa membantah. Ia menatap Arka dengan mata basah, entah karena sedih atau marah karena rencananya berantakan.

"Bima tidak akan tinggal diam."

"Bagus. Suruh dia datang."

Hana terdiam. Ia seperti baru sadar bahwa ancaman yang dulu selalu membuat Arka menunduk kini tidak lagi berguna. Setelah beberapa detik, ia berbalik dan menghentikan taksi online di pinggir jalan, lalu masuk tanpa menoleh lagi.

Arka berdiri di depan gedung sambil menyalakan rokok. Ia bukan perokok berat, tapi pagi itu dadanya terlalu penuh. Ia mengisap sekali, lalu menatap lalu lintas Jakarta yang mulai padat. Orang-orang berjalan terburu-buru, motor saling mendahului, suara klakson bercampur dengan teriakan tukang parkir. Dunia tetap berjalan seperti biasa, seolah hidupnya tidak baru saja jungkir balik.

Saat merogoh saku, jarinya menyentuh liontin kecil di lehernya. Liontin itu dulu diberikan Hana saat mereka menikah. Bentuknya seperti mata hitam, katanya peninggalan neneknya untuk menjaga keselamatan. Dulu Arka menyimpannya dengan hati-hati karena merasa itu tanda cinta. Sekarang benda itu terasa seperti lelucon.

Ia masuk ke sebuah toko gadai kecil tidak jauh dari gedung itu. Pemilik toko, pria paruh baya berkacamata tebal, memeriksa liontin tersebut sebentar sebelum mengangkat bahu.

"Kalau rantainya masih lumayan. Liontinnya tidak ada harga. Saya berani kasih dua ratus ribu."

Arka menatap pria itu. "Cuma dua ratus ribu?"

"Mas, ini bukan batu mulia. Model begini banyak di online shop. Rantainya saja yang masih bisa dihitung."

Arka tertawa pendek. Peninggalan keluarga, katanya. Jimat keselamatan, katanya. Bahkan hadiah pernikahan Hana pun ternyata tidak lebih dari barang murahan.

Ia mengambil liontin itu kembali dan keluar dari toko. Di pinggir jalan, tanpa banyak pikir, ia membanting liontin itu ke aspal.

Liontin itu pecah.

Namun begitu pecahannya menyentuh tanah, dada Arka tiba-tiba terasa panas. Panas itu bukan seperti terbakar di kulit, tapi seperti ada sesuatu yang merambat masuk ke dalam tubuhnya. Arka mencengkeram kerah bajunya dan mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur dinding toko.

"Mas, kenapa?" pemilik toko ikut keluar dengan panik.

Arka tidak menjawab. Di dada kirinya, tepat di balik kemeja, muncul rasa berdenyut yang semakin kuat. Ia masuk ke gang sempit di samping toko dan membuka kancing bajunya. Di kulit dadanya terlihat pola mata hitam yang sama persis dengan liontin tadi, seolah gambar itu hidup dan menempel di sana.

Kepalanya mendadak penuh oleh informasi asing. Bukan suara yang jelas seperti orang bicara, melainkan potongan pengetahuan yang mengalir begitu saja. Ilmu pengobatan, membaca aura, jimat, tenaga dalam, feng shui, sampai cara menilai batu dan barang antik. Semuanya masuk sekaligus hingga Arka hampir muntah.

Ia bersandar pada dinding cukup lama. Keringat dingin membasahi punggungnya, tapi setelah rasa sakit itu mereda, pikirannya justru terasa lebih jernih dari sebelumnya.

Warisan Hantala.

Itu nama yang muncul di kepalanya. Sebuah warisan kuno yang mengatur keseimbangan hidup dan mati, panas dan dingin, tubuh dan jiwa. Arka tidak tahu apakah ia sedang gila, tapi pola mata di dadanya terlalu nyata untuk disebut halusinasi.

Ia juga mulai memahami kenapa tubuhnya semalam mendadak kembali hidup saat bersama Maya. Racun yang selama ini diberikan Hana memang merusak tubuhnya, tapi liontin itu menekan kerusakannya. Begitu ada rangsangan kuat dan liontin pecah, warisan yang tertidur ikut bangun.

"Brengsek," gumam Arka sambil menutup kemejanya lagi. "Jadi barang murahan ini malah lebih jujur daripada pemiliknya."

Pemilik toko masih berdiri di depan gang, menatapnya seperti melihat orang kerasukan.

"Mas yakin tidak perlu ke klinik?"

"Tidak perlu."

Arka berjalan pergi. Langkahnya masih sedikit goyah, tapi matanya sudah berbeda. Ia pulang ke kontrakan, mengunci pintu, lalu duduk bersila di lantai ruang tamu mengikuti cara pernapasan yang muncul di kepalanya. Semakin lama ia bernapas, semakin jelas ia merasakan aliran panas di dada bergerak ke seluruh tubuh.

Saat membuka mata, hari sudah menjelang sore.

Arka hampir lupa bahwa ia masih harus masuk kerja.

Ia buru-buru mandi, mengganti seragam, lalu pergi ke Nirwana Club. Baru sampai di lobi belakang, Pak Darto, kepala shift yang biasanya galak, langsung memanggilnya.

"Arka! Bos Jaya nunggu kamu di VIP utama."

Langkah Arka berhenti sebentar. Nama Jaya Harim membuat beberapa pelayan di sekitar mereka langsung menoleh. Di Nirwana Club, tidak ada yang berani bercanda dengan nama itu. Jaya adalah pemilik sebenarnya dari klub tersebut, orang yang dikenal bisa membuat urusan apa pun selesai, entah dengan uang atau dengan cara yang tidak ingin diketahui orang biasa.

Arka teringat Maya. Jika wanita itu membuka mulut tentang kejadian semalam, hidupnya mungkin benar-benar tamat.

Namun setelah mengalami semua yang terjadi hari itu, rasa takut Arka tidak lagi sebesar dulu. Ia mengetuk pintu ruang VIP utama dan masuk setelah mendengar suara berat dari dalam.

Ruangan itu dipenuhi asap rokok dan bau alkohol mahal. Jaya Harim duduk di sofa tengah dengan kemeja batik gelap, dua pria besar berdiri di belakangnya. Di meja ada gelas kristal, buah potong, dan sebuah pistol yang diletakkan begitu saja seolah hanya pemantik rokok.

Jaya menatap Arka dari atas sampai bawah.

"Maya bilang kamu bisa bawa mobil dengan baik."

Arka menahan napas. Jadi Maya tidak mengadu. Atau mungkin ini cara Jaya mengetesnya.

"Saya hanya menjalankan tugas, Bos."

Jaya melemparkan kunci Porsche ke arahnya. Arka menangkapnya dengan refleks yang bahkan membuat dirinya sendiri sedikit kaget.

"Mulai hari ini kamu jadi sopir pribadi Maya. Gaji tiga puluh juta sebulan. Kalau dia minta antar ke mana pun, kamu antar. Kalau dia minta tunggu, kamu tunggu. Kalau dia minta diam, kamu tutup mulut."

Arka menatap kunci di tangannya. Tiga puluh juta sebulan. Angka itu lebih besar dari semua penghasilannya selama beberapa bulan jika digabung.

"Baik, Bos."

Jaya menyipitkan mata. "Jangan kecewakan dia."

Arka mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Punggungnya baru terasa dingin setelah pintu tertutup. Ia belum tahu apa permainan Maya, tapi yang jelas wanita itu sengaja menariknya lebih dekat.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Maya masuk.

[Hari ini kamu boleh pulang. Besok jam dua belas siang, datang ke vila. Jangan telat.]

Arka menatap pesan itu beberapa saat, lalu menyimpan ponselnya. Ia baru berbalik hendak menuju pintu belakang saat melihat dua pria menyeret seorang wanita ke salah satu ruang karaoke di ujung koridor.

Wanita itu tampak lemas. Kepalanya terkulai, rambutnya menutupi sebagian wajah. Namun ketika salah satu lampu koridor mengenai wajahnya, Arka langsung berhenti.

Yulia Maheswari.

Guru Bahasa Indonesia waktu SMA.

Dulu Yulia baru lulus kuliah ketika mengajar di sekolahnya. Cantik, lembut, dan selalu tersenyum saat menjelaskan puisi di depan kelas. Bagi banyak siswa laki-laki, termasuk Arka, Yulia adalah cinta diam-diam yang tidak pernah berani disebut.

Arka melihat dua pria itu mengunci pintu dari luar lalu pergi ke arah toilet. Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat ke ruangan itu, membuka kunci dengan kartu cadangan staf yang tergantung di dinding servis, lalu masuk.

Lampu ruangan redup. Yulia terbaring di sofa dengan napas tidak teratur. Gaun kremnya kusut, rambutnya menempel di pipi, dan wajahnya merah tidak wajar.

Arka mendekat, lalu berjongkok di sampingnya.

"Bu Yulia?"

Yulia membuka mata sedikit, tapi jelas tidak benar-benar sadar. Arka menggertakkan gigi. Ia melepas jas seragamnya dan menutupi tubuh Yulia, lalu mengangkatnya keluar melalui pintu servis sebelum dua pria tadi kembali.

Beberapa menit kemudian, Porsche melaju keluar dari parkiran Nirwana.

Arka baru sadar satu masalah saat mobil sudah berada di jalan besar. Ia tidak tahu alamat Yulia.

Ia sedang berpikir untuk membawanya ke rumah sakit ketika Yulia tiba-tiba bergerak. Wanita itu membuka mata dengan pandangan berkabut, lalu meraih lengan Arka.

"Panas..." bisiknya.

Arka menepi dengan cepat. Namun sebelum mobil benar-benar berhenti, Yulia sudah condong ke arahnya. Bibirnya menyentuh rahang Arka tanpa arah, tangannya mencengkeram kemeja laki-laki itu.

"Tolong..."

Arka menahan bahu Yulia agar tidak jatuh ke pangkuannya. Aroma tubuh wanita itu, napas panasnya, dan kenangan masa SMA yang tiba-tiba muncul membuat kepala Arka kacau. Namun warisan di dadanya berdenyut, mengingatkannya pada sesuatu yang jauh lebih penting.

Ia menekan dua jari ke titik di bawah tulang selangka Yulia, mengikuti pengetahuan yang baru saja ia dapatkan.

Tubuh Yulia bergetar pelan.

"Bu Yulia, tahan sebentar," ucap Arka, menahan napasnya sendiri. "Saya bukan orang yang mau memanfaatkan keadaan seperti ini."

Yulia menatapnya dengan mata setengah terbuka. "Arka...?"

Nama itu keluar begitu lemah sampai hampir tenggelam oleh suara mesin mobil.

Terpopuler

Comments

Untung Santoso

Untung Santoso

hmm

2026-07-19

0

Su Pono

Su Pono

mengharukan

2026-07-18

0

Eddy Maryono

Eddy Maryono

mantap dan mengasikkan

2026-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!