Episode 4

Bab 4

Perban Berbentuk Pita dan Panggilan Pertama

Nathan buru-buru menarik ujung celananya ke bawah.

"Nggak usah dilihat."

Karina tidak mengejar. Ia meletakkan pakaian pengganti di atas bangku, lalu berdiri kembali.

"Baik. Mama nggak akan memaksa." Tatapannya turun sesaat ke noda darah yang sudah merembes menembus kain. "Tapi luka itu harus dibersihkan. Kamu boleh pikirkan dulu sampai nanti malam."

Nathan tidak menjawab. Ia berjalan terpincang-pincang meninggalkan dapur sambil tetap menggandeng Lucas.

Sepanjang sore, Karina tidak menyinggung luka itu lagi. Ia menanak beras yang dibeli dari warung, menggoreng tempe tipis-tipis, lalu membagi sebutir telur untuk kedua anak. Nathan makan dalam diam. Setiap kali celananya bergesekan dengan bangku, rahangnya mengeras, tetapi mulutnya tak mengeluarkan suara.

Setelah langit di luar jendela berubah gelap, Karina merebus air sekali lagi.

Lampu minyak tanah diletakkan di lantai ruang depan. Nyala kuningnya kecil dan sesekali bergoyang ditiup angin dari celah dinding. Di samping baskom air hangat, Karina sudah menyiapkan sabun, salep antiseptik, kain kasa, dan potongan kain bersih.

Ia mencuci tangan sampai bersih, kemudian duduk di atas tikar.

"Nathan."

Anak itu sedang bersandar di dekat pintu bersama Lucas. Mendengar namanya, jemarinya langsung meremas ujung baju.

"Aku bisa sendiri," katanya.

"Boleh. Mama ajari caranya."

Karina menggeser baskom ke tengah, lalu menunjukkan kain dan salep satu per satu. "Kain ini dibasahi dulu. Yang menempel di luka jangan ditarik kering-kering. Nanti kulitnya sobek lagi."

Nathan menatap benda-benda itu. "Kalau aku bersihkan sendiri, kamu nggak pegang?"

"Nggak, kalau memang kamu bisa."

Ia menyerahkan kain hangat kepadanya.

Nathan menerimanya dengan hati-hati. Namun begitu ujung kain menyentuh bagian celana yang lengket oleh darah, bahunya tersentak. Ia mencoba lagi. Tangan kecilnya gemetar terlalu keras untuk mengusap dengan pelan.

Lucas berjongkok di sampingnya. "Kak, sakit?"

"Nggak."

"Tangannya goyang."

"Karena dingin."

Udara memang dingin, tetapi keringat sudah muncul di pelipis Nathan.

Karina tetap duduk di tempatnya. "Kalau mau dibantu, bilang."

Nathan menggigit bibir. Ia menatap kain di tangannya, salep di lantai, lalu wajah Lucas yang semakin cemas. Harga dirinya dan rasa sakit seperti sedang tarik-menarik di dalam tubuh enam tahun itu.

Akhirnya, ia menyodorkan kain tanpa mengangkat kepala.

"Cuma yang nempel."

"Cuma yang nempel," janji Karina.

Ia bergerak mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuh kaki Nathan. "Boleh Mama gulung celananya?"

Nathan mengangguk satu kali.

Karina membasahi kain yang melekat pada luka. Sedikit demi sedikit, serat yang mengering melunak dan terlepas dari keropeng. Air di baskom cepat berubah keruh oleh tanah dan bercak darah lama.

Nathan duduk kaku. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Setiap kali kain menyentuh bagian yang terbuka, jari kakinya menekuk, tetapi ia tidak mengaduh.

"Kalau sakit bilang, ya," bisik Karina. "Mama pelan-pelan."

"Nggak sakit."

Suara itu serak. Matanya sudah merah.

Karina tidak membongkar kebohongan kecil tersebut. Ia hanya memperlambat gerakannya. Lumpur di sekitar luka dibersihkan, lalu kulitnya dikeringkan dengan kain lain. Tidak ada bau menyengat atau nanah, tetapi bagian yang berulang kali pecah tetap harus dijaga bersih.

"Besok kalau jadi bengkak, panas, atau keluar cairan, kita cari Puskesmas," katanya.

Nathan menatapnya sekilas. Seperti janji tentang obat kemarin, ucapan itu belum ia percaya. Namun kali ini ia juga tidak langsung menyebutnya bohong.

Karina mengoleskan salep tipis di area luka sesuai petunjuk pada kemasan. Setelah itu, ia melilitkan kasa mengitari betis Nathan. Kasa yang mereka punya tidak banyak. Ia menghitung panjangnya agar cukup untuk luka Lucas juga.

Ketika hendak menyelipkan ujung balutan, Karina melihat sisa kasa kecil menggantung.

Ia teringat pita rambut yang pernah dipasangkan neneknya saat ia masih kecil. Bentuknya sederhana, tetapi pada hari-hari sepi, benda kecil itu selalu terasa seperti tanda bahwa seseorang sempat memikirkan dirinya.

Jemarinya melipat sisa kasa menjadi dua simpul kecil.

Hasilnya miring. Satu sisi lebih panjang daripada sisi lain.

"Sudah," ucap Karina.

Nathan menunduk.

Di atas betisnya kini ada perban putih dengan simpul menyerupai pita. Terlalu kecil untuk menjadi hiasan, terlalu tidak rapi untuk disebut cantik. Namun bocah itu menatapnya begitu lama sampai Karina bertanya-tanya apakah ia salah melakukan sesuatu.

"Kekencangan?"

Nathan menggeleng.

Ujung jarinya bergerak diam-diam. Ia menyentuh simpul pita itu sekali, sangat ringan, kemudian buru-buru menarik tangannya ketika sadar Karina melihat.

"Aneh," gumamnya.

"Iya. Mama belum jago bikin pita."

"Bukan jelek," Nathan membalas cepat. Wajahnya langsung menegang, seolah menyesali kalimat yang telanjur keluar. "Cuma... aneh."

Karina menahan senyum. "Kalau begitu, kita sebut pita aneh."

Lucas yang sejak tadi mengamati maju satu langkah. Luka di tulang keringnya lebih ringan, tetapi ia memandang salep itu dengan mata ragu.

"Aku juga boleh?"

"Tentu."

"Aku nakal, ya?"

Karina terdiam. "Kenapa bilang begitu?"

Lucas meremas ujung kausnya. "Kalau nggak nakal, kenapa waktu sakit nggak dikasih obat? Kak Nathan juga nggak."

Dada Karina terasa seperti diremas.

Ia ingin mengatakan bahwa yang salah adalah orang dewasa. Namun bocah lima tahun tidak membutuhkan penjelasan panjang. Ia membutuhkan jawaban yang bisa dipegang.

Karina membuka kedua tangannya, tetapi tidak langsung menariknya. "Kalian nggak nakal. Kalian nggak pantas dibiarkan sakit."

Lucas memandang Nathan lebih dulu.

Kakaknya tidak mengangguk. Tidak juga melarang.

Barulah Lucas bergerak mendekat dan duduk di sisi Karina. Bahunya menyentuh lengan perempuan itu. Sangat ringan, nyaris tak terasa, tetapi ia tidak menjauh ketika Karina membersihkan luka di kakinya.

Setelah kedua luka selesai dibalut, angin malam menerobos celah jendela. Nyala lampu bergoyang. Lucas menggigil dan tanpa sadar merapatkan tubuh ke sisi Karina.

Karina mengambil selimut tipis dari atas tikar, lalu menyampirkannya ke bahu bocah itu.

"Masih dingin?"

Lucas mengangguk. Jari-jarinya mencengkeram ujung selimut. Wajahnya terangkat, menatap Karina seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan sejak tadi.

Bibirnya bergerak, tetapi tak ada suara.

"Kenapa?" tanya Karina.

"Ma... Mama."

Suara itu hampir hilang dibawa angin.

Lucas sendiri tampak terkejut. Ia segera menoleh kepada Nathan, lalu mencoba mundur dari sisi Karina. Ketakutan kembali memenuhi matanya, seolah satu panggilan yang salah bisa membatalkan makanan, obat, dan semua kebaikan hari itu.

Nathan menatap adiknya. Kemudian ia menatap Karina.

Tangannya kembali menyentuh simpul pita pada perban.

Ia tidak berkata apa-apa.

Karina menelan sesuatu yang terasa keras di tenggorokannya. Matanya panas, tetapi ia tidak ingin tangisnya membuat Lucas takut. Jadi ia hanya menahan selimut tetap terbuka, memberi anak itu pilihan untuk mendekat atau pergi.

"Mama di sini," jawabnya. Suaranya pecah pada kata pertama.

Lucas berkedip. Keraguan di wajahnya belum benar-benar hilang, tetapi tubuhnya bergerak lebih dulu. Ia bersandar ke dada Karina.

Karina merangkulnya pelan.

Tidak erat. Tidak sampai menjebak. Hanya cukup untuk membiarkan bocah itu merasakan kehangatan yang tadi ia cari.

Di samping mereka, Nathan masih mengawasi. Namun kali ini ia tidak menarik Lucas pergi.

Malam itu, mereka bertiga berbaring di atas tikar yang sama. Karina mengambil sisi dekat dinding. Lucas meringkuk di tengah dengan satu tangan mencengkeram ujung bajunya. Nathan berbaring di sisi paling luar, di antara adiknya dan pintu.

Ia masih mengenakan pakaian lengkap. Matanya beberapa kali terbuka ketika angin menggoyang daun pintu. Namun sapu tetap bersandar di sudut ruangan.

Untuk pertama kalinya, Nathan tidur tanpa menggenggamnya.

Karina menatap dua wajah kecil yang perlahan tenang di bawah cahaya lampu yang hampir padam. Ia tak tahu berapa lama dirinya akan hidup di dunia ini. Ia juga belum tahu seberapa dekat Sebastian dengan kebenaran.

Namun satu hal sudah pasti.

Hidup ini, dan kedua anak ini, akan ia lindungi sekuat tenaga.

Menjelang subuh, suara langkah kaki berderap di jalan tanah membangunkan mereka.

Nathan langsung duduk. Lucas tersentak di pelukan Karina. Dari luar terdengar beberapa perempuan saling bersahutan, disusul suara Bu Sumiati yang melengking semakin dekat.

"Karina! Keluar kamu! Suruh anak pencuri itu keluar!"

Terpopuler

Comments

Dandelion

Dandelion

nggak ada ruang ajaib atau apa kah yg bisa membantu karina hidup di dunia novel ka othor 😁

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!