Bab 5

Tak lama kemudian, terdengar tiga ketukan pelan di pintu kamar.

"Masuk."

Pintu perlahan terbuka. Seorang pria melangkah masuk dengan sikap tegap. Ia mengenakan kemeja sopir di kediaman itu, berwarna biru tua dengan lengan pendek yang dipadukan dengan celana bahan hitam. Penampilannya sederhana, tetapi tetap rapi.

"Permisi, Nyonya. Bi Darmi bilang Nyonya sedang mencari saya."

Karin yang semula sedang memandang ke luar jendela spontan menoleh.

Seketika ia terdiam.

'Dia... sopir baru?' batinnya.

Entah kenapa, Karin sempat mengira sopir baru itu pasti seorang pria paruh baya seperti para sopir yang pernah bekerja di rumah ini sebelumnya.

Namun, pria yang berdiri di hadapannya jauh dari bayangannya.

Usianya masih muda, mungkin seumuran dengannya Tubuhnya tinggi dan proporsional, bahunya bidang, dengan wajah yang tampan dan berkarisma. Pembawaannya tenang, sementara sorot matanya terlihat tajam, tetapi tetap sopan.

Kalau bukan karena seragam yang dikenakannya, Karin pasti akan mengira pria itu adalah seorang direktur muda atau pewaris perusahaan besar.

Pria itu bahkan lebih pantas disebut majikan daripada seorang sopir.

Melihat Karin yang tak kunjung menjawab, pria itu kembali membuka suara.

"Maaf, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?"

Karin segera tersadar dari lamunannya.

"Ah... iya."

Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

"Siapkan mobil. Aku ingin pergi ke rumah orang tuaku."

Pria itu mengangguk hormat.

"Baik, Nyonya."

Tanpa bertanya lebih jauh, ia berbalik dan keluar dari kamar.

Tatapan Karin masih tertuju ke arah pintu yang baru saja tertutup.

'Ternyata... sopir baru itu masih sangat muda.'

Karin memandangi pintu yang baru saja tertutup. Wajah pria itu masih terbayang jelas di benaknya.

Perlahan, ingatannya kembali pada kehidupan sebelumnya.

Ia baru teringat bahwa dulu memang pernah ada seorang sopir baru yang bekerja di rumah ini. Namun saat itu dirinya sedang terbaring sakit dan hampir setiap hari dikurung di dalam kamar. Ia tidak pernah sekalipun melihat wajah sopir tersebut.

Yang Karin ingat, pria itu hanya bekerja selama beberapa bulan. Setelah itu, Bu Ratna memecatnya dengan alasan sopir baru itu tidak bisa diatur dan terlalu banyak membantah perintahnya.

Saat itu Karin tidak terlalu memedulikannya. Hidupnya sendiri sudah berantakan. Ia bahkan nyaris tidak memiliki tenaga untuk mengurus dirinya sendiri, apalagi memperhatikan keluar-masuknya para pekerja di rumah itu.

'Jadi... pria tadi adalah sopir yang dulu?' batin Karin.

Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa pemecatan pria itu di kehidupan sebelumnya bukanlah sesederhana alasan yang diucapkan mertuanya.

Karin menggeleng pelan.

'Sudahlah. Itu bukan urusanku saat ini.'

Yang terpenting baginya sekarang adalah menemui kedua orang tuanya secepat mungkin.

Ia segera meraih tas tangan yang tergeletak di atas sofa, lalu memeriksa ponsel dan dompetnya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Karin melangkah keluar dari kamar.

Sesampainya di halaman depan, sebuah sedan hitam telah terparkir rapi di depan teras.

Arga berdiri di samping mobil dengan kedua tangan terlipat di depan tubuhnya. Begitu melihat Karin keluar, ia segera membukakan pintu belakang.

"Silakan, Nyonya."

Karin mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Ia masuk ke dalam mobil, sementara Arga menutup pintu dengan hati-hati sebelum berjalan menuju kursi kemudi.

Tak lama kemudian, mesin mobil menyala. Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Dimas.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil begitu hening. Arga fokus mengemudi tanpa berusaha mengajak majikannya berbincang. Sesekali ia hanya melirik kaca spion untuk memastikan kondisi Karin.

Sementara itu, Karin terus menatap keluar jendela. Pemandangan kota yang berlalu cepat membuat kerinduannya kepada kedua orang tuanya semakin tak terbendung.

Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.

'Ayah... Ibu...' batinnya lirih. 'Di kehidupan ini, aku bersumpah akan melindungi kalian. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan keluarga kita lagi.'

Di depan, Arga menangkap pantulan wajah Karin melalui kaca spion. Ia melihat mata wanita itu memerah seolah sedang menahan tangis.

Namun, ia memilih tetap diam. Baginya, tugas seorang sopir bukanlah mencampuri urusan majikan, melainkan mengantar mereka sampai tujuan dengan selamat.

Mobil terus melaju membelah jalanan kota. Keheningan di dalam mobil tetap terjaga. Yang terdengar hanya suara mesin dan sesekali klakson kendaraan dari kejauhan.

Arga sesekali melirik kaca spion. Dari pantulan kaca itu, ia melihat Karin masih memandang ke luar jendela. Wajah wanita itu tampak tenang, tetapi kedua matanya menyimpan kesedihan yang begitu dalam.

Beberapa kali Arga ingin mengatakan sesuatu, tetapi niat itu ia urungkan. Ia memilih kembali memusatkan perhatian pada jalan.

Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite yang dipenuhi pepohonan rindang.

"Sebentar lagi kita sampai, Nyonya," ucap Arga pelan.

Karin mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.

Semakin dekat mobil menuju rumah orang tuanya, jantung Karin semakin berdebar.

Rumah-rumah yang mereka lewati terasa begitu familiar. Ia masih mengingat jalan ini dengan sangat jelas.

Di sinilah dulu ia tumbuh, tertawa, dan menghabiskan masa kecil bersama kedua orang tuanya.

"Sudah sampai, Nyonya." ujar Arga tepat di depan gerbang.

Mobil sedan hitam yang dikendarai Arga perlahan memasuki halaman rumah keluarga Wijaya.

Begitu melewati gerbang besi otomatis, hamparan halaman yang luas langsung menyambut pandangan. Di tengah pelataran berdiri sebuah air mancur marmer bertingkat dengan semburan air yang berkilauan diterpa sinar matahari. Rumput hijau terpangkas rapi berpadu dengan deretan pohon palem dan tanaman hias yang tertata simetris, menciptakan kesan megah sekaligus hangat.

Di hadapan Karin berdiri sebuah mansion tiga lantai bergaya klasik modern. Dinding berwarna krem dipadukan batu alam abu-abu membuat rumah itu tampak elegan. Pilar-pilar tinggi menopang balkon di lantai dua, sementara jendela-jendela kaca besar membiarkan cahaya alami masuk ke setiap sudut rumah.

Di sisi kiri halaman berdiri garasi luas yang mampu menampung beberapa mobil mewah.

Tatapan Karin seketika berhenti pada sebuah mobil sport merah yang terparkir rapi di salah satu ruang garasi.

Bibirnya perlahan membentuk senyum tipis.

Mobil itu...

Mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya saat usianya menginjak dua puluh dua tahun, jauh sebelum ia menikah dengan Dimas.

Dulu, ia sangat menyayangi mobil itu. Hampir setiap akhir pekan ia mengendarainya bersama ayahnya, sementara sang ibu selalu mengomel karena mereka sering pulang terlalu malam.

Namun setelah menikah, mobil itu tak pernah lagi ia gunakan.

Dimas selalu mengatakan bahwa sebagai istri seorang direktur, ia harus lebih sering menggunakan mobil keluarga yang dikemudikan sopir agar terlihat lebih berwibawa.

Tanpa disadari, sedikit demi sedikit ia meninggalkan semua hal yang dulu ia cintai.

Kini, melihat mobil merah itu masih terawat dan terparkir rapi di tempat semula, dada Karin kembali terasa sesak.

'Untungnya... di kehidupan ini semuanya masih ada.'

'Ayah... Ibu... bahkan mobil kesayanganku pun masih menungguku pulang.'

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Kali ini bukan karena kesedihan, melainkan rasa syukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua yang pernah ia sesali.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 BAB 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Ban 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
BAB 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Ban 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!