Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Bab 1

"Karin, biarkan Dimas menikahi Vina. Kamu, sebagai istri, harus mengizinkan suamimu menikah lagi."

Wanita paruh baya yang duduk di hadapan Karin itu adalah ibu mertuanya, Ratna.

"Ibu mohon sama kamu, jangan memperbesar masalah ini."

Suara lembut yang penuh kepura-puraan itu terdengar begitu akrab di telinga Karin. Bahkan, setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu sudah ia hafal di luar kepala.

"Dimas hanya ingin bertanggung jawab. Vina gadis yang baik. Dia hidup sebatang kara sejak kecil. Dimas hanya kasihan padanya dan ingin melindunginya."

Ratna menggenggam tangan Karin, seolah benar-benar sedang membujuk menantunya.

"Bagaimanapun juga, dia tidak akan merebut posisimu."

Karin hanya tersenyum pahit. Tentu saja ia tahu semua itu hanyalah kebohongan.

Di kehidupan sebelumnya, ia mempercayai kata-kata itu. Ia mengizinkan Vina tinggal di rumah mereka dengan harapan semuanya akan tetap baik-baik saja.

Namun justru sejak hari itulah hidupnya berubah menjadi neraka.

Setelah Vina dinyatakan hamil, Karin terus-menerus dihina dan direndahkan. Ia dicap sebagai wanita mandul yang tidak mampu memberikan keturunan bagi keluarga Dimas. Kasih sayang suaminya perlahan berpindah kepada Vina, sementara keluarga suaminya memperlakukan gadis itu layaknya menantu yang sesungguhnya.

Hari demi hari, Karin hidup dalam tekanan hingga tubuhnya jatuh sakit. Tak seorang pun peduli dengan keadaannya, termasuk Dimas.

Karin masih mengingat semuanya dengan sangat jelas, seolah baru terjadi kemarin.

Saat kondisinya memburuk dan harus dilarikan ke rumah sakit, tidak ada seorang pun yang menemaninya. Dimas, ibu mertuanya, bahkan seluruh keluarga sedang sibuk merayakan kehamilan Vina. Di tengah rasa sakit yang tak tertahankan, Karin hanya bisa menahan air mata seorang diri.

Yang lebih menyakitkan, Vina kerap datang ke kamar rumah sakit hanya untuk memamerkan kebahagiaannya. Gadis itu mengejek, merendahkan, dan menikmati penderitaan Karin. Hingga pada suatu hari, Vina diam-diam menukar obat Karin dengan obat yang mematikan. Hari itu menjadi akhir hidupnya.

Namun...

Takdir memberinya kesempatan untuknya kembali. Tepat di saat Dimas membawa Vina untuk pertama kalinya. Karin menatap lurus ke arah ibu mertuanya. Tatapannya begitu tenang hingga membuat Ratna merasa asing.

"Ibu sudah selesai bicara?"

Ratna terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat menantunya tersenyum. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.

"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanyanya heran.

Karin bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Vina yang berdiri di samping Dimas. Tatapannya menyapu gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Lusuh," bisiknya pelan di dekat telinga Vina.

Vina sontak terperanjat dan menundukkan kepala semakin dalam.

Karin lalu mengalihkan pandangannya kepada Dimas.

"Jadi... ini gadis yang kamu banggakan?"

"Sayang, jangan salah paham." Dimas segera mencoba menjelaskan. "Aku hanya ingin menolongnya. Dia gadis yang lugu. Aku cuma ingin memberinya perlindungan."

"Oh, begitu?" Karin tersenyum tipis. "Kalau memang hanya ingin menolong dan melindunginya, silahkan dia tinggal di rumah ini."

Ucapan Karin membuat Dimas mengembuskan napas lega.

Namun senyum itu langsung menghilang saat Karin melanjutkan kalimatnya.

"Tapi hanya sebagai pembantu."

Semua orang terdiam.

"Karin!" bentak Dimas. "Jangan asal bicara!"

"Memangnya ada yang salah?" Karin menoleh santai. "Lagipula, bukankah memang itu pekerjaannya?"

Dimas mengepalkan kedua tangannya.

"Kamu sudah keterlaluan! Vina gadis yang lemah. Jangan perlakukan dia seperti itu. Lagi pula aku hanya akan menikahinya secara siri. Kamu tetap istri sahku."

Karin hampir tertawa mendengarnya. Di kehidupan sebelumnya, ia benar-benar mempercayai ucapan itu. Kini, ia sadar semua itu hanyalah kebohongan yang dibungkus kata-kata manis.

"Wah... aku sampai merinding mendengarnya, Mas." Karin menatap Dimas dengan jijik. "Apa kamu benar-benar mengira aku masih akan percaya dengan omong kosongmu?"

"Karin..."

"Apa kamu sudah lupa janji yang pernah kamu ucapkan saat membujukku meyakinkan Ayah agar menyerahkan perusahaan kepadamu?" suara Karin berubah dingin. "Kamu berjanji akan menjagaku seumur hidup dan tidak akan pernah mengkhianatiku."

Ia menatap tajam pria yang pernah menjadi dunianya.

"Atau kamu juga sudah lupa siapa yang berdiri paling depan saat semua orang menentang pernikahan kita? Siapa yang meyakinkan kedua orang tuaku untuk menerimamu? Dan siapa yang berjuang mati-matian hingga kamu bisa duduk di kursi pemimpin perusahaan itu?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Tidak ada satu pun yang berani bersuara.

Dimas menatap Karin dengan wajah kaku. Selama mereka menikah, belum pernah sekali pun istrinya berbicara setegas ini di hadapannya.

"Karin..." Dimas berdeham pelan. "Semua yang kulakukan selama ini juga demi keluarga kita."

"Keluarga kita?" Karin tertawa pelan, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya. "Lucu sekali. Kalau memang demi keluarga kita, kenapa yang kamu bawa pulang justru perempuan lain?"

"Itu berbeda."

"Tidak. Justru sangat sederhana." Karin menatap lurus ke mata suaminya. "Kamu selingkuh."

Dimas sontak menggeleng.

"Aku tidak pernah menganggap ini perselingkuhan."

"Karena menurutmu menikahinya secara siri akan membuatmu terlihat terhormat?" sahut Karin cepat. "Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, sekalipun dibungkus dengan dalih tanggung jawab."

Dimas kehilangan kata-kata. Ia tak menyangka Karin akan membalas setiap ucapannya tanpa ragu.

Ratna yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Karin, jangan keras kepala. Semua laki-laki juga begitu. Apalagi Dimas sekarang sudah sukses. Wajar kalau ada perempuan yang menyukainya."

Karin menoleh perlahan ke arah ibu mertuanya.

"Jadi menurut Ibu, pengkhianatan itu wajar?"

Ratna terdiam sesaat, lalu menghela napas.

"Ibu hanya tidak ingin rumah tangga kalian hancur."

"Tidak." Karin menggeleng pelan. "Yang menghancurkan rumah tangga ini bukan aku." Tatapannya beralih kepada Dimas. "Tapi putra kesayangan Ibu."

Ucapan itu membuat wajah Ratna memerah.

"Beraninya kamu menyalahkan Dimas! Dia sudah bekerja keras membangun perusahaan. Semua yang ada di rumah ini hasil jerih payahnya."

Senyum Karin semakin lebar. "Benarkah?"

Ia melangkah mendekati Dimas hingga hanya berjarak satu langkah.

"Kalau begitu, coba jawab satu pertanyaanku."

Dimas mengernyit.

"Siapa yang memberikan modal pertama saat perusahaanmu hampir bangkrut?"

Dimas terdiam.

"Siapa yang membujuk Ayahku agar mau mempercayakan proyek-proyek besar kepadamu?"

Tidak ada jawaban.

"Dan siapa yang menyerahkan saham keluarganya agar perusahaanmu bisa bertahan?"

Ruangan kembali sunyi. Tatapan Ratna mulai berubah. Sebab semua yang dikatakan Karin adalah kenyataan. Dimas memang berada di posisi sekarang berkat bantuan keluarga Karin. Namun selama ini, mereka memilih melupakan fakta itu.

"Karin..." Dimas mencoba meraih tangan istrinya.

Refleks Karin mundur satu langkah. Sentuhan pria itu kini hanya membuatnya muak.

"Jangan sentuh aku." Suara Karin dingin, tanpa emosi.

Untuk sesaat, Dimas merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.

Sementara Vina yang sedari tadi diam akhirnya maju selangkah.

"Bu Karin... semua ini salah saya. Kalau Ibu marah, marahlah pada saya. Jangan bertengkar dengan Mas Dimas."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Penampilan Vina benar-benar tampak menyedihkan.

Kalau saja Karin tidak pernah menjalani kehidupan sebelumnya, mungkin ia akan kembali tertipu oleh akting gadis itu.

Sayangnya...

Ia sudah mengetahui wajah asli Vina. Karin menatap Vina tanpa berkedip.

"Lalu kenapa kamu masih berdiri di samping suamiku?"

Pertanyaan itu membuat Vina membisu.

"Bukankah perempuan yang tahu diri seharusnya menjaga jarak dari suami orang?"

Wajah Vina langsung memucat. Air matanya mengalir semakin deras, sementara Dimas buru-buru berdiri di depannya.

"Karin! Sudah cukup! Jangan terus menyudutkan Vina!"

Melihat pemandangan itu, Karin hanya tersenyum tipis.

Persis seperti dulu. Dimas selalu menjadi orang pertama yang melindungi Vina.

Bedanya...

Dulu hatinya hancur melihat semua itu. Sekarang, ia hanya merasa geli. Karena permainan mereka baru saja dimulai.

Terpopuler

Comments

R_Bell

R_Bell

saya suka saya suka

2026-08-16

0

Amiera Syaqilla

Amiera Syaqilla

hello author 👋🏻

2026-08-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 BAB 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Ban 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
BAB 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Ban 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!