di ujung keputusan ada pertolongan

Tidak jauh dariku, Aslan terbaring diam di atas tumpukan daun kering dan tanah lembap. Kakinya terlipat dengan sudut yang tidak wajar — patah, aku tahu itu. Lukanya parah; bercak darah di pelipisnya mulai mengering menjadi kerak cokelat tua yang menyedihkan. Napasnya lemah, tersendat‑sendat, seolah setiap tarikan napas menyakitkan baginya. Matanya terpejam rapat, belum sadarkan diri.

Dengan tangan gemetar hebat dan tubuh yang terasa remuk setiap kali bergerak, aku merangkak mendekat. Sentuhan pertamaku ke bahunya terasa dingin dan lembap oleh keringat dingin.

“Aslan… bangun, ini Kakak,” panggilku parau, berulang kali, suaranya nyaris tak terdengar di tengah rimbunnya hutan. “Bangun, bangun…”

Kelopak matanya bergerak pelan, bergetar, lalu terbuka sedikit — hanya celah tipis yang menatapku kabur. Napasnya berat dan terengah, dadanya naik‑turun tak beraturan. Aku mengembuskan napas lega yang terasa menyakitkan, meski dadaku sesak menahan tangis yang tak kunjung usai. Dia mencoba bangkit, namun seketika meringis tajam menahan sakit yang menyayat — kakinya tak sanggup menahan beban sedikit pun, seolah tak lagi miliknya sendiri.

Aku segera menyandarkan berat badannya ke bahuku yang nyeri dan memar, memapahnya melangkah perlahan, langkah demi langkah yang terasa seperti abadi. Tak peduli perih menusuk di telapak kaki dan punggung yang terasa terbakar — hanya ada satu pikiran yang berputar kencang di kepalaku: menjauh. Menjauh secepat mungkin. Aku takut mereka masih melacak jejak kami — takut bayangan‑bayangan hitam itu masih mengintai dari balik pepohonan.

Sampai di jalan tanah padat yang biasanya dilewati kendaraan, hatiku sedikit lega — tak ada pohon yang menutupi langit di sini, tak ada semak yang menyembunyikan bayangan. Namun kami terus melangkah saling menopang, dua anak kecil yang terlihat seolah baru bangkit dari kematian. Semakin lama, wajah Aslan makin pucat pasi, langkahnya makin lambat dan terseret berat di tanah. Tubuhnya makin dingin di pelukanku.

Gelisah mencengkeram dadaku sekuat tenaga. Mataku terpaku pada ujung jalan yang sunyi dan kosong. Aku berharap — berharap sekuat jiwa — mendengar deru mesin, melihat cahaya lampu yang membelah kegelapan, apa pun. Itu satu‑satunya harapan kami yang tersisa.

Terdengar deru mesin dari belakang, mendekat cepat. Harapan menyala sekejap, menyakitkan namun terang. Aku melambaikan tangan sekuat tenaga, berteriak kecil yang hilang di angin, namun mobil melaju kencang — debu beterbangan, angin menerpa wajahku yang basah oleh air mata, lalu ia lewat tanpa menoleh sedikit pun. Hatiku hancur seketika, runtuh seperti bangunan yang tak punya fondasi. Aku menatap debu yang berputar di jalan, lalu menatap Aslan yang makin lemas di sandaranku. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan — seolah tak ada jalan keluar, seolah kami ditinggalkan sepenuhnya oleh dunia.

Namun tak lama kemudian, suara mesin lain mendekat — kali ini melambat pelan, ban bergeser lembut di tanah kerikil, lalu berhenti tepat di samping kami. Jendela turun perlahan, dan seorang pria lanjut usia menoleh keluar — sorot matanya teduh dan lembut, penuh kebaikan yang tak kusangka akan kutemui hari ini.

“Kalian hendak ke mana, Nak? Kenapa sendirian di sini, hari sudah hampir gelap,” tanyanya lembut, menatap kami dengan tatapan yang tak penuh tuduhan, tak penuh ketakutan — hanya perhatian tulus.

Aku menunduk malu dan takut, suaraku terbata‑bata penuh permohonan yang menyayat hati:

“Ke kota, Pak. Adikku terluka parah… tolonglah kami. Nanti saya bayar ongkosnya, saya membawa uang…” tanganku gemetar merogoh kantong kain yang masih terselip di pinggang.

Dia menggeleng pelan, senyumnya tulus dan menenangkan — seperti sinar matahari sore yang lembut.

“Tak usah bicara soal bayaran. Kebetulan saya antar sayuran ke kota. Cepat naik, perjalanan jauh, lukanya tak boleh ditunda.”

Aku mengangguk cepat menahan tangis yang hendak meledak, membantunya mengangkat tubuh Aslan ke kursi belakang, lalu duduk di sisinya, menggenggam tangan kecilnya yang dingin dan kaku.

Jauh di belakang kami, di tempat yang dulu kami sebut rumah, kini hanya reruntuhan yang terbakar menjadi lautan api. Asap hitam pekat menutup langit yang dulu selalu biru, bau hangus tajam menyengat jauh ke mana‑mana. Sunyi total — tak ada tangis, tak ada langkah kaki, tak ada suara apa pun. Seolah tak ada satu pun yang selamat dari kemurkaan yang datang tiba‑tiba.

Seorang pria berbaju hitam berdiri di hadapan pemimpinnya, menunduk hormat dengan tangan di dada.

“Tuan, seluruh sudut desa telah diperiksa. Tak ada satu pun anak yang tertinggal.”

Pemimpin itu berdiri tegak, jubah gelapnya menutupi seluruh tubuh, wajahnya tertutup bayangan kerudungnya — hanya sepasang mata tajam dan sepasang bibir yang menyunggingkan senyum sinis terlihat jelas.

“Mustahil. Laporan penting ini tak mungkin keliru. Yakin tak ada yang lolos?” suaranya rendah namun menusuk, penuh keraguan yang menakutkan.

Bawahan itu menunduk lebih dalam, suaranya tegas dan dingin.

“Tiga sempat lari. Dua jatuh ke jurang curam yang tak berdasar — diyakini tewas seketika. Satu hanyut terbawa arus deras berbatuan tajam — tak mungkin bertahan hidup. Semuanya tewas, Tuan.”

Dia mendengus pelan, penuh kekecewaan yang tersembunyi di balik wajah datarnya, lalu melambaikan tangan dengan kasar dan cepat.

“Cukup. Kembali sekarang. Sampaikan apa adanya pada Pemimpin Agung — tugas selesai.”

“Siap, Tuan!” seru serempak — suara‑suara itu bergema dingin di antara reruntuhan, lalu lenyap sepenuhnya di balik asap tebal dan malam yang semakin pekat.

Sepanjang perjalanan, tubuhku menggigil hebat di kursi belakang. Tanganku tak pernah melepaskan genggaman tangan Aslan yang makin dingin dan kaku. Aku membisikkan namanya lembut berulang‑ulang — takut dia terlelap dan tak bangun lagi, takut napasnya berhenti di detik berikutnya. Sopir sesekali melirik lewat kaca spion — melihat pakaian lusuh berdebu, luka di kaki yang masih merembes darah, dan tatapan gadis kecil itu yang penuh ketakutan mendalam, seolah ia baru saja melihat neraka dengan matanya sendiri.

“Dari mana mereka sebenarnya?” gumamnya pelan dalam hati, namun tanpa bertanya lebih jauh, ia mempercepat laju kendaraannya dengan lembut — berusaha secepat mungkin membawa kami ke tempat yang aman.

Lima jam berlalu terasa tak berujung — setiap menit seperti satu jam, setiap detik penuh ketegangan yang menekan dada. Hingga akhirnya mobil berhenti perlahan di halaman rumah sakit besar, malam telah meraja sepenuhnya.

Langit gelap pekat, bintang tersembunyi di balik awan kelabu. Lampu salib putih yang terang memantul di aspal basah sisa hujan sore, membasahi segalanya dengan cahaya pucat yang dingin. Jendela‑jendela memancar cahaya kuning pucat yang suram, menatapku dengan tatapan asing — tempat ini tak pernah mengenalku, dan aku tak pernah mengenalnya. Semuanya terasa asing, berat, menekan dada. Tak ada yang terasa seperti rumah.

Aku turun dengan kaki gemetar hebat, memapah tubuh Aslan yang darahnya masih menetes perlahan ke lantai keramik. Dibantu sopir tua itu, kami melangkah masuk lewat pintu geser kaca yang terbuka otomatis — petugas sigap menyambut dan segera membawa Aslan ke ruang gawat darurat dengan tandu yang bergerak cepat.

Tak lama kemudian, dokter keluar — langkahnya tenang namun tegas, wajahnya penuh kelelahan namun tetap sopan.

“Luka serius: patah tulang di kaki dan gegar otak ringan. Dia butuh perawatan dan pengawasan. Silakan tanda tangani persetujuan dan berkas pendaftaran di meja depan.”

Suster menuntunku ke meja penerima yang terang benderang. Tanganku gemetar hebat hingga pena bergores miring tak beraturan di atas kertas, mataku kabur berkaca‑kaca saat menulis namaku — Zara. Tiga huruf yang dulu biasa saja, kini terasa berat menakutkan.

Lantai keramik mengkilap dan licin memantulkan bayanganku yang rapuh dan kecil. Udara di sini menusuk tulang, bau obat dan karet menyengat pelan namun nyata, menembus sampai ke paru‑paru. Pintu otomatis bergeser halus, bercampur bunyi samar alat detak jantung dan langkah cepat orang‑orang yang sibuk — semuanya asing, semuanya tak peduli. Tak ada yang tahu siapa aku, tak ada yang tahu dari mana aku datang.

Aku terpaku di depan pintu ruang perawatan, tangan berlumuran darah kering dan basah — darah Aslan, darah Ayah, darah Ibu. Sopir tua itu masih berdiri di sampingku, tak pergi.

Saat merogoh kantong kain sisa pemberian Ibu, hatiku mencelos — jumlahnya kurang cukup untuk biaya pendaftaran dan perawatan. Belum sempat aku terjebak dalam keputusasaan yang dingin, dia sudah menyodorkan selembar uang yang rapi dan cukup besar ke petugas dengan tenang.

“Cukup untuk pendaftaran dan perawatan awal?” tanyanya lembut.

Aku menepis tangannya pelan namun tegas, mataku panas menahan luapan air mata yang tak bisa lagi dibendung.

“Jangan, Paman! Sudah selamatkan nyawa kami dan antar sampai sini. Cukup… tak perlu keluarkan uang lagi…” suaraku pecah di akhir kalimat.

Dia menahan pergelangan tanganku dengan lembut namun tegas, senyumnya penuh pengertian dan kehangatan yang tak pantas kuterima dari orang asing.

“Simpan untuk keperluan nanti. Saya hanya ingin bantu apa yang bisa saya lakukan.”

Aku menggeleng cepat mundur selangkah, air mata menetes deras ke lantai yang bersih.

“Benar‑benar tak perlu. Saya masih punya ini untuk bayar…” aku menyentuh botol dan belati yang tersembunyi di balik pakaian — beban yang kini menjadi satu‑satunya harta warisanku.

Namun dia meletakkan uang itu lembut di telapak tanganku yang gemetar, lalu menutup jemariku di atasnya.

“Ambil dan simpan baik‑baik. Percayalah… ikhlas saya bantu kalian.”

Air mata tumpah deras tak terbendung. Aku menggenggam uang itu erat di dada, menunduk dalam penuh rasa syukur yang tak bisa diucapkan dengan kata‑kata.

“Terima kasih… Paman penyelamat kami di tengah gelap. Saya berjanji… suatu hari akan membalas semua kebaikan tulus ini,” ucapku terbata‑bata, sepenuhnya hancur namun diselamatkan oleh kebaikan seorang asing.

Dia menepuk pundakku lembut sekali — hangat, seperti pelukan ayah yang tak bisa kuterima lagi.

“Semoga adikmu segera pulih sehat. Maaf tak bisa menemani lama, saya harus antar sisa sayuran sebelum subuh.” Lalu ia melangkah perlahan pergi — punggungnya menua, namun terlihat agung di mataku — meninggalkanku yang menangis pelan, campuran rasa syukur dan kesedihan yang mendalam.

Satu jam terasa seperti satu tahun penuh ketegangan. Akhirnya dokter keluar — wajahnya lelah namun tenang. Aku melangkah cepat, napas tertahan, berharap mendengar kabar yang menenangkan. Namun dia menoleh ke kiri dan kanan perlahan, mencari sosok yang tak akan muncul.

“Nak… di mana ayah dan ibumu? Kenapa hanya kalian berdua?” tanyanya lembut, penuh perhatian namun penuh tanya.

Dadaku sesak hebat, napas tersakit di tenggorokan seolah tertelan duri. Aku menggeleng pelan berkali‑kali, wajahku basah kuyup air mata yang tak henti menetes.

Melihat betapa hancur dan rapuhnya diriku, dokter itu menghela napas panjang dan lembut, lalu menepuk bahuku pelan — penuh kekuatan yang ingin ia berikan padaku.

“Sini ikut saya sebentar ke ruang konsultasi. Mari bicara tenang, baik‑baik.”

Aku patuh, berjalan tertatih di belakangnya tanpa sepatah kata pun — hatiku penuh ketakutan, penuh kehilangan mendalam, dan satu kebenaran pahit yang kini harus kuhadapi sendirian: Aku tidak punya rumah lagi. Aku tidak punya orang tua lagi. Hanya ada aku dan Aslan — dua anak, sendirian, di dunia yang tak kami kenal.

Terpopuler

Comments

@Semua orang

@Semua orang

ini sebenarnya tuh kayak cerita jaman dulu tapi bukan Majapahit bukan yah, da ku aing rasakeun mah nya modertnya ada tapi tahun 90annya ada. jadi eta NU kuaing rasakeun mah eta.

2026-08-21

1

Anisa Nur Afifah

Anisa Nur Afifah

haii kakk aku lanjut bacaa yaa, seruu banget kakk ceritanyaa😍

2026-07-25

1

Lasa Hardianti

Lasa Hardianti

Nyesek bgt, rumah yang dulunya hangat sekarang berubah total karena penyerangan itu

2026-08-12

0

lihat semua
Episodes
1 satu satunya darah murni yang tersisa
2 Takdir yang terlindung
3 dianggap pembawa sial
4 malapetaka datang tanpa peringatan
5 di ujung keputusan ada pertolongan
6 di ujung keputusasaan
7 pertemuan di ujung malam
8 balasan Budi yang penuh keraguan
9 beban yang hanya bisa di pendam
10 perjanjian di saat paling mendesak
11 satu tahun menjadi istrinya
12 diantara tuduhan dan fakta yang nyata
13 langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
14 secara sah menjadi istrinya
15 jarak yang terasa jauh sejak awal
16 malam pertama tanpa cahaya tanpa teman
17 ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan
18 nama asing di balik nama cincin itu
19 di balik sikapnya yang tegas tersimpan kepedulian
20 sosok yang bernama Fara
21 diantara dunia yang berbeda
22 masa lalu Fara dan kabar yang tersebar
23 tuduhan pahit dan luka di dahi
24 perawat dari Adrian
25 Antara kebaikan hati dan ketakutan yang tidak terduga
26 serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri
27 di balik ancaman keluarga kuno
28 keadaan yang belum pasti
29 kabar aneh di lorong rumah sakit
30 langkah pertama menuju harapan baru
31 teman baru
32 permintaan maaf
33 kedatangan wanita yang berkuasa
34 topeng kemarahan dan hukuman yang kejam
35 kepulangan yang membawa badai
36 sore yang damai
37 ramalan gelap dan rahasia yang tersembunyi
38 di balik senyuman dan kemuliaan palsu
39 masa depan Zara
40 usaha yang berakhir hancur
41 malam yang meruntuhkan harga diri
42 malam yang mengubah segalanya
43 kecelakaan yang membawa semua kebenaran
44 dia melarang ku dia mengawasi ku
45 isu publik dan rahasia yang tersembunyi
46 ramalan istri dan wanita tua yang mengucapkan nasib
47 ramalan pertemuan dan undangan yang mendadak
48 topeng ramah dan tamparan kebenaran
49 amarah yang meledak dan ancaman yang nyata
50 perlawanan yang tidak di sangka
51 bekas luka semalam
52 bekas luka yang tak kunjung kering
53 harga yang harus ku bayar
54 sebelum kepulangan nya
55 di balik hujan dan penderitaan
56 di balik kelembutan yang terlambat
57 tamparan di pagi hari dan yang terlambat
58 antara kebaikan dan keraguan
59 olesan di balik pintu tertutup
60 kegelisahan yang terungkap
61 pertanyaan yang menyisakan keraguan
62 kepuasan sederhana
63 kemunculan tokoh baru
64 rasa kebencian yang tersembunyi
65 pion yang runtuh
66 pesta pemaluan
67 kerinduan
68 di balik tatapan rahasia
69 pertanyaan yang tak berani ku jawab dan sentuhan Elina yang berbahaya
70 jebakan anggur merah
71 penculikan yang mendadak
72 dendam yang tak punya akar
73 perlindungan mutlak dan ancaman baru
74 undangan dan firasat buruk
75 sumpah kebencian dan rencana licik
76 jebakan yang ditenun sendiri
77 sasaran: harga diriku
78 secangkir kopi yang tidak pernah cukup baik
79 jalan yang di tutup
80 tatapan yang tidak berpaling
81 secangkir kopi palsu dan ratusan Mata yang menghakimi
82 dua pria dua dunia
83 langkah pertama melawan
84 jebakan di kolam
85 caca yang tak terampuni
86 terkurung dalam kegelapan
87 di balik pintu yang terkunci
88 gaun putih di tengah malam
89 hinaan di balik gaun putih
90 penghinaan di balik kemegahan
91 di bawah hujan di bawah perlindungan mu
92 luka tak terlihat
93 kabar bahagia yang berubah jadi mimpi buruk
94 tuduhan yang meruntuhkan duniaku
95 penghinaan dan rencana kejam
96 perbuatan melampaui batas
97 di tepi jembatan ke keputusan
98 di tengah hujan dan kegelapan
99 sandaran di sela api dan hujan
100 Di Antara Kejam dan Lembut
Episodes

Updated 100 Episodes

1
satu satunya darah murni yang tersisa
2
Takdir yang terlindung
3
dianggap pembawa sial
4
malapetaka datang tanpa peringatan
5
di ujung keputusan ada pertolongan
6
di ujung keputusasaan
7
pertemuan di ujung malam
8
balasan Budi yang penuh keraguan
9
beban yang hanya bisa di pendam
10
perjanjian di saat paling mendesak
11
satu tahun menjadi istrinya
12
diantara tuduhan dan fakta yang nyata
13
langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
14
secara sah menjadi istrinya
15
jarak yang terasa jauh sejak awal
16
malam pertama tanpa cahaya tanpa teman
17
ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan
18
nama asing di balik nama cincin itu
19
di balik sikapnya yang tegas tersimpan kepedulian
20
sosok yang bernama Fara
21
diantara dunia yang berbeda
22
masa lalu Fara dan kabar yang tersebar
23
tuduhan pahit dan luka di dahi
24
perawat dari Adrian
25
Antara kebaikan hati dan ketakutan yang tidak terduga
26
serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri
27
di balik ancaman keluarga kuno
28
keadaan yang belum pasti
29
kabar aneh di lorong rumah sakit
30
langkah pertama menuju harapan baru
31
teman baru
32
permintaan maaf
33
kedatangan wanita yang berkuasa
34
topeng kemarahan dan hukuman yang kejam
35
kepulangan yang membawa badai
36
sore yang damai
37
ramalan gelap dan rahasia yang tersembunyi
38
di balik senyuman dan kemuliaan palsu
39
masa depan Zara
40
usaha yang berakhir hancur
41
malam yang meruntuhkan harga diri
42
malam yang mengubah segalanya
43
kecelakaan yang membawa semua kebenaran
44
dia melarang ku dia mengawasi ku
45
isu publik dan rahasia yang tersembunyi
46
ramalan istri dan wanita tua yang mengucapkan nasib
47
ramalan pertemuan dan undangan yang mendadak
48
topeng ramah dan tamparan kebenaran
49
amarah yang meledak dan ancaman yang nyata
50
perlawanan yang tidak di sangka
51
bekas luka semalam
52
bekas luka yang tak kunjung kering
53
harga yang harus ku bayar
54
sebelum kepulangan nya
55
di balik hujan dan penderitaan
56
di balik kelembutan yang terlambat
57
tamparan di pagi hari dan yang terlambat
58
antara kebaikan dan keraguan
59
olesan di balik pintu tertutup
60
kegelisahan yang terungkap
61
pertanyaan yang menyisakan keraguan
62
kepuasan sederhana
63
kemunculan tokoh baru
64
rasa kebencian yang tersembunyi
65
pion yang runtuh
66
pesta pemaluan
67
kerinduan
68
di balik tatapan rahasia
69
pertanyaan yang tak berani ku jawab dan sentuhan Elina yang berbahaya
70
jebakan anggur merah
71
penculikan yang mendadak
72
dendam yang tak punya akar
73
perlindungan mutlak dan ancaman baru
74
undangan dan firasat buruk
75
sumpah kebencian dan rencana licik
76
jebakan yang ditenun sendiri
77
sasaran: harga diriku
78
secangkir kopi yang tidak pernah cukup baik
79
jalan yang di tutup
80
tatapan yang tidak berpaling
81
secangkir kopi palsu dan ratusan Mata yang menghakimi
82
dua pria dua dunia
83
langkah pertama melawan
84
jebakan di kolam
85
caca yang tak terampuni
86
terkurung dalam kegelapan
87
di balik pintu yang terkunci
88
gaun putih di tengah malam
89
hinaan di balik gaun putih
90
penghinaan di balik kemegahan
91
di bawah hujan di bawah perlindungan mu
92
luka tak terlihat
93
kabar bahagia yang berubah jadi mimpi buruk
94
tuduhan yang meruntuhkan duniaku
95
penghinaan dan rencana kejam
96
perbuatan melampaui batas
97
di tepi jembatan ke keputusan
98
di tengah hujan dan kegelapan
99
sandaran di sela api dan hujan
100
Di Antara Kejam dan Lembut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!