BAB 4 — LOLIPOP

BAB 4 — LOLIPOP

Sinar matahari sore menembus kaca besar ruang tamu rumah mewah itu tanpa ampun. Cahayanya keemasan, jatuh di atas lantai marmer putih yang mengilap dan memantulkan bayangan.

Eiri duduk kaku di ujung sofa kulit. Kedua tangan saling menggenggam erat di atas lutut sampai buku-buku jari memutih. Sejak menandatangani surat pernikahan beberapa jam lalu, kepala tidak berhenti berisik. `tt`

`Tanda tangan. 2 Tahun. 2 Miliar. Istri.`

"Kenapa harus menikah..."

Gumam itu keluar pelan. Hampir tenggelam oleh suara jam dinding `tik... tok... tik... tok...`

Sama sekali tidak mengerti. Otaknya menolak.

Dengan semua kekuasaan yang dimiliki Mahendra Axlarta, dia bisa saja memenjarakan Papa. Bisa menyita rumah. Bisa memaksa Eiri bekerja tanpa bayaran seumur hidup di perusahaannya.

Tapi justru memilih jalan ini. Jalan paling tidak masuk akal. Jalan paling gila.

"Itu benar-benar aneh..."

Air mata menggenang lagi. Tapi ditahan. Tidak boleh nangis di rumah orang.

_Tok. Tok._

Suara langkah kaki mendekat. Mantap. Berat.

Kepala Eiri langsung terangkat. Bahunya menegang.

Mahendra masuk. Jas hitam masih rapi melekat di tubuhnya seperti tidak pernah kusut. Beberapa map tebal diletakkan di atas meja kaca dengan suara `tak` pelan.

"Masih di sini?"

Suaranya datar.

Eiri buru-buru berdiri. Lututnya hampir lemas. "Maaf... hanya menunggu. Tadi asisten bilang disuruh menunggu."

Anggukan singkat. "Tidak perlu kaku. Ini rumahmu juga mulai minggu depan."

Dada Eiri mencelos. `Rumahmu juga`. Kata itu terasa asing dan menakutkan.

Hanya anggukan pelan sebagai jawaban. Keheningan kembali menguasai ruangan. Hanya ada suara AC yang dingin.

Belum lama, pintu depan terbuka dengan suara keras `BRAK!`

"Mahendra!"

Seorang pria berambut pirang masuk tanpa mengetuk. Senyum lebar. Jas abu-abu mahal. Wangi parfumnya memenuhi ruangan.

"Astaga, rumah ini masih sesepi kuburan. Gak ada musik? Gak ada pelayan cantik?"

Lirikan sekilas dari Mahendra. Dingin. "Ada perlu?"

"Bukannya sendiri yang menyuruh datang jam 5? Lupa?"

Tawa kecil. Lalu tatapan pria pirang itu berhenti pada sosok yang berdiri di dekat sofa. Matanya menyipit, menilai dari atas sampai bawah.

"Oh..."

Nada suaranya berubah.

Langkahnya terhenti. "Jadi ini dia? Calon Nyonya Axlarta?"

Kepala Eiri menunduk dalam. Pipinya panas. "Halo... Saya Eiri."

"Halo juga. Cantik."

Senyum ramah terukir di wajah pria itu. Tapi ada sesuatu yang aneh saat kedua pasang mata bertemu. Sekilas.

Dada Eiri berdegup tidak wajar. `Dug.` Rasanya familiar. Sakit. Seperti pernah melihat wajah itu di mimpi. Pernah melihat senyum itu waktu kecil.

"Kenapa wajahnya terasa familiar?"

"Perasaan apa ini... kok dada sakit..."

_Hem._

Suara deheman pelan memecah. Tajam. Berbahaya.

"Sudah selesai saling melihat?"

Nada Mahendra datar. Tapi hawanya membuat suhu ruangan turun 5 derajat.

"Cemburu?"

Tawa pria pirang itu kembali terdengar. Menggoda.

Tatapan tajam Mahendra langsung melesat seperti pisau. "Tidak suka tamu mengabaikan tuan rumah."

"Hahaha... baiklah. Aku Marchel. Teman kuliahnya si Es Batu ini."

Kedua tangan Marchel terangkat tanda menyerah. Tubuh lalu menjatuhkan diri ke sofa dengan santai. Kebalikan dari Eiri yang masih kaku.

"Aku dengar pernikahan minggu depan. Cepat banget."

Mata Eiri membelalak. "Minggu depan?"

Jawaban singkat dari Mahendra. "Iya. 7 hari lagi. Di gereja."

"Tapi... persiapannya? Gaun? Keluarga?"

"Suratnya sudah ditandatangani. Sisanya urusan aku."

Tidak ada bantahan lagi dari Eiri. Memang benar. Tinta hitam masih terasa di ujung jari telunjuknya. Tangan yang gemetar waktu tanda tangan.

Marchel memperhatikan ekspresi bingung itu. Alisnya berkerut pelan. Ada yang disembunyikan di sini. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang tidak beres.

Tapi dia memilih diam. Dan menyeruput kopi yang disuguhkan pelayan.

...

Malam hari. Jam 9.

Seorang pelayan paruh baya menuntun Eiri menuju sebuah pintu di lantai dua. "Kamar Nona ada di sini. Silakan."

Pintu didorong pelan. _Kriiit._ Engselnya mahal, suaranya halus.

Ruangan luas menyambut. Kasur putih berukuran king size dengan selimut tebal dan 4 bantal. Lemari kayu jati mengilap sampai bisa memantulkan wajah. Balkon menghadap taman yang diterangi lampu kuning temaram. Kamar mandi di dalamnya lebih besar dari seluruh kamar kos Eiri.

Napas Eiri tercekat. "Ini... untukku? Sungguh?"

"Iya, Nona. Silakan beristirahat. Jika butuh apa-apa tinggal tekan bel."

Pintu tertutup. Sunyi. Hanya suara Eiri sendiri.

Jari gemetar menyentuh selimut. Lembut. Hangat. Wangi. Jauh berbeda dari kasur tipis di kos yang bau apek.

"Kenapa memperlakukan aku seperti ini..."

Bisiknya. Dadanya sakit. Ini terlalu baik. Baik yang menakutkan.

Pandangan Eiri beralih ke meja kecil di samping tempat tidur. Ada vas bunga. Ada buku. Dan...

Di atasnya ada toples kaca bening besar. Di dalamnya berjejer lolipop warna-warni. Merah, pink, kuning, biru. Mengkilap.

Kepala Eiri miring. "Lolipop?"

Dada mendadak hangat. Anjing. Nyaman. Perih. Seolah benda manis itu pernah sangat penting. Pernah ditunggu setiap sore. Pernah jadi satu-satunya hadiah yang dia tunggu.

Dengan tangan bergetar, satu lolipop merah muda diambil. Bungkusnya dibuka pelan. `Kresek...`

"Lucu..."

Senyum kecil tanpa sadar terukir di bibir. Rasa manis stroberi meleleh di lidah. Mata Eiri terpejam.

Dan untuk pertama kalinya dalam 2 tahun, Eiri tertidur tanpa mimpi buruk.

Di luar kamar.

Bersandar di dinding, Mahendra menatap dari celah pintu yang terbuka sedikit. Bayangannya panjang.

Melihat sosok itu meringkuk di kasur besar sambil memegang lolipop yang sama, sudut bibirnya terangkat tipis. Hampir tidak terlihat.

"Masih memilih rasa stroberi..."

Bisikan itu pelan. Serak. "Tidak berubah sama sekali. Eiri bodoh."

Mata birunya meredup. Ingatan 10 tahun lalu berputar seperti film.

`Kak Mahen, aku jatuh.`

`Sini, jangan nangis. Ini lolipop stroberi. Penawar sakit.`

`Janji ya, tiap aku sedih kamu kasih ini?`

`Janji.`

Tapi sekarang... orang yang selalu memberikannya justru sudah melupakannya. Orang yang dia lindungi justru memanggilnya "Tuan".

Genggaman di sisi tubuh mengeras. Buku-buku jari memutih.

"Akan membuatmu mengingat semuanya, Eiri. Pelan-pelan."

Janji itu keluar seperti sumpah.

Tanpa disadari, dari ujung lorong yang gelap, sepasang mata lain ikut memperhatikan pemandangan itu.

Marchel.

Tangan masuk ke saku jas. Napas panjang keluar. Dadanya sesak.

"Jadi benar... semua ini bukan soal utang 2 Miliar."

Gumamnya pelan. "Mahendra... kamu masih mencintainya. Setelah 10 tahun."

Pandangannya beralih ke arah kamar tempat Eiri tidur. Khawatir.

"Semoga saja semua ini tidak berakhir dengan luka yang lebih besar. Untuk kalian berdua."

Lampu lorong berkedip sekali. Lalu mati.

Episodes
1 BAB 1 ' TANTANGAN '
2 BAB 2 : SUSAH
3 BAB 3 : GILA
4 BAB 4 — LOLIPOP
5 BAB 5 : MANIS
6 BAB 6 — PERNIKAHAN
7 BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
8 BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
9 BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
10 BAB 10 — FOTO LAMA
11 BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
12 BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG
13 BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU
14 BAB 14 — JEJAK KENANGAN
15 BAB 15 — ALBUM KENANGAN
16 BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
17 BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS
18 BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
19 BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA
20 BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
21 BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
22 BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
23 BAB 23 — DALANG SEBENARNYA
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 Bab 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 BAB 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BAB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59 — RAHASIA DI BALIK LUKISAN --
60 BAB 60 — PERTEMUAN DENGAN ALDO
61 BAB 61 — KABAR DARI DOKTER
62 BAB 62 — BAYANGAN YANG TAK PERGI
63 BAB 63 — JARINGAN YANG TERSEMBUNYI
64 BAB 64 — PENGUNGSIAN
65 BAB 65 — PERANG DI VILA
66 BAB 66 — DUA NYAWA
67 BAB 67 — PILIHAN YANG TAK TERUcapkan
68 BAB 68 — KIRANA
69 BAB 69 — SURAT UNTUK KIRANA
70 BAB 70 — SENJA YANG SEMAKIN REDUP
71 BAB 71 — HARI TANPA EIRI
72 BAB 72 — SAKIT YANG TERSEMBUNYI
73 BAB 73 — KEMBALI DARI OPERASI
74 BAB 74 — KEMBALI KE KEHIDUPAN
75 BAB 75 — KIRANA BERUSIA SATU TAHUN
76 BAB 76 — TUMBUH TANPA ORANG TUA
77 BAB 77 — SURAT YANG TERSEMBUNYI
78 BAB 78 — PENERUS CINTA
79 BAB 79 — KETIKA CINTA
80 BAB 80 — KITA AKAN BERTEMU LAGI
81 BAB 81 — PELANGI ARKAN
82 BAB 82 — JATUH CINTA
83 BAB 83 — KEPUTUSAN BESAR
84 BAB 84 — PERNIKAHAN KIRANA
85 BAB 85 — GENERASI BARU
86 BAB 86 — SURAT DARI MASA LALU
87 BAB 87 — PELANGI TAK PERNAH PADAM
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1 ' TANTANGAN '
2
BAB 2 : SUSAH
3
BAB 3 : GILA
4
BAB 4 — LOLIPOP
5
BAB 5 : MANIS
6
BAB 6 — PERNIKAHAN
7
BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
8
BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
9
BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
10
BAB 10 — FOTO LAMA
11
BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
12
BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG
13
BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU
14
BAB 14 — JEJAK KENANGAN
15
BAB 15 — ALBUM KENANGAN
16
BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
17
BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS
18
BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
19
BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA
20
BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
21
BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
22
BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
23
BAB 23 — DALANG SEBENARNYA
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
Bab 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
BAB 41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BAB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59 — RAHASIA DI BALIK LUKISAN --
60
BAB 60 — PERTEMUAN DENGAN ALDO
61
BAB 61 — KABAR DARI DOKTER
62
BAB 62 — BAYANGAN YANG TAK PERGI
63
BAB 63 — JARINGAN YANG TERSEMBUNYI
64
BAB 64 — PENGUNGSIAN
65
BAB 65 — PERANG DI VILA
66
BAB 66 — DUA NYAWA
67
BAB 67 — PILIHAN YANG TAK TERUcapkan
68
BAB 68 — KIRANA
69
BAB 69 — SURAT UNTUK KIRANA
70
BAB 70 — SENJA YANG SEMAKIN REDUP
71
BAB 71 — HARI TANPA EIRI
72
BAB 72 — SAKIT YANG TERSEMBUNYI
73
BAB 73 — KEMBALI DARI OPERASI
74
BAB 74 — KEMBALI KE KEHIDUPAN
75
BAB 75 — KIRANA BERUSIA SATU TAHUN
76
BAB 76 — TUMBUH TANPA ORANG TUA
77
BAB 77 — SURAT YANG TERSEMBUNYI
78
BAB 78 — PENERUS CINTA
79
BAB 79 — KETIKA CINTA
80
BAB 80 — KITA AKAN BERTEMU LAGI
81
BAB 81 — PELANGI ARKAN
82
BAB 82 — JATUH CINTA
83
BAB 83 — KEPUTUSAN BESAR
84
BAB 84 — PERNIKAHAN KIRANA
85
BAB 85 — GENERASI BARU
86
BAB 86 — SURAT DARI MASA LALU
87
BAB 87 — PELANGI TAK PERNAH PADAM

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!