Episode 4: Gadis Kecil yang Menolak Makan

Malam pertamanya di mansion keluarga Oliver dilewati Viona dengan tidur yang tidak sepenuhnya nyenyak.

Meskipun kasur di kamar tamu lantai dua itu begitu empuk—jauh lebih mewah daripada ranjang mana pun yang pernah ia tiduri selama menikah dengan Lin—benak Viona tetap terjaga oleh sisa-sisa ketegangan dari peristiwa di depan gerbang sore tadi.

Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Lin yang memucat ketakutan dan tatapan menghunus dari Oliver bergantian hadir dalam mimpinya.

Namun, ketika jarum jam dinding baru menunjuk ke angka lima pagi, Viona sudah memaksa dirinya untuk bangun.

Ia melipat selimut dengan rapi, membersihkan diri, dan mengenakan pakaian terbaik yang tersisa dari tas ranselnya yang usang—sebuah blus rajut tipis berwarna krem yang warnanya sudah agak turun, dipadukan dengan rok panjang hitam.

Saat melangkah keluar dari kamarnya, koridor lantai dua masih diselimuti keremangan subuh yang sunyi.

Namun, dari arah dapur utama di lantai bawah, sayup-sayup terdengar kesibukan para pelayan yang sedang mempersiapkan sarapan.

Viona memutuskan untuk turun.

Ia tidak ingin dicap sebagai menantu kontrak yang malas, walau status aslinya di rumah ini adalah seorang pekerja domestik.

"Selamat pagi, Nona Viona,"

sapa Pak Pelayan yang mendadak muncul dari balik pilar marmer, membuat Viona sedikit terkejut.

Pria paruh baya itu selalu tampak rapi dan sigap, seolah ia tidak pernah tidur.

"Anda bangun sangat pagi. Tuan Besar baru saja berangkat ke kantor sepuluh menit yang lalu."

Viona agak tertegun.

"Jam lima pagi? Tuan Oliver sudah berangkat kerja?"

"Jadwal Tuan Oliver sangat padat, Nona. Terutama setelah... kejadian sore kemarin,"

Pak Pelayan tersenyum penuh arti.

Viona langsung paham. Keputusan Oliver untuk memboikot total bisnis keluarga Lin pasti langsung memicu efek domino di dunia korporasi kota sejak subuh ini.

Oliver sedang mengurus eksekusi dari kata-katanya sendiri.

"Bagaimana dengan Yoyo? Apakah dia sudah bangun?" tanya Viona beralih ke prioritas utamanya.

"Nona Kecil biasanya baru bangun jam enam. Namun..."

Pak Pelayan menghela napas pendek, gurat kecemasan kembali membayang di wajah tuanya.

 "Koki utama baru saja memberi tahu saya bahwa menu sarapan pagi ini ditolak mentah-mentah oleh Nona Kecil lewat interkom kamarnya. Beliau bahkan belum melihat makanannya, tapi sudah berteriak tidak mau makan. Tampaknya, trauma paginya kembali kambuh."

Viona mengernyitkan dahi. Di episode sebelumnya, ia memang berhasil membujuk Yoyo untuk menghabiskan makan malamnya.

Namun, luka psikologis anak-anak yang mendalam tidak pernah bisa disembuhkan hanya dengan satu kali suapan.

Itu adalah proses yang panjang, penuh dengan pasang surut emosi.

"Boleh saya melihat apa yang disiapkan koki untuk sarapannya, Pak?" tanya Viona.

"Tentu saja. Mari ikut saya ke dapur."

Di dapur berteknologi canggih yang luasnya menyerupai restoran bintang lima, koki utama sedang memandang frustrasi ke arah sepiring pancake blueberry lembut beraroma mentega yang dihias dengan krim kocok berbentuk wajah beruang manis.

Di sampingnya, ada segelas susu stroberi hangat.

Tampilan sarapan itu sangat sempurna dan menggugah selera untuk anak seumurannya.

"Nona Kecil menolak semuanya,"

keluh sang koki saat melihat kedatangan Pak Pelayan dan Viona.

"Beliau bilang semua makanan di rumah ini rasanya seperti plastik dan obat pahit. Saya sudah mencoba mengganti menunya tiga kali sejak jam empat subuh, tapi responnya tetap sama."

Viona berjalan mendekati meja konter dapur. Ia mengamati piring pancake tersebut, lalu beralih menatap deretan bahan makanan segar yang tersusun rapi di lemari pendingin transparan.

"Makanan ini terlalu sempurna," gumam Viona pelan.

Pak Pelayan menoleh. "Apa maksud Anda, Nona Viona?"

"Yoyo sedang mengalami trauma psikologis yang membuatnya merasa terasing dan tidak aman,"

jelas Viona, matanya memancarkan kedalaman analisis yang lahir dari pengalamannya sendiri menghadapi depresi.

"Bagi anak yang sedang ketakutan, makanan yang terlalu indah, terlalu formal, dan disajikan oleh koki profesional dengan seragam putih justru terasa seperti makanan di rumah sakit atau institusi.

 Itu mengingatkannya pada prosedur medis, obat-obatan, dan keharusan untuk menjadi 'anak normal'. Makanan ini kehilangan satu hal yang paling dicari oleh Yoyo saat ini."

"Apa itu?" tanya sang koki.

"Kehangatan rumah yang berantakan," Viona tersenyum tipis.

"Bolehkah saya menggunakan sudut dapur ini? Saya ingin membuatkan sesuatu yang sangat sederhana untuknya. Sesuatu yang tidak terlihat seperti makanan buatan koki bintang lima."

Setelah mendapat anggukan ragu dari sang koki dan izin penuh dari Pak Pelayan, Viona mulai bergerak.

Ia tidak menyentuh tepung premium atau mesin pembuat pancake otomatis.

Viona justru mengambil beberapa butir telur segar, sedikit sosis yang dipotong acak-acakan, nasi putih dingin sisa semalam yang disimpan di lemari es, dan sebotol kecap manis sederhana yang untungnya tersedia di sudut bumbu masakan Asia.

Dengan cekatan, Viona menyalakan kompor gas manual, memanaskan wajan biasa, dan mulai menumis sosis.

 Aroma bawang merah dan sosis yang digoreng seketika memenuhi dapur, menggantikan aroma mentega barat yang manis.

Ketika nasi dimasukkan dan diaduk bersama kecap manis, suara desisan wajan dan aroma khas nasi goreng kampung yang gurih dan sedikit gosong menguar kuat.

Viona tidak mencetak nasi goreng itu menggunakan mangkuk agar berbentuk bulat sempurna.

 Ia hanya menyendokkannya begitu saja ke atas piring keramik putih biasa yang agak lebar.

Di atasnya, ia menaruh telur dadar tipis yang digulung asal dan dipotong-potong kecil.

"Nasi goreng kecap?"

Pak Pelayan mengangkat alisnya, tampak tidak yakin apakah menu sesederhana itu layak disajikan di kediaman Oliver.

"Bagi anak-anak yang menutup diri, aroma yang kuat dan masakan yang terlihat 'rumahan' jauh lebih memicu rasa ingin tahu daripada makanan estetis,"

ujar Viona penuh keyakinan. Ia mengangkat nampan berisi piring nasi goreng hangat itu dan segelas air putih hangat—bukan susu stroberi.

"Saya akan mengantarkannya ke atas sekarang."

Viona berdiri di depan pintu kamar Yoyo.

Dari dalam, suasana terasa sunyi, berbeda dengan kemarin yang dipenuhi suara pecahan piring.

Viona mengetuk pintu tiga kali dengan irama yang tenang.

"Yoyo, ini Bibi Viona. Boleh Bibi masuk?"

Hening sejenak, sebelum terdengar suara langkah kaki kecil yang mendekati pintu. Kunci pintu berputar, dan celah kecil terbuka. Yoyo mengintip dari balik pintu.

Rambut dikucir duanya tampak agak berantakan, dan ia masih mengenakan piyama bermotif awan.

Matanya yang bulat menatap Viona dengan pandangan waspada, namun begitu melihat wajah teduh Viona, ketegangan di bahu kecilnya sedikit mengendur.

"Bibi membawa makanan plastik itu lagi?" tanya Yoyo dengan nada ketus yang dipaksakan.

"Bukan. Bibi membawa makanan yang sangat jelek dan baunya agak gosong," jawab Viona jujur sambil tersenyum geli.

"Bibi membuatnya sendiri di dapur bawah, dan kokinya tadi sempat memarahi Bibi karena dapur indahnya jadi bau bawang."

Mendengar kata "makanan jelek" dan cerita tentang koki yang marah, rasa ingin tahu Yoyo langsung terpancing.

Ia membuka pintu lebih lebar, matanya langsung tertuju pada piring di nampan Viona.

Aroma gurih nasi goreng kecap yang kuat langsung menusuk indra penciumannya, seketika membangkitkan rasa lapar yang belum sepenuhnya terpuaskan sejak kemarin.

"Bentuknya memang tidak cantik,"

komentar Yoyo sambil melihat nasi goreng yang bentuknya tidak beraturan itu.

"Tapi rasanya sangat jujur," sahut Viona.

"Boleh Bibi masuk dan kita makan bersama lagi? Bibi belum sarapan dan perut Bibi sudah berbunyi sejak tadi."

Yoyo tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan berbalik dan berjalan menuju sofa kecil di dekat jendela kamarnya, membiarkan pintu terbuka sebagai tanda izin.

Viona masuk, menutup pintu dengan sikunya, dan meletakkan nampan di atas meja kecil di depan sofa.

Viona duduk di lantai, posisi yang sama seperti kemarin, menyamakan tinggi matanya dengan Yoyo yang duduk di sofa.

Ia menyodorkan sendok kecil kepada Yoyo.

"Ini. Cobalah sedikit. Kalau rasanya tidak enak, Yoyo boleh membuangnya ke tempat sampah."

Yoyo menerima sendok itu dengan ragu.

Ia menyendok sedikit nasi goreng kecap bersama potongan sosis dan menyuapkannya ke dalam mulut.

Viona memperhatikan dengan saksama.

Detik pertama, mata Yoyo berkedip cepat.

Detik berikutnya, kunyahannya melambat, dan ekspresi wajahnya yang semula tegang perlahan-lahan melunak.

Nasi goreng kecap yang manis dan gurih itu memberikan kehangatan instan yang tidak mengintimidasi lidahnya.

Makanan ini terasa nyata, seperti pelukan seorang ibu yang menyambut anaknya pulang bermain di hari yang dingin.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Yoyo kembali menyendok nasi goreng itu dengan gerakan yang lebih cepat. Satu sendok, dua sendok, tiga sendok.

Viona bernapas lega dalam hati. Teorinya terbukti benar.

 Yoyo menolak makanan bukan karena tidak lapar atau karena membenci rasa makanan tersebut, melainkan karena ia menolak

"tekanan" yang ada di balik makanan-makanan mewah yang disajikan untuknya.

Gadis kecil ini hanya merindukan kesederhanaan hidup yang hilang sejak ibunya tiada.

"Bibi Viona..."

ucap Yoyo di sela-sela kunyahannya, suaranya kini terdengar seperti anak lima tahun yang normal, bukan lagi seperti anak yang penuh dendam.

"Iya, Yoyo?"

"Apakah... apakah besok Bibi akan membuatkan makanan jelek ini lagi untukku?"

tanya Yoyo, matanya menatap Viona penuh harap.

Di balik pertanyaan itu, Yoyo sebenarnya sedang bertanya: "Apakah Bibi akan tetap berada di sini besok dan tidak membuangku seperti yang lain?"

Viona merasakan dadanya sedikit sesak oleh rasa haru.

Ia mengulurkan tangannya, dengan lembut merapikan anak rambut Yoyo yang berantakan di dahinya.

Yoyo tidak menolak sentuhan itu; ia justru sedikit menyandarkan kepalanya ke telapak tangan Viona yang hangat.

"Tentu saja,"

jawab Viona dengan suara yang bergetar menahan emosi.

"Bibi akan membuatkan makanan apa saja yang Yoyo mau setiap hari. Selama Yoyo berjanji untuk tidak membiarkan perut Yoyo lapar lagi. Setuju?"

Yoyo mengangguk kuat-kuat. "Setuju!"

Dalam waktu sepuluh menit, piring nasi goreng itu bersih tak bersisa.

Yoyo bahkan meminum air putih hangatnya hingga habis.

Tepat setelah suapan terakhir, pintu kamar tamu terbuka tanpa ketukan.

Seorang pria dengan aura dingin yang luar biasa melangkah masuk.

Oliver berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jas abu-abu gelapnya, namun dasinya sudah sedikit dilonggarkan.

Di belakangnya, Pak Pelayan berdiri dengan wajah yang dipenuhi senyuman lega. Tampaknya Oliver baru saja kembali dari kantor atau sengaja pulang sebentar setelah mendapat laporan interkom subuh tadi.

Oliver menatap piring kosong di atas meja, lalu beralih menatap putrinya yang kini tampak jauh lebih tenang, bahkan ada sisa kecap sedikit di sudut bibirnya.

Tatapan mata elang Oliver yang biasanya tanpa emosi, kali ini menyiratkan kilatan rasa terkejut yang mendalam.

Ia memandang Viona yang masih duduk bersila di lantai dengan mantel wol hitam miliknya semalam yang tergeletak di lengan kursi.

"Kau berhasil lagi, Nona Viona," suara berat Oliver memecah keheningan kamar.

Viona berdiri perlahan, merapikan roknya, lalu membukukan kepala dengan sopan.

"Ini hanya tugas saya sebagai Ibu Tiri Kontrak di rumah ini, Tuan Oliver."

Oliver berjalan mendekat, melirik piring yang menyisakan aroma bawang putih dan kecap manis tersebut.

Ia lalu menatap langsung ke dalam manik mata jernih Viona.

Untuk pertama kalinya, dalam pertemuan mereka yang singkat ini, kebekuan di wajah sang tirani dingin tampak sedikit retak, digantikan oleh rasa hormat yang tulus terhadap kemampuan wanita berjiwa rapuh di depannya.

"Pak Pelayan,"

panggil Oliver tanpa melepaskan pandangannya dari Viona.

"Siapkan mobil. Kita akan pergi ke Biro Urusan Sipil sekarang. Pernikahan kontrak ini harus diresmikan detik ini juga."

Terpopuler

Comments

Lisa

Lisa

Good job Viona..tetap semangat y utk pemulihan dirimu sendiri juga utk Yoyo..

2026-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1: Lowongan Kerja: Mencari Ibu Tiri
2 Episode 2: Wanita Berjiwa Rapuh di Depan Gerbang Mansion
3 Episode 3: Pertemuan Pertama dengan Sang Tirani Dingin
4 Episode 4: Gadis Kecil yang Menolak Makan
5 Episode 5: Metode Unik Viona: Ksatria Anjing Golden Retriever
6 Episode 6: Malam Pertama di Kamar Sebelah
7 Episode 7: Aturan Ketat Lantai Tiga yang Terlarang
8 Episode 8: Sarapan Penuh Keajaiban
9 Episode 9: Oliver yang Mulai Mengamati
10 Episode 10: Rahasia Obat Penenang Viona
11 Episode 11: Permintaan Dongeng Sebelum Tidur
12 Episode 12: "Kau Adalah Ibu Peri Pelindungku"
13 Episode 13: Kenaikan Gaji Pertama yang Tak Terduga
14 Episode 14: Ketakutan Terbesar Yoyo: Kehilangan Lagi
15 Episode 15: Janji Dua Jam di Rumah Sakit
16 EPISODE 16: Manisnya Permen Penghilang Rasa Sakit
17 Episode 17: Langkah Pertama Yoyo Keluar Rumah
18 Episode 18: Hadiah Mobil Bekas dan Penolakan Viona
19 Episode 19: Dokter Psikologi Pribadi Kiriman Oliver
20 Episode 20: "Kehadiranmu Lebih Manjur dari Obat"
21 Episode 21: Belanja Pertama ke Pasar Tradisional
22 Episode 22: Gelembung Ikan dan Tawa yang Kembali
23 Episode 23: Bayangan Hitam dari Masa Lalu: Pertemuan dengan Lin
24 Episode 24: Tuduhan Kejam Mantan Suami
25 Episode 25: "Kembalilah dan Minta Maaf pada Ibuku"
26 Episode 26: Pembelaan Gadis Kecil di Tempat Parkir
27 Episode 27: Air Mata di Dalam Mobil Kecil
28 Episode 28: Panggilan Telepon Penuh Makian dari Mantan Kakak Ipar
29 Episode 29: Oliver Menyadari Ada yang Tidak Beres
30 Episode 30: Penyelidikan Rahasia Sang CEO
31 Episode 31: Makan Malam yang Terlewat
32 Episode 32: Lemari Pakaian yang Penuh Barang Mewah
33 Episode 33: "Di Atas Kertas, Kau Adalah Istriku"
34 Episode 34: Nama Mantan Suami: Lin dari Perusahaan Medis
35 Episode 35: Janji Perlindungan Seorang Suami Kontrak
36 Episode 36: Parasit yang Mengendus Bau Uang
37 Episode 37: Tuntutan Mahar Pernikahan Sang Adik Kandung
38 Episode 38: Ibu Kandung yang Menerobos Masuk
39 Episode 39: "Kau Menikahi Orang Kaya tapi Lupa Keluarga!"
40 Episode 40: Memori Tiga Tahun Siksaan Mental
41 Episode 41: Dorongan Kejam pada Yoyo Kecil
42 Episode 42: Amarah Viona yang Meledak: "Pergi dari Sini!"
43 Episode 43: Kedatangan Oliver yang Membawa Badai
44 Episode 44: "Usir Mereka dan Jangan Pernah Izinkan Masuk!"
45 Episode 45: Ketakutan Viona Melibatkan Oliver
46 Episode 46: Tatapan Mata Oliver: "Kita Adalah Keluarga"
47 Episode 47: Rencana Balas Dendam Bisnis Dimulai
48 Episode 48: Pemotongan Kerja Sama dengan Perusahaan Lin
49 Episode 49: Kue Tart Buatan Rumah yang Hangat
50 Episode 50: Senyuman Pertama Oliver dalam Tiga Tahun
51 Episode 51: Kepulangan Awal Sang CEO Dingin
52 Episode 52: "Apakah Kau Takut Aku Bangkrut?"
53 Episode 53: Persiapan Menuju Lelang Amal
54 Episode 54: Gaun Cantik Pilihan Desainer Pribadi
55 Episode 55: Transformasi Viona yang Menakjubkan
56 Episode 56: Gandingan Tangan di Karpet Merah
57 Episode 57: Pengumuman Resmi: "Ini Istriku, Viona"
58 Episode 58: Tamparan Keras untuk Spekulasi Publik
59 Episode 59: Lin yang Terkesima dan Menyesal
60 Episode 60: "Jika Kau Berdandan Begini, Kita Tidak Akan Cerai"
61 Episode 61: Penolakan Telak: "Aku Lebih Baik Tidur di Bawah Jembatan"
62 Episode 62: Lin Mencoba Mengacaukan Negosiasi Bisnis
63 Episode 63: Oliver Bertindak: "Kerja Sama Kita Selesai"
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Episode 1: Lowongan Kerja: Mencari Ibu Tiri
2
Episode 2: Wanita Berjiwa Rapuh di Depan Gerbang Mansion
3
Episode 3: Pertemuan Pertama dengan Sang Tirani Dingin
4
Episode 4: Gadis Kecil yang Menolak Makan
5
Episode 5: Metode Unik Viona: Ksatria Anjing Golden Retriever
6
Episode 6: Malam Pertama di Kamar Sebelah
7
Episode 7: Aturan Ketat Lantai Tiga yang Terlarang
8
Episode 8: Sarapan Penuh Keajaiban
9
Episode 9: Oliver yang Mulai Mengamati
10
Episode 10: Rahasia Obat Penenang Viona
11
Episode 11: Permintaan Dongeng Sebelum Tidur
12
Episode 12: "Kau Adalah Ibu Peri Pelindungku"
13
Episode 13: Kenaikan Gaji Pertama yang Tak Terduga
14
Episode 14: Ketakutan Terbesar Yoyo: Kehilangan Lagi
15
Episode 15: Janji Dua Jam di Rumah Sakit
16
EPISODE 16: Manisnya Permen Penghilang Rasa Sakit
17
Episode 17: Langkah Pertama Yoyo Keluar Rumah
18
Episode 18: Hadiah Mobil Bekas dan Penolakan Viona
19
Episode 19: Dokter Psikologi Pribadi Kiriman Oliver
20
Episode 20: "Kehadiranmu Lebih Manjur dari Obat"
21
Episode 21: Belanja Pertama ke Pasar Tradisional
22
Episode 22: Gelembung Ikan dan Tawa yang Kembali
23
Episode 23: Bayangan Hitam dari Masa Lalu: Pertemuan dengan Lin
24
Episode 24: Tuduhan Kejam Mantan Suami
25
Episode 25: "Kembalilah dan Minta Maaf pada Ibuku"
26
Episode 26: Pembelaan Gadis Kecil di Tempat Parkir
27
Episode 27: Air Mata di Dalam Mobil Kecil
28
Episode 28: Panggilan Telepon Penuh Makian dari Mantan Kakak Ipar
29
Episode 29: Oliver Menyadari Ada yang Tidak Beres
30
Episode 30: Penyelidikan Rahasia Sang CEO
31
Episode 31: Makan Malam yang Terlewat
32
Episode 32: Lemari Pakaian yang Penuh Barang Mewah
33
Episode 33: "Di Atas Kertas, Kau Adalah Istriku"
34
Episode 34: Nama Mantan Suami: Lin dari Perusahaan Medis
35
Episode 35: Janji Perlindungan Seorang Suami Kontrak
36
Episode 36: Parasit yang Mengendus Bau Uang
37
Episode 37: Tuntutan Mahar Pernikahan Sang Adik Kandung
38
Episode 38: Ibu Kandung yang Menerobos Masuk
39
Episode 39: "Kau Menikahi Orang Kaya tapi Lupa Keluarga!"
40
Episode 40: Memori Tiga Tahun Siksaan Mental
41
Episode 41: Dorongan Kejam pada Yoyo Kecil
42
Episode 42: Amarah Viona yang Meledak: "Pergi dari Sini!"
43
Episode 43: Kedatangan Oliver yang Membawa Badai
44
Episode 44: "Usir Mereka dan Jangan Pernah Izinkan Masuk!"
45
Episode 45: Ketakutan Viona Melibatkan Oliver
46
Episode 46: Tatapan Mata Oliver: "Kita Adalah Keluarga"
47
Episode 47: Rencana Balas Dendam Bisnis Dimulai
48
Episode 48: Pemotongan Kerja Sama dengan Perusahaan Lin
49
Episode 49: Kue Tart Buatan Rumah yang Hangat
50
Episode 50: Senyuman Pertama Oliver dalam Tiga Tahun
51
Episode 51: Kepulangan Awal Sang CEO Dingin
52
Episode 52: "Apakah Kau Takut Aku Bangkrut?"
53
Episode 53: Persiapan Menuju Lelang Amal
54
Episode 54: Gaun Cantik Pilihan Desainer Pribadi
55
Episode 55: Transformasi Viona yang Menakjubkan
56
Episode 56: Gandingan Tangan di Karpet Merah
57
Episode 57: Pengumuman Resmi: "Ini Istriku, Viona"
58
Episode 58: Tamparan Keras untuk Spekulasi Publik
59
Episode 59: Lin yang Terkesima dan Menyesal
60
Episode 60: "Jika Kau Berdandan Begini, Kita Tidak Akan Cerai"
61
Episode 61: Penolakan Telak: "Aku Lebih Baik Tidur di Bawah Jembatan"
62
Episode 62: Lin Mencoba Mengacaukan Negosiasi Bisnis
63
Episode 63: Oliver Bertindak: "Kerja Sama Kita Selesai"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!