LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

BAB 1 ' TANTANGAN '

BAB 1 — TANTANGAN

Hujan menghantam atap seng bangunan tua itu seperti amukan orang putus asa.

_Duk. Duk. Duk._

Setiap dentumannya menghantam gendang telinganya sampai ke ulu hati.

Air menetes dari celah langit-langit, jatuh ke lantai semen retak dan membentuk genangan kotor yang memantulkan lampu redup. Sepatu Eirina sudah basah kuyup, kaos kakinya dingin dan lengket. Tapi kakinya terasa mati rasa.

Udara di sini menusuk tulang. Bau besi berkarat bercampur debu tua dan... bau kegagalan. Dua tahun dikejar utang, rasanya seperti ini. Pengap. Sesak. Tidak ada jalan keluar.

Di tengah ruangan kosong itu, Eirina berdiri membeku.

Jantungnya menabrak dada. `Drr... drr... drr...` Napasnya naik turun, tersengal seperti habis lari marathon. Kedua tangannya mengepal erat sampai kuku menancap ke telapak dan menimbulkan rasa perih. Kalau dia pingsan sekarang, siapa yang bayar utang 2 Miliar itu? Mama di rumah sakit masih butuh biaya. Adiknya masih sekolah.

Dia tidak boleh lemah. Tidak boleh.

"Eirina..."

_BRAKK!_

Sebuah pisau perak melesat membelah udara dan menancap tepat di tembok, hanya berjarak beberapa sentimeter dari kepalanya. Anginnya sampai membuat beberapa helai rambut keemasannya beterbangan.

"Akh!"

Jerit itu tertahan di tenggorokan. Yang keluar cuma desis ketakutan.

Tubuh gadis itu menegang. Bola mata merah mudanya membelalak lebar. Darah di wajahnya rasanya habis seketika. Napas tercekat di dada. Selisih sedikit saja, benda tajam itu pasti sudah menembus pelipisnya dan mengakhiri semuanya malam ini.

Di hadapannya, berdiri seorang pria tinggi. Jas hitam mahal melekat di tubuhnya, basah kuyup oleh hujan. Air menetes dari ujung rambut maroonnya, jatuh ke lantai satu persatu dengan suara yang memekakkan di tengah keheningan.

Tapi Eirina tidak melihat jasnya. Dia melihat matanya.

Mata biru sedingin es. Kosong. Mati. Tatapan yang biasa melihat nyawa manusia sebagai angka di atas kertas.

Dadanya mencelos. Ada sesuatu yang familiar dari sorot itu. Sesuatu yang pernah dia lihat 10 tahun lalu di teras rumah kecilnya. Waktu seorang anak laki-laki berjanji sambil menggenggam tangannya erat. `Aku akan selalu melindungi.`

Tidak. Itu tidak mungkin. Itu pasti halusinasi karena takut. Mahendra Axlarta tidak mungkin kenal dia. Orang itu CEO termuda. Pemilik setengah kota. Sedangkan dia... hanya anak penanggung utang.

Sudut bibir pria itu terangkat. Sebuah seringai tipis muncul, tidak sampai ke matanya.

"Heh..."

Tawa pelan keluar. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. Tapi tawa itu membuat seluruh bulu kuduk Eirina berdiri. Lebih dingin dari hujan yang mengguyur di luar.

Keheningan menggantung. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap dan detak jantungnya sendiri yang berpacu seperti genderang perang.

Langkah kaki terdengar. _Tok. Tok. Tok._

Pelan. Pasti. Menggetarkan lantai semen yang retak.

Setiap langkah mendekat membuat dada Eirina semakin sesak. Lututnya gemetar. Dia ingin lari. Tapi kemana? Pintu sudah dikunci dari luar. Dia sudah dijebak.

Hingga akhirnya jarak berhenti hanya sejengkal. Cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari tubuh pria itu. Cukup dekat untuk mencium wangi cologne mahal yang bercampur bau hujan.

"Keluargamu punya hutang."

Suara berat itu memecah keheningan. Setiap katanya menekan seperti palu godam yang menghantam dadanya.

Kepala Eirina menunduk. Bahunya bergetar.

Kalimat itu sudah terlalu sering terdengar selama dua tahun terakhir. Surat tagihan. Penagih berbadan besar. Ancaman. Semua karena satu lembar kertas utang peninggalan orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan.

"Dan sekarang," lanjutnya, napasnya yang dingin terasa di kulit pipinya, "seluruh tanggung jawab itu jatuh ke tanganmu."

Tenggorokan Eirina terasa tercekat seperti dicekik. Dengan suara bergetar yang hampir tidak terdengar, kalimat itu keluar. "Se-sedang berusaha melunasi..."

"Berusaha?"

Tawa kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Lebih mengejek. Lebih menyakitkan dari pisau tadi.

"SRETT!"

Pisau itu tercabut dari tembok dengan satu tarikan. Kilatan tajamnya memantulkan cahaya lampu redup, menyilaukan mata. Ujungnya perlahan terangkat. Bergerak naik, hingga berhenti tepat di bawah dagu Eirina. Kulitnya terasa dingin oleh sentuhan logam.

Napas Eirina tertahan. Tubuhnya tidak berani bergerak sedikit pun. Satu sentakan, lehernya bisa sobek. Air matanya hampir jatuh, tapi dia gigit bibir sampai terasa darah. Jangan nangis. Jangan lemah di depannya.

"Ada dua pilihan."

Ketenangan dalam suara itu justru lebih menakutkan daripada teriakan.

Jantung Eirina serasa berhenti.

"Pilihan pertama: melunasi seluruh hutang. 2 Miliar. Lunas malam ini juga."

Jeda. Lama. Menyiksa.

Eirina bisa mendengar suara darahnya sendiri yang berdesir. 2 Miliar. Tabungannya tidak sampai 10 juta. Gaji sebulan hanya 2 juta. Bahkan kalau dia jual ginjal pun tidak akan cukup.

"Pilihan kedua: menerima tantangan."

Keheningan kembali. Hanya suara hujan yang semakin deras di luar, seperti ikut menertawakan nasibnya.

Air mata akhirnya menggenang. Bukan karena takut mati. Tapi karena tidak ada jalan lain. Tidak ada.

Dengan sisa keberanian yang ada, Eirina memaksa dirinya mengangkat kepala. Bertemu dengan mata biru itu dari jarak sedekat ini. Dan untuk sepersekian detik, dia yakin melihat sesuatu berkedip di sana. Luka?

Bibirnya bergetar sebelum akhirnya mengeluarkan suara. "Me-menerima... tantangan itu."

"Bagus."

_BRAKK!_

Pisau kembali dilempar. Menancap di tembok sisi lain dengan suara menggelegar yang menggema dan membuat jantungnya melompat.

"Eirina Karamyka Aldrick."

Nama lengkapnya disebut dengan penekanan di setiap suku kata. Suara itu berat, seakan mencicipi namanya.

"Dengan ini, secara resmi kau menerima tantangan dari Mahendra Axlarta."

Dunia Eirina serasa runtuh. Nama itu. Nama yang selama ini hanya ada di berita, di majalah bisnis, di bisik-bisik karyawan. CEO termuda Grup Axlarta. Pemilik setengah kota. Dan orang paling kejam di industri.

Kaki Eirina lemas. Lututnya hampir menyerah. Dia berpegangan ke tembok agar tidak jatuh.

"Ta... tantangan apa...?"

Pertanyaan itu keluar dengan susah payah. Suaranya serak.

Mahendra tidak menjawab. Dia hanya berbalik. Punggung lebarnya menghadap. Jas hitamnya yang basah membuat siluetnya terlihat seperti malaikat pencabut nyawa.

Langkahnya menuju pintu besi yang berkarat.

Berhenti di ambang pintu. Tangannya menggenggam gagang pintu. Tanpa menoleh, kalimat terakhir terucap dengan dingin.

"Lusa."

Pintu terbuka. _Kriiit..._

Suara engsel tua yang berkarat terdengar nyaring.

Lalu tertutup dengan bunyi _BRAKK_ yang memekakkan telinga dan membuat debu berjatuhan dari langit-langit.

Ruangan kembali sunyi. Sunyi yang lebih bising dari ribuan suara.

Hanya tersisa seorang gadis yang terduduk lemas di lantai dingin. Dada masih naik turun. Jantung belum juga tenang. Tangannya masih gemetar.

Apa sebenarnya yang diinginkan Mahendra Axlarta darinya?

Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, berputar-putar di kepalanya seperti pisau yang tadi.

Eirina memejamkan mata. Air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya jatuh juga. Satu. Dua.

Dan tidak ada yang menyadari...

bahwa 10 tahun yang lalu, di sebuah rumah kecil dengan atap bocor, seorang anak laki-laki bernama Mahendra Axlarta itu pernah berjanji dengan suara bergetar sambil mengusap kepala Eirina kecil:

"Aku akan selalu melindungi. Janji ya."

Janji yang kini terkubur. Tertutup oleh jas mahal, hutang 2 Miliar, dan sebuah tantangan yang belum diketahui bentuknya. Tantangan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Bersambung...

Episodes
1 BAB 1 ' TANTANGAN '
2 BAB 2 : SUSAH
3 BAB 3 : GILA
4 BAB 4 — LOLIPOP
5 BAB 5 : MANIS
6 BAB 6 — PERNIKAHAN
7 BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
8 BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
9 BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
10 BAB 10 — FOTO LAMA
11 BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
12 BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG
13 BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU
14 BAB 14 — JEJAK KENANGAN
15 BAB 15 — ALBUM KENANGAN
16 BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
17 BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS
18 BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
19 BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA
20 BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
21 BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
22 BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
23 BAB 23 — DALANG SEBENARNYA
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 Bab 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 BAB 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BAB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59 — RAHASIA DI BALIK LUKISAN --
60 BAB 60 — PERTEMUAN DENGAN ALDO
61 BAB 61 — KABAR DARI DOKTER
62 BAB 62 — BAYANGAN YANG TAK PERGI
63 BAB 63 — JARINGAN YANG TERSEMBUNYI
64 BAB 64 — PENGUNGSIAN
65 BAB 65 — PERANG DI VILA
66 BAB 66 — DUA NYAWA
67 BAB 67 — PILIHAN YANG TAK TERUcapkan
68 BAB 68 — KIRANA
69 BAB 69 — SURAT UNTUK KIRANA
70 BAB 70 — SENJA YANG SEMAKIN REDUP
71 BAB 71 — HARI TANPA EIRI
72 BAB 72 — SAKIT YANG TERSEMBUNYI
73 BAB 73 — KEMBALI DARI OPERASI
74 BAB 74 — KEMBALI KE KEHIDUPAN
75 BAB 75 — KIRANA BERUSIA SATU TAHUN
76 BAB 76 — TUMBUH TANPA ORANG TUA
77 BAB 77 — SURAT YANG TERSEMBUNYI
78 BAB 78 — PENERUS CINTA
79 BAB 79 — KETIKA CINTA
80 BAB 80 — KITA AKAN BERTEMU LAGI
81 BAB 81 — PELANGI ARKAN
82 BAB 82 — JATUH CINTA
83 BAB 83 — KEPUTUSAN BESAR
84 BAB 84 — PERNIKAHAN KIRANA
85 BAB 85 — GENERASI BARU
86 BAB 86 — SURAT DARI MASA LALU
87 BAB 87 — PELANGI TAK PERNAH PADAM
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1 ' TANTANGAN '
2
BAB 2 : SUSAH
3
BAB 3 : GILA
4
BAB 4 — LOLIPOP
5
BAB 5 : MANIS
6
BAB 6 — PERNIKAHAN
7
BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
8
BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
9
BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
10
BAB 10 — FOTO LAMA
11
BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
12
BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG
13
BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU
14
BAB 14 — JEJAK KENANGAN
15
BAB 15 — ALBUM KENANGAN
16
BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
17
BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS
18
BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
19
BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA
20
BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
21
BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
22
BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
23
BAB 23 — DALANG SEBENARNYA
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
Bab 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
BAB 41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BAB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59 — RAHASIA DI BALIK LUKISAN --
60
BAB 60 — PERTEMUAN DENGAN ALDO
61
BAB 61 — KABAR DARI DOKTER
62
BAB 62 — BAYANGAN YANG TAK PERGI
63
BAB 63 — JARINGAN YANG TERSEMBUNYI
64
BAB 64 — PENGUNGSIAN
65
BAB 65 — PERANG DI VILA
66
BAB 66 — DUA NYAWA
67
BAB 67 — PILIHAN YANG TAK TERUcapkan
68
BAB 68 — KIRANA
69
BAB 69 — SURAT UNTUK KIRANA
70
BAB 70 — SENJA YANG SEMAKIN REDUP
71
BAB 71 — HARI TANPA EIRI
72
BAB 72 — SAKIT YANG TERSEMBUNYI
73
BAB 73 — KEMBALI DARI OPERASI
74
BAB 74 — KEMBALI KE KEHIDUPAN
75
BAB 75 — KIRANA BERUSIA SATU TAHUN
76
BAB 76 — TUMBUH TANPA ORANG TUA
77
BAB 77 — SURAT YANG TERSEMBUNYI
78
BAB 78 — PENERUS CINTA
79
BAB 79 — KETIKA CINTA
80
BAB 80 — KITA AKAN BERTEMU LAGI
81
BAB 81 — PELANGI ARKAN
82
BAB 82 — JATUH CINTA
83
BAB 83 — KEPUTUSAN BESAR
84
BAB 84 — PERNIKAHAN KIRANA
85
BAB 85 — GENERASI BARU
86
BAB 86 — SURAT DARI MASA LALU
87
BAB 87 — PELANGI TAK PERNAH PADAM

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!