dianggap pembawa sial

Tapi saat ibu menatapku lega setelah melihatku menghabiskan minuman itu, napasnya yang sempat tertahan perlahan terurai. Namun seketika pandangannya melesat ke jalan masuk. Matanya membelalak lebar, napasnya tercekat di tenggorokan.

Aku ikut terkejut, menoleh cepat ke arah yang sama. Di sana ayah baru saja muncul dari kejauhan, pulang dari ladang. Langkahnya berat, terseret dan pincang di satu kaki; rahangnya mengatup rapat menahan rasa perih yang nyata. Lengan dan betisnya penuh lecet segar, beberapa bagian masih basah meneteskan darah di debu jalan. Meski begitu, saat matanya menangkap kami yang menunggu di teras, ia memaksakan senyum lebar — tipis dan goyah, seolah ingin menyembunyikan segala rasa sakit.

“Ibu…,” gumamku pelan, suaraku bergetar.

Ibu langsung berlari menghampiri, langkahnya terburu‑buru hingga napasnya tersengal pendek. Tangannya sigap menopang lengan ayah agar ia tidak roboh ke tanah. Aku dan Aslan berlari kecil menyusul di belakang, napas kami tertahan menatap luka‑luka itu dengan mata berkaca‑kaca. Bersama‑sama kami menuntunnya masuk ke dalam rumah dengan perlahan.

Di luar, suara bisik‑bisik mulai terdengar samar dari arah pagar tetangga yang berkumpul. Rendah, tapi tajam dan jelas tertangkap telinga:

“Lihat saja… minggu lalu juga dia pulang dalam keadaan terluka parah. Ini bukan kali pertama lagi.”

Suara lain menyahut dengan nada rendah namun penuh makna:

“Mau bagaimana lagi? Kau tak lupa kan, putri mereka itu dianggap pembawa sial. Ingat tidak, dua belas tahun yang lalu…”

Kenangan itu kembali muncul jelas di benakku. Saat itu, seorang wanita tua datang melintasi desa kami. Tubuhnya bungkuk namun langkahnya teguh, rambutnya putih bersih seperti kapas, kulit keriput menandai usia panjang yang penuh perjuangan. Ia mengenakan pakaian hitam sederhana yang agak lusuh tapi rapi, hanya menggenggam erat tas kain kecil di tangannya. Katanya hanya ingin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan jauh.

Sore itu, aku dan teman‑teman baru saja pulang bermain, tawa kami riang memecah kehangatan senja yang memerah langit. Kami berjalan cepat ingin segera sampai rumah, saat suara parau namun lembut memanggil dari pinggir jalan:

“Nak… apakah kalian punya sedikit makanan? Nenek sudah lama tidak makan, perut ini terasa sangat lapar.”

Kami berhenti seketika. Aku merogoh saku bajuku — hanya ada dua butir permen yang baru saja kuterima sebagai hadiah. Tanpa ragu sedikit pun, aku menyodorkannya ke telapak tangannya yang keriput dan kasar. Dia menerimanya sambil tersenyum tipis, namun tak lama kemudian senyum itu lenyap seketika. Tatapannya berubah menjadi serius, matanya menatap tajam ke telapak tanganku seolah melihat sesuatu yang menakutkan di sana.

Tiba‑tiba ia menarik pergelangan tanganku perlahan — tak terlalu keras, tapi aku tak bisa melepaskannya begitu saja.

“Nak… karena kau sudah berbuat baik… izinkan Nenek lihat telapak tanganmu. Nenek bisa membaca garis takdir seseorang.”

Aku masih kecil dan polos, hanya mengangguk patuh sambil membiarkan tanganku dipegangnya.

Wanita itu menatap lama — menatap telapak tanganku dengan pandangan yang makin dalam, makin kelam. Lalu wajahnya seketika berubah pucat pasi. Suaranya terdengar berat, penuh kepedihan dan ketegasan yang tak bisa dibantah:

“Hidupmu akan selalu dikelilingi kesialan, setiap langkahmu adalah malapetaka. Kau terikat erat dengan kematian yang tak akan pernah lepas darimu.”

Aku menarik tanganku sekuat tenaga dengan napas terengah ketakutan. Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Wanita itu menyeramkan, persis seperti nenek sihir dalam dongeng yang sering kudengar. Teman‑teman di sampingku diam mematung, tak ada yang berani bersuara. Tanpa berpikir panjang kami berbalik dan berlari sekuat tenaga pulang ke rumah, napas pendek‑pendek, hati penuh ketakutan.

Aku masuk tergopoh‑gopoh ke dapur, di mana ibu sedang mengaduk panci sup yang mengeluarkan uap hangat dan aroma sedap seisi rumah. Tanpa kata aku langsung memeluk pinggangnya erat, tubuhku gemetar hebat hingga bahuku berguncang.

Ibu terkejut, lalu tangannya hendak menepuk punggungku lembut — namun saat menoleh dan melihat wajahku pucat pasi, senyumnya langsung lenyap. Ia meletakkan sendok kayu perlahan, memutar tubuhku menghadapnya, menggenggam kedua pipiku dengan lembut namun kuat. Matanya menyelidik cemas dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu pucat seperti ini?” tanyanya cemas, suaranya bergetar.

Keringat dingin sudah membasahi dahiku, suaraku keluar terbata‑bata nyaris tak terdengar:

“Ibu… tadi di jalan aku bertemu nenek tua yang menyeramkan sekali. Dia bicara hal yang aneh… aku takut sekali, Bu.”

Ibu makin mengeratkan pelukannya, nadanya lembut namun tegas — berusaha menenangkan sekaligus melindungi:

“Apa yang dia katakan? Ceritakan saja pada Ibu, jangan disimpan sendiri.”

Aku menelan ludah yang terasa pahit, suaraku nyaris berbisik seolah takut didengar angin:

“Dia bilang… aku pembawa sial. Dan hidupku terikat erat dengan kematian. Ibu, aku takut sekali…”

Ibu memelukku semakin erat, pipinya menempel di kepalaku, napasnya bergetar hebat. Tak lama ia mengajakku dan Aslan ke kamar, membaringkan kami di kasur empuk. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya terus mengusap lembut keningku, namun matanya menatap kosong ke dinding — pikirannya melayang jauh ke tempat yang tak bisa kucapai.

Keesokan paginya aku terbangun tepat pukul enam. Kicau burung dan gemericik air terjun terdengar jernih masuk lewat celah jendela seperti biasa. Namun udara pagi ini terasa berbeda, lebih berat dan dingin.

Saat melangkah ke depan halaman, aku mendengar suara gumaman rendah dari kelompok tetangga yang berkumpul. Kata‑kata mereka jelas sampai ke telingaku:

“Hei… dengar tidak? Wanita tua yang kemarin singgah di desa kita itu… ditemukan tewas di sungai, tidak jauh dari sini. Katanya kematiannya mengenaskan sekali, tubuhnya penuh luka‑luka.”

Orang lain menyahut sambil menggeleng kepala dengan wajah muram:

“Aduh… kasihan sekali. Tapi aku dengar dia itu pandai membaca nasib. Bahkan sempat meramal Zara, tahu tidak apa katanya?”

“Memang apa?” tanya yang lain dengan mata terbelalak.

“Dia bilang Zara itu pembawa sial, dia adalah malapetaka, hidupnya terikat dengan kematian.”

Mereka semua langsung terdiam seketika, lalu saling pandang dengan wajah pucat ketakutan.

“Ya ampun… jangan‑jangan wanita itu mati gara‑gara anak itu?”

Begitu sadar aku berdiri tak jauh dari mereka, nada bicara mereka makin keras dan tajam. Salah satu ibu‑ibu langsung menarik anaknya menjauh dariku sambil memperingatkan dengan nada tegas:

“Mulai sekarang jangan main lagi sama Zara, dengar? Nanti kamu ketularan nasib sialnya!”

Semua mata tertuju padaku. Bukan tatapan warga biasa, melainkan tatapan jijik, takut, dan curiga seolah aku adalah benda berbahaya yang harus dijauhi. Jantungku terasa remuk, mataku perih dan panas menahan air mata. Tanpa sepatah kata aku hanya menunduk dalam, membalikkan badan dan masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah lambat dan berat.

Sejak hari itu, hal‑hal aneh dan tak wajar sering terjadi di desa. Ternak mati mendadak, jalan tanah longsor padahal tak ada hujan lebat, panen gagal padahal tanah sebelumnya subur dan terawat. Dan setiap kali itu terjadi, bisikan itu selalu terdengar di mana‑mana:

“Pasti gara‑gara dia. Sudah dibilang membawa sial, tidak mau percaya juga.”

“Mari kita bubar. Jangan lama‑lama di sini, takut kita juga tertimpa nasib buruknya,” jawab yang lain, lalu semua berhamburan pergi menjauh.

Aku mendengar setiap kata itu sampai ke tulang, perih dan menusuk. Namun aku berusaha tegar. Cemoohan dan tuduhan mereka tak ada artinya bagiku. Yang penting hanya ayah, ibu, dan Aslan — satu‑satunya keluargaku yang tulus menyayangiku apa adanya.

Dengan hati penuh cemas namun tekad kuat, aku segera membantu ibu menuntun dan merawat ayah yang terluka itu, berjanji dalam hati akan selalu menjaga mereka sekuat tenaga yang kumiliki.

Terpopuler

Comments

@Semua orang

@Semua orang

maksudnya org di dekat dia akan mati gitu, atau gimana. kau terikat kematian ya namanya bakal mati, dikira kau nggak bakal mati ya matilah.

2026-08-16

0

@Semua orang

@Semua orang

main salahin ke anak yg tak tahu heh 😒

2026-08-16

0

@Semua orang

@Semua orang

ya mungkin ada hal yg terjadi

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 satu satunya darah murni yang tersisa
2 Takdir yang terlindung
3 dianggap pembawa sial
4 malapetaka datang tanpa peringatan
5 di ujung keputusan ada pertolongan
6 di ujung keputusasaan
7 pertemuan di ujung malam
8 balasan Budi yang penuh keraguan
9 beban yang hanya bisa di pendam
10 perjanjian di saat paling mendesak
11 satu tahun menjadi istrinya
12 diantara tuduhan dan fakta yang nyata
13 langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
14 secara sah menjadi istrinya
15 jarak yang terasa jauh sejak awal
16 malam pertama tanpa cahaya tanpa teman
17 ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan
18 nama asing di balik nama cincin itu
19 di balik sikapnya yang tegas tersimpan kepedulian
20 sosok yang bernama Fara
21 diantara dunia yang berbeda
22 masa lalu Fara dan kabar yang tersebar
23 tuduhan pahit dan luka di dahi
24 perawat dari Adrian
25 Antara kebaikan hati dan ketakutan yang tidak terduga
26 serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri
27 di balik ancaman keluarga kuno
28 keadaan yang belum pasti
29 kabar aneh di lorong rumah sakit
30 langkah pertama menuju harapan baru
31 teman baru
32 permintaan maaf
33 kedatangan wanita yang berkuasa
34 topeng kemarahan dan hukuman yang kejam
35 kepulangan yang membawa badai
36 sore yang damai
37 ramalan gelap dan rahasia yang tersembunyi
38 di balik senyuman dan kemuliaan palsu
39 masa depan Zara
40 usaha yang berakhir hancur
41 malam yang meruntuhkan harga diri
42 malam yang mengubah segalanya
43 kecelakaan yang membawa semua kebenaran
44 dia melarang ku dia mengawasi ku
45 isu publik dan rahasia yang tersembunyi
46 ramalan istri dan wanita tua yang mengucapkan nasib
47 ramalan pertemuan dan undangan yang mendadak
48 topeng ramah dan tamparan kebenaran
49 amarah yang meledak dan ancaman yang nyata
50 perlawanan yang tidak di sangka
51 bekas luka semalam
52 bekas luka yang tak kunjung kering
53 harga yang harus ku bayar
54 sebelum kepulangan nya
55 di balik hujan dan penderitaan
56 di balik kelembutan yang terlambat
57 tamparan di pagi hari dan yang terlambat
58 antara kebaikan dan keraguan
59 olesan di balik pintu tertutup
60 kegelisahan yang terungkap
61 pertanyaan yang menyisakan keraguan
62 kepuasan sederhana
63 kemunculan tokoh baru
64 rasa kebencian yang tersembunyi
65 pion yang runtuh
66 pesta pemaluan
67 kerinduan
68 di balik tatapan rahasia
69 pertanyaan yang tak berani ku jawab dan sentuhan Elina yang berbahaya
70 jebakan anggur merah
71 penculikan yang mendadak
72 dendam yang tak punya akar
73 perlindungan mutlak dan ancaman baru
74 undangan dan firasat buruk
75 sumpah kebencian dan rencana licik
76 jebakan yang ditenun sendiri
77 sasaran: harga diriku
78 secangkir kopi yang tidak pernah cukup baik
79 jalan yang di tutup
80 tatapan yang tidak berpaling
81 secangkir kopi palsu dan ratusan Mata yang menghakimi
82 dua pria dua dunia
83 langkah pertama melawan
84 jebakan di kolam
85 caca yang tak terampuni
86 terkurung dalam kegelapan
87 di balik pintu yang terkunci
88 gaun putih di tengah malam
89 hinaan di balik gaun putih
90 penghinaan di balik kemegahan
91 di bawah hujan di bawah perlindungan mu
92 luka tak terlihat
93 kabar bahagia yang berubah jadi mimpi buruk
94 tuduhan yang meruntuhkan duniaku
95 penghinaan dan rencana kejam
96 perbuatan melampaui batas
97 di tepi jembatan ke keputusan
98 di tengah hujan dan kegelapan
99 sandaran di sela api dan hujan
100 Di Antara Kejam dan Lembut
Episodes

Updated 100 Episodes

1
satu satunya darah murni yang tersisa
2
Takdir yang terlindung
3
dianggap pembawa sial
4
malapetaka datang tanpa peringatan
5
di ujung keputusan ada pertolongan
6
di ujung keputusasaan
7
pertemuan di ujung malam
8
balasan Budi yang penuh keraguan
9
beban yang hanya bisa di pendam
10
perjanjian di saat paling mendesak
11
satu tahun menjadi istrinya
12
diantara tuduhan dan fakta yang nyata
13
langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
14
secara sah menjadi istrinya
15
jarak yang terasa jauh sejak awal
16
malam pertama tanpa cahaya tanpa teman
17
ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan
18
nama asing di balik nama cincin itu
19
di balik sikapnya yang tegas tersimpan kepedulian
20
sosok yang bernama Fara
21
diantara dunia yang berbeda
22
masa lalu Fara dan kabar yang tersebar
23
tuduhan pahit dan luka di dahi
24
perawat dari Adrian
25
Antara kebaikan hati dan ketakutan yang tidak terduga
26
serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri
27
di balik ancaman keluarga kuno
28
keadaan yang belum pasti
29
kabar aneh di lorong rumah sakit
30
langkah pertama menuju harapan baru
31
teman baru
32
permintaan maaf
33
kedatangan wanita yang berkuasa
34
topeng kemarahan dan hukuman yang kejam
35
kepulangan yang membawa badai
36
sore yang damai
37
ramalan gelap dan rahasia yang tersembunyi
38
di balik senyuman dan kemuliaan palsu
39
masa depan Zara
40
usaha yang berakhir hancur
41
malam yang meruntuhkan harga diri
42
malam yang mengubah segalanya
43
kecelakaan yang membawa semua kebenaran
44
dia melarang ku dia mengawasi ku
45
isu publik dan rahasia yang tersembunyi
46
ramalan istri dan wanita tua yang mengucapkan nasib
47
ramalan pertemuan dan undangan yang mendadak
48
topeng ramah dan tamparan kebenaran
49
amarah yang meledak dan ancaman yang nyata
50
perlawanan yang tidak di sangka
51
bekas luka semalam
52
bekas luka yang tak kunjung kering
53
harga yang harus ku bayar
54
sebelum kepulangan nya
55
di balik hujan dan penderitaan
56
di balik kelembutan yang terlambat
57
tamparan di pagi hari dan yang terlambat
58
antara kebaikan dan keraguan
59
olesan di balik pintu tertutup
60
kegelisahan yang terungkap
61
pertanyaan yang menyisakan keraguan
62
kepuasan sederhana
63
kemunculan tokoh baru
64
rasa kebencian yang tersembunyi
65
pion yang runtuh
66
pesta pemaluan
67
kerinduan
68
di balik tatapan rahasia
69
pertanyaan yang tak berani ku jawab dan sentuhan Elina yang berbahaya
70
jebakan anggur merah
71
penculikan yang mendadak
72
dendam yang tak punya akar
73
perlindungan mutlak dan ancaman baru
74
undangan dan firasat buruk
75
sumpah kebencian dan rencana licik
76
jebakan yang ditenun sendiri
77
sasaran: harga diriku
78
secangkir kopi yang tidak pernah cukup baik
79
jalan yang di tutup
80
tatapan yang tidak berpaling
81
secangkir kopi palsu dan ratusan Mata yang menghakimi
82
dua pria dua dunia
83
langkah pertama melawan
84
jebakan di kolam
85
caca yang tak terampuni
86
terkurung dalam kegelapan
87
di balik pintu yang terkunci
88
gaun putih di tengah malam
89
hinaan di balik gaun putih
90
penghinaan di balik kemegahan
91
di bawah hujan di bawah perlindungan mu
92
luka tak terlihat
93
kabar bahagia yang berubah jadi mimpi buruk
94
tuduhan yang meruntuhkan duniaku
95
penghinaan dan rencana kejam
96
perbuatan melampaui batas
97
di tepi jembatan ke keputusan
98
di tengah hujan dan kegelapan
99
sandaran di sela api dan hujan
100
Di Antara Kejam dan Lembut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!