Episode 5: Metode Unik Viona: Ksatria Anjing Golden Retriever

Pengesahan dokumen pernikahan di Biro Urusan Sipil pagi itu berlangsung sepi, cepat, dan sepenuhnya formal.

Tidak ada gaun putih mewah, tidak ada janji suci di depan altar, dan tidak ada kilatan kamera wartawan.

Hanya ada goresan pena hitam di atas kertas segel negara, cap resmi, dan sepasang buku nikah merah yang langsung disimpan di dalam tas kerja Pak Pelayan.

Detik itu juga, Viona resmi menyandang nama keluarga Oliver di belakang namanya.

Namun, bagi Viona, identitas barunya sebagai istri sang miliarder tidak mengubah apa pun.

Prioritas utamanya tetap berada di lantai dua mansion, menjaga jiwa kecil yang baru saja mulai membuka diri.

Setelah kembali dari Biro Urusan Sipil, Oliver langsung berangkat kembali ke kantor pusat untuk menyelesaikan sisa pembersihan terhadap bisnis keluarga Lin.

Viona pun memiliki waktu penuh di mansion untuk mulai menyusun rencana pemulihan Yoyo.

Siang itu, matahari bersinar cerah setelah badai mereda.

Viona berdiri di balkon lantai dua, memandang ke arah halaman belakang mansion yang sangat luas.

Taman itu memiliki rumput jepang yang terpangkas sempurna, labirin tanaman hias, dan air mancur marmer yang megah.

Namun, taman seindah itu kosong melongpong.

Tidak ada mainan anak-anak, tidak ada perosotan, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Tempat itu lebih mirip dengan area pameran arsitektur daripada rumah yang dihuni oleh anak berusia lima tahun.

"Nona Viona,"

Pak Pelayan mendekat membawa secangkir teh kamomil hangat untuk Viona.

"Apakah Anda sedang memikirkan menu makan siang untuk Nona Kecil?"

Viona menerima cangkir teh itu sambil tersenyum tipis.

"Bukan, Pak Pelayan. Saya sedang memikirkan cara untuk membawa Yoyo keluar dari kamarnya. Makanan adalah langkah pertama, tetapi membiarkannya terus mengurung diri di dalam ruangan tertutup dengan memori buruknya akan memperlambat penyembuhan traumanya."

Pak Pelayan menghela napas panjang, gurat penyesalan tampak di wajah tuanya.

"Tuan Besar sudah mencoba segala cara. Beliau bahkan pernah menyewa seluruh badut dari taman hiburan kota untuk tampil di taman belakang, tetapi Nona Kecil justru histeris dan melempar mereka dengan pot bunga.

Sejak kecelakaan dua tahun lalu yang merenggut nyawa Ibunya, Nona Kecil sangat takut pada keramaian dan orang asing. Beliau merasa dunia di luar kamarnya penuh dengan bahaya."

"Badut terlalu berisik dan agresif untuk anak yang mengalami trauma," ujar Viona tenang.

"Mereka memaksa anak untuk tertawa ketika hatinya sedang menangis.

Yoyo tidak butuh hiburan yang dipaksakan.

Dia butuh pelindung yang tidak menghakimi, sesuatu yang bisa memberikan rasa aman tanpa perlu banyak bicara."

Viona meminum tehnya sedikit, lalu menoleh ke arah Pak Pelayan dengan mata yang berbinar penuh sebuah ide.

"Pak Pelayan, apakah di sekitar sini ada tempat penangkaran atau penyelamatan hewan? Khususnya anjing?"

Pak Pelayan agak terkejut dengan pertanyaan yang tidak biasa itu.

"Ada, Nona. Salah satu anak perusahaan Oliver Group mendanai suaka hewan terlantar di pinggiran kota. Kebetulan, kemarin mereka baru saja menyelamatkan seekor anjing Golden Retriever dewasa yang ditinggalkan pemilik lamanya. Mengapa Anda menanyakannya?"

"Tolong minta mereka mengantarkan anjing itu ke sini. Sekarang juga," ujar Viona dengan nada penuh keyakinan.

"Tapi pastikan anjing itu berkarakter sangat tenang, penyabar, dan sudah terlatih untuk tidak menggonggong sembarangan."

Meskipun bingung dengan metode unik yang akan diterapkan oleh sang nyonya kontrak baru, Pak Pelayan tidak berani membantah.

Bagaimanapun, Viona adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat Nona Kecil mereka menghabiskan dua porsi makanan berturut-turut.

Pria paruh baya itu segera menghubungi pihak suaka hewan.

Dua jam kemudian, sebuah mobil van khusus dari suaka hewan tiba di halaman belakang mansion.

Seorang petugas keluar sambil menuntun seekor anjing Golden Retriever bertubuh besar dengan bulu berwarna emas yang lebat dan bersih.

Anjing itu memiliki sepasang mata cokelat yang sangat teduh, bergerak dengan langkah yang lambat dan tenang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda agresif meskipun berada di lingkungan baru yang asing.

"Namanya Goldie,"

jelas petugas suaka kepada Viona.

"Dia berusia empat tahun. Pemilik lamanya bangkrut dan membuangnya di jalanan, tetapi Goldie memiliki sifat yang luar biasa penyabar.

Dia dilatih sebagai anjing terapi sebelum pemiliknya membuangnya. Dia hampir tidak pernah menggonggong kecuali dalam keadaan sangat darurat."

"Dia sempurna,"

bisik Viona sambil berlutut dan membiarkan Goldie mengendus telapak tangannya.

Anjing itu kemudian menjulurkan lidahnya, menjilat lembut jari Viona, lalu menyandarkan kepala besarnya di lutut wanita itu.

Kehangatan dan ketenangan yang dipancarkan oleh hewan itu membuat Viona semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.

Viona meminta petugas dan para pelayan lainnya untuk masuk ke dalam rumah dan menutup tirai jendela bawah, menyisakan halaman belakang yang sepi hanya untuknya, Goldie, dan target utama mereka di lantai dua.

Viona berjalan ke arah gudang penyimpanan mainan lama di dekat garasi.

Setelah mencari-cari selama beberapa menit, ia menemukan sebuah kardus besar berisi mainan-mainan yang sudah berdebu.

Dari dalam kardus, ia mengambil sebuah helm mainan plastik berwarna perak ala ksatria abad pertengahan dan sebuah pedang busa mainan yang sudah agak pudar warnanya.

Ia memakaikan helm ksatria mainan itu ke kepala Goldie.

Bentuk helm yang agak kebesaran itu membuat Goldie terlihat sangat menggemaskan sekaligus gagah, seolah-olah ia adalah seorang pelindung kerajaan yang siap menjalankan misi suci.

Goldie sama sekali tidak berontak;

anjing pintar itu justru duduk tegak dengan dada membusung, seolah tahu bahwa ia sedang mengemban tugas penting.

Viona tersenyum puas. Ia mengambil pedang busa mainan tersebut, lalu berjalan ke area taman belakang yang posisinya tepat berada di bawah jendela kamar Yoyo.

Viona menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berakting.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat heboh dan dramatis, ia mengayunkan pedang busanya ke udara kosong.

"Hai, Ksatria Emas! Benteng ini sedang dikepung oleh monster bayangan yang tak terlihat!"

seru Viona dengan suara yang cukup lantang agar terdengar hingga ke lantai dua.

"Kita harus menjaga gerbang ini agar sang Putri di atas sana tetap aman!"

Goldie, seolah memahami sandiwara itu, menegakkan telinganya.

Anjing itu berdiri, berjalan mendekati Viona, lalu duduk dengan anggun di sampingnya, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan waspada yang dibuat-buat.

Di lantai dua, tirai jendela kamar Yoyo perlahan bergerak.

Celah kecil terbuka, dan sebuah wajah bulat dengan mata besar mengintip ke bawah.

Yoyo memperhatikan pemandangan aneh di taman dengan alis berkerut.

Biasanya, orang-orang dewasa di rumah ini selalu bersikap kaku, formal, atau menangis membujuknya.

Namun, Bibi Viona yang baru ia kenal sejak kemarin justru sedang bermain perang-perangan di atas rumput bersama seekor monster berbulu emas yang memakai helm plastik.

"Serangan dari kiri!"

Viona kembali berseru, menjatuhkan dirinya secara dramatis ke atas rumput seolah-olah baru saja terpukul oleh musuh tak terlihat.

"Aduh! Ksatria Emas, aku membutuhkan bantuanmu! Monster-monster ini terlalu kuat untukku sendiri!"

Melihat Bibi Viona "terluka" dan jatuh di atas rumput, rasa cemas dan penasaran Yoyo seketika mengalahkan ketakutannya.

Pintu balkon kamarnya yang selalu terkunci rapat selama berbulan-bulan perlahan didorong terbuka.

Gadis kecil itu melangkah keluar ke area balkon lantai dua, mencengkeram pagar besi sambil berseru ke bawah dengan suara kekanak-kanakannya yang cemas.

"Bibi Viona! Apa yang sedang Bibi lakukan? Siapa monster itu?"

Viona menoleh ke atas dengan pura-pura terkejut, wajahnya mengekspresikan rasa lega yang luar biasa.

"Putri Yoyo! Syukurlah Anda baik-baik saja! Ini bukan monster jahat, ini adalah Ksatria Emas dari Kerajaan Retriever! Dia diutus ke sini untuk menjadi pengawal pribadi Anda!"

Viona berdiri, menepuk-nepuk rumput dari roknya, lalu menunjuk ke arah Goldie.

Goldie yang pintar langsung mendongakkan kepalanya ke arah balkon, menatap Yoyo dengan sepasang mata cokelatnya yang teduh, lalu mengibas-ngibaskan ekor tebalnya dengan perlahan, memberikan getaran kehangatan yang instan.

"Ksatria Emas?"

gumam Yoyo, matanya terpaku pada sosok Goldie yang mengenakan helm perak miring.

Rasa takutnya terhadap dunia luar perlahan-lahan mencair, tergantikan oleh rasa gemas yang teramat sangat.

 Anak-anak memiliki radar alami untuk mengenali ketulusan, dan Yoyo bisa merasakan bahwa makhluk berbulu di bawah sana sama sekali tidak berniat menyakitinya.

"Iya! Tapi Ksatria Emas tidak bisa naik ke atas karena kakinya terlalu pendek untuk tangga marmer yang licin," bohong Viona dengan ekspresi serius.

"Dia bilang, dia ingin memberikan penghormatan langsung kepada Putri Yoyo, tetapi dia hanya bisa melakukannya jika sang Putri mau turun ke taman. Apakah Putri Yoyo berani turun dan menerima sumpah setianya?"

Yoyo terdiam di atas balkon.

Ia melihat ke arah pintu kamarnya yang gelap, lalu kembali melihat ke arah taman belakang yang dipenuhi sinar matahari sore yang hangat.

Di sana, ada Bibi Viona yang menatapnya dengan senyum protektif, dan seekor anjing besar yang tampak sangat menantikannya.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kaki kecil Yoyo melangkah keluar dari area amannya. Ia berbalik, berlari kecil memasuki kamarnya, membuka pintu depan, dan berjalan menuruni tangga marmer utama dengan langkah tergesa-gesa.

Pak Pelayan yang menyaksikan kejadian itu dari balik pilar ruang tamu utama hampir saja meneteskan air mata.

Nona Kecil mereka... akhirnya mau turun ke lantai bawah atas kemauannya sendiri tanpa paksaan atau tangisan.

Begitu pintu kaca menuju taman belakang digeser terbuka oleh Pak Pelayan, Yoyo langsung berlari kecil menghampiri Viona.

Langkahnya sempat melambat dan ragu saat jaraknya tinggal beberapa meter dari Goldie.

Tubuh besar anjing itu sempat membuatnya sedikit ciut.

"Jangan takut, Putri Yoyo,"

bisik Viona, berlutut di samping Yoyo dan menggandeng tangan kecilnya yang hangat.

"Ksatria Emas, berikan salammu pada sang Putri."

Viona memberikan isyarat tangan yang sebelumnya diajarkan oleh petugas suaka.

Goldie perlahan merebahkan tubuh besarnya di atas rumput, meletakkan kedua kaki depannya secara lurus, lalu menundukkan kepala besarnya hingga helm plastiknya menyentuh tanah—sebuah gerakan membungkuk hormat yang sempurna layaknya seorang ksatria sejati.

Yoyo terpekik kecil, sebuah tawa riang yang sangat murni akhirnya keluar dari bibir mungilnya setelah sekian lama terkunci dalam kepedihan.

Ia melepaskan gandengan tangan Viona, melangkah maju satu langkah, lalu dengan ragu mengulurkan tangan kecilnya untuk menyentuh kepala Goldie.

Begitu jemarinya merasakan kelembutan bulu emas Goldie, anjing itu mengangkat kepalanya perlahan dan memberikan jilatan lembut di punggung tangan Yoyo.

Rasa geli dari jilatan itu membuat Yoyo tertawa semakin keras.

Gadis kecil itu langsung menjatuhkan dirinya, memeluk leher tebal Goldie dengan erat, membenamkan wajahnya di bulu hangat anjing tersebut.

"Ksatria Emas... harum sekali. Rasanya hangat," bisik Yoyo di sela-sela pelukannya.

Viona yang menyaksikan pemandangan itu merasakan matanya mendadak panas karena haru.

Metode uniknya berhasil. Jiwa kecil Yoyo yang selama ini menolak dunia luar karena menganggapnya berbahaya, kini telah menemukan jangkar pelindung baru dalam diri seekor anjing terapi.

Tepat pada saat itu, dari arah koridor dalam mansion, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat.

Pintu kaca kembali digeser terbuka, dan Oliver melangkah keluar ke taman belakang.

Sang CEO baru saja kembali dari kantornya, berniat memeriksa keadaan rumah setelah proses pendaftaran pernikahan mereka selesai.

Namun, pemandangan yang menyambutnya di taman belakang seketika membuat langkah kaki Oliver terhenti.

Di bawah siraman cahaya matahari sore yang keemasan, putrinya—yang selama dua tahun terakhir menolak keluar kamar dan membenci dunia luar—kini sedang berguling-guling riang di atas rumput bersama seekor anjing Golden Retriever besar berhelm plastik.

Dan di samping mereka, Viona berdiri dengan senyuman paling tulus dan paling indah yang pernah Oliver lihat, dengan pedang busa mainan yang masih digenggamnya.

Atmosfer taman yang biasanya sunyi dan beku kini dipenuhi oleh suara tawa renyah Yoyo dan gonggongan rendah Goldie yang bahagia.

Oliver mematung di ambang pintu, kebekuan di wajahnya runtuh sepenuhnya, menyisakan ekspresi terkejut yang mendalam sekaligus rasa lega yang tak terlukiskan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di lubuk hatinya yang paling dalam.

Tatapan mata elangnya beralih dari putrinya yang tertawa menuju wajah Viona yang bercahaya di bawah sinar matahari.

Detik itu juga, di taman belakang yang hangat itu, sang tirani dingin menyadari bahwa wanita berjiwa rapuh yang ia sewa dengan status kontrak ini... ternyata membawa keajaiban terbesar yang pernah masuk ke dalam hidupnya dan putrinya.

Episodes
1 Episode 1: Lowongan Kerja: Mencari Ibu Tiri
2 Episode 2: Wanita Berjiwa Rapuh di Depan Gerbang Mansion
3 Episode 3: Pertemuan Pertama dengan Sang Tirani Dingin
4 Episode 4: Gadis Kecil yang Menolak Makan
5 Episode 5: Metode Unik Viona: Ksatria Anjing Golden Retriever
6 Episode 6: Malam Pertama di Kamar Sebelah
7 Episode 7: Aturan Ketat Lantai Tiga yang Terlarang
8 Episode 8: Sarapan Penuh Keajaiban
9 Episode 9: Oliver yang Mulai Mengamati
10 Episode 10: Rahasia Obat Penenang Viona
11 Episode 11: Permintaan Dongeng Sebelum Tidur
12 Episode 12: "Kau Adalah Ibu Peri Pelindungku"
13 Episode 13: Kenaikan Gaji Pertama yang Tak Terduga
14 Episode 14: Ketakutan Terbesar Yoyo: Kehilangan Lagi
15 Episode 15: Janji Dua Jam di Rumah Sakit
16 EPISODE 16: Manisnya Permen Penghilang Rasa Sakit
17 Episode 17: Langkah Pertama Yoyo Keluar Rumah
18 Episode 18: Hadiah Mobil Bekas dan Penolakan Viona
19 Episode 19: Dokter Psikologi Pribadi Kiriman Oliver
20 Episode 20: "Kehadiranmu Lebih Manjur dari Obat"
21 Episode 21: Belanja Pertama ke Pasar Tradisional
22 Episode 22: Gelembung Ikan dan Tawa yang Kembali
23 Episode 23: Bayangan Hitam dari Masa Lalu: Pertemuan dengan Lin
24 Episode 24: Tuduhan Kejam Mantan Suami
25 Episode 25: "Kembalilah dan Minta Maaf pada Ibuku"
26 Episode 26: Pembelaan Gadis Kecil di Tempat Parkir
27 Episode 27: Air Mata di Dalam Mobil Kecil
28 Episode 28: Panggilan Telepon Penuh Makian dari Mantan Kakak Ipar
29 Episode 29: Oliver Menyadari Ada yang Tidak Beres
30 Episode 30: Penyelidikan Rahasia Sang CEO
31 Episode 31: Makan Malam yang Terlewat
32 Episode 32: Lemari Pakaian yang Penuh Barang Mewah
33 Episode 33: "Di Atas Kertas, Kau Adalah Istriku"
34 Episode 34: Nama Mantan Suami: Lin dari Perusahaan Medis
35 Episode 35: Janji Perlindungan Seorang Suami Kontrak
36 Episode 36: Parasit yang Mengendus Bau Uang
37 Episode 37: Tuntutan Mahar Pernikahan Sang Adik Kandung
38 Episode 38: Ibu Kandung yang Menerobos Masuk
39 Episode 39: "Kau Menikahi Orang Kaya tapi Lupa Keluarga!"
40 Episode 40: Memori Tiga Tahun Siksaan Mental
41 Episode 41: Dorongan Kejam pada Yoyo Kecil
42 Episode 42: Amarah Viona yang Meledak: "Pergi dari Sini!"
43 Episode 43: Kedatangan Oliver yang Membawa Badai
44 Episode 44: "Usir Mereka dan Jangan Pernah Izinkan Masuk!"
45 Episode 45: Ketakutan Viona Melibatkan Oliver
46 Episode 46: Tatapan Mata Oliver: "Kita Adalah Keluarga"
47 Episode 47: Rencana Balas Dendam Bisnis Dimulai
48 Episode 48: Pemotongan Kerja Sama dengan Perusahaan Lin
49 Episode 49: Kue Tart Buatan Rumah yang Hangat
50 Episode 50: Senyuman Pertama Oliver dalam Tiga Tahun
51 Episode 51: Kepulangan Awal Sang CEO Dingin
52 Episode 52: "Apakah Kau Takut Aku Bangkrut?"
53 Episode 53: Persiapan Menuju Lelang Amal
54 Episode 54: Gaun Cantik Pilihan Desainer Pribadi
55 Episode 55: Transformasi Viona yang Menakjubkan
56 Episode 56: Gandingan Tangan di Karpet Merah
57 Episode 57: Pengumuman Resmi: "Ini Istriku, Viona"
58 Episode 58: Tamparan Keras untuk Spekulasi Publik
59 Episode 59: Lin yang Terkesima dan Menyesal
60 Episode 60: "Jika Kau Berdandan Begini, Kita Tidak Akan Cerai"
61 Episode 61: Penolakan Telak: "Aku Lebih Baik Tidur di Bawah Jembatan"
62 Episode 62: Lin Mencoba Mengacaukan Negosiasi Bisnis
63 Episode 63: Oliver Bertindak: "Kerja Sama Kita Selesai"
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Episode 1: Lowongan Kerja: Mencari Ibu Tiri
2
Episode 2: Wanita Berjiwa Rapuh di Depan Gerbang Mansion
3
Episode 3: Pertemuan Pertama dengan Sang Tirani Dingin
4
Episode 4: Gadis Kecil yang Menolak Makan
5
Episode 5: Metode Unik Viona: Ksatria Anjing Golden Retriever
6
Episode 6: Malam Pertama di Kamar Sebelah
7
Episode 7: Aturan Ketat Lantai Tiga yang Terlarang
8
Episode 8: Sarapan Penuh Keajaiban
9
Episode 9: Oliver yang Mulai Mengamati
10
Episode 10: Rahasia Obat Penenang Viona
11
Episode 11: Permintaan Dongeng Sebelum Tidur
12
Episode 12: "Kau Adalah Ibu Peri Pelindungku"
13
Episode 13: Kenaikan Gaji Pertama yang Tak Terduga
14
Episode 14: Ketakutan Terbesar Yoyo: Kehilangan Lagi
15
Episode 15: Janji Dua Jam di Rumah Sakit
16
EPISODE 16: Manisnya Permen Penghilang Rasa Sakit
17
Episode 17: Langkah Pertama Yoyo Keluar Rumah
18
Episode 18: Hadiah Mobil Bekas dan Penolakan Viona
19
Episode 19: Dokter Psikologi Pribadi Kiriman Oliver
20
Episode 20: "Kehadiranmu Lebih Manjur dari Obat"
21
Episode 21: Belanja Pertama ke Pasar Tradisional
22
Episode 22: Gelembung Ikan dan Tawa yang Kembali
23
Episode 23: Bayangan Hitam dari Masa Lalu: Pertemuan dengan Lin
24
Episode 24: Tuduhan Kejam Mantan Suami
25
Episode 25: "Kembalilah dan Minta Maaf pada Ibuku"
26
Episode 26: Pembelaan Gadis Kecil di Tempat Parkir
27
Episode 27: Air Mata di Dalam Mobil Kecil
28
Episode 28: Panggilan Telepon Penuh Makian dari Mantan Kakak Ipar
29
Episode 29: Oliver Menyadari Ada yang Tidak Beres
30
Episode 30: Penyelidikan Rahasia Sang CEO
31
Episode 31: Makan Malam yang Terlewat
32
Episode 32: Lemari Pakaian yang Penuh Barang Mewah
33
Episode 33: "Di Atas Kertas, Kau Adalah Istriku"
34
Episode 34: Nama Mantan Suami: Lin dari Perusahaan Medis
35
Episode 35: Janji Perlindungan Seorang Suami Kontrak
36
Episode 36: Parasit yang Mengendus Bau Uang
37
Episode 37: Tuntutan Mahar Pernikahan Sang Adik Kandung
38
Episode 38: Ibu Kandung yang Menerobos Masuk
39
Episode 39: "Kau Menikahi Orang Kaya tapi Lupa Keluarga!"
40
Episode 40: Memori Tiga Tahun Siksaan Mental
41
Episode 41: Dorongan Kejam pada Yoyo Kecil
42
Episode 42: Amarah Viona yang Meledak: "Pergi dari Sini!"
43
Episode 43: Kedatangan Oliver yang Membawa Badai
44
Episode 44: "Usir Mereka dan Jangan Pernah Izinkan Masuk!"
45
Episode 45: Ketakutan Viona Melibatkan Oliver
46
Episode 46: Tatapan Mata Oliver: "Kita Adalah Keluarga"
47
Episode 47: Rencana Balas Dendam Bisnis Dimulai
48
Episode 48: Pemotongan Kerja Sama dengan Perusahaan Lin
49
Episode 49: Kue Tart Buatan Rumah yang Hangat
50
Episode 50: Senyuman Pertama Oliver dalam Tiga Tahun
51
Episode 51: Kepulangan Awal Sang CEO Dingin
52
Episode 52: "Apakah Kau Takut Aku Bangkrut?"
53
Episode 53: Persiapan Menuju Lelang Amal
54
Episode 54: Gaun Cantik Pilihan Desainer Pribadi
55
Episode 55: Transformasi Viona yang Menakjubkan
56
Episode 56: Gandingan Tangan di Karpet Merah
57
Episode 57: Pengumuman Resmi: "Ini Istriku, Viona"
58
Episode 58: Tamparan Keras untuk Spekulasi Publik
59
Episode 59: Lin yang Terkesima dan Menyesal
60
Episode 60: "Jika Kau Berdandan Begini, Kita Tidak Akan Cerai"
61
Episode 61: Penolakan Telak: "Aku Lebih Baik Tidur di Bawah Jembatan"
62
Episode 62: Lin Mencoba Mengacaukan Negosiasi Bisnis
63
Episode 63: Oliver Bertindak: "Kerja Sama Kita Selesai"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!