Episode 3

Bab 3

Panggilan Dingin dan Sebutir Permen

HP itu terus bergetar di telapak tangan Karina.

Nathan menatap layar retak tersebut, lalu menarik Lucas mendekat. Reaksi mereka membuat Karina semakin yakin tentang siapa yang menelepon.

Sebastian Wijaya.

Suaminya. Laki-laki yang dalam novel akan menjadi orang pertama yang menghancurkannya.

Karina menarik napas dan menekan tombol hijau.

"Halo?"

Tidak ada sapaan dari seberang. Hanya bunyi samar pintu tertutup, lalu suara laki-laki yang rendah dan dingin.

"Bagaimana keadaan di sana?"

Karina melirik dua anak di seberang meja. "Baik."

"Anak-anak?"

"Mereka juga baik."

Sunyi selama dua detik.

Jawaban yang terlalu cepat. Karina menyadarinya ketika telapak tangannya mulai basah. Sebastian belum menuduh apa pun, tetapi setiap jeda darinya terasa seperti mata yang sedang memeriksa kebohongan.

"Mereka menurut?" tanyanya.

Nathan menunduk. Jemarinya meremas bahu Lucas.

Karina berpaling agar anak-anak itu tak melihat kepanikan di wajahnya. Ia tak mungkin mengatakan mereka ketakutan, kelaparan, dan terluka. Namun menyerahkan HP sekarang juga terasa seperti meletakkan keselamatannya di tangan dua anak yang punya semua alasan untuk membencinya.

"Aku sakit beberapa hari ini," katanya, memilih separuh kebenaran. "Jadi belum sempat terlalu banyak mengurus mereka."

"Sakit apa?"

"Pusing. Tadi malam kepalaku juga terbentur. Ada beberapa hal yang terasa... kabur."

Sebastian tidak langsung menjawab.

Karina mendengar gesekan kain dan satu embusan napas yang tertahan. Ia membayangkan seorang pria di balik meja besar, menimbang setiap kata dari perempuan yang secara hukum adalah istrinya, tetapi nyaris tidak ia kenal.

"HP-nya berikan kepada Nathan," ucap Sebastian.

Jantung Karina jatuh ke perut.

Nathan mengangkat wajah. Lucas memegang lengan kakaknya dengan kedua tangan.

"Mereka baru mau tidur," jawab Karina. "Lucas agak mengantuk."

"Nathan belum."

Itu bukan pertanyaan.

Karina menatap anak sulung tersebut. Nathan balas menatap tanpa berkedip. Ada tantangan kecil di sana, tetapi lebih banyak ketakutan. Jika ia mendekat sambil membawa HP, anak itu mungkin akan meraih sapu lagi.

"Dia sedang tidak mau bicara," kata Karina. Setidaknya bagian itu bukan kebohongan. "Jangan dipaksa dulu."

Hening kembali menekan telinganya.

"Lakukan yang seharusnya," ujar Sebastian akhirnya.

Sambungan terputus.

Karina menurunkan HP perlahan. Keringat dingin membasahi belakang lehernya meski udara Cibungur menusuk sampai tulang.

Ia belum tahu apakah kalimat tadi peringatan atau sekadar perintah dari laki-laki yang memang bicara seperti itu kepada semua orang. Yang jelas, ia hanya menunda pertanyaan. Cepat atau lambat Sebastian akan mendengar kebenaran dari mulut anak-anak sendiri.

Karina harus memperbaiki apa yang masih bisa diselamatkan sebelum hari itu tiba.

Lucas memecah kesunyian. "Papa marah?"

"Aku nggak tahu."

"Nanti kami dimarahin?"

Karina menatapnya. "Kenapa aku harus marah?"

Bocah itu segera menutup mulut.

Nathan memeluk adiknya dari samping. "Kami nggak dengar apa-apa."

Karina nyaris mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut. Kalimat itu terasa terlalu murah setelah semua janji yang pernah diingkari wajah ini.

"Tidurlah," katanya akhirnya. "Besok kita cari makanan dan obat."

Pagi berikutnya, Karina menemukan sebuah kotak besi di balik lipatan sarung pada lemari bawah. Kuncinya terselip di celah papan. Di dalamnya ada beberapa lembar uang kusut, jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya dimiliki tiga orang untuk bertahan hidup.

Namun cukup untuk hari ini.

Ia mengajak Nathan dan Lucas berjalan ke warung di ujung desa. Jalan tanah masih basah oleh embun malam. Batu-batu kecil menonjol dari lumpur, sementara nyamuk beterbangan di dekat semak. Kabut tipis menggantung di atas sawah bertingkat.

Nathan berjalan di antara Karina dan Lucas.

Setiap kali jalan menyempit, ia mendorong adiknya ke sisi yang jauh dari Karina. Ketika Lucas terpeleset, Nathan lebih dulu menangkap lengannya meski Karina sudah mengulurkan tangan.

"Aku bisa membantunya," kata Karina.

"Aku juga bisa."

Nathan tidak menatapnya.

Karina menarik tangannya kembali. "Baik. Pelan-pelan saja."

Warung itu berdinding papan, dengan mi instan, saset kopi, sabun, dan bumbu kemasan bergelantungan di bawah terpal. Seorang perempuan berkain batik sedang menata telur ketika mereka datang.

"Pagi, Mpok," sapa Karina.

Perempuan itu mengangkat alis. Tatapannya berpindah dari Karina ke dua anak kurus di belakangnya.

"Pagi, Bu Karina. Tumben ramai-ramai."

Nada suaranya terdengar biasa, tetapi matanya berhenti cukup lama pada lebam di pelipis Nathan.

Karina menahan dorongan untuk menutupi anak itu. Menyembunyikan luka hanya akan membuatnya tampak semakin bersalah.

"Ada salep antiseptik dan kain kasa?"

"Buat siapa?"

"Anak-anak."

Mpok Ijah diam sebentar. "Ada. Nggak banyak."

Ia mengeluarkan tube kecil dan sebungkus kasa dari kotak plastik di belakang rak. Tatapannya masih sarat pertanyaan, mungkin juga penilaian. Karina bisa merasakan kabar tentang ibu tiri jahat yang tiba-tiba membeli obat akan sampai ke beberapa rumah sebelum siang.

"Beras setengah kilo, telur empat, tempe satu, sama minyak yang kecil," kata Karina. Ia menghitung uangnya dua kali. "Sabun juga, Mpok."

Tangannya berhenti di dekat stoples bening berisi permen buah berbungkus warna-warni.

Lucas sedang menatapnya.

Begitu sadar Karina melihat, bocah itu buru-buru mengalihkan pandangan ke lantai. Kedua tangannya disembunyikan di belakang punggung, seakan keinginan sekecil itu pun harus disembunyikan.

"Permennya satu bungkus kecil," tambah Karina.

Lucas mendongak. Nathan justru mengerutkan kening.

Mpok Ijah memasukkan semuanya ke kantong plastik. "Uangnya pas-pasan, Bu. Yakin beli permen?"

"Yakin."

Perempuan itu menerima uang tanpa komentar lagi. Saat Karina berbalik, ia mendengar Mpok Ijah menghela napas pelan di belakang rak.

Mereka pulang melewati pematang. Setelah warung tak lagi terlihat, Karina berhenti di bagian jalan yang sepi. Ia meletakkan belanjaan, mengambil satu permen berwarna jingga, lalu berjongkok.

Bungkus plastiknya berkeresek di antara jari.

Mata Lucas mengikuti setiap gerakan.

Karina membuka permen itu dan menyodorkannya. "Untuk Lucas."

Bocah tersebut tidak membuka mulut. Ia menatap permen, kemudian memandang kakaknya.

"Ambil kalau mau," kata Nathan, masih waspada.

"Kak Nathan juga dapat?"

"Dapat," jawab Karina. "Tapi satu-satu."

Lucas melangkah maju. Bibirnya terbuka sedikit, lalu kembali tertutup ketika permen hampir menyentuhnya.

"Nggak dimarahin?"

"Nggak."

"Nggak disuruh bayar?"

Karina harus menekan kuku ke telapak tangan agar wajahnya tidak berubah. "Nggak. Ini memang untukmu."

Lucas akhirnya menerima permen itu dengan bibirnya.

Rasa manis menyentuh lidahnya. Tubuh kecilnya langsung kaku.

Sudah begitu lama sejak ia terakhir diberi sesuatu tanpa ancaman, sampai rasa buah yang sederhana itu terasa seperti manis pertama dalam ingatannya. Jemarinya yang sejak tadi terkepal perlahan terbuka. Matanya membesar, lalu mendadak penuh air.

Satu tetes jatuh ke pipinya.

Disusul tetes kedua.

Lucas tidak terisak. Ia hanya berdiri sambil mengulum permen, menangis tanpa mengerti kenapa dadanya sesak karena sesuatu yang enak.

"Sakit?" Karina bertanya cepat. "Rasanya aneh?"

Lucas menggeleng kuat-kuat. Air matanya semakin deras. "Manis."

Satu kata itu nyaris merobohkan Karina.

Nathan membuang muka ke arah sawah. Tenggorokannya bergerak saat menelan. Satu tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung baju Karina, siap menariknya jika ia mendekati Lucas. Setelah melihat adiknya tidak disakiti, kepalan kecil itu mengendur sedikit demi sedikit.

Karina tidak memeluk Lucas. Ia hanya menyeka satu tetes air mata dengan ibu jari setelah bocah itu mengangguk mengizinkan.

Lalu ia membuka permen kedua dan meletakkannya di telapak Nathan.

"Punyamu."

Nathan menatap benda kecil berwarna kuning itu. "Kenapa?"

"Karena kamu juga anak-anak."

Jarinya menutup di sekeliling permen, tetapi ia tidak langsung memakannya. "Aku simpan buat Lucas."

"Di bungkus itu masih ada. Yang ini milikmu."

Nathan memasukkannya ke saku, seolah belum siap memercayai bahwa sesuatu bisa benar-benar menjadi miliknya.

Sesampainya di rumah, Karina segera menanak nasi dan merebus air. Lucas duduk dekat tungku dengan sisa jejak air mata di pipi, sesekali menyentuh bibirnya sendiri. Nathan membantu mengeluarkan belanjaan tanpa diminta.

"Setelah makan, kita bersihkan luka Lucas," kata Karina.

"Luka Kak Nathan juga," celetuk Lucas.

Nathan menoleh tajam. "Dek."

"Tadi kena celana, terus basah lagi."

Karina mengambil sehelai celana lama dari tumpukan pakaian yang tadi sempat dijemurnya. Cahaya dari jendela dapur jatuh tepat ke noda gelap di ujung celana Nathan.

"Celanamu basah. Ganti dulu, ya."

"Nggak ada apa-apa."

Nathan mundur ketika Karina hendak menyerahkan pakaian pengganti. Ujung celana yang dipakainya tersangkut kaki bangku dan tertarik ke atas.

Pada betis kurus itu, kain menempel pada sebuah luka lama yang kembali terbuka. Darah segar merembes dari sela keropeng, jauh lebih parah daripada luka yang terlihat pada Lucas.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!