Bab 2

"Baiklah, kalau kamu bersikeras ingin menikah dengan nya. Aku kabulkan keinginanmu."

Ucapan itu sontak membuat Dimas dan Ibunya saling berpandangan. Raut tegang di wajah mereka perlahan menghilang, berganti kelegaan.

"Nah, begitu dong, Karin." Bu Ratna tersenyum puas. "Ibu tahu kamu wanita pengertian."

"Aku janji tidak akan mengurangi hakmu sedikitpun. Kamu tetap istri sahku." Dimas buru-buru menambahkan.

Karin nyaris tertawa mendengar janji yang begitu mudah diucapkan.

"Kalian ini begitu terburu-buru. Aku belum selesai bicara." Ia kembali duduk dengan tenang, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Senyum di wajah Dimas dan Bu Ratna perlahan memudar.

Karin mengalihkan tatapannya kepada Vina dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Tidak semudah itu, wanita rendahan seperti dia masuk ke dalam rumahku."

"Karin!" Bentak Dimas, "jaga bicaramu!"

Karin menoleh perlahan ke arah suaminya tanpa sedikit pun rasa gentar.

"Lalu menurutmu, perempuan yang sengaja mendekati suami orang pantas disebut apa kalau bukan wanita rendahan?"

Ruangan kembali sunyi.

Tak seorang pun mampu membantah ucapan Karin. Bahkan Vina hanya bisa menundukkan kepala, sementara jemarinya mengepal kuat menahan malu dan amarah.

'Wanita yang tidak tahu diri memang pantas menerima penghinaan dariku,' batin Karin dingin. 'Aku masih mengingat semuanya dengan sangat jelas. Dulu, perempuan ini berkali-kali menghinaku, merendahkanku, bahkan menikmati setiap penderitaanku. Sekarang, aku hanya mengembalikan sedikit dari apa yang pernah dia lakukan.'

"Bu Karin, maaf, saya..."

Karin mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan gadis itu.

"Nyonya Karin," sela Karin dingin."Mulai sekarang panggil aku Nyonya Karin. Jangan lupa siapa dirimu dan siapa aku."

Sesaat wajah Vina menegang. Jemarinya mengepal pelan. Ada kilatan kekesalan di matanya, tetapi hanya berlangsung sekejap sebelum ia buru-buru memasang wajah polosnya.

"I-iya... Nyonya Karin."

Meski bibirnya mengucapkan kata-kata itu, dalam hati Vina mendidih menahan amarah.

'Sombong sekali. Tunggu saja. Begitu aku resmi menjadi istri Mas Dimas, orang pertama yang akan aku usir dari rumah ini adalah kau.'

Dimas yang melihat sikap Vina justru merasa iba. Ia mengusap bahu gadis itu pelan.

"Sudahlah, Vina. Jangan dimasukan ke hati."

Melihat pemandangan itu, senyum sinis kembali terukir di bibir Karin.

'Tetap saja sama seperti kehidupan sebelumnya,' batin Karin. 'Dimas akan selalu membela perempuan itu, apapun yang terjadi.'

"Karin, aku bisa saja menikahi Vina tanpa perlu persetujuanmu. Tapi aku memilih datang dan membicarakan ini baik-baik karena aku masih menghargai posisimu sebagai istriku." ucap Dimas dengan tenang. "Aku akui memang bersalah dalam hal ini. Tapi Vina hanya gadis lemah, dia gak bersalah sama sekali. Kamu hanya perlu mengijinkannya untuk menjadi istri keduaku."

"Lalu bagaimana pandangan orang nanti? bagaimana dengan nama baik keluargaku?" tanya Karin dengan suara yang mulai meninggi.

Ucapan Dimas seketika membangkitkan kembali ingatan pahit yang pernah dialaminya. Di kehidupan sebelumnya, kedua orang tuanya sangat terpukul saat mengetahui ia mengizinkan Dimas menikah lagi. Keputusanya itu menjadi bahan gunjingan keluarga besar, rekan bisnis, hingga masyarakat menganggap karin wanita yang tidak pandai menjaga suaminya. Vina yang saat itu pandai bersilat lidah dengan wajahnya yang selalu terlihat polos berhasil menarik simpati masyarakat sehinga dalam cerita mereka itu karin lah yang bersalah. Nama baik keluarga Wijaya hancur begitu saja.

Keadaan semakin memburuk ketika kesehatan Karin menurun. Selama ia terbaring sakit, Dimas dengan sengaja melarang kedua orang tuanya menjenguknya. Ia terus mencari berbagai alasan agar mereka tidak bisa bertemu.

Orang tua Karin hanya bisa menahan rindu dan rasa khawatir, tanpa pernah mengetahui kondisi putri mereka yang sebenarnya.

Memanfaatkan keadaan itu, Dimas mulai menyingkirkan orang-orang yang masih setia kepada keluarga Karin dan perlahan mengambil alih semua yang pernah di bangun ayah mertuanya.

Hingga suatu hari...

Karin menerima kabar yang menghancurkan hidupnya. Kedua orang tuanya dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan.

Namun Kini, setelah mendapatkan kesempatan menjalani kehidupan kedua, Karin tidak lagi percaya bahwa kematian orang tuanya hanyalah sebuah kecelakaan. ada terlalu banyak kejanggalan yang dulu ia abaikan. Kali ini, ia akan melindungi kedua orang tuanya.

"Kenapa kamu harus peduli pada pandangan orang lain? Kamu jangan terlalu egois hanya karena takut omongan orang kamu tidak memikirkan perasaan Vina." Dimas menghembuskan napas pelan. Rahangnya mengeras, tetapi ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya agar terdengar tenang. "Karin, Apa salahnya kalau aku bertanggung jawab kepada Vina. Dia sudah tidak punya siapa-siapa. Kalau aku meninggalkannya begitu saja, bagaimana dia akan hidup?"

Tatapan Karin semakin dingin pada Dimas.

"Jadi, demi menolong wanita lain, kamu rela menghancurkan istrimu sendiri?"

"Bukan begitu maksudku..."

"Lalu bagaimana maksudmu?" potong Karin "Nama keluargaku kamu pertaruhkan hanya untuk wanita seperti dia? kamu seperti kacang lupa pada kulitnya, kamu melupakan semua kebaikan orang tuaku padamu."

Dimas terdiam sejenak sebelum kembali bicara.

"Aku hanya ingin memberinya kehidupan yang layak untuk Vina. Bukankah kamu selalu bilang kalau menolong orang itu perbuatan baik?"

Karin tersenyum sinis. lalu ia menggeleng pelan tak percaya dengan apa yang ia dengar, Dimas seolah menganggap dirinya bodoh.

"Kalau memang ingin menolong, kamu bisa memberinya pekerjaan, tempat tinggal, atau modal usaha. Bukan menjadikannya istri kedua."

Ucapan itu membuat Dimas kehilangan kata-kata.

Namun, beberapa detik kemudian ia kembali berkata dengan nada yang mulai meninggi.

"Aku sudah terlanjur mencintainya, Karin."

Ruangan kembali sunyi. Kalimat itu seolah menggema di seluruh ruangan.

Vina menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan senyum puas yang hampir terlukis di bibirnya.

Sementara Karin, ia hanya memandang Dimas tanpa sedikitpun merasa sakit hati atau pun cemburu.

'Bagus,' batinnya. 'Akhirnya kamu mengakuinya sendiri,'

Karin terdiam cukup lama. Tatapannya mengarah kepada Dimas, Vina, lalu Bu Ratna. Wajahnya perlahan melunak, seolah telah mengalah.

"Baik. Aku akan mengizinkan kamu menikahi Vina. Tapi ada syaratnya."

Dimas mengernyit. "Syarat apa?"

"Pertama, Vina tidak boleh menuntut status sebagai istri sah. Pernikahan yang kalian inginkan hanya boleh pernikahan siri." kata Karin dengan nada yang tenang dan stabil. "Kedua, di hadapan masyarakat, keluarga besar, maupun dunia bisnis, Vina hanya dikenal sebagai pembantu yang bekerja dirumah ini."

Wajah Vina langsung berubah.

"Apa?"

Karin tersenyum tipis.

"Kenapa? Bukankah sejak awal kalian bilang dia hanya gadis malang yang hanya perlu perlindungan? Kalau begitu, status pembantu seharusnya tidak menjadi masalah."

Vina mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun menahan amarahnya.

"K-kalau begitu orang akan merendahkanku..."

"Dari awal posisimu memang sudah rendah." Nada suara Karin tetap tenang.

Dimas segera menyela.

"Karin, syaratmu terlalu berlebihan."

"Itu pilihan kalian. Tidak ada yang memaksa." jawab karin.

"Tapi Karin..."

"Belum selesai!" Karin menyela. Tatapannya kini berubah semakin tajam. "Ketiga, Vina tidak boleh memiliki anak darimu."

Ruangan mendadak sunyi. Sampai akhirnya, Bu Ratna bersuara egan lantangnya.

"Karin! Sudah cukup! kamu benar-benar keterlaluan." Bu Ratna langsung menghampiri Vina dan menyentuh pipi Vina dengan lembut. "Kasian sekali nasibmu. Hanya karena mencintai anakku kamu sampai harus dihina seperti ini."

Lalu, Bu Ratna menoleh ke arah Dimas. "Kamu juga, kenapa membiarkan situasi ini menjadi rumit?" tegurnya. "Sejak awal Ibu sudah bilang, kamu tidak perlu meminta izin Karin. Dalam agama, laki-laki boleh menikah lagi selama mampu berlaku adil. Kamu terlalu memiikirkan perasaannya."

"Tapi Bu..." Dimas tampak ragu.

"Selama ini kamu selalu menurut pada Karin karena merasa berutang budi kepada keluarganya. Padahal sekarang kamu sudah sukses dengan usahamu sendiri. Tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan." Bu Ratna menggenggam tangan putranya. "Kamu juga berhak bahagia."

Mendengar itu, senyum tipis terukir di bibir Karin.

"Jadi begitu selama ini cara Ibu berpikir?"

Terpopuler

Comments

Adiba Azahra

Adiba Azahra

Kak izin promosiin novelku yang berjudul satu imam dua makmum ya kak 🙏😊 yukk mampir 🙏👍😊

2026-08-21

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 BAB 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Ban 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
BAB 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Ban 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!