BAB 5 : MANIS

BAB 5 — MANIS

Mentari pagi menyinari taman luas di kediaman keluarga Axlarta. Cahaya keemasan menembus sela-sela daun, membuat embun di ujung dedaunan berkilau seperti berlian. Suara burung bersahutan dari atas pohon mangga tua. Damai. Terlalu damai untuk Eiri.

Di salah satu kamar di lantai dua, kelopak mata terbuka perlahan.

"..."

Langit-langit putih dengan lampu kristal besar. Gorden tebal. Ruangan asing yang terlalu bersih.

Beberapa detik kemudian ingatan kembali seperti ditampar.

`Tanda tangan. Pernikahan. 2 Miliar.`

"Aku... sudah tinggal di rumah Mahendra."

Napas panjang keluar sebelum tubuh turun dari tempat tidur king size yang tenggelam.

Kaki menyentuh karpet tebal. Hangat.

Mata Eiri tertuju pada toples kaca di atas meja rias. Lolipop warna-warni di dalamnya memantulkan cahaya matahari. Merah, pink, kuning, biru. Seperti pelangi.

Tangan terulur tanpa sadar dan mengambil satu. Rasa stroberi. Warna merah muda.

"Hanya satu tidak apa-apa..."

Bisiknya seperti anak kecil mencuri permen.

Bungkus `kresek` dibuka. Manis langsung lumer di lidah. Stroberi. Asam manis.

Senyum kecil mengembang tanpa sadar. "Enak..."

Kehangatan aneh menyebar di dada. Mengalir sampai ke ujung jari. Rasanya familiar. Nyaman. Seolah pernah merasakan manis yang sama, di tempat yang sama, di kursi kecil, bersama seseorang yang mendorongnya.

Tapi saat mencoba mengingat lebih dalam, kepala mendadak berdenyut.

"Akh..."

Pelipis ditekan kuat. "Kenapa akhir-akhir ini sering merasa seperti pernah mengalami sesuatu... seperti déjà vu..."

Sakitnya hilang secepat datang. Eiri menggeleng. "Lupakan."

Di lantai bawah. Ruang makan.

Mahendra duduk di ujung meja panjang dari kayu jati. Berkas perusahaan terbuka di samping piring. Pena berhenti saat seorang pelayan mendekat dan membungkuk.

"Tuan."

"Hm?"

Suara datar tanpa emosi.

"Nona Eiri memakan lolipop yang ada di kamar. Yang di toples kaca."

Jari Mahendra berhenti membalik halaman. Tintanya hampir menembus kertas.

"Benarkah?"

Nada suaranya naik sedikit. Hampir tidak terdengar.

"Iya, Tuan. Yang rasa stroberi."

Sudut bibir Mahendra terangkat tanpa sadar. Senyum tipis yang jarang muncul. Yang tidak pernah dilihat karyawannya selama 10 tahun.

"Dasar..."

Gumamnya pelan. "Gadis itu memang tidak pernah berubah. Selalu stroberi."

Pelayan hanya mengangguk bingung. Tidak mengerti maksudnya. Tapi merasakan hawa di ruangan jadi sedikit lebih hangat.

Tak lama, langkah kaki terdengar dari tangga marmer. `Tak... tak... tak...`

Eiri masuk ke ruang makan dan langsung menunduk dalam. "Selamat pagi, Tuan."

Kepala Mahendra terangkat dari berkas. Mata birunya menyapu dari atas sampai bawah. Gaun rumah sederhana. Rambut dikuncir. Wajah pucat tapi bersih.

"Duduk."

"Baik."

Tubuh Eiri duduk di kursi paling ujung. Jarak 5 kursi dari Mahendra. Meja penuh dengan makanan. Roti panggang, telur mata sapi, sereal, buah potong, jus. Tapi tangan tidak berani menyentuh. Takut salah.

"Tidak lapar?"

Pertanyaan itu tiba-tiba.

Eiri kaget. "Lapar..."

Suara kecil.

"Lalu kenapa tidak makan?"

Alis Mahendra berkerut.

"Saya... tidak enak. Ini bukan hak saya."

Napas pelan keluar dari Mahendra. Melelahkan.

"Eiri."

"Iya, Tuan?"

"Angkat kepala."

Dengan ragu, kepala terangkat. Bertemu mata biru itu.

"Selama tinggal di sini, berhenti berpikir sebagai tamu. Berhenti berpikir sebagai peminjam. Mulai hari ini, rumah ini juga rumahmu. Makanan ini juga jatahmu."

Mata Eiri membulat. Air mata hampir jatuh. Tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut orang yang 4 hari lalu melempar pisau.

"Terima kasih..."

Suara lirih. Tulus.

Sarapan baru berjalan beberapa menit ketika pintu ruang makan terbuka dengan semangat `BRAK!`

"Selamat pagi semuanya! Udara segar!"

Marchel masuk dengan jas biru langit dan senyum selebar lapangan. Wangi citrus langsung memenuhi ruangan.

"Mahendra! Benar-benar makan pagi? Bukan cuma kopi pahit dan rokok?"

Lirikan datar. "Kenapa? Ada masalah?"

"Biasanya kamu alergi sama sarapan. Katanya buang-buang waktu."

Pandangan Marchel lalu beralih. Senyumnya melembut. "Halo lagi, Eiri. Tidur nyenyak?"

Senyum kecil dibalas Eiri. Canggung tapi tulus. "Pagi, Tuan Marchel. Nyenyak. Kasurnya empuk."

Melihat dua orang itu tersenyum satu sama lain, rahang Mahendra mengeras. Sendoknya diletakkan `klang` dengan keras.

"Marchel."

Nadanya menekan.

"Hm? Kenapa sih jutek banget pagi-pagi."

Tawa kecil.

"Kalau tidak ada urusan perusahaan, pulang."

Tawa Marchel pecah. "Hahaha... cemburu ya? Kasian. Istri sendiri diambil orang."

"Aku hanya tidak suka rumah berisik."

Bohong.

"Baik, baik. Aku pergi."

Sebelum keluar, langkah Marchel berhenti di dekat kursi Eiri. Dia membungkuk sedikit. "Eiri."

"Iya, Tuan Marchel?"

"Kalau mulai digalakin dan rumah ini kerasa kayak penjara, kabur saja. Ada yang siap menolong 24 jam."

Kedip mata. Nakal.

Tawa kecil keluar dari Eiri. Lega. "Baik. Terima kasih."

Melihat tawa itu, genggaman Mahendra di atas meja mengerat sampai buku-buku jari memutih lagi.

Siang hari. Jam 1.

Tur rumah dimulai. Dipandu oleh kepala pelayan.

"Ada perpustakaan dengan 10 ribu buku. Ada ruang musik dengan piano Steinway. Ada kolam renang indoor. Ada gym. Dan taman belakang seluas 2 hektar."

Kepala Eiri mengangguk terus. Matanya tidak cukup. Rumah itu terlalu besar. Bisa tersesat jika berjalan sendiri. Bisa mati kedinginan di dalamnya.

Saat melewati taman belakang, langkah Eiri berhenti mendadak.

Di tengah rumput hijau yang terawat ada sebuah ayunan kayu tua. Cat putihnya sudah sedikit terkelupas. Talinya tebal. Dudukannya dari kayu.

Jantung Eiri `dug`. Sakit.

"Kenapa berhenti, Nona?"

Tanya pelayan.

"Aku..."

Alis Eiri berkerut. Memegang dada. "Merasa pernah bermain di ayunan seperti ini. Dulu. Waktu kecil."

Pandangan Mahendra yang dari tadi diam ikut tertuju ke ayunan.

Dadanya sesak. Ingatan berkelebat seperti petir.

16 tahun lalu. Seorang gadis kecil rambut dikuncir dua. Selalu meminta didorong lebih tinggi. `Lebih tinggi Kak!` Tangan kecil memegang lolipop stroberi. Tawa yang nyaring memecah sore.

Tenggorokannya tercekat.

Kepala Mahendra menunduk. Menyembunyikan ekspresi.

"Masih ada harapan..."

Gumam itu hanya untuk diri sendiri. Hanya angin yang dengar.

"Mungkin suatu hari nanti semua ingatanmu akan kembali. Dan kamu akan ingat siapa yang mendorongmu."

Tanpa sadar, suara pelayan memanggil. "Tuan?"

Lamunan buyar. "Tidak ada apa-apa. Lanjutkan."

Langkah kembali dilanjutkan. Tapi kali ini lebih pelan.

Sementara itu, dari belakang, Eiri menatap punggung Mahendra. Ada rasa aneh setiap kali melihat bahu lebar itu. Hangat. Sakit. Rindu. Aman. Tapi tidak tahu alasannya.

Jari Eiri menyentuh dada pelan. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan mulai tumbuh. Seperti benih.

Dan belum disadari oleh Eiri...

bahwa pria yang berjalan di depan itu, dengan jas mahal dan wajah dingin, adalah orang pertama yang pernah membuat hatinya berdebar di usia enam belas tahun.

Cinta pertama yang pernah ada. Cinta pertama yang dia lupakan.

Episodes
1 BAB 1 ' TANTANGAN '
2 BAB 2 : SUSAH
3 BAB 3 : GILA
4 BAB 4 — LOLIPOP
5 BAB 5 : MANIS
6 BAB 6 — PERNIKAHAN
7 BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
8 BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
9 BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
10 BAB 10 — FOTO LAMA
11 BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
12 BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG
13 BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU
14 BAB 14 — JEJAK KENANGAN
15 BAB 15 — ALBUM KENANGAN
16 BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
17 BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS
18 BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
19 BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA
20 BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
21 BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
22 BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
23 BAB 23 — DALANG SEBENARNYA
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 Bab 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 BAB 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BAB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59 — RAHASIA DI BALIK LUKISAN --
60 BAB 60 — PERTEMUAN DENGAN ALDO
61 BAB 61 — KABAR DARI DOKTER
62 BAB 62 — BAYANGAN YANG TAK PERGI
63 BAB 63 — JARINGAN YANG TERSEMBUNYI
64 BAB 64 — PENGUNGSIAN
65 BAB 65 — PERANG DI VILA
66 BAB 66 — DUA NYAWA
67 BAB 67 — PILIHAN YANG TAK TERUcapkan
68 BAB 68 — KIRANA
69 BAB 69 — SURAT UNTUK KIRANA
70 BAB 70 — SENJA YANG SEMAKIN REDUP
71 BAB 71 — HARI TANPA EIRI
72 BAB 72 — SAKIT YANG TERSEMBUNYI
73 BAB 73 — KEMBALI DARI OPERASI
74 BAB 74 — KEMBALI KE KEHIDUPAN
75 BAB 75 — KIRANA BERUSIA SATU TAHUN
76 BAB 76 — TUMBUH TANPA ORANG TUA
77 BAB 77 — SURAT YANG TERSEMBUNYI
78 BAB 78 — PENERUS CINTA
79 BAB 79 — KETIKA CINTA
80 BAB 80 — KITA AKAN BERTEMU LAGI
81 BAB 81 — PELANGI ARKAN
82 BAB 82 — JATUH CINTA
83 BAB 83 — KEPUTUSAN BESAR
84 BAB 84 — PERNIKAHAN KIRANA
85 BAB 85 — GENERASI BARU
86 BAB 86 — SURAT DARI MASA LALU
87 BAB 87 — PELANGI TAK PERNAH PADAM
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1 ' TANTANGAN '
2
BAB 2 : SUSAH
3
BAB 3 : GILA
4
BAB 4 — LOLIPOP
5
BAB 5 : MANIS
6
BAB 6 — PERNIKAHAN
7
BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
8
BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
9
BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
10
BAB 10 — FOTO LAMA
11
BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
12
BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG
13
BAB 13 — BAYANGAN MASA LALU
14
BAB 14 — JEJAK KENANGAN
15
BAB 15 — ALBUM KENANGAN
16
BAB 16 — MUSUH YANG MUNCUL
17
BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS
18
BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
19
BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA
20
BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
21
BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
22
BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
23
BAB 23 — DALANG SEBENARNYA
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
Bab 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
BAB 41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BAB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59 — RAHASIA DI BALIK LUKISAN --
60
BAB 60 — PERTEMUAN DENGAN ALDO
61
BAB 61 — KABAR DARI DOKTER
62
BAB 62 — BAYANGAN YANG TAK PERGI
63
BAB 63 — JARINGAN YANG TERSEMBUNYI
64
BAB 64 — PENGUNGSIAN
65
BAB 65 — PERANG DI VILA
66
BAB 66 — DUA NYAWA
67
BAB 67 — PILIHAN YANG TAK TERUcapkan
68
BAB 68 — KIRANA
69
BAB 69 — SURAT UNTUK KIRANA
70
BAB 70 — SENJA YANG SEMAKIN REDUP
71
BAB 71 — HARI TANPA EIRI
72
BAB 72 — SAKIT YANG TERSEMBUNYI
73
BAB 73 — KEMBALI DARI OPERASI
74
BAB 74 — KEMBALI KE KEHIDUPAN
75
BAB 75 — KIRANA BERUSIA SATU TAHUN
76
BAB 76 — TUMBUH TANPA ORANG TUA
77
BAB 77 — SURAT YANG TERSEMBUNYI
78
BAB 78 — PENERUS CINTA
79
BAB 79 — KETIKA CINTA
80
BAB 80 — KITA AKAN BERTEMU LAGI
81
BAB 81 — PELANGI ARKAN
82
BAB 82 — JATUH CINTA
83
BAB 83 — KEPUTUSAN BESAR
84
BAB 84 — PERNIKAHAN KIRANA
85
BAB 85 — GENERASI BARU
86
BAB 86 — SURAT DARI MASA LALU
87
BAB 87 — PELANGI TAK PERNAH PADAM

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!