malapetaka datang tanpa peringatan

Aku segera mengambil segelas air jernih, lalu membawanya mendekati Ayah yang sudah duduk bersandar di kursi kayu teras. Menatapnya, dada terasa sesak menahan sedih yang dalam — setiap luka di tubuhnya terasa seperti tertusuk di hatiku sendiri. Ayah hanya tersenyum tipis, suaranya lembut namun bergetar menahan perih yang tak terucap:

“Jangan bersedih, Nak. Ayah ini kuat. Lihat saja… tidak apa‑apa.”

Dia berusaha bersikap santai seolah luka di kulitnya tak terasa sakit sama sekali, namun matanya yang lelah dan pandangan yang sayu tak bisa menutupi betapa tubuhnya menahan kelelahan luar biasa. Meski begitu, rasa cemas di hatiku dan Aslan tak kunjung pudar — tak bisa hilang hanya dengan kata‑kata yang diucapkan sambil menahan rasa sakit. Di samping kami, Ibu sudah sibuk menyiapkan baskom berisi air hangat dan ramuan daun beraroma tajam, dengan gerakan cekatan namun penuh kelembutan membersihkan lalu mengobati luka‑luka di sekujur tubuh Ayah.

Malam itu, saat aku sudah berbaring hendak memejamkan mata, pintu kamar terbuka pelan tanpa suara. Ibu melangkah masuk membawa secangkir minuman hijau pekat yang sudah sangat kukenal selama bertahun‑tahun — warna yang tak pernah berubah, aroma yang tak pernah hilang.

“Minumlah dulu, Nak,” bisiknya lembut, meletakkan cangkir itu perlahan di tepi tempat tidur seolah takut suaranya memecah keheningan malam.

Aku hanya menatap cairan itu, menarik napas panjang menahan berat hati, lalu meminumnya sampai tandas tanpa sisa — seperti biasa, seperti yang selalu kulakukan tanpa tahu alasannya. Setelah meletakkan cangkir kosong, aku membaringkan tubuh dan berusaha memejamkan mata, meski hati masih gelisah tak menentu — seolah ada sesuatu yang berat menumpuk di dadaku, menandakan bahwa ketenangan ini takkan bertahan lama.

Di ruang tamu yang remang dan sepi, Ayah masih duduk sendirian, termenung lekat dengan pikiran yang melayang jauh ke tempat tak terjangkau. Ibu datang dan duduk tepat di sebelahnya — bahunya masih bergetar menahan tangis yang tak keluar. Belum sempat Ibu bersuara, Ayah lebih dulu berbicara dengan nada berat, penuh beban yang tertahan lama:

“Ke depannya… semuanya akan jauh lebih sulit dan berat dari apa yang sudah kita lalui.”

Wajahnya tampak datar, namun matanya kosong, memancarkan kelelahan yang mendalam — seolah ia sudah melihat apa yang akan datang, dan tak berdaya mengubahnya. Ibu hanya menunduk dalam, dadanya perih mendengar kalimat itu, lalu bertanya lirih hampir tak terdengar, suaranya pecah:

“Kalau begitu… apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Ayah segera menoleh, menatap mata istrinya dalam‑dalam, lalu menggenggam kedua tangan Ibu sangat erat — seolah ingin menyalurkan sisa kekuatan dan keyakinan yang masih ia miliki, seolah tahu bahwa ini mungkin genggaman terakhir mereka.

Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi aku tak perlu sekolah. Pagi itu aku mencuci pakaian lalu menjemurnya di tali jemuran sederhana di samping rumah. Suasana hening dan sepi; Aslan pergi bermain ke desa sebelah bersama teman‑temannya, sedangkan Ayah dan Ibu turun ke ladang. Udara pagi terasa segar seperti biasa, namun entah mengapa napasku terasa berat setiap kali ditarik.

Baru saja hendak bersandar di bawah pohon besar, mataku menangkap sosok beberapa pria berbadan tegap muncul perlahan dari jalan masuk desa. Semua berpakaian serba hitam — kainnya berkilau samar terkena cahaya matahari — dan dari kejauhan tatapan mereka tajam menusuk, langsung tertuju padaku tanpa berkedip sedikit pun. Jantungku berdegup kencang, napas tercekat di tenggorokan — tanpa pikir panjang aku berlari sekuat tenaga pulang. Namun gerakan mereka aneh: begitu cepat dan ringan, tak seperti langkah orang biasa yang berat dan berirama. Mereka melayang di atas tanah seolah tak tersentuh debu sedikit pun.

Beberapa menyerang warga yang kebetulan lewat, sementara satu sosok melesat kilat ke arahku hendak menangkap. Belum sempat aku berteriak, sesosok tubuh besar melompat menghadang tepat di depanku — itu Ayah! Ia mendorongku ke belakang dengan kuat sambil berteriak keras, suaranya bergema membelah udara pagi:

“MASUK KE DALAM RUMAH, CEPAT!”

Aku berlari tergopoh‑gopoh, sempat menoleh sekilas dan terkejut luar biasa. Baru kali ini melihat Ayah bergerak secepat kilat — menangkis serangan dengan gerakan terlatih, tegas dan teratur seolah ia sudah terbiasa bertarung seumur hidup. Setiap ayunannya penuh kekuatan yang tak pernah kutahu ia miliki. Beberapa warga datang membantu, namun jumlah orang berbaju hitam itu makin bertambah, tak ada habisnya — mereka muncul dari balik pepohonan, dari balik rumah, dari segala arah.

Tak lama kemudian Ibu datang berlari sambil menarik lengan Aslan yang napasnya terengah ketakutan, segera mendorong adikku masuk ke dalam rumah. Ibu berteriak panik memanggil namaku, suaranya bergetar hebat penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan:

“Zara! Zara, kau di mana, Nak?!”

“Aku di sini, Bu!” jawabku gemetar, keluar dari sudut dapur dengan wajah pucat pasi dan tubuh masih menggigil hebat karena ngeri.

Ibu segera mendekat, memeriksa seluruh tubuhku dengan cepat dan teliti, memastikan tak ada goresan sedikit pun di kulitku. “Tetap di sini, jangan bergerak ke mana‑mana,” perintahnya singkat namun tegas — bukan permintaan, melainkan perintah yang tak bisa dibantah. Ia berbalik masuk sejenak, lalu kembali membawa sesuatu yang terbalut kain usang kasar di tangannya.

Ibu membuka ujung kain itu perlahan: tampak botol kaca berbentuk persegi agak membulat, permukaannya terukir pola rumit yang tampak berumur ratusan tahun — melingkar, menyilang, membentuk simbol yang tak kupahami. Tutupnya dari logam berukir timbul, agak kusam dimakan waktu namun masih memantulkan cahaya redup seolah bernyawa. Di dalamnya bubuk pekat hitam legam, gelap seperti malam tanpa bintang, sedikit tembus cahaya namun terasa menyimpan kekuatan dan rahasia besar — seolah menampung kegelapan itu sendiri. Lehernya pun terhias ukiran serasi, membuatnya tampak antik, sakral, bukan milik dunia biasa.

Selain botol itu, di tangan kirinya tergenggam segenggam tanaman obat segar berdaun lebar — baru dipetik dari halaman belakang, masih basah oleh embun pagi. Ibu melangkah cepat ke kamar, sekejap kembali membawa kantung kain kecil berisi uang tabungan kami. Dan di telapak tangannya yang lain, tergenggam erat benda panjang terbungkus kain tipis.

Ibu membuka kain itu perlahan dengan gerakan lembut namun pasti — seolah membuka rahasia terbesar hidupnya: terlihat sebilah belati tajam berkilau lembut. Bilahnya panjang dan bersih, terukir motif halus memanjang di sisi besinya — pola yang sama persis dengan rambut nenek moyang yang dulu diceritakan. Gagang dan sarungnya kokoh berhias ukiran logam rumit, terasa berat, nyaman digenggam, jelas bukan mainan sembarangan. Itu adalah senjata yang hidup — dan telah hidup lama.

Ia segera menyodorkan semuanya padaku. Aku terbelalak, bingung tak paham apa yang terjadi, namun menerimanya karena desakan tatapan Ibu — matanya memohon, memerintah, mencintai sekaligus melepaskan. Aku menatap wajahnya yang berusaha tersenyum tenang, namun senyum itu goyah, penuh kesedihan yang tak bisa disembunyikan — air mata menetes perlahan di pipinya yang pucat.

“Zara, ambil dan jaga semuanya baik‑baik. Pergilah sejauh mungkin. Jika ada yang mencelakai, gunakan belati ini dengan berani. Ingat: jaga botol ini. Untuk isinya — ambil sejumput kecil saja, kau harus meminumnya setiap hari tanpa putus,” ucapnya tegas, suaranya bergetar menahan tangis namun tak bisa dibantah.

Aku menatapnya tak percaya, lalu menggeleng keras sementara air mata tumpah deras membasahi pipi: “Tidak, Bu… aku tak mau berpisah dengan Ibu dan Ayah… aku tak mau pergi…”

Wajah Ibu perlahan berubah serius, matanya yang tadinya berkaca‑kaca kini menatap tajam namun penuh kasih sayang — tatapan yang akan kubawa sampai akhir hayat:

“Zara, kau harus mengerti. Ini demi keselamatanmu dan Aslan. Kalian harus pergi sekarang, dengarkan baik‑baik. Bawa adikmu menjauh, jangan pernah kembali selamanya. Rahasiakan siapa dirimu dan asal‑usul dari semua orang. Minum ramuan itu setiap hari — jika tanaman ini habis, kau bisa menanam dan meraciknya sendiri nanti. Dan yang paling penting: jangan percaya pada siapa pun, jangan ceritakan rahasia apa pun tentang dirimu. Kau harus berjanji pada Ibu, Nak.”

Aku hanya bisa mengangguk di sela isak tangis, menggenggam erat tangan Ibu yang kini terasa dingin dan bergetar hebat — seolah tahu ini sentuhan terakhir. “Aku berjanji, Bu… aku berjanji…”

Ibu segera bangkit dan menuntun kami keluar rumah. Begitu melangkah keluar, jantungku seakan mau copot ngeri — desa damai kami kini lautan api. Asap hitam pekat mengepul tinggi ke langit yang biru, mewarnainya kelabu. Rumah‑rumah kayu terbakar dengan api yang ganas, menjilat langit dengan lidah apinya yang merah menyala. Beberapa warga tergeletak diam di tanah — tak bergerak, tak bernyawa — sementara yang lain lari terbirit‑birit sambil berteriak histeris ketakutan, suara mereka tertelan deru api dan bunyi benda‑benda yang runtuh.

Belum jauh melangkah, wanita tua yang paling membenci kami tiba‑tiba menghadang — wajahnya merah padam menahan amarah meledak‑ledak, matanya menyala penuh kebencian yang tak beralasan. Ia berteriak parau, suaranya pecah penuh kemarahan:

“Ini semua gara‑gara dia! Anak pembawa sial, ini yang bawa malapetaka! Kenapa kau lahirkan makhluk iblis begini?! Biar kubunuh dia sekarang!”

Ia menerjang ke arahku sambil mengacungkan pisau tajam yang berkilau mematikan. Ibu berusaha menangkis sekuat tenaga, namun serangan terlalu cepat — ujung pisau melukai lengan Aslan. Darah segar langsung mengalir deras, membasahi seluruh lengan baju putihnya hingga merah pekat — warna yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Tanpa ragu sedetik pun, Ibu menendang keras hingga wanita itu terguling jatuh tertelungkup ke tanah yang berdebu, lalu segera menarik kami berlari masuk ke hutan lebat menuju jalan raya — langkahnya cepat, napasnya memburu, namun tangannya tak pernah melepaskan tangan kami.

Namun dari belakang, dua sosok berbaju hitam makin mendekat cepat — langkah mereka tak bersuara, tak terlihat di semak, namun makin dekat, makin nyata. Ibu mendorong kami kuat ke depan — sekuat tenaga yang tersisa — lalu berhenti mendadak untuk menghadang mereka sendirian. Ia berbalik badan, punggungnya tegak melindungi kami, lalu berteriak sekuat tenaga — suaranya memecah keheningan hutan, penuh cinta dan perpisahan yang tak terucap:

“LARI! LARI SEKARANG! JANGAN PERNAH BERHENTI!”

Aku menangis tersedu‑sedu ketakutan luar biasa, begitu juga Aslan — wajahnya pucat pasi, matanya penuh air mata menahan sakit yang menyayat di lengan. Namun sebagai kakak, aku mengeratkan genggaman di tangan kecilnya — berusaha menyalurkan kekuatan yang tak kupunya — meski tiap langkah terasa berat menembus semak berduri tajam yang merobek kulit kakiku. Kami terus melangkah sekuat tenaga, hingga tanpa sadar kaki tergelincir di tanah licin yang basah oleh embun dan air mata, dan kami jatuh terjerembab ke dalam jurang yang cukup dalam — tertutup rimbun belukar yang menyembunyikan kami dari pandangan siapa pun.

Waktu berlalu dalam gelap dan sunyi — tak tahu berapa lama kami terbaring di sana, terbungkus kegelapan dan dedaunan lembap. Hingga akhirnya aku perlahan tersadar. Cahaya matahari hangat menyelinap turun lewat celah dedaunan di atas kepala, menandakan hari baru telah datang — namun tak ada yang sama seperti sebelumnya.

Perlahan aku mencoba bangkit, seluruh tubuh terasa ngilu dan sakit luar biasa — seolah habis dipukuli habis‑habisan, setiap sendi menjerit kesakitan. Aku menengadah perlahan melihat tebing curam tinggi menjulang di atas — licin, tertutup lumut, tak ada jalan kembali ke atas. Lalu ingatan tentang Aslan melintas seketika, menembus kabut kesakitanku. Dengan suara parau, lemah dan serak karena tangisan tadi, aku memanggil pelan — takut, bergetar, hampir tak terdengar:

“Aslan… Aslan, kau di mana? Jawab Kakak, Nak… tolong jawab…”

Hening sejenak — hanya suara angin lembut dan gemerisik daun yang menjawab. Napasku tercekat sesak, air mata kembali menetes perlahan di pipi yang tergores ranting — perih, namun tak seperih rasa takut yang merayap di dadaku. Lalu terdengar suara lemah, bergetar nyaris tak terdengar dari balik semak tak jauh dari tempatku terbaring — suara yang akan kuingat selamanya:

“Kak… aku di sini… lengan sakit sekali, Kak… panas sekali…”

Jantungku melonjak lega di tengah rasa sakit yang menyiksa — dia masih hidup. Dengan sisa tenaga yang ada, aku merangkak cepat ke arah suara itu, lututku terasa perih tertusuk batu dan duri, namun aku tak peduli. Bisikku bergetar campur tangis bahagia dan cemas yang tak terlukiskan:

“Aslan… syukurlah, Dik… Kakak di sini… jangan takut… Kakak ada di sisimu sekarang… takkan pernah meninggalkanmu…”

Terpopuler

Comments

Lasa Hardianti

Lasa Hardianti

Kasian bgt ibunya sampai terluka demi melindungi anak-anaknya, moga aja mereka bertiga selamat, terutama ibunya/Scowl/

2026-08-12

1

@Semua orang

@Semua orang

udhlah aku berhenti dulu di sini. mampir juga klw berkenan sayang ku🌹

2026-08-16

1

@Semua orang

@Semua orang

emang bapaknya habis di gimanain tiap pulang kerja kayak gitu mulu😩

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 satu satunya darah murni yang tersisa
2 Takdir yang terlindung
3 dianggap pembawa sial
4 malapetaka datang tanpa peringatan
5 di ujung keputusan ada pertolongan
6 di ujung keputusasaan
7 pertemuan di ujung malam
8 balasan Budi yang penuh keraguan
9 beban yang hanya bisa di pendam
10 perjanjian di saat paling mendesak
11 satu tahun menjadi istrinya
12 diantara tuduhan dan fakta yang nyata
13 langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
14 secara sah menjadi istrinya
15 jarak yang terasa jauh sejak awal
16 malam pertama tanpa cahaya tanpa teman
17 ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan
18 nama asing di balik nama cincin itu
19 di balik sikapnya yang tegas tersimpan kepedulian
20 sosok yang bernama Fara
21 diantara dunia yang berbeda
22 masa lalu Fara dan kabar yang tersebar
23 tuduhan pahit dan luka di dahi
24 perawat dari Adrian
25 Antara kebaikan hati dan ketakutan yang tidak terduga
26 serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri
27 di balik ancaman keluarga kuno
28 keadaan yang belum pasti
29 kabar aneh di lorong rumah sakit
30 langkah pertama menuju harapan baru
31 teman baru
32 permintaan maaf
33 kedatangan wanita yang berkuasa
34 topeng kemarahan dan hukuman yang kejam
35 kepulangan yang membawa badai
36 sore yang damai
37 ramalan gelap dan rahasia yang tersembunyi
38 di balik senyuman dan kemuliaan palsu
39 masa depan Zara
40 usaha yang berakhir hancur
41 malam yang meruntuhkan harga diri
42 malam yang mengubah segalanya
43 kecelakaan yang membawa semua kebenaran
44 dia melarang ku dia mengawasi ku
45 isu publik dan rahasia yang tersembunyi
46 ramalan istri dan wanita tua yang mengucapkan nasib
47 ramalan pertemuan dan undangan yang mendadak
48 topeng ramah dan tamparan kebenaran
49 amarah yang meledak dan ancaman yang nyata
50 perlawanan yang tidak di sangka
51 bekas luka semalam
52 bekas luka yang tak kunjung kering
53 harga yang harus ku bayar
54 sebelum kepulangan nya
55 di balik hujan dan penderitaan
56 di balik kelembutan yang terlambat
57 tamparan di pagi hari dan yang terlambat
58 antara kebaikan dan keraguan
59 olesan di balik pintu tertutup
60 kegelisahan yang terungkap
61 pertanyaan yang menyisakan keraguan
62 kepuasan sederhana
63 kemunculan tokoh baru
64 rasa kebencian yang tersembunyi
65 pion yang runtuh
66 pesta pemaluan
67 kerinduan
68 di balik tatapan rahasia
69 pertanyaan yang tak berani ku jawab dan sentuhan Elina yang berbahaya
70 jebakan anggur merah
71 penculikan yang mendadak
72 dendam yang tak punya akar
73 perlindungan mutlak dan ancaman baru
74 undangan dan firasat buruk
75 sumpah kebencian dan rencana licik
76 jebakan yang ditenun sendiri
77 sasaran: harga diriku
78 secangkir kopi yang tidak pernah cukup baik
79 jalan yang di tutup
80 tatapan yang tidak berpaling
81 secangkir kopi palsu dan ratusan Mata yang menghakimi
82 dua pria dua dunia
83 langkah pertama melawan
84 jebakan di kolam
85 caca yang tak terampuni
86 terkurung dalam kegelapan
87 di balik pintu yang terkunci
88 gaun putih di tengah malam
89 hinaan di balik gaun putih
90 penghinaan di balik kemegahan
91 di bawah hujan di bawah perlindungan mu
92 luka tak terlihat
93 kabar bahagia yang berubah jadi mimpi buruk
94 tuduhan yang meruntuhkan duniaku
95 penghinaan dan rencana kejam
96 perbuatan melampaui batas
97 di tepi jembatan ke keputusan
98 di tengah hujan dan kegelapan
99 sandaran di sela api dan hujan
100 Di Antara Kejam dan Lembut
Episodes

Updated 100 Episodes

1
satu satunya darah murni yang tersisa
2
Takdir yang terlindung
3
dianggap pembawa sial
4
malapetaka datang tanpa peringatan
5
di ujung keputusan ada pertolongan
6
di ujung keputusasaan
7
pertemuan di ujung malam
8
balasan Budi yang penuh keraguan
9
beban yang hanya bisa di pendam
10
perjanjian di saat paling mendesak
11
satu tahun menjadi istrinya
12
diantara tuduhan dan fakta yang nyata
13
langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
14
secara sah menjadi istrinya
15
jarak yang terasa jauh sejak awal
16
malam pertama tanpa cahaya tanpa teman
17
ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan
18
nama asing di balik nama cincin itu
19
di balik sikapnya yang tegas tersimpan kepedulian
20
sosok yang bernama Fara
21
diantara dunia yang berbeda
22
masa lalu Fara dan kabar yang tersebar
23
tuduhan pahit dan luka di dahi
24
perawat dari Adrian
25
Antara kebaikan hati dan ketakutan yang tidak terduga
26
serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri
27
di balik ancaman keluarga kuno
28
keadaan yang belum pasti
29
kabar aneh di lorong rumah sakit
30
langkah pertama menuju harapan baru
31
teman baru
32
permintaan maaf
33
kedatangan wanita yang berkuasa
34
topeng kemarahan dan hukuman yang kejam
35
kepulangan yang membawa badai
36
sore yang damai
37
ramalan gelap dan rahasia yang tersembunyi
38
di balik senyuman dan kemuliaan palsu
39
masa depan Zara
40
usaha yang berakhir hancur
41
malam yang meruntuhkan harga diri
42
malam yang mengubah segalanya
43
kecelakaan yang membawa semua kebenaran
44
dia melarang ku dia mengawasi ku
45
isu publik dan rahasia yang tersembunyi
46
ramalan istri dan wanita tua yang mengucapkan nasib
47
ramalan pertemuan dan undangan yang mendadak
48
topeng ramah dan tamparan kebenaran
49
amarah yang meledak dan ancaman yang nyata
50
perlawanan yang tidak di sangka
51
bekas luka semalam
52
bekas luka yang tak kunjung kering
53
harga yang harus ku bayar
54
sebelum kepulangan nya
55
di balik hujan dan penderitaan
56
di balik kelembutan yang terlambat
57
tamparan di pagi hari dan yang terlambat
58
antara kebaikan dan keraguan
59
olesan di balik pintu tertutup
60
kegelisahan yang terungkap
61
pertanyaan yang menyisakan keraguan
62
kepuasan sederhana
63
kemunculan tokoh baru
64
rasa kebencian yang tersembunyi
65
pion yang runtuh
66
pesta pemaluan
67
kerinduan
68
di balik tatapan rahasia
69
pertanyaan yang tak berani ku jawab dan sentuhan Elina yang berbahaya
70
jebakan anggur merah
71
penculikan yang mendadak
72
dendam yang tak punya akar
73
perlindungan mutlak dan ancaman baru
74
undangan dan firasat buruk
75
sumpah kebencian dan rencana licik
76
jebakan yang ditenun sendiri
77
sasaran: harga diriku
78
secangkir kopi yang tidak pernah cukup baik
79
jalan yang di tutup
80
tatapan yang tidak berpaling
81
secangkir kopi palsu dan ratusan Mata yang menghakimi
82
dua pria dua dunia
83
langkah pertama melawan
84
jebakan di kolam
85
caca yang tak terampuni
86
terkurung dalam kegelapan
87
di balik pintu yang terkunci
88
gaun putih di tengah malam
89
hinaan di balik gaun putih
90
penghinaan di balik kemegahan
91
di bawah hujan di bawah perlindungan mu
92
luka tak terlihat
93
kabar bahagia yang berubah jadi mimpi buruk
94
tuduhan yang meruntuhkan duniaku
95
penghinaan dan rencana kejam
96
perbuatan melampaui batas
97
di tepi jembatan ke keputusan
98
di tengah hujan dan kegelapan
99
sandaran di sela api dan hujan
100
Di Antara Kejam dan Lembut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!