Episode 5

Bab 5

Monitor pasien berbunyi semakin cepat. Hana yang tadi paling ribut justru berdiri kaku di samping pintu, matanya membesar melihat garis detak jantung yang tiba-tiba stabil. Beberapa detik kemudian, kelopak mata ayah Yulia bergerak pelan.

"Ayah?" suara Yulia bergetar.

Pria tua di ranjang itu membuka mata. Pandangannya masih kosong dan lemah, tapi ia benar-benar sadar. Bibirnya bergerak seperti ingin bicara, hanya tidak ada suara yang keluar.

Yulia langsung menangis. Ia menggenggam tangan ayahnya dan memanggilnya berkali-kali, seolah takut jika berhenti memanggil, pria itu akan kembali tertidur panjang.

Dokter jaga dan beberapa satpam masuk hampir bersamaan. Mereka semula datang untuk menghentikan tindakan ilegal, tetapi begitu melihat pasien yang selama ini dianggap hampir mustahil sadar kini membuka mata, semua orang di ruangan itu ikut terdiam.

"Panggil dokter saraf. Cepat!" perintah dokter jaga setelah tersadar.

Ayah Yulia segera dibawa untuk pemeriksaan lanjutan. CT scan, MRI, dan pemeriksaan saraf dilakukan berturut-turut. Hasilnya membuat dokter-dokter yang bertugas malam itu saling menatap bingung. Bekas tekanan pada saraf yang selama ini menjadi masalah utama berkurang drastis. Fungsi otaknya belum pulih sempurna, tapi sudah jauh lebih baik dari perkiraan mana pun.

Yulia memegang laporan pemeriksaan dengan tangan gemetar. Ia menoleh pada Arka yang berdiri di ujung koridor.

"Arka, ini..."

"Ayahmu masih perlu pemulihan," potong Arka sebelum Yulia terlalu larut. "Jangan terlalu banyak diajak bicara dulu. Pastikan dokter memantau kondisinya."

Yulia mengangguk berkali-kali. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena putus asa. "Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa."

"Tidak perlu dibalas sekarang."

Arka melirik ke arah Hana yang berdiri agak jauh. Wajah wanita itu sulit dijelaskan. Marah, bingung, penasaran, dan tidak rela bercampur jadi satu. Mungkin baru sekarang Hana sadar bahwa mantan suami yang selama ini ia anggap sampah ternyata menyimpan sesuatu yang tidak ia ketahui.

Arka tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Setelah bertukar nomor dengan Yulia, ia turun ke parkiran. Baru saja ia membuka pintu Porsche, pintu sisi penumpang tiba-tiba ditarik dari luar.

Hana masuk begitu saja.

"Kita perlu bicara."

Arka menatapnya tanpa ekspresi. "Turun."

Hana tidak bergerak. Ia menatap interior Porsche, lalu menatap Arka dari atas sampai bawah. "Mobil ini milik siapa? Sejak kapan kamu bisa mengobati pasien seperti itu? Arka, kita bersama lima tahun. Kenapa aku tidak pernah tahu?"

"Karena kamu terlalu sibuk mencampur obat ke kopiku."

Wajah Hana berubah, tapi ia cepat-cepat melembutkan suara. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar salah. Tapi kita bisa mulai lagi. Aku sudah memutuskan hubungan dengan Bima."

Arka hampir tertawa. "Secepat itu?"

Hana menggeser tubuh lebih dekat. Parfumnya masih sama seperti dulu, aroma manis yang pernah membuat Arka merasa pulang. Sekarang aroma itu hanya membuatnya ingat pada kopi beracun yang ia minum bertahun-tahun.

"Kamu masih mencintaiku, kan?" Hana menyentuh lengan Arka. "Kita sudah melewati banyak hal. Aku hanya tersesat. Beri aku kesempatan. Aku bisa jadi istri yang lebih baik."

Arka menatap tangan Hana di lengannya, lalu menatap wajah wanita itu. Jika ini terjadi kemarin, mungkin ia masih akan goyah. Hana adalah cinta pertamanya, wanita yang pernah ia bela mati-matian. Tapi setelah semua pesan itu, setelah melihat bagaimana Hana dengan santai menunggu dirinya hancur, rasa kasihan yang tersisa pun terasa menjijikkan.

"Kesempatan?" Arka membuka pintu mobil, turun, lalu berjalan ke sisi penumpang.

Hana mengira Arka mulai luluh. Ia bahkan sedikit tersenyum dan menyilangkan kaki, sengaja membuat rok seragam perawatnya tertarik lebih tinggi.

"Aku tahu kamu masih menginginkanku."

Arka membuka pintu sisi penumpang, mencengkeram pergelangan tangan Hana, lalu menariknya keluar tanpa memberi kesempatan berakting lebih lama. Hana terkejut dan hampir jatuh di aspal parkiran.

"Arka!"

Arka melempar tas kecil Hana ke arahnya. "Kesempatanmu cuma satu. Datang saat proses cerai dilanjutkan, tanda tangan baik-baik, lalu hilang dari hidupku."

Hana menatapnya dengan wajah merah karena malu dan marah. Beberapa orang di parkiran mulai melihat ke arah mereka.

"Kamu akan menyesal!"

"Aku sudah menyesal lima tahun."

Arka masuk ke mobil dan menutup pintu. Hana masih berdiri di luar sambil menggenggam tasnya erat-erat. Saat Porsche keluar dari parkiran, ia berteriak memaki, tapi Arka tidak menoleh.

Ia pulang menjelang pagi dan tidak tidur. Tubuhnya terasa panas karena beberapa kali memakai tenaga Hantala. Ia duduk bersila di lantai kontrakan, mengatur napas sampai aliran panas di dadanya perlahan mereda. Saat membuka mata lagi, matahari sudah tinggi.

Ponselnya penuh pesan dari Yulia.

Yulia mengabarkan bahwa kondisi ayahnya stabil. Dokter masih bingung, beberapa kepala bagian bahkan menanyakan siapa Arka sebenarnya. Di pesan terakhir, Yulia menulis bahwa ia hanya menjawab Arka orang baik yang kebetulan lewat.

Arka tersenyum kecil membaca itu. Ia membalas singkat, menyuruh Yulia istirahat dan tidak memikirkan Raka dulu. Jika Raka atau Bima datang mengganggu, ia hanya perlu menelepon.

Tepat pukul dua belas siang, Porsche berhenti di depan vila Bukit Menteng.

Maya Santoso keluar tidak lama kemudian. Hari itu ia tidak memakai gaun malam, melainkan setelan rajut putih yang tampak sederhana tetapi justru membuat tubuhnya terlihat lebih mahal. Atasannya pas di badan, celananya jatuh rapi mengikuti langkahnya, dan setiap gerakannya seperti sengaja dibuat pelan agar orang punya waktu untuk memperhatikan.

Maya membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Aroma parfumnya langsung memenuhi kabin, membuat Arka teringat pada malam sebelumnya tanpa bisa dicegah.

"Tepat waktu," kata Maya sambil memasang sabuk pengaman. "Bagus."

Arka menatap lurus ke depan. "Kita langsung ke Nirwana, Bu?"

Maya tidak menjawab. Ia justru menoleh, memperhatikan wajah Arka cukup lama sampai laki-laki itu merasa tidak nyaman.

"Kamu terlihat berbeda hari ini."

"Kurang tidur."

"Bukan itu." Maya tersenyum. "Semalam kamu masih seperti anak baru yang takut ketahuan mencuri. Hari ini matamu lebih berani."

Arka menggenggam setir sedikit lebih erat. "Bu Maya mau ke mana?"

"Sebelum itu, jawab satu pertanyaan." Maya sedikit condong ke arahnya. Sabuk pengaman membuat lekuk tubuhnya semakin jelas, dan ia tahu Arka menyadarinya meski laki-laki itu berusaha menatap ke depan. "Menurutmu aku cantik?"

Arka menarik napas. "Cantik."

"Kalau begitu, apa kamu pernah berpikir ingin memiliki aku?"

Pertanyaan itu membuat kabin mobil terasa lebih sempit. Arka menoleh sekilas. Maya menatapnya dengan senyum yang tidak bisa disebut bercanda sepenuhnya.

"Bu Maya, kalau Bos Jaya dengar..."

Maya tertawa pelan. "Aku tidak tanya Jaya. Aku tanya kamu."

Arka tidak menjawab. Malam sebelumnya sudah cukup berbahaya. Ia tidak ingin masuk lebih jauh ke permainan wanita ini, tapi Maya jelas bukan tipe orang yang membiarkan buruannya kabur begitu saja.

Setelah puas melihat Arka salah tingkah, Maya menyandarkan tubuhnya lagi.

"Aku menjadikanmu sopirku bukan hanya karena kejadian semalam."

"Lalu karena apa?"

"Aku butuh kamu mendekati seseorang."

Arka mengerutkan dahi. "Mendekati?"

"Menggoda, kalau kamu ingin kata yang lebih jelas."

Arka hampir salah menginjak pedal. "Siapa?"

Maya mengambil ponsel dari tasnya dan menunjukkan sebuah foto. Di layar tampak seorang wanita berwajah dingin dengan gaun formal hitam, berdiri di depan gedung perusahaan besar. Cantiknya bersih, tajam, dan sulit didekati.

"Bianca Lestari," ucap Maya. "Pendiri sekaligus pemilik Lestari Intimates."

Arka tentu tahu nama itu. Bianca bukan hanya mantan penyanyi dan selebritas internet yang pernah memenuhi semua acara televisi. Setelah keluar dari dunia hiburan, ia membangun bisnis pakaian dalam dan produk wanita yang dalam beberapa tahun saja menjadi merek terbesar di Indonesia. Wajahnya sering muncul di majalah bisnis, tapi gosip tentang kehidupan pribadinya hampir tidak pernah ada.

"Bu Maya bercanda?"

"Aku kelihatan bercanda?"

Arka menatap foto Bianca lagi, lalu menatap Maya. "Orang seperti dia mana mungkin tertarik pada sopir klub malam?"

Maya tersenyum, seolah justru menunggu jawaban itu.

"Makanya aku yang akan membuka pintunya."

Arka belum sempat membalas ketika Maya menyentuh layar ponsel dan memperbesar foto Bianca.

"Masalahnya, kalau kamu gagal, aku akan sangat kecewa."

Terpopuler

Comments

Don Juan

Don Juan

gaskeun

2026-07-20

0

Ismed Aidil

Ismed Aidil

lanjut

2026-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!