Episode 4

Bab 4

Raka keluar dari gedung apartemen dengan langkah kacau. Pergelangan tangannya sakit bukan main, kacamatanya miring, dan wajahnya merah karena marah bercampur panik. Ia berlari ke parkiran sambil berkali-kali menelepon Bima, tapi panggilannya tidak diangkat.

"Sial!" umpatnya sambil menendang ban mobil orang yang kebetulan terparkir di dekatnya.

Ia berkeliling mencari Yulia dan laki-laki yang menolongnya tadi. Di sudut parkiran yang agak gelap, Raka melihat sebuah Porsche hitam dengan kaca gelap. Mobil itu tampak bergerak sangat pelan, nyaris tidak terlihat jika ia tidak sedang memperhatikan.

Raka mendengus. "Orang kaya memang tidak tahu tempat."

Ia tidak berpikir terlalu jauh. Siapa pun pemilik Porsche itu, Raka tidak punya nyali untuk mengetuk kaca dan membuat masalah baru. Apalagi saat ini ia masih harus mencari cara menjelaskan semuanya kepada Bima. Jika rahasianya sebagai laki-laki yang lebih tertarik pada pria sampai diketahui ayahnya, uang bulanannya bisa berhenti saat itu juga.

Setelah beberapa menit mengumpat sendiri, Raka akhirnya pergi. Ia masih tidak sadar bahwa orang yang ia cari berada tepat di mobil yang baru saja ia maki.

Di dalam Porsche, Yulia bersandar pada kursi dengan mata terpejam. Rambutnya berantakan, napasnya belum benar-benar rapi, dan jari-jarinya masih menggenggam lengan Arka seolah takut laki-laki itu akan tiba-tiba menghilang. Gaun kremnya sudah kembali dirapikan, meski bekas kusutnya tetap memperlihatkan betapa kacau malam itu bagi mereka berdua.

Arka menurunkan kaca sedikit untuk membiarkan udara dingin masuk. Embun di kaca depan perlahan menipis. Aroma parfum Yulia, rokok samar dari parkiran, dan panas tubuh yang belum hilang membuat suasana di dalam mobil terasa terlalu intim untuk dibicarakan dengan kalimat biasa.

Arka tidak tahu harus berkata apa. Semua terjadi terlalu cepat. Yulia adalah mantan gurunya, seseorang yang dulu ia hormati dari jauh, tetapi perempuan yang duduk di sampingnya sekarang bukan lagi bayangan di masa SMA. Ia nyata, napasnya masih belum rapi, dan jemarinya masih meninggalkan bekas cengkeraman di lengan Arka.

Yulia membuka mata dan menoleh ketika Arka terlalu lama diam.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Arka mengusap wajahnya sendiri. "Aku masih merasa ini gila."

Yulia tertawa kecil, suaranya serak. "Memang gila."

Ia merapikan rambut dengan jari, tetapi semakin dirapikan, semakin jelas bekas kacaunya. Wajahnya merah, bibirnya masih basah, dan gaun kremnya tidak bisa kembali serapi semula. Saat menyadari Arka melihat semua itu, Yulia langsung menarik jas ke pangkuan.

"Jangan lihat terus," ucapnya.

"Tadi kamu yang menyuruhku jangan cuma lihat."

Yulia membeku, lalu wajahnya semakin merah. Ia mengambil tisu dan melemparkannya ke dada Arka, tidak keras, tapi cukup untuk menutupi rasa malunya.

"Kamu murid yang kurang ajar."

"Sudah tidak jadi murid Ibu sejak lama."

Panggilan "Ibu" membuat Yulia menggigit bibir. Entah karena malu atau karena mengingat apa yang baru saja terjadi, ia tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia menarik napas pelan dan menatap kaca depan.

"Aku harus bereskan Raka," katanya. "Kalau tidak, dia akan kembali menyeretku ke Bima."

"Aku tetap akan bantu kamu."

Yulia menoleh lagi. "Kenapa?"

"Karena Bima juga punya urusan denganku."

Nama itu membuat wajah Yulia berubah. Ia akhirnya menceritakan semuanya. Raka selama ini menyembunyikan orientasinya dari keluarga. Bima mengetahui rahasia itu dan memakainya untuk memeras Raka. Malam ini, Raka menyeret Yulia ke Nirwana Club dengan alasan menemani minum beberapa tamu penting. Namun begitu sampai, Yulia mulai merasa pusing setelah minum jus yang diberikan pelayan.

Arka mendengarkan dengan rahang mengeras.

Bima benar-benar menjijikkan. Urusan Hana saja sudah cukup membuatnya ingin menghajar pria itu. Sekarang ditambah Yulia, Arka semakin yakin suatu hari ia harus membuat Bima berlutut.

"Ayahku masih di rumah sakit," lanjut Yulia. "Kecelakaan dua tahun lalu. Dokter bilang kondisinya vegetatif. Raka membayar sebagian biaya perawatan, dan itu yang selalu dia pakai untuk menahanku."

Arka teringat bagian pengobatan dalam warisan Hantala. "Bawa aku ke rumah sakit."

Yulia mengira ia salah dengar. "Sekarang?"

"Iya."

"Arka, ayahku bukan sekadar sakit biasa. Dokter spesialis saja sudah menyerah."

"Aku tidak bilang pasti, tapi aku bisa mencoba."

Yulia menatapnya ragu. Setelah apa yang ia lihat malam itu, terutama cara Arka menjatuhkan Raka dan menekan titik di tubuhnya sampai obat itu mereda, ia tidak bisa sepenuhnya menganggap ucapan Arka omong kosong.

"Kamu benar-benar bisa?"

"Kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu."

Yulia akhirnya mengangguk. Mereka pergi ke Rumah Sakit Medika Sentosa, salah satu rumah sakit swasta besar di Jakarta. Sebelum masuk, Yulia menarik lengan Arka dan membawanya lewat pintu belakang. Ia tidak ingin bertemu terlalu banyak perawat yang mengenalnya.

Kamar rawat ayah Yulia berada di lantai tiga. Ruangan itu hanya diterangi lampu kecil. Seorang perawat pendamping tertidur di kursi. Di ranjang, ayah Yulia terbaring kurus dengan selang dan alat pemantau di sekitarnya.

Arka mendekat dan memeriksa nadi pria tua itu. Begitu jarinya menyentuh kulit pasien, pengetahuan medis dari Hantala muncul lagi. Ia bisa merasakan ada sumbatan dan bekas perdarahan lama di bagian kepala. Secara logika medis biasa, kondisi itu nyaris mustahil pulih cepat. Namun aliran panas di dada Arka menunjukkan jalur yang bisa dicoba.

"Aku butuh jarum akupunktur," bisik Arka.

Yulia segera mengambil kotak kecil dari tasnya. "Dulu ayah pernah terapi akupunktur. Ini masih ada."

Arka mensterilkan jarum seadanya dengan alkohol medis di meja. Setelah itu ia mulai menusukkan jarum pertama di titik kepala. Tangannya bergerak lebih tenang daripada yang ia kira. Setiap jarum masuk, ia menyalurkan sedikit tenaga Hantala, membuat aliran hangat bergerak ke dalam tubuh pasien.

Yulia berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam. Ia tidak berani bersuara.

Namun saat Arka memasukkan jarum ketiga, pintu kamar terbuka.

"Kalian sedang apa?"

Suara perempuan itu tajam dan penuh amarah.

Arka menoleh.

Hana berdiri di ambang pintu dengan seragam perawat. Matanya melebar saat mengenali Arka.

"Kamu?" Hana melangkah masuk dengan wajah tidak percaya. "Arka, kamu gila? Kamu mau membunuh pasienku?"

Yulia langsung berdiri di depan Hana. "Jangan ganggu dia."

"Kamu siapa? Keluarga pasien?" Hana melihat wajah Yulia dan mendengus. "Oh, Bu Yulia. Hebat sekali, sekarang kamu membawa laki-laki tidak jelas untuk menusuk kepala ayahmu sendiri?"

Arka tidak memedulikan mereka. Tangannya tetap bekerja. Keringat mulai muncul di dahinya, karena setiap aliran tenaga yang ia pakai membuat dadanya berdenyut panas.

"Yulia, tahan dia sebentar," ucap Arka.

Hana langsung menekan tombol panggil darurat. "Satpam! Ada orang melakukan tindakan ilegal di kamar 308!"

Langkah kaki mulai terdengar dari koridor.

Yulia menahan Hana agar tidak mendekati ranjang. Dua wanita itu saling dorong. Hana semakin panik saat melihat Arka sama sekali tidak berhenti.

"Arka! Kalau pasien ini mati, kamu masuk penjara!"

Arka memasukkan jarum terakhir.

Monitor di samping ranjang tiba-tiba berbunyi cepat.

Yulia menoleh dengan wajah pucat. Hana juga berhenti meronta.

Di atas ranjang, jari ayah Yulia bergerak.

Terpopuler

Comments

Su Pono

Su Pono

menegangkan

2026-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!